Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Semakin brutal


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 366


...•...


...•...


Setelah memikirkan matang-matang apakah Devano harus menceritakan tentang Shella pada orangtuanya atau tidak, akhirnya Devano pun memilih untuk memberitahu semuanya tentang penculikan Shella kepada kedua orangtuanya disana. Biar bagaimanapun juga, Devano tak ingin berbohong dan membuat Silvi serta Tama penasaran jika ia tidak menceritakan itu pada mereka.


Silvi dan Tama pun juga memang sudah tidak sabar menanti jawaban dari Devano, mereka berharap pria tersebut segera memberi jawaban agar mereka tak penasaran seperti sekarang. Memang sudah hampir beberapa menit mereka terus saja mencecar Devano dengan pertanyaan yang sama, namun hingga kini tak ada juga jawaban dari mulut Devano.


Perlahan Devano mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati papa serta mamanya, ia menatap wajah keduanya secara bergantian sembari mengambil nafas panjang. Devano tengah bersiap untuk menceritakan semuanya dengan baik agar orangtuanya itu tidak syok ketika mendengarnya, karena pastinya berita ini akan membuat suasana jantung mereka tidak aman sama sepertinya tadi.


"Umm mah, pah...." ucap Devano perlahan sembari mengusap hidungnya.


Silvi dan Tama langsung terkesiap mendengar Devano mengucapkan kalimat itu, ya biarpun Devano baru berbicara seperti itu, namun mereka sudah makin penasaran dan ingin Devano segera melanjutkan kalimatnya agar mereka tak lagi penasaran seperti sekarang.


"Iya Vano, bagaimana? Apa yang terjadi sama Shella istri kamu itu? Kenapa kamu terlihat murung dan bilang ke orang di telpon tadi kalau kamu minta dia buat temuin Shella malam ini?" tanya Silvi.


Melihat mamanya sangat gencar bertanya dan tidak sabar untuk mendapat jawaban darinya, Devano justru ragu kembali untuk berbicara dan mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Ya Devano lagi-lagi terdiam, ia masih sangat khawatir jika mama dan papanya akan syok jika mengetahui kabar mengenai Shella yang diculik oleh seseorang tak dikenal.


"Vano, kenapa malah diam lagi? Ayo cepat jawab dan kasih tau ke papa sama mama! Kamu jangan bikin kami emosi, Vano!" bentak Tama kesal.


"Eee iya pah...." Devano semakin dibuat bingung saat ini antara ingin berbicara pada orangtuanya, atau tetap diam agar mereka tidak syok.


"Iya apa? Cepat jawab!" bentak Tama sekali lagi.


"Iya pah, aku—"


Tliingg...


Belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ponselnya justru berdering dan ada pesan yang masuk ke nomornya. Devano pun memiliki alasan saat ini untuk menghindar dari cecaran papanya itu, ia hendak melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan ingin membacanya.


"Pah, sebentar ya!" ucap Devano.


Silvi pun berusaha menenangkan suaminya yang emosi itu dengan mengelus-elus dada sang suami, Tama berhasil kembali tenang setelah istrinya itu mengusap dadanya.


Devano terbelalak melihat isi pesan yang ternyata dari Rafael alias asistennya, rupanya Rafael mengajak Devano untuk bertemu dengannya di luar dan membahas mengenai penculikan Shella. Devano sedikit lega ketika tau kalau Rafael telah berhasil melacak keberadaan si penculik melalui nomor telponnya, ia pun hendak pergi menemui Rafael dan meminta izin pada papa mamanya itu.


"Umm pah, mah. Aku mau izin keluar sebentar ya ketemu Rafael, boleh kan?" tanya Devano.


"Kamu jawab dulu! Ada masalah apa dengan Shella? Kenapa Shella sebenarnya, Vano?" ucap Silvi kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada putranya itu dan lebih sedikit menekannya.


"Iya mah, nanti aku jelasin ya setelah aku pulang dari ketemu Rafael. Mama sama papa tenang aja, insyaallah Shella baik-baik aja kok! Yaudah ya, aku pamit dulu mah, pah?" ucap Devano menenangkan kedua orangtuanya sembari mencium tangan mereka.


