Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Menyesal?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 192


...•...


...•...


Devano terbangun dari tidurnya, ia memijat keningnya yang terasa sedikit pusing sambil mengucek-ngucek mata serta menguap.


Ia baru sadar kalau ternyata sekretarisnya sudah tidak ada disana dan berkas-berkas yang tadi ia tandatangani juga telah diambil oleh sekretarisnya itu.


"Berapa lama saya tidur? Sampai-sampai saya gak sadar kalau Novi pergi keluar, aduh saya emang benar-benar butuh refreshing supaya gak pusing terus mikirin masalah yang gak ada habisnya ini!" ucap Devano.


Akhirnya Devano bangkit dari duduknya, ia terus mengerutkan keningnya sembari berjalan menuju toilet disana untuk sekedar cuci muka.


Setelah selesai membasuh mukanya, ia baru teringat kalau harus menjemput sang istri di rumah sakit saat ini.


"Oh iya saya harus jemput Shella di rumah sakit sekarang, udah jam berapa ya ini?" ujar Devano kemudian melihat jam di layar ponselnya.


Devano langsung terkejut saat mengetahui jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore dan ia masih belum makan siang.


"Hah? Udah jam segini? Ya ampun berarti lama juga gue tidur ya? Duh pantes aja perut gue keroncongan begini, tapi kayaknya gue makan nanti aja deh bareng Shella biar lebih enak!" ucap Devano kemudian memasukkan kembali ponselnya ke kantong jasnya.


Devano pun keluar dari ruangannya dengan terburu-buru, ia tak ingin membuat Shella cemas karena terlalu lama datang menjemput dirinya.


Namun, disaat sedang buru-buru ia malah tak sengaja menabrak Novi yang juga tengah berjalan cepat disana sambil membawa beberapa berkas-berkas di tangannya.


"Awhh!"

__ADS_1


Ya tentu saja tabrakan itu tak dapat dihindarkan lagi, Novi terjatuh dan seluruh barang yang ia bawa jatuh berserakan di lantai.


"Maaf maaf, saya gak sengaja!" ucap Devano langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Novi berdiri.


"Iya pak, gapapa kok saya juga yang kurang hati-hati tadi jalannya...." ucap Novi lalu mencoba bangkit tapi tidak berhasil karena kakinya terkilir.


"Awh, awwhhh...." rintih nya kesakitan saat mencoba berdiri dengan mengacuhkan tangan Devano.


"Kenapa? Kaki kamu sakit ya?" tanya Devano cemas kemudian mendekati Novi dan berjongkok di hadapannya.


"Biar saya bantu kamu, sepertinya kaki kamu itu terkilir saat jatuh tadi! Ayo biar saya gendong ke ruangan saya dan nanti akan saya panggilkan tukang urut ya!" sambung Devano.


"Eee gak perlu pak, kaki saya gak kenapa-napa kok ini paling bentar lagi juga mendingan! Lagian saya masih harus urus semua kerjaan saya yang belum selesai pak, sebaiknya bapak lanjut aja jalan biar saya sendiri aja!" ucap Novi menolak bantuan dari Devano.


"Hey jangan dipaksa Nov! Udah biarin aja kerjaan kamu nanti bisa dihandle sama yang lain, sekarang kamu ayo saya bantu!" ucap Devano memaksa dan langsung saja menggendong tubuh Novi ala bridal style.


Sekretaris itu tampak canggung saat digendong oleh bosnya, ia terus memandangi wajah Devano dengan membulatkan matanya.


"Pak, saya jalan aja deh..." ucap Novi minta diturunin dari gendongan Devano, ia merasa canggung karena dipandang oleh karyawan yang lain saat berjalan menuju ruangan bosnya itu.


Akhirnya mereka sampai di ruangan Devano, pria itu langsung meletakkan tubuh Novi di atas sofa dan menghubungi ob disana.


📞"Halo, tolong kamu ke lantai 5 sekarang! Dekat ruangan saya itu ada berkas yang berserakan di lantai, tolong kamu rapihkan!" ucap Devano memberi perintah pada ob.


📞"Baik pak!"


Devano langsung mematikan teleponnya kemudian hendak menghubungi nomor tukang urut langganannya untuk membantu kesembuhan kaki Novi yang terkilir.


"Eee pak, kayaknya gak perlu pake telpon tukang urut segala deh! Saya bisa sendiri kok, lagian ini juga terlalu parah pak..." ucap Novi.


"Gapapa Novi, barangkali kaki kamu ada yang terluka dalamnya kan! Lebih baik panggil tukang urut aja biar gak salah tindak, daripada nanti kamu malah makin parah!" ujar Devano yang tetap menghubungi tukang urut.


Melihat Devano sangat mencemaskan kondisinya, Novi langsung merasa bersalah karena telah berkhianat dari bosnya itu.


"Kenapa sekarang tiba-tiba gue jadi ngerasa bersalah ya sama pak Vano? Emang sih pak Vano itu baik banget sama gue sejak dulu, kenapa gue bisa khianatin dia coba?" gumam Novi terus memandangi wajah bosnya.

__ADS_1


...•••...


Disisi lain, Shella terus berusaha menghubungi nomor telepon suaminya... akan tetapi tetap saja tidak berhasil karena nomor sedang sibuk.


"Gimana sayang?" tanya Jenar yang ada di samping Shella menemani gadis itu menunggu suaminya datang di depan ruang ICU.


"Masih gak diangkat juga bu sama mas Vano, dia kemana ya bu? Padahal kan mas Vano udah janji mau jemput aku disini setelah dia selesai ketemu sama kliennya, eh sampe sekarang malah gak dateng-dateng juga!" ucap Shella cemberut dan juga khawatir pada suaminya.


"Sabar sayang, ya mungkin urusan nak Vano masih belum selesai.... kalau kamu memang mau pulang yasudah biar ibu saja yang antar kamu pake tadi, gimana?" ucap Jenar menaruh tangannya di pundak Shella.


"Gausah deh bu, nanti yang ada aku jadi ngerepotin ibu! Udah biar aku sendiri aja naik taksi online terus susul mas Vano ke kantornya, sekalian aku juga cek mas Vano tuh lagi apa disana sampai gak bisa dihubungin!" ucap Shella tersenyum menatap ibunya.


"Kamu yakin bisa sendiri sayang? Ibu khawatir loh kalo kamu kenapa-napa, biar ibu antar aja ya sayang supaya ibu gak cemas!" ucap Jenar.


"Jangan bu gausah! Udah biar aku sendiri aja yang pergi ya, lagian kasihan ibu nanti kalo harus bolak-balik..." ucap Shella.


"Yasudah deh kalau memang itu mau kamu, tapi jangan lupa loh kamu kabari ibu pas udah sampe sana biar ibu gak cemas mikirin kamu!" ucap Jenar mengelus rambut Shella.


"Iya bu tenang aja ya!" ucap Shella tersenyum.


Setelah mendapat izin dari ibunya, Shella pun langsung pamit pergi dari sana dan hendak menyusul suaminya ke kantor.


"Yaudah bu, ini aku udah pesen taksinya dan sebentar lagi bakal sampe sini! Kalo gitu aku pergi dulu ya bu, tante Lestari!" ucap Shella mencium punggung tangan ibunya serta mama angkat Nadya yang masih ada disana.


"Iya, hati-hati ya nak(Shella)" ucap Jenar & Lestari berbarengan.


"Iya bu, tante, aku pergi dulu ya assalamualaikum!" ucap Shella melambaikan tangannya ke arah Jenar serta Lestari.


"Waalaikumsallam...." jawab Jenar & Lestari lagi-lagi secara bersamaan.


Shella pun melangkah pergi dari sana, ia sudah tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan suaminya sampai tidak bisa dihubungi seperti tadi.


"Gak mungkin mas Vano ketemu klien sampai selama ini, pasti ada yang gak beres nih!" gumamnya seraya mempercepat langkahnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2