
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 285
...•...
...•...
Setelah menimang-nimang cukup lama, Nadya pun terpaksa menuruti kemauan ibunya untuk pulang bersama Yoga karena ia tak ada pilihan lain selain menyetujui itu.
Ya kini ketiganya sudah sampai di depan rumah Jenar dengan Yoga yang membantu membawakan koper milik Nadya, terlihat gadis itu sama sekali tak mengharapkan kehadiran Yoga disana dan terus saja membuang muka melihat ke arah lain.
"Makasih ya, nak Yoga! Udah dianterin pulang terus segala dibawain kopernya..." ucap Jenar.
"Sama-sama, tante! Saya kan ingin bantu teman saya yang baru sembuh dari sakitnya..." ucap Yoga.
"Bu, aku masuk duluan ya?" ucap Nadya menyela obrolan antara sang ibu dengan pria itu.
"Loh kok gitu sih, sayang? Kamu bicara dulu dong sama nak Yoga, kasihan loh daritadi dia kamu cuekin terus gak ditengok sama sekali!" ucap Jenar berusaha meminta putrinya berbicara dengan Yoga.
"Bu, aku mau istirahat...." ucap Nadya memelas.
"Sudah Bu, gapapa kok! Saya juga mau langsung pulang, oh ya ini kopernya... istirahat yang cukup ya Sheila dan semoga cepet sembuh!" ucap Yoga.
Lagi-lagi Nadya tak menggubris ucapan Yoga yang coba mengajaknya berbicara, ia malah membuang muka sambil melipat kedua tangannya bersikap cuek dan jutek pada pria tersebut karena ia memang tak menginginkan kehadiran Yoga disana.
Yoga pun sepertinya cukup frustasi untuk coba membuat Nadya mau berbicara dengannya, ia tersenyum sembari menghela nafas dan mengusap hidungnya karena kecewa dengan sikap Nadya yang terus saja cuek padanya.
"Sheila, kamu gak boleh gitu!" ujar Jenar.
Nadya mendengus kesal lalu berjalan masuk begitu saja ke dalam rumahnya meninggalkan kedua orang itu disana, tampak Jenar sedikit merasa kesal pada kelakuan putrinya yang malah pergi ketika ia menasehati gadis tersebut.
__ADS_1
"Udah, gapapa tante! Mungkin Shella emang masih pengen istirahat, nanti kapan-kapan saya mampir lagi buat ketemu Sheila!" ucap Yoga menahan sedihnya.
"Iya, maafin kelakuan Sheila ya nak Yoga! Tante juga gak tahu kenapa dia jadi begitu, padahal sebelumnya selalu nurut loh sama tante!" ucap Jenar.
"Mungkin Sheila butuh waktu untuk bisa mengenali saya lagi, kan sekarang dia sedang lupa ingatan jadi saya juga gak bisa paksain Sheila buat baik sama saya!" ucap Yoga tersenyum.
"Iya, terimakasih ya nak kamu udah bisa maklumin sikap Sheila...." ucap Jenar ikut tersenyum.
"Iya tante, yasudah kalo gitu saya pamit pulang dulu tante! Masih ada urusan juga yang harus saya urus!" ucap Yoga pamit pada Jenar.
"Eh iya iya, sekali lagi makasih ya nak!" ucap Jenar.
"Sama-sama, tante!"
Yoga pun mencium punggung tangan Jenar lalu pergi dari sana dengan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gang, selama jalan ia berpikir cara apa sekiranya yang harus ia lakukan untuk menenangkan Nadya atau membuat Nadya bersikap baik padanya dan paling tidak mau berbicara dengannya seperti dahulu.
Sementara Jenar kini langsung masuk ke dalam rumahnya membawa koper milik Nadya yang tergeletak di lantai, ia hendak menemui Nadya di kamar untuk menasehati gadis itu karena ia merasa kalau kelakuan Nadya tidak benar dan tidak pantas dilakukan oleh seorang gadis sepertinya.
"Bik, tolong buatkan makan siang ya untuk Sheila! Saya mau ke atas dulu, nanti kalau udah siap kamu kasih tau aja!" ucap Jenar menemui Yani di dapur.
"Oh ya, ini ada pakaian kotor punya Sheila! Kamu tolong sekalian cuciin, ya!" ucap Jenar menyerahkan koper itu pada Yani.
"Siap, Bu!"
Setelahnya, Jenar pun langsung menaiki tangga menuju kamar putrinya dengan ekspresi kesal karena ia masih tak habis pikir pada Nadya yang bisa-bisanya melakukan itu ketika sedang bicara dengannya.
•
•
TOK TOK TOK...
Jenar langsung mengetuk pintu kamar Nadya dengan keras dan cepat begitu sampai di depan kamar putrinya itu, ia menunggu cukup lama berharap Nadya segera membukakan pintu untuknya tetapi hingga kini belum juga ada jawaban.
Ya Jenar yang kesal akhirnya berusaha membuka sendiri gagang pintu itu, akan tetapi tidak bisa karena ternyata Nadya menguncinya dari dalam sehingga ia pun gagal untuk masuk ke dalam menemui Nadya dan menasehatinya.
"Sheila, buka dong pintunya! Ini ibu loh sayang, kamu pasti masih sadar kan belum tidur?" ucap Jenar.
__ADS_1
TOK TOK TOK....
Jenar terus mengetuk pintu kamar Nadya berulang kali agar gadis itu merasa terganggu dan nantinya mau membuka pintu tersebut, namun seperti sebelumnya kali ini pun usahanya gagal karena Nadya tak juga bergerak membuka pintu.
Akhirnya Jenar frustasi dan tampak menghembuskan nafas kasar lalu berbalik badan, ia memilih untuk pergi saja karena berpikir kalau Nadya mungkin marah atau kecewa padanya.
Ceklek...
Akan tetapi, tiba-tiba pintu terbuka disaat Jenar sudah putus asa dan ingin pergi dari sana, ya ia pun kembali membalikkan tubuhnya lalu tersenyum saat melihat Nadya berdiri di depan pintu dengan wajah cemberut serta raut kesal.
"Akhirnya kamu bukain juga, sayang! Ibu boleh masuk, ya?" ucap Jenar langsung menghampiri dan menggenggam lengan putrinya.
Nadya hanya mengangguk tanda ia memperbolehkan ibunya masuk ke dalam sana, tentu saja mereka pun segera melangkah memasuki ruangan tersebut lalu duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan Jenar merangkul Nadya.
"Maafin ibu ya, sayang! Kalau kamu merasa ibu terlalu memaksakan kamu untuk bicara sama Yoga, yasudah ibu gak akan ulangi lagi!" ucap Jenar.
Nadya tersenyum tipis sembari menatap wajah ibunya, namun bibirnya masih mengatup tak mau berbicara dan raut matanya juga mengekspresikan bahwa dirinya belum benar-benar bahagia atau sekedar senang dengan perkataan sang ibu.
"Tapi, kamu juga gak boleh kayak gitu sayang! Memangnya kenapa sih, kok kamu sampe cuekin Yoga segitunya??" ucap Jenar penasaran.
"Aku gak tahu sih Bu, tapi aku ngerasa gak suka aja kalau cowok itu deket-deket aku terus!" jawab Nadya sesuai dengan apa yang dirasakannya.
"Yaudah, ibu mah terserah kamu aja..." ucap Jenar tersenyum sembari mengusap lembut punggung putrinya untuk menenangkan gadis itu.
Akhirnya Nadya pun mau tersenyum lepas dan renyah lalu memeluk tubuh ibunya sebagai ungkapan kesenangan dirinya, ya Jenar terpaksa mengiyakan saja perkataan Nadya karena ia tak ingin gadis itu kembali ngambek apalagi kalau sampe marah seperti tadi kepadanya.
"Aku sayang deh sama ibu...!!" ucap Nadya memeluk erat ibunya dari samping.
"Iya, ibu juga sayang sama kamu Sheila! Jangan pernah kayak tadi lagi ya, cantik!" ucap Jenar mengusap kepala Nadya dan mengecupnya lembut.
Nadya manggut-manggut di dalam pelukan ibunya sembari menikmati usapan lembut dari tangan sang ibu yang sangat disukainya, Jenar pun juga sama seperti Nadya yakni menyukai momen-momen seperti ini ketika ia bisa dekat dengan putrinya.
"Aku cuma mau ketemu sama cowok yang suaranya aku dengar saat aku koma, hanya dia Bu!" batin Nadya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1