Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Namaku cuma satu!


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 281


...•...


...•...


Disaat semua orang tengah menghadiri acara pemakaman Laila, Yoga justru menemui Nadya yang berada di rumah sakit dan coba memanfaatkan ini untuk lebih dekat dengan gadis yang berhasil membuatnya melupakan Femila serta mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu.


Terlihat Nadya sedang berbaring di atas ranjang dengan mata terbuka dan pikiran kosong, tampaknya Nadya heran mengapa Jenar sang ibu tidak ada disana menemuinya padahal ia sangat rindu ingin bertemu ibunya walau sejak kemarin mereka juga sudah sering bertemu dan berduaan.


Ceklek...


Begitu pintu dibuka dari luar, Nadya langsung reflek menoleh ke arah pintu penasaran siapa yang datang dan sedikit berharap kalau itu adalah ibunya atau paling tidak saudaranya yakni Shella karena ia sedang ingin bertemu mereka saat ini untuk bisa mengusir rasa bosan di hatinya.


Akan tetapi, harapannya sirna lantaran yang datang bukan salah satu dari dua orang yang diharapkannya untuk datang kesana, ya pria yang datang adalah Yoga dan kini pria itu sudah memasuki ruang tempat Nadya dirawat sembari melempar senyum pada gadis yang tengah terbaring tersebut.


"Kamu siapa?" tanya Nadya judes.


"Masa kamu lupa sih? Aku Yoga loh, kita udah pernah bertemu sebelumnya..." ucap Yoga tersenyum sambil duduk di dekat gadis itu.


"Ohh, gak inget!" ujar Nadya masih jutek.


"Yaudah gapapa, yang penting aku gak akan pernah lupa apalagi tinggalin kamu!" ucap Yoga.


"Kamu mau apa?" tanya Nadya.


Yoga hanya tersenyum kemudian memajukan kursinya agar ia bisa lebih dekat dengan Nadya, satu tangannya bergerak hendak menyentuh wajah Nadya namun dengan cepat gadis itu reflek menghindar karena tak mau wajahnya disentuh oleh tangan pria yang tidak dikenalinya itu.


"Jangan macem-macem ya! Aku masih bisa teriak loh supaya suster disini ngusir kamu!" ancam Nadya.

__ADS_1


"Hahaha, gak mungkin lah aku mau macam-macam sama kamu Nadya! Aku kan teman baik kamu, aku cuma mau elus wajah kamu aja gak lebih kok!" ucap Yoga meyakinkan gadis itu.


"Siapa itu Nadya? Aku bukan Nadya!" ujar Nadya.


"Iya, maksud aku Sheila Kirana...." ucap Yoga.


"Nyebut namaku aja salah, tapi ngakunya jadi teman baik aku! Kamu pasti cuma bohong kan? Ngaku aja deh gausah pura-pura!" ujar Nadya.


"Gak gitu, Nadya! Eh maksudnya Sheila... kamu kan emang punya dua nama!" ucap Yoga.


"Punya dua nama apaan sih? Namaku cuma satu kaya ibu, yaitu Sheila bukan Nadya! Kamu gausah ngada-ngada deh, jangan ngasal!" ujar Nadya.


"Iya iya, nama kamu cuma satu!" ucap Yoga.


Nadya pun membuang muka menatap ke arah lain dengan perasaan jengkel, ia sungguh tak ingin ada pria itu disana dan berharap kalau dia segera keluar dari kamarnya karena telah membuatnya kesal namun ia tak berani mengusir langsung pria itu.


"Hey, kok buang muka sih? Gak baik loh kalo ada yang ngajak ngobrol, tapi kamunya malah lihat ke arah lain kayak gitu!" ucap Yoga.


"Bodo!"


"Oh iya, sampai sekarang kan aku masih belum tahu siapa laki-laki yang jenguk aku sewaktu aku koma dan belum sadar! Apa laki-laki itu dia, ya?" batin Nadya.


Akhirnya Nadya menoleh kembali ke arah Yoga masih dengan wajah jengkelnya, ia menatap tubuh pria itu dari atas sampai bawah seperti orang yang tengah coba untuk mengenali seseorang di dekatnya.


"Ah bukan dia! Suaranya aja beda..." batin Nadya.


...•••...


Disisi lain, Devano & Shella sudah berada di kamar sehabis selesai memakamkan jenazah Laila yang harus pergi lebih dulu meninggalkan mereka akibat kecelakaan yang dialaminya setelah mengantar Shella serta ibunya pulang ke rumah.


Tampak Shella masih sangat tidak percaya dengan kepergian adik ipar sekaligus sahabatnya itu, pasalnya mereka sudah cukup dekat dan bahkan sebelum Laila kecelakaan mereka juga bersama.


Devano yang juga tengah dirundung kesedihan mencoba untuk menenangkan istrinya karena ia tak mau adiknya itu tidak tenang disana jika terus ditangisi, ya Devano telah mendapat pelajaran untuk ikhlas dari papanya ketika di pemakaman tadi.


"Honey...." ucap Devano dengan suara pelan sembari duduk di ranjang sebelah istrinya dan memegang pundak sang istri lembut.


"Jangan sedih terus dong! Aku yakin Laila udah bahagia disana, kita kirimin doa aja terus ya buat Laila!" ucap Devano sembari menyeka air mata yang membasahi pipi istrinya itu.

__ADS_1


Shella menoleh dengan mata sembab dan nafas sesenggukan akibat sangat bersedih, ia sampai tak bisa berkata apa-apa pada suaminya yang kini berada di dekatnya dan tengah menatapnya.


Akhirnya Devano mendekap tubuh sang istri serta mengusap-usap lengan atas Shella untuk lebih menenangkan istrinya itu, ya Devano bahkan berkali-kali mengecup puncak kepala Shella agar sang istri tidak terus menangisi kepergian Laila yang saat ini sudah dikubur.


"Maaf, mas! Maafin aku...!!" ucap Shella.


"Maksud kamu? Kenapa kamu minta maaf, honey?" tanya Devano tak mengerti.


"Ini semua salah aku, mas!" ucap Shella.


"Kamu bicara apa sih, honey? Ngapain kamu salahin diri kamu atas kecelakaan yang menimpa Laila? Ini semua udah takdir, kamu gak bisa salahin diri kamu sendiri!" ujar Devano.


"Tetep aja mas, ini salah aku!" ucap Shella.


"Gak ada, honey! Aku tahu kamu sedih kehilangan Laila, begitupun aku! Tapi, gak baik kalau kamu malah salahin diri kamu kayak gitu!" ujar Devano.


Akhirnya Shella kembali menangis tersedu-sedu di bahu suaminya, Devano pun membiarkan Shella mengeluarkan seluruh air mata kesedihannya supaya nantinya Shella juga bisa tenang dan mengikhlaskan kepergian Laila.


Setelah dirasa sudah agak tenang, Devano melepas pelukannya lalu menggenggam wajah Shella dengan dua tangannya sembari menghapus air mata yang masih mengalir di wajahnya itu.


"Udah ya, jangan nangis!" ucap Devano.


Shella pun mengangguk walau ia masih sangat bersedih sesenggukan, tak terlintas di dalam benaknya kalau hal ini akan terjadi pada Laila dan mereka kini tak bisa bertemu kembali.


"Aku tahu kamu pasti bisa ikhlas!" ucap Devano.


"Iya mas, aku bakal coba tenangin diri!" ucap Shella.


"Bagus, sekarang kamu mandi ya! Habis itu kita sama-sama turun ke bawah buat makan siang, aku gak mau kamu sakit karena telat makan!" ucap Devano mengingatkan istrinya.


"Iya mas...."


Devano pun melepaskan tangannya dari wajah sang istri dan membiarkan Shella melepas kerudung serta pakaiannya disana, ya Shella langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena ia habis dari tempat pemakaman.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2