Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Saudara kembar


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 235


...•...


...•...


Setelah Nadya sadar dan dokter mengizinkan mereka masuk menjenguk Nadya, maka Shella serta ibunya pun langsung bangkit dan masuk ke dalam untuk menemui Nadya. Mereka tampak tersenyum bahagia melihat Nadya tengah berbaring seraya melirik bola matanya ke arah mereka, ya gadis itu lalu tersenyum begitu melihat Jenar masuk kesana.


Namun, pandangannya mengerucut menatap seorang gadis yang ada di samping ibunya. Ia tak mengenal siapa gadis tersebut, karena sebelumnya memang Nadya belum bertemu dengan Shella sejak ia mengalami hilang ingatan akibat kecelakaan yang dialaminya.


"Sayang, baru bangun ya?" ucap Jenar mendekat ke arah putrinya lalu terduduk tepat di samping tubuh Nadya. Ia kembali mengusap wajah Nadya sama seperti kemarin, dan tentunya Nadya sangat menikmati tiap sentuhan dari sang ibu.


"Iya bu, selamat pagi!" ucap Nadya tersenyum.


Mendengar ucapan Nadya itu saja sudah membuat Jenar merasa senang, ia memandang Shella yang berada di dekatnya sambil tersenyum dan Shella pun membalas senyum Jenar serta merasa bahagia karena ibunya itu bahagia.


"Pagi juga, sayang! Kamu pasti belum sarapan kan?" ucap Jenar.


"Belum," jawab Nadya geleng-geleng kepala.


"Nah kalo gitu kamu sarapan dulu ya? Ibu suapin kamu, mau kan?" ucap Jenar.


"Umm, mau dong bu!" jawab Nadya tersenyum.


"Sebentar ya!" ucap Jenar bangkit dari duduknya, ia menemui suster untuk mengambil sarapan yang akan ia berikan pada Nadya nantinya.


Sementara ibunya pergi, Shella kini menatap wajah adik kembarnya sembari tersenyum. Terlihat sekali raut wajah Nadya sangat merasa penasaran melihat Shella yang wajahnya mirip sekali dengannya, gadis itu pun menatap tubuh Shella dari atas sampai bawah dengan penuh kebingungan.


"Ka-kamu siapa? Kenapa muka kamu sama kayak aku?" tanya Nadya penasaran.


Shella hanya tersenyum lalu mendekat ke arah Nadya sembari membungkukkan badannya.


"Hey, aku Shella! Kamu tau kenapa muka kita sama?" ucap Shella.


Nadya pun menggelengkan kepalanya karena memang tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan yang diajukan Shella barusan.

__ADS_1


"Ya, karena kita ini saudara kembar! Aku kakak kamu dan kita beda 20 menit, makanya muka kita sama!" ucap Shella memberitahu jawabannya.


Sontak Nadya langsung terkejut mendengarnya, ia antara percaya dan tidak setelah mengetahui kalau wanita di sampingnya ini adalah kembarannya.


"A-aku punya kembaran?" tanya Nadya.


"Iya, kalau kamu gak percaya kamu bisa tanya sama ibu nanti!" jawab Shella tersenyum.


Tak lama kemudian, Jenar kembali membawa mangkuk berisi bubur untuk sarapan putrinya. Sontak Shella menggeser tubuhnya agar Jenar bisa leluasa menyuapi Nadya, tapi ia masih tetap disana memantau kondisi saudaranya yang terlihat tengah kebingungan itu.


"Bu, apa benar dia ini saudara kembar aku? Emangnya aku punya kembaran ya?" tanya Nadya pada sang ibu penuh penasaran.


Jenar terkejut lalu menoleh ke arah Shella, ia tahu jika putrinya sudah mengatakan itu pada Nadya makanya Nadya sampai bertanya begitu.


"Eee iya sayang, itu benar! Gimana, kamu senang kan punya saudara kembar?" ucap Jenar tersenyum.


Nadya terdiam menatap wajah Shella dengan datar tanpa ekspresi, membuat Shella dan Jenar bingung menerka apa yang hendak dikatakan Nadya.


"Seneng dong, Bu! Apalagi kembaran aku secantik dia, jadi aku bisa minta ajarin supaya wajah aku juga cantik kayak dia! Eh, tadi siapa nama kamu?" ucap Nadya tiba-tiba tersenyum membuat Shella & Jenar merasa lega.


"Shella, nama kita cuma beda satu huruf! Aku Shella, kamu Sheila!" ucap Shella tersenyum.


"Hahaha, lucu ya!" ujar Nadya tertawa kecil.




Sementara itu, Devano kembali ke depan ruang ICU hendak menemui istri dan mertuanya. Namun, disana sepi tidak ada orang membuat Devano cemas sekaligus panik memikirkan mereka. Akhirnya Devano mengetahui jika istri dan mertuanya ada di dalam tengah bersama Nadya, ia pun bernafas lega kemudian duduk di kursi sambil bermain ponsel.


Devano ingin tahu bagaimana perkembangan proses hukum Adrian, ia pun menghubungi nomor polisi untuk menanyakan tentang itu.


📞"Halo, ada yang bisa dibantu?" ucap polisi itu.


📞"Ya halo pak, ini saya Devano! Saya hanya ingin tahu perkembangan soal hukuman pak Adrian, kira-kira sudah sejauh mana ya pak?" ucap Devano.


📞"Oh pak Devano, soal kasus pembunuhan ini kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan jika ada perkembangan nantinya kami pasti akan menghubungi bapak!" ucap polisi itu.


📞"Baiklah pak, terimakasih!" ucap Devano.


📞"Sama-sama, pak!"


Devano langsung menutup teleponnya merasa kecewa karena Adrian masih belum diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, ia sebenarnya ingin sekali Adrian di penjara seumur hidup karena pria itu sudah banyak meresahkan dirinya.

__ADS_1


"Aaarrgghh! Kenapa sih polisi gak langsung aja kasih hukuman ke Adrian? Udah jelas-jelas dia itu emang bersalah, ngapain coba pake ngadain penyelidikan lagi!" gumam Devano kesal sembari memukul-mukul tempat duduk yang ia duduki.


Tak lama kemudian, seorang pria datang ke depan ruang ICU dengan membawa sebuah kamera di tangannya. Pria itu berhenti saat melihat ada seseorang yang tengah duduk disana dan terlihat sedang marah-marah, pria itu pun maju menghampiri Devano sambil memasang raut wajah curiga.


"Permisi..." sapa orang itu.


Devano yang mendengar ada suara langsung reflek menoleh mencari pemilik suara itu, ya ia pun melihat seorang lelaki berdiri di dekatnya.


"Mau apa?" tanya Devano.


"Saya Yoga, saya teman Nadya! Anda sendiri siapa ya dan ada keperluan apa disini??" ucap pria yang ternyata Yoga tersebut.


Devano malah terkekeh mendengar ucapan pria itu, sementara Yoga tampak heran dan menyangka kalau Devano mengalami gangguan jiwa.


"Anda tadi bilang apa? Teman Nadya? Nah kalau saya ini kakak iparnya Nadya, jadi sudah jelas dong apa keperluan saya ada disini!" ucap Devano.


Yoga langsung terkejut dan merasa bersalah karena sudah mencurigai Devano, ia pun menunjukkan gestur meminta maaf.


"Maaf, maaf! Saya tidak tahu siapa anda sebelumnya, maaf atas kelancangan saya tadi! Eee bagaimana kalau kita berkenalan sekarang?" ucap Yoga.


"Ya boleh," ucap Devano singkat.


"Saya Yoga..." ucap Yoga sembari mengulurkan tangan ke hadapan Devano.


"Devano," jawab Devano bersalaman dengan Yoga.


Setelah selesai bersalaman, mereka pun lanjut berbincang dengan lebih akrab dan tidak ada lagi yang merasa canggung atau malu.


"Silahkan duduk! Di dalam masih ada yang sedang jenguk Nadya, jadi kamu tunggu dulu disini!" ucap Devano mempersilahkan Yoga duduk.


"Iya, terimakasih!" ucap Yoga lalu duduk tepat di samping Devano.


"Anda seorang fotografer?" tanya Devano saat melihat kamera di tangan Yoga.


"Ohh, iya benar!" jawab Yoga tersenyum.


"Wah kalau begitu nanti saya bisa minta bantuan anda jika saya dan istri saya akan mengadakan maternity shoot nantinya!" ujar Devano.


"Ya tentu, saya juga pernah kok mengambil job itu!" ucap Yoga.


Devano baru ingat kalau ia sudah kehilangan bayinya, ya akhirnya ia malah sedih sendiri sembari mengusap wajahnya kasar.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2