Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Pergi mulu


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 369


...•...


...•...


Shella dan Devano kini telah sampai di rumah, mereka tampak saling menatap dan berpegangan tangan di dalam mobil. Devano pun tersenyum kemudian mengusap kepala istrinya dengan lembut, membuat sang istri merasa bahagia karena usapan dari Devano benar-benar terasa nyaman baginya walau seringkali sudah Devano melakukan itu.


"Mas, mama papa kira-kira udah tidur belum, ya? Ini kan udah larut loh, aku takut ganggu mereka." tanya Shella dengan wajah penasaran.


"Kamu tenang aja! Mereka pasti belum tidur, karena mereka itu khawatir banget sama kamu! Emang sih, aku belum kasih tau ke mereka kalau kamu tadi diculik. Tapi, mereka itu cemas banget karena gak sengaja dengar aku bicara sama Rafael di telpon tadi soal kamu yang harus ditemukan malam ini. Ya untung aja sih, kamu sekarang udah berhasil selamat dan gak kenapa-napa. Jadi, mama sama papa gak ada alasan buat panik!" jawab Devano.


"Iya mas..." ucap Shella sambil tersenyum manis.


Setelahnya, Devano pun mendekat dan menarik tengkuk istrinya lalu mengecupnya lembut.


Cupp...


"Aku sayang banget sama kamu, honey! Aku gak mau kejadian tadi sampai terulang lagi, itu sangat menakutkan buat aku! Besok-besok kalau kamu mau ketemu sama temen-temen kamu, di rumah ini aja ya! Aku gak akan izinin kamu pergi kemana-mana tanpa aku lagi, karena aku gak mau kamu kenapa-napa!" ucap Devano tegas.


"Iya mas, aku minta maaf ya! Gara-gara tadi aku maksa minta izin sama kamu buat ketemu Yasmin, akhirnya aku jadi diculik deh. Untungnya aku bisa selamat sekarang, makasih banyak ya mas!" ucap Shella tersenyum lalu menempelkan wajahnya pada bahu sang suami.


"Sama-sama, cantik!" ucap Devano sembari mengusap wajah mulus sang istri disana.


Cupp...


Devano pun menghujani wajah Shella dengan ciuman, yang perlahan-lahan juga mulai turun sampai ke ceruk leher sang istri.


"Mas, tahan!" ujar Shella menyetop aksi Devano.


"Kenapa?" tanya Devano heran.


"Kalau kamu lanjutin, nanti kita bisa lama loh masuk ke dalamnya. Katanya kamu mau jelasin ke mama sama papa, kok malah pengen begituan di mobil sih?" ucap Shella menjelaskan.


"Iya honey, aku kebawa suasana aja. Abis wangi tubuh kamu itu bikin aku bergairah gitu!" ujar Devano masih sambil mencium wajah Shella.


"Udah ah, mas! Aku turun duluan nih kalo kamu masih aja begitu! Terus nanti di dalam, aku bakal bilang dan ngadu ke mama sama papa kalau kamu gak bisa jagain aku sampai aku diculik sama Bimo tadi siang!" ucap Shella mengancam.


"Yah jangan dong! Iya iya deh, aku gak akan cium kamu lagi!" ucap Devano.


"Nah gitu dong, mas! Kita turun sekarang yuk! Aku udah gak sabar pengen ketemu mama papa, lumayan kangen juga sih aku!" ujar Shella.


"Hahaha, iya ayo!" ujar Devano.


"Eh bentar, mas! Aku mau tanya deh sama kamu. Ibu tau gak soal aku yang diculik sama Bimo tadi?" ucap Shella menahan suaminya lalu melontarkan pertanyaan kepada sang suami.


"Ohh, enggak kok. Kebetulan hari ini juga aku gak ada berhubungan sama ibu sih," jawab Devano.


"Huh syukur deh! Aku gak mau ibu khawatir soalnya, kan ibu punya penyakit." ucap Shella.


"Iya, tenang aja sayang!" ujar Devano.