"Assalamualaikum..." sambungnya mengucap salam lalu segera pergi keluar dari rumahnya.


"Waalaikumsallam," jawab Silvi dan Tama bersamaan, mereka tampak saling pandang lalu merangkul satu sama lain untuk menenangkan diri.




Tak butuh waktu lama bagi Devano untuk sampai di tempat Rafael berada saat ini, ia pun sampai disana dengan cepat dan langsung turun dari mobilnya untuk menemui Rafael yang juga sudah berdiri di depan sana. Devano sudah sangat penasaran ingin tau siapa pelaku penculikan istrinya itu, ia bersumpah akan menghabisi siapapun pelakunya itu.


Melihat kehadiran mobil bosnya disana, Rafael tampak berbalik badan lalu menghampiri Devano sembari membawa ponsel di tangannya. Rafael akan menunjukkan sesuatu kepada Devano yang tentunya berkaitan dengan si penculik Shella, terlebih tujuan mereka bertemu disana adalah memang karena Shella bukan yang lain.

__ADS_1


"Raf, gimana? Apa yang kamu berhasil dapatkan tentang istri saya?" tanya Devano penasaran.


"Iya pak, saya sudah berhasil mendapatkan lokasi tempat Bu Shella disekap oleh si penculik. Kebetulan lokasinya juga tidak jauh dari sini, itu sebabnya saya meminta pak Vano datang kesini." jawab Rafael.


"Baguslah, kalau begitu ayo kita langsung berangkat kesana sekarang! Saya sudah tidak sabar untuk menyelamatkan istri saya, kamu minta bantuan beberapa teman kamu untuk membantu kita menyerbu lokasi itu!" ucap Devano.


"Baik, pak! Saya hubungi mereka dulu," ucap Rafael.


Disaat Rafael tengah menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan, tiba-tiba ponsel milik Devano berdering dan membuat Devano terkejut lalu coba mengecek siapakah yang menghubunginya. Matanya langsung terbelalak lebar saat melihat nomor si penculik itu yang menelponnya, ia pun mengangkatnya sejenak sembari menunggu Rafael yang tengah mengabari teman-temannya.


📞"Halo, siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menculik istri saya?" tanya Devano emosi.


📞"Hahaha, lu gak perlu tau! Sekarang gue peringatin buat lu, jangan pernah lu coba-coba lapor polisi atau gue bakal bikin istri lu menderita! Asal lu tau, keselamatan istri lu sekarang ada di tangan gue! Sebaiknya lu datang kesini sendiri, kalau lu mau istri lu selamat!"


📞"Jangan pernah berani kamu sentuh istri saya! Atau kamu akan terima akibatnya, dasar penculik tidak tau diri!" bentak Devano kesal.


📞"Hahaha, tenang aja! Istri lu bakal aman kok, asalkan lu mau datang kesini dan berunding sama gue. Tapi ingat, lu harus datang sendiri gak boleh ajak siapa-siapa apalagi polisi! Kalau enggak, gue bakal langsung abisin istri lu!"


📞"Oke, kamu kirim lokasi kamu sekarang ke handphone saya! Saya janji akan datang sendiri dan berunding dengan kamu, asalkan kamu bisa jamin kalau istri saya baik-baik aja disana!" ucap Devano dengan bibir bergetar.


📞"Lu tenang! Gue bisa jamin istri lu baik-baik aja disini, kalau lu gak percaya gue bisa dengerin suara dia ke lu sekarang."


📞"Iya, saya mau bicara sama istri saya. Cepat berikan telponnya ke dia!" ucap Devano tersenyum ketika si penculik ingin menyerahkan hp nya dan membiarkan Shella berbicara padanya.


📞"Mas Vano...."


Begitu mendengar suara istrinya, Devano pun tampak berkaca-kaca dan ingin menangis saat itu juga. Namun, Devano merasa lega dan tenang karena dari suaranya Shella terdengar baik-baik saja tidak terluka sama sekali.


📞"Honey, kamu baik-baik aja kan sayang?" tanya Devano.


📞"Alhamdulillah mas, aku baik kok."


📞"Syukurlah! Kamu yang sabar ya, honey! Aku pasti datang kok buat bebasin kamu, aku janji gak akan biarkan sesuatu terjadi ke kamu!" ucap Devano.


"Udah udah, cukup!"


Terdengar suara si penculik membentak Shella dan sepertinya mengambil kembali ponselnya, tentu saja Devano sangat kesal mendengarnya dan ingin sekali menghantam wajah penculik tersebut.


📞"Gimana? Lu udah dengar sendiri kan, istri lu baik-baik aja disini?"


📞"Iya, saya tau." ucap Devano.


📞"Yaudah, lu dateng kesini sekarang! Gue bakal kirim lokasinya ke nomor lu. Ingat, datang sendiri jangan sama siapapun!"


📞"Oke."


Tuuutttt....


Penculik itu langsung mematikan teleponnya, Devano pun tampak bersedih dan memejamkan mata menyesali perbuatan yang tadi ia lakukan bersama Novi. Entah mengapa saat ini Devano merasa bersalah karena sudah bermain dengan wanita lain di belakang istrinya, ia menyadari kalau mungkin saja diculiknya Shella adalah karma untuknya saat ini.


Rafael yang ada disana, langsung menghampiri bosnya dengan wajah penasaran ketika melihat ekspresi Devano tampak panik.


"Pak, ada apa?" tanya Rafael heran.


"Penculik itu barusan telpon saya. Dia minta saya datang ke tempatnya sendirian, katanya dia mau minta berunding dengan saya." jawab Devano menjelaskan pada Rafael.


Tliingg....


"Nah, ini dia kirim lokasi ke saya." sambungnya.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan, pak? Apa kita masih tetap menjalankan rencana pertama dan menggempur mereka?" tanya Rafael.


"Enggak. Kali ini saya datang sendiri, saya gak mau membahayakan nyawa istri saya. Kamu sebaiknya menunggu saja disini! Jika tak ada kabar dari saya, baru kamu dan teman-temanmu datang kesana susul saya!" jawab Devano.

__ADS_1


"Umm, baik pak!" ucap Rafael mengangguk setuju.


Setelahnya, Devano pun pergi kembali ke dalam mobilnya untuk bersiap menuju lokasi tempat istrinya berada saat ini. Devano sudah tidak sabar ingin segera menemui Shella dan membawanya pulang, sehingga kedua orangtuanya tidak akan merasa cemas kembali.


Sementara Rafael tetap disana menanti kabar dari bosnya seorang diri sembari berdoa untuk keselamatan bosnya itu.


...•••...


Disisi lain, Nadya masih bersama dengan Damar di ruang tamu dan duduk berdampingan disana. Tampak Damar juga masih saja menggenggam dua tangan gadis yang merupakan sepupunya itu dan tak mengalihkan pandangan dari wajah cantik Nadya, sedangkan Nadya sendiri sudah sangat malas untuk meladeni Damar, terlebih Damar memperlakukan ia seperti seorang kekasih bukan sepupunya.


"Sheila, kamu dilihat-lihat memang makin cantik aja! Apalagi kalau dalam jarak sedekat ini, aku jadi makin cinta sama kamu!" ucap Damar coba menggoda Nadya sembari mengusap wajah gadis itu.


"Makasih!" jawab Nadya singkat sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.


Damar terus tersenyum dan saat ini bahkan menarik tubuh Nadya untuk lebih dekat dengannya, tak henti-hentinya Damar juga memberi usapan lembut yang membuat Nadya semakin malas untuk berada disana bersama sepupunya itu.


"Katanya mau ngomong, buruan dong!" ujar Nadya sudah sangat emosi.


"Sabar lah, sayang! Aku kan masih mau mandangin wajah kamu yang cantik ini!" ucap Damar justru semakin berani menyentuh wajah Nadya.


"Aku gak waktu, maaf!" ucap Nadya.


Nadya langsung berdiri dan hendak pergi dari sana meninggalkan Damar, namun pria tersebut juga dengan cepat menahan Nadya dan bahkan menarik tangan serta langsung mencium wajah gadis itu dengan ganas.


Sontak Nadya makin dibuat emosi olehnya, gadis itu berhasil melayangkan injakan ke arah kaki Damar sehingga pria tersebut kesakitan dan melepas cengkeramannya dari Nadya. Tentu saja Nadya bisa dengan mudah langsung pergi dari sana menghindari Damar yang masih kesakitan.


"Heh! Jangan lari kamu!" teriak Damar sambil memegangi kakinya yang sakit.


Nadya tak menggubrisnya, ia berlari saja menaiki tangga dengan cepat dan berhasil mengamankan diri masuk ke dalam kamarnya. Nadya juga langsung menutup dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, ia tak mau ambil resiko jika nantinya Damar masih berusaha mengejar dan menangkapnya kembali.


Nadya tampak ngos-ngosan berdiri di belakang pintu menyandarkan tubuhnya disana sembari memegangi dadanya untuk mengatur nafasnya. Nadya sama sekali tak menyangka Damar bisa semakin brutal dan ganas padanya, padahal ia ini adalah kakak sepupunya sama seperti Shella.


"Haish, Damar bener-bener udah gila! Apa sih mau dia sebenarnya?" ujar Nadya dengan nafas tersengal.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja muncul suara ketukan keras dari arah luar kamarnya, yang tentu saja itu berasal dari Damar yang berlari mengejarnya ke atas. Nadya pun tampak panik mendengarnya, ia khawatir kalau Damar bisa menerobos masuk kesana biarpun ia sudah memastikan pintu kamarnya terkunci rapat.


"Sheila sayang, buka dong pintunya! Aku masih mau bicara loh sama kamu, cantik. Kok kamu malah menghindar dari aku sih, sayang?" ujar Damar.


"Huweekk.."


Nadya memperlihatkan ekspresi ingin muntah setelah mendengar perkataan Damar, entah mengapa ia jijik sekali mendengar itu. Nadya pun juga heran apa yang terjadi dengan Damar sebenarnya sampai pria itu semakin liar dan berani, bahkan Damar lebih sering memanggil sayang kepadanya.


"Sheila, ayo buka dong!" ucap Damar berteriak sembari berusaha membuka pintu kamar Nadya.


"Damar! Kamu jangan kayak gini dong! Kita ini saudara sepupu dan gak seharusnya kamu panggil aku sayang kayak tadi! Hapus rasa cinta kamu itu, sampai kapanpun aku gak akan pernah mau terima kamu, Damar!" bentak Nadya emosi.


"Aku juga gak akan berhenti kejar kamu, apalagi menghilangkan rasa cinta aku ke kamu. Karena aku benar-benar cinta sama kamu, Sheila! Aku mau kita hidup bersama dan menikah di kemudian hari, aku yakin kamu juga pasti mau!" ucap Damar.


"Dasar gak waras! Sebaiknya kamu cuci muka sana! Supaya otak kamu sadar kalau yang kamu inginkan itu tak mungkin terjadi, karena aku sekarang sudah memiliki seorang pacar dan aku juga tidak bisa membalas cinta kamu! Ingat Damar, aku bisa saja melaporkan ini pada ibu!" ucap Nadya.


"Hahaha, aku yakin kamu gak berani begitu! Karena sebelum kamu bilang ke tante Jenar, aku bisa pastikan kamu sudah mengandung anak dari aku!" ucap Damar melontarkan ancaman pada Nadya.


Nadya terhenyak kaget mendengar perkataan Damar barusan, ia pun geleng-geleng kepala karena tak menyangka Damar bisa mengucap itu. Padahal ia tau jika Damar baru saja lulus dari sekolahnya, entah datang darimana pikiran seperti itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...❤️❤️...


__ADS_1


...Damar ❤️ Nadya...


__ADS_2