Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Kesal dengan suami


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 386


...•...


...•...


Shella yang masih merindukan sosok suaminya itu hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari memegang bingkai foto dirinya juga sang suami yang selalu ia bawa kemana-mana, ya Shella memang sangat mencintai Devano dan tidak mau jika ia sampai kehilangan suaminya tersebut.


Berkali-kali Shella terus saja mengecek ponselnya untuk memastikan apakah ada telpon atau sms yang masuk kesana, namun hasilnya nihil alias tidak ada sama sekali pesan ataupun telpon dari suaminya yang masuk ke nomornya itu.


Shella pun tampak kecewa dan membanting ponselnya itu dengan keras ke ranjang, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan sembari menahan air mata yang ingin keluar. Tampaknya Shella sangat rindu pada Devano sampai ia tak kuasa lagi menahan air matanya itu, padahal dihitung-hitung baru sekitar tiga jam lah Devano pergi meninggalkan dirinya disana untuk pergi ke kantornya di Jakarta.


Namun, Shella terlalu cinta pada Devano sehingga ia tidak bisa ditinggal oleh suaminya itu tanpa kabar seperti ini. Walau ia tau kalau mungkin saja Devano sedang sibuk menemui kliennya di kantor, tapi ia berpikir seharusnya Devano mengabarinya lebih dulu apakah sudah sampai atau belum sehingga ia tidak perlu khawatir seperti saat ini.


"Haish, mas Vano ini nyebelin banget sih! Aku kan jadi khawatir sama dia kalo gini, awas ya nanti kalo telpon atau sms gak akan aku ladenin kamu mas! Bikin orang kesel aja sih!" gumamnya.


Shella yang terlanjur dibuat jengkel oleh kelakuan suaminya pun memilih untuk mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja, ia tak peduli jika nantinya Devano menelpon atau mengirim pesan ke nomornya, karena ia sudah terlanjur kesal dengan Devano yang tak kunjung mengabarinya.


Akhirnya Shella menarik selimut tebal dan menutupi tubuhnya di atas ranjang, ia tidur dengan posisi telentang dan satu tangan di atas perutnya lalu perlahan memejamkan mata dengan senyum terukir di bibirnya yang tipis dan seksi itu, Shella pun mencoba untuk tidur disana agar ia dapat melupakan sosok suaminya.


Alangkah jengkelnya Shella, karena ketika ia memejamkan mata justru yang muncul adalah wajah Devano suaminya tersebut dan ia malah semakin tidak bisa melupakan Devano untuk saat ini.


"Aaarrgghh!! Kenapa sih kamu selalu ganggu pikiran aku, mas? Padahal aku lagi kesel loh sama kamu, bisa-bisanya aku masih kepikiran sama kamu! Apa jangan-jangan kamu ini melet aku ya? Makanya aku jadi kepikiran terus sama kamu, haish!" ujar Shella.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya dari luar, Shella pun bergegas menyibakkan selimut lalu hendak bangkit mendekati pintu.


"Sayang, ini mama nak! Kita makan siang dulu yuk! Udah masuk waktunya makan siang nih, kamu harus makan yang banyak sayang supaya energi kamu gak habis nantinya!" ucap Silvi dari luar kamar.


"Iya mah...." Shella berteriak sambil beranjak dari ranjang empuknya itu dan menghampiri Silvi.


Ceklek...


Shella pun membuka pintu dengan wajah cemberut dan murung karena masih kepikiran dengan suaminya yang hingga kini tak kunjung juga memberi kabar padanya, ia akhirnya hanya bisa manyun menunggu sesuatu yang tak pasti dari suaminya itu.


Silvi tampak heran ketika melihat Shella keluar dengan wajah cemberutnya, "Kamu kenapa sayang? Kok cemberut gitu?" tanya Silvi dengan penuh khawatir dan kecemasan.


"Eee gapapa kok, mah!" jawab Shella sambil tersenyum dan menghilangkan wajah cemberutnya.


"Yakin sayang? Kamu pasti masih kepikiran suami kamu ya?" tanya Silvi tak percaya dengan jawaban dari Shella barusan.


Shella menjawab dengan nada pelan, "Umm, iya sih mah."


"Sabar sayang! Mungkin suami kamu masih sibuk dan lagi rapat sama kliennya, sekarang kamu makan dulu ya jangan mikirin dia terus! Mama gak mau kamu terus-terusan kepikiran sama Devano sampe gak mau makan, nanti biar mama yang tegur Devano karena dia gak kasih kabar ke kamu!" ujar Silvi.


"Duh, jangan dong mah! Nanti aku malu kalo mas Vano tau kalau aku daritadi mikirin dia, kan mas Vano itu nyebelin mah! Dia suka ledekin aku gitu, mending jangan ya mah!" ucap Shella.


"Loh kamu ini gimana sih? Katanya kangen, mama kasih bantuan kok gak mau? Ngapain pake malu segala sama suami kamu sendiri?" tanya Silvi heran.


"Eee hehe gak tau mah kenapa, tapi gausah ya mah! Biar nanti mas Vano sendiri aja yang sadar buat kasih kabar ke aku, kalau misal mama tegur kan mas Vano pasti ngabarin akunya gara-gara ditegur mama bukan karena keinginan sendiri," jawab Shella.


"Ohh, yaudah deh iya. Mama ikut aja sama kamu, sekarang makan yuk!" ucap Silvi.

__ADS_1


"Iya mah..."


Shella mengangguk pelan dan kemudian berjalan mengikuti mamanya itu ke meja makan, mereka berdua pun hendak makan siang bersama-sama disana dengan keluarga Roky juga yang sudah disana lebih dulu.


...•••...


Sementara itu, Devano baru selesai menemui klien dari Korea yang penting itu dan sangat berpengaruh untuk perusahaannya. Ia sangat senang lantaran klien tersebut mau menerima tawaran kerjasama darinya dan mereka pun akan menjalin hubungan mulai saat ini, sehingga perusahaan Devano tentunya akan semakin maju dan berjaya.


Devano pun melirik ke arah Novi sekretarisnya yang sedang merapihkan berkas-berkas disana, entah mengapa ia masih kepikiran tentang kelakuannya dulu kepada Novi. Ya Devano telah memaksa Novi untuk memuaskan miliknya, sehingga kini ia masih belum bisa melupakan hal tersebut dan selalu menyesal karena telah melakukan itu pada Novi.


"Nov, kamu tunggu sebentar ya! Jangan pergi keluar dulu!" ucap Devano menahan Novi.


"Ada apa ya pak?" tanya Novi tak mengerti.


"Saya mau bicara sebentar sama kamu, jangan takut saya gak akan apa-apain kamu kok! Kita bicara sebagai seorang Devano dan juga Novi, bukan bos dan sekretaris!" ucap Devano menjelaskan.


"Umm, baik pak! Kalau gitu silahkan bapak bisa mulai berbicara!" ucap Novi tersenyum.


"Iya, saya hanya ingin meminta maaf sama kamu atas kesalahan yang sudah pernah saya lakukan ke kamu waktu itu! Saya tahu sekali kalau kelakuan saya itu benar-benar diluar batas, tapi apa kamu bisa memaafkan saya Novi? Saya menyesal sekali sudah pernah melakukan itu, jujur saya salut sama kamu karena kamu masih tetap mau bekerja disini padahal saya sudah melecehkan kamu!" ucap Devano.


Novi terdiam menunduk bingung harus berkata apa kepada bosnya, ia sendiri juga masih belum bisa melupakan tentang kejadian kala itu.


"Eee sebaiknya hal itu tidak usah dibahas lagi, pak! Saya juga sedang berusaha untuk melupakan itu, lagipun saya sudah memaafkan bapak