Setelahnya, Devano pun turun dari mobil lebih dulu lalu jalan memutar untuk membukakan pintu mobil di bagian tempat Shella berada. Barulah wanita itu turun dengan bantuan tangan dari Devano, ya Devano ingin memanjakan Shella dan tidak mau melihat istrinya itu kenapa-kenapa lagi saat ini.


"Yuk masuk!" ucap Devano sembari menggandeng tangan Shella dengan erat.




Sesampainya di dalam rumah, terlihat Silvi serta Tama masih ada di sofa. Keduanya langsung berdiri begitu melihat Shella serta Devano muncul ke dalam rumah itu, ya mereka berdua pun bangkit dari duduknya dan menemui Devano serta Shella disana dengan ekspresi sangat cemas.

__ADS_1


Silvi bahkan langsung berteriak dan menghampiri Shella alias menantunya itu yang sedari tadi memang ia tunggu-tunggu kedatangannya, Silvi memeluk serta mengusap punggung dan wajah Shella dengan ekspresi sedih bercampur senang karena dapat melihat menantunya itu kembali.


"Shella, kamu kemana aja? Mama khawatir sekali loh sama kamu, sayang!" ucap Silvi sembari memegang wajah Shella dengan dua tangannya.


"Mah, mama tenang ya! Aku gapapa kok, mama gausah khawatir lagi!" ucap Shella tersenyum.


"Iya sayang, syukurlah! Tadi mama sama papa itu cemas banget sama kamu, kita khawatir terjadi sesuatu sama kamu di luar sana! Apalagi Devano juga ditanya gak jawab-jawab!" ucap Silvi.


"Benar itu, kita kan sebagai orang tua panik kalau sampai anaknya kenapa-napa!" sahut Tama.


Devano pun tertunduk dengan kedua tangan ia lipat di depan tubuhnya, ia merasa bersalah karena sudah membuat dua orangtuanya itu cemas. Namun, ia juga senang karena saat ini Shella sudah selamat dan bisa bertemu dengan kedua orangtuanya itu bahkan berpelukan di hadapannya.


"Mah, pah. Maafin aku ya!" ucap Devano.


"Iya gapapa, sekarang Shella ikut mama yuk kita duduk di sofa! Mama penasaran banget sama apa yang terjadi ke kamu tadi, kita bicara yuk disana!" ucap Silvi mengajak Shella bicara.


"Iya mah..." ucap Shella pelan.


Mereka pun jalan beriringan menuju sofa dan duduk bersama-sama disana untuk berbincang, Shella juga masih terus dipeluk dan dirangkul oleh mama mertuanya yang tampak sangat khawatir itu. Sementara Devano hanya bisa diam duduk bersama papanya, ia merasa kasihan pada kedua orangtuanya yang cemas dan sangat panik itu.


"Mah, mama tenang dulu ya! Aku kan udah gak kenapa-napa sekarang, mama jangan khawatir lagi ya! Aku jadi gak enak lihatnya kalau mama begini terus sama aku," ucap Shella.


"Gapapa sayang, mama cuma pengen peluk kamu aja kok. Emang kamu gak mau dipeluk sama mama?" ucap Silvi sembari mengusap tubuh menantunya sambil tersenyum.


"Ya mau dong, mah!" jawab Shella juga tersenyum.


"Yasudah, sekarang kamu jelaskan ke kita Vano! Apa yang sebenarnya terjadi sama Shella tadi?" ucap Tama kembali bertanya pada putranya itu.


"Eee papa sama papa gausah khawatir! Memang tadi sempat terjadi masalah sama Shella, tapi kan sekarang semuanya udah clear, udah selesai!" ucap Devano sambil tersenyum.


"Apa? Masalah apa yang terjadi sama Shella, Vano?" tanya Silvi penasaran.


"Iya mah, tadi tuh Shella sempat diculik waktu dia lagi ketemuan sama temen-temennya di cafe." jawab Devano menjelaskan.


"Hah?? Diculik??" Silvi dan Tama terkejut secara bersamaan mendengarnya.


Sontak Devano pun langsung membuang muka dan mengusap dagunya melihat ekspresi dari Silvi serta Tama setelah mendengar ucapannya, ia jadi semakin bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan pada mereka tanpa membuat keduanya syok seperti reaksinya barusan karena khawatir pada kondisi orangtuanya itu.


"Mama tenang dulu, ya! Aku diculik sama Bimo adiknya Adrian alias cucu mister Frederick." jawab Shella dengan hati-hati.


"Apa? Jadi cucunya mister Frederick yang culik kamu, sayang?" tanya Silvi terkejut.


"Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu? Memangnya apa yang diinginkan dia, sampai harus culik kamu Shella?" sahut Tama juga penasaran.


"Itu dia, pah. Bimo pengen aku serahin aset perusahaan aku ke dia, karena menurut dia itu tuh punya kakeknya." ucap Devano.


"Loh loh, kok jadi begitu sih?" Silvi tampak heran.


"Aku juga gak tahu, mah. Udah gila kali otak dia itu! Mungkin gara-gara gak mampu bersaing sama perusahaan aku, tapi sekarang mama sama papa tenang aja ya! Aku kan udah berhasil selamatin Shella dan cegah niat jahat Bimo yang pengen kuasain aset perusahaan aku," ucap Devano.


"Iya Vano, sekarang kita emang bisa tenang. Tapi, gimana nanti kalau Bimo lakuin itu lagi? Papa yakin pasti dia gak akan berhenti gitu aja, sebelum keinginannya tercapai!" ujar Tama.


"Benar itu, Vano. Kasihan Shella jika harus jadi korban dari masalah ini, apalagi dia sedang mengandung calon anak kamu yang juga cucu mama sama papa!" sahut Silvi.


"Tenang pah, mah! Aku janjian bakal jagain Shella lebih ketat lagi dari sebelumnya, aku juga gak akan kasih izin Shella buat pergi ke luar rumah lagi kecuali sama aku!" ucap Devano.


"Ya, itu bagus! Lalu, gimana soal Bimo? Apa kamu sudah lapor ke polisi tentang kasus penculikan ini?" tanya Tama.


"Sudah, pah! Kebetulan Rafael yang lapor tadi, dan kabarnya juga ada satu orang yang berhasil ditangkap polisi. Namun, aku belum tahu orang itu Adrian atau Bimo. Karena kebetulan mereka berdua tadi ada di lokasi tempat penculikan Shella," jawab Devano menjelaskan.


"Semoga aja polisi bisa menangkap yang satunya lagi! Papa gak mau kejadian ini terulang!" ucap Tama.


Setelahnya, mereka pun dapat tenang dan tidak merasa cemas lagi pada kondisi Shella. Memang Devano sengaja tidak mengatakan pada orangtuanya kalau Shella sempat drop dan dibawa ke rumah sakit tadi, ya karena ia takut jika nantinya mama atau papanya itu akan semakin cemas.


"Hari ini saya masih berhasil bawa Shella kembali ke rumah ini dengan selamat, tapi tetap saja saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi!" batin Devano.


...•••...


Keesokan harinya, Nadya hendak kembali pamit kepada ibunya untuk pergi bersama Yoga. Ya memang sejak ada Damar di rumah itu, Nadya jadi kurang nyaman berdiam diri disana dan ingin lebih sering main keluar bersama Yoga atau siapapun itu yang penting ia tidak terus-terusan disana.

__ADS_1


Kebetulan Jenar juga sedang menjahit di sofa ruang tamu seorang diri dan tidak ada Damar disana, Nadya pun menghampiri ibunya dan duduk tepat di samping sang ibu yang masih fokus menjahit sehingga tak menyadari kedatangan putrinya itu disana yang sudah tampak cantik dan wangi.


"Bu..." ucap Nadya pelan memanggil ibunya.


"Eh, iya sayang. Kenapa?" ucap Jenar sedikit terkejut dan menoleh ke arah Nadya sembari meletakkan jahitannya di atas meja.


"Ini Bu, aku mau minta izin buat pergi keluar sama Yoga. Boleh apa enggak, Bu?" ucap Nadya.


"Oalah, mau pergi lagi kamu? Bukannya kemarin baru aja ya kamu pergi sama nak Yoga? Kok sekarang udah mau jalan lagi? Emang ya, anak muda itu kalau baru pacaran sukanya berduaan mulu!" ujar Jenar.


"Eee hehe iya Bu..." ucap Nadya nyengir.


"Yaudah, ibu kasih izin. Tapi, pulangnya jangan sampai malam kayak kemarin! Ibu tahu loh dari Damar, katanya kamu baru pulang jam delapan malam. Pokoknya hari ini ibu gak mau itu terjadi lagi, paham?" ucap Jenar.


"Eee iya Bu, paham kok. Aku janji gak akan pulang terlalu malam, tapi jadinya aku pulang jam berapa dong Bu nanti?" ucap Nadya.


"Ya terserah kamu! Asal gak lebih dari jam lima sore, udah itu aja!" jawab Jenar.


"Hah? Sekarang aja udah jam dua siang, Bu. Masa aku pergi sama Yoga nya cuma tiga jam? Itu mah sebentar banget dong, ibu! Tambahin lagi ya, sedikit aja deh!" ujar Nadya.


"Hadeh kamu ini, yaudah jam enam." ujar Jenar.


"Umm, jam tujuh boleh enggak, Bu?" tanya Nadya kembali menawar.


"Emangnya ibu pedagang pasar, yang bisa ditawar? Udah, kamu pergi sampe jam enam aja! Kalo masih gak mau juga, yaudah ibu gak bakal kasih izin kamu buat pergi!" ujar Jenar.


"Eee yaudah Bu, gapapa kok." ucap Nadya.


"Nah gitu dong!" ujar Jenar.


"Yaudah, aku pergi ya Bu?" ucap Nadya bangkit lalu mencium punggung tangan ibunya.


"Iya, hati-hati kamu!" ucap Jenar.


"Iya Bu, assalamualaikum." ucap Nadya.


"Waalaikumsallam, eh ya itu nak Yoga emang udah dateng?" tanya Jenar berteriak.


"Udah kok Bu, di depan gang." jawab Nadya.


"Ohh, yowes." ucap Jenar.


❤️


Nadya telah sampai di depan gang rumahnya, ia tersenyum menatap wajah Yoga yang tengah berdiri disana dan bersandar pada badan mobilnya. Nadya pun langsung mendekati pria tersebut, lalu berdiri tepat di sampingnya masih sambil senyum-senyum sendiri dengan kedua tangan di depan.


Sementara Yoga juga tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Nadya, ia bahkan menarik sedikit dagu Nadya dengan jarinya agar wajah gadis itu bisa lebih jelas di pandangannya.


"Cantik banget! Makannya apa sih kamu?" ujar Yoga sambil tersenyum renyah.


"Ahaha, bisa aja kamu! Ya aku makan nasi juga lah sama kayak manusia yang lainnya," jawab Nadya sambil tertawa kecil.


"Ohh, abis cantik kamu beda banget sih! Gak kayak cewek-cewek yang lain, cantiknya kamu juga enak buat dipandang dan gak bosenin!" ucap Yoga.


"Udah deh, gausah gombal mulu!" ujar Nadya.


"Hahaha, gapapa lah. Yang penting kan aku gombal ke pacar aku sendiri, bukan pacar orang lain!" ucap Yoga sambil mencolek pipi Nadya dengan jarinya.


"Yeh kalo itu mah kesukaan tiap laki-laki!" ujar Nadya dengan wajah jutek.


"Yaudah, masuk yuk! Kita jalan sekarang, sebelum kesorean dan tukang nasi goreng udah pada dateng!" ucap Yoga.


"Loh kok nasi goreng, apa hubungannya?" tanya Nadya menatap tak mengerti.


"Ya iya, kan kalau mau menjelang malam itu tukang nasi goreng baru datang. Gimana sih, masa begitu aja kamu gak ngerti?" jawab Yoga.


"Ih yaudah sih!"


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan mulai bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2