Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Sheila marah?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 151


...•...


...•...


Riza masih merasa bingung karena dirinya tiba-tiba ditangkap oleh polisi-polisi itu, bahkan ia juga tak mengenali pria yang memerintahkan para polisi tadi.


"Apa-apaan ini pak? Saya bikin kesalahan apa, kenapa saya ditangkap seperti ini?" ujar Riza bertanya-tanya.


"Hahaha, jangan pura-pura tidak tahu begitu pak Riza! Semuanya disini sudah tau akal bulus anda yang licik itu, jadi sebaiknya anda tidak perlu merasa suci dengan tidak mengatakan yang sejujurnya kalau anda adalah si penculik nona Shella alias istri pak Devano..." ujar pria tadi yang tak lain adalah Rafael orang suruhan Devano.


"Siapa lu sebenarnya? Darimana lu tau semua ini?" tanya Riza menatap tajam ke arah Rafael.


"Baiklah supaya anda tidak mati penasaran di dalam penjara nanti, saya akan mengenalkan diri saya pada anda... perkenalkan pak saya adalah Rafael orang suruhan pak Devano untuk menangkap anda disini..!! Setelah rencana anda untuk menyusupkan orang ke perusahaan pak Devano gagal, beliau yakin kalau anda pasti akan datang kesini menemui Vanya dan oleh karena itu pak Devano meminta saya datang kesini membawa para polisi...." jelas Rafael sambil tersenyum.


Sontak Riza membulatkan matanya dan membuang muka, ia benar-benar merasa telah dikalahkan oleh kepintaran Devano.


"Sudah pak, langsung saja bawa pria ini ke kantor polisi dan jebloskan dia ke dalam penjara! Karena dia telah menculik istri bos saya, selain itu dia juga melakukan percobaan untuk menyusupkan orang-orang ke perusahaan bos saya dan bahkan orang ini juga mengintimidasi Vanya pak..." sambung Rafael.


"Baik pak, mari ikut kami..!!" ujar polisi yang memegangi tangan Riza lalu membawa pria itu keluar dari rumah Vanya.


"Lepasin pak, saya gak mau masuk penjara! Saya gak salah pak, lepasin saya...!!" ujar Riza terus berteriak sambil memberontak dari pegangan para polisi, namun usahanya sia-sia karena tak mungkin bisa lepas dari borgol.


"Tolong diam pak!" ucap polisi itu kemudian terus mendorong tubuh Riza dan membawanya keluar, ya memang para polisi juga menyembunyikan mobil mereka agar Riza tak mengetahui keberadaan mereka sebelumnya.


Rafael pun mengajak Vanya ikut ke depan mengejar polisi yang membawa Riza, tampak keduanya tersenyum puas melihat Riza berteriak-teriak minta dilepaskan.

__ADS_1


"Pak, makasih..." ucap Vanya menatap wajah Rafael sambil tersenyum.


"Untuk apa?" tanya Rafael dengan raut wajah bingung karena tak mengerti.


"Kan bapak udah tangkap Riza, jujur saya merasa terganggu sama omongan dia! Padahal saat ini saya sedang berusaha untuk melupakan kakak saya, eh dia tiba-tiba datang dan mengungkit kembali tentang kematian kakak saya!" jawab Vanya.


"Gak perlu terimakasih, itu kan juga tugas yang diberikan pak Devano ke saya! Oh ya omong-omong jangan panggil saya bapak, saya ini masih muda loh jadi sebut nama aja!" ucap Rafael tersenyum-senyum.


"Oh iya maaf, saya kira kamu udah berumur!" ujar Vanya juga tersenyum dan terlihat wajahnya memerah sedikit.


Tak lama kemudian, mobil polisi melewati rumah itu lagi sekaligus pamit pada mereka berdua... tampak Riza merasa jengkel sekali dan menatap tajam ke arah Rafael.


"Awas aja, pasti gue bakal balas semua perbuatan lu ini dan Devano akan dihadapkan pada kehancurannya...!!" gumam Riza.


Setelah mobil itu pergi, Rafael pun pamit pada Vanya karena tugasnya disana juga telah selesai dan ia harus kembali bekerja.


"Eee maaf Vanya, karena semuanya sudah beres jadi saya mohon izin pamit sama kamu! Terimakasih ya sudah membantu saya untuk melancarkan tugas ini, saya permisi..." ucap Rafael menatap wajah Vanya sambil tersenyum.


"Oh gitu, oke tapi harusnya kan saya yang terimakasih sama kamu! Kalau kamu gak kesini mungkin tadi dia bakal omongin soal kakak aku lagi, makasih ya..." ucap Vanya sedikit gugup.


Vanya pun tetap disana menunggu Rafael kembali dengan mobilnya, entah kenapa ia merasa deg-degan saat berdiri di samping Rafael tadi.


...•••...


Jenar keluar hendak mengecek jemurannya karena langit terlihat mendung, namun ia malah menemukan sebuah bingkisan berisi makanan serta minuman dan ada secarik kertas menempel di depan bingkisan tersebut.


"Loh ini punya siapa ya?" ujar Jenar merasa heran dengan bingkisan itu, ia pun mengambil kertas yang menempel di bingkisan itu lalu membacanya.


"Bu, ini buat ibu sama Shella... salam dari Nadya yang selalu menyayangi kalian!"


Begitulah tulisan yang tertera di kertas itu, membuat Jenar sontak menangis terisak menutup mulutnya.


Menyadari ibunya berdiri saja di depan pintu, Shella pun penasaran dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Jenar.


Shella terkejut karena ternyata Jenar tengah menangis tersedu-sedu, ia merasa keheranan melihat ibunya menangis seperti itu.

__ADS_1


"Bu, ibu kenapa? Kok ibu nangis sih??" tanya Shella yang kini sudah berada di dekat ibunya, ia juga menyentuh pundak Jenar dan berjalan maju sambil terpincang-pincang sedikit.


"Loh kamu kok jalan sih sayang? Kaki kamu kan masih sakit, mending kamu istirahat dulu jangan dipake jalan dulu..!!" ujar Jenar menyeka air matanya dan mengalihkan pembicaraan.


"Aku gapapa kok bu, nah ibu sekarang kenapa malah nangis disini? Tadi kan katanya mau cek jemuran aja, kok malah nangis sih?" ujar Shella kembali pada pertanyaannya tadi.


"Eee ibu cuma sedih sayang, ini ternyata tadi Sheila datang kesini dan kasih bingkisan ini buat kita Shella... ibu semakin yakin kalau Sheila lagi marah sama ibu, buktinya dia gak mau temuin ibu sayang...!!" ucap Jenar.


"Ibu jangan sedih begitu, mungkin Sheila belum bisa kali temuin ibu! Jangan berburuk sangka dulu ya bu, bisa jadi kan tadi yang kesini kasih bingkisan itu bukan Sheila langsung?" ujar Shella berusaha menghibur ibunya dengan memeluk Jenar dan membiarkan sang ibu menangis di bahunya.


"Pasti sebentar lagi Sheila juga datang kok bu terus dia temuin kita lagi, udah ibu jangan nangis-nangis lagi ya..!!" sambung Shella.


Melihat kilat mulai menyambar, Jenar & Shella pun langsung panik dan mengangkat jemuran miliknya yang masih tergantung.


...•••...


Disisi lain, Laila & Sadam datang ke rumah sakit setelah diberitahu oleh petugas sana kalau Devano terluka dan sedang dirawat.


Tampak kecemasan terlihat di raut wajah Laila, ia tentunya tidak mau sesuatu sampai terjadi pada abangnya... Sadam sang kekasih juga langsung merangkul gadis itu dan coba menenangkannya.


"Sabar ya, abang kamu pasti baik-baik aja kok! Jangan sedih ya sayang...!!" ucap Sadam menepuk-nepuk punggung Laila.


"Iya sayang, tapi aku cuma takut aja kalau kak Vano bakalan pergi ninggalin aku! Sekarang ini kan aku tinggal punya dia, setelah orang tua aku ditangkap sama polisi! Kalau dia pergi, aku tinggal sendirian dong..." ujar Laila.


"Hus kamu gak boleh punya pikiran begitu sayang, kamu harus yakin kalau abang kamu bisa sembuh!" ucap Sadam.


"Aku heran loh sayang, kok bisa ya ada orang yang pukulin abang aku? Padahal kan dia itu orangnya baik dan gak suka cari masalah," ujar Laila dengan suara terisak akibat tangisan yang keluar.


"Mungkin aja ada orang yang iri sama abang kamu, secara kan abang kamu itu hidupnya beruntung banget! Dia jadi pengusaha sukses di usia mudanya, terus punya uang banyak malah usahanya ada dimana-mana! Siapa coba yang gak iri sama kesuksesan abang kamu? Tapi sekarang kita doain aja, supaya abang kamu bisa sembuh dan sehat lagi!" ucap Sadam.


Akhirnya Laila berhasil ditenangkan oleh Sadam, ia juga merasa nyaman berada dalam pelukan kekasihnya itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2