
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 282
...•...
...•...
"Zar, tunggu!" ucap seorang pria yang menarik tangan Zara dari belakang hingga wanita itu terkejut.
Zara yang tengah makan bersama Yasmin & Sadam terpaksa pergi lebih dulu lantaran ada Bimo yang tiba-tiba datang kesana, ya Zara sepertinya memang masih kecewa pada Bimo dan sudah tidak ingin melihatnya lagi walau hanya sebentar.
Akan tetapi, Bimo tak membiarkan Zara pergi begitu saja karena ia masih ingin berbicara dengan wanita itu dan coba memperbaiki hubungan mereka lagi walau semuanya terlihat sulit karena Zara sekarang sudah bersama David pilihan papanya.
Bimo sampai mengejar Zara keluar dari tempat makan itu lalu menarik tangannya, akhirnya Zara pun terpaksa berhenti dan meladeni mantannya tersebut karena ia juga tidak bisa bergerak kemana-mana lagi setelah tangannya digenggam oleh Bimo.
"Lu mau apa lagi sih, Mo?" tanya Zara heran.
"Kamu kenapa pergi? Bukannya kamu masih makan? Habisin dulu makanan kamu, tenang aja aku gak akan ganggu kamu kok!" ucap Bimo.
"Kalo kamu gak mau ganggu aku, terus ngapain sekarang kamu tahan aku?" tanya Zara.
"Ya karena aku gak pengen kamu pergi sebelum habisin makanan kamu, inget Zara temen-temen kamu masih ada disana masa kamu tinggalin gitu aja!" ucap Bimo.
"Mereka juga gak keberatan kok, dah ah lepasin tangan gue atau gue teriak...!!" ancam Zara.
"Ya oke, aku lepasin! Tapi, tolong kamu jangan pergi dan balik kesana lanjutin makan! Kata orang pamali kalau makan gak sampe habis, nasinya bisa nangis!" ucap Bimo terlihat serius.
"Lu pikir gue anak TK yang percaya gituan?" ujar Zara.
__ADS_1
Akhirnya Zara berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Bimo dan pergi dengan cepat meninggalkan pria itu disana, Bimo tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegah Zara karena semakin dikejar Zara malah semakin menjauh.
Tak lama kemudian, Yasmin & Sadam muncul menghampiri Bimo disana dan tampak kebingungan mencari-cari Zara karena mereka tak melihat sosok wanita teman mereka itu disana padahal tadi Bimo coba mengejarnya.
"Mo, Zara mana?" tanya Yasmin penasaran.
"Dia udah pergi, gue gak bisa cegah dia!" jawab Bimo.
"Lagian lu ngapain sih, ha? Buat apa lu kejar-kejar Zara lagi, Bimo? Sekarang Zara udah bahagia sama David, sebaiknya lu moveon aja deh!" ujar Yasmin.
"Iya tuh bener, jangan deketin Zara terus! Nanti bisa-bisa lu kena batunya!" sahut Sadam.
Bimo terdiam coba mencerna perkataan kedua manusia itu yang memang ditujukan untuknya, tentu berbicara tak semudah melakukan karena Bimo sudah berkali-kali mencoba moveon dan melupakan Zara tetapi gagal dan masih tetap saja ia kepikiran dengan wanita tersebut.
"Gue udah coba, tapi semuanya gagal! Gue masih tetep keinget sama Zara, padahal berkali-kali gue coba lupain dia!" ucap Bimo.
"Lu harus belajar buka hati lu buat orang lain! Gue yakin banyak kok cewek di luaran sana yang mau sama lu, mungkin dengan itu lu bisa moveon dan lupain Zara!" ucap Yasmin memberi saran.
"Hahaha, lu becanda? Cewek mana yang mau sama gue, ha?" ujar Bimo malah tertawa.
"Heh, kalo lu mau buka mata lu lebar-lebar buat cewek lain... gue yakin lu bisa tahu siapa cewek yang beneran sayang sama lu, udah lah jangan mikirin Zara terus!" ucap Yasmin.
Sedangkan Bimo tetap disana terbengong memikirkan perkataan Yasmin, ia tak mengerti siapa memangnya wanita yang tulus menyayanginya sehingga ia bisa melupakan Zara.
...•••...
Disisi lain, Yoga pun masih berada di kamar rawat Nadya berusaha untuk lebih akrab dengan wanita tersebut karena ia tak ingin jauh-jauh dari Nadya apalagi jika Nadya terus melupakan dirinya. Tentu saja hal itu sangat menyakitkan dan Yoga tidak mau semua itu sampai terjadi padanya.
Ya Yoga sangat tulus menyayangi Nadya, bahkan ia menjadi orang yang sangat khawatir serta panik begitu mendapat kabar tentang kecelakaan Nadya apalagi saat tahu kalau Nadya meninggal walau akhirnya Nadya ternyata masih hidup dan semua itu hanyalah kesalahan petugas.
Sikap cuek dan jutek Nadya padanya tak membuat Yoga gentar atau mundur, ia tetap berada disana mencoba meyakinkan Nadya bahwa ia memang teman yang setia dan akan selalu ada di sisinya setiap saat seperti janjinya dulu ketika Nadya belum mengalami kecelakaan dan hilang ingatan.
"Ni cowok kenapa gak pergi-pergi sih? Sumpah deh males banget gue terus disini sama dia, ayo dong sadar diri terus pergi!" batin Nadya.
Yoga terus saja memandangi gadis di sampingnya dengan wajah tulus serta senyum yang terukir di wajahnya, Yoga menghela nafas karena hingga kini Nadya belum juga mau menghadap ke arahnya kembali dan lebih sering membuang muka.
__ADS_1
"Nadya! Eh maksud aku, Sheila...!!" ucap Yoga.
"Hmm..."
"Kamu jangan buang muka terus dong! Aku bosen nih kalau kamu ngeliat kesana melulu, ayolah sebentar aja lihat kesini ya!" ucap Yoga.
"Gak mau! Ntar kamu modus lagi!" ujar Nadya.
"Haduh, mana mungkin aku begitu Sheila? Aku kan udah bilang kalau aku ini teman kamu, masa kamu masih nyangka aku lelaki begitu?" ucap Yoga.
"Tetep aja aku harus waspada! Kata ibu aku harus hati-hati sama orang asing!" ucap Nadya.
"Hahaha, iya itu benar Sheila! Tapi, aku kan bukan orang asing buat kamu... aku tuh sahabat kamu yang selalu ada buat kamu, jangan takut lagi ya!" ucap Yoga masih berusaha meyakinkan Nadya.
Namun, usaha Yoga nampaknya belum berhasil lantaran Nadya tetap saja memalingkan wajahnya dan tak mau menghadap ke arahnya karena masih curiga pada pria tersebut yang baru ditemuinya saat ini secara sadar alias tidak koma ataupun pingsan.
Ceklek...
Barulah ketika pintu terbuka kini keduanya melihat ke arah yang sama, ya benar arah pintu tentunya karena mereka penasaran siapa yang datang kesana di siang menjelang sore hari ini.
Rupanya itu adalah Jenar alias ibu dari Nadya yang baru pulang dari pemakaman tetapi sudah berganti pakaian, Jenar tersenyum melihat putrinya yang tengah bersama Yoga di dalam sana.
"Eh ada nak Yoga ternyata...." ucap Jenar.
"Iya, tante!" ucap Yoga langsung bangkit kemudian mencium tangan Jenar.
"Ibu darimana aja sih?" tanya Nadya penasaran.
"Maaf ya, sayang! Tadi ibu ada urusan sebentar, tapi kan kamu ada yang nemenin disini..." ucap Jenar.
"Ish, aku gak mau kalo ditemenin sama dia!" ujar Nadya dengan wajah judes.
Jenar tersenyum kemudian mendekati putrinya disana, ia pun mengelus lembut kepala Nadya seperti biasa untuk menenangkan putrinya itu yang sedang terbawa emosi.
Tentu seperti biasanya Nadya langsung merasa tenang dan nyaman begitu Jenar mengelusnya, ya seketika rasa kesalnya pun hilang dan berubah menjadi rasa nyaman serta ketenangan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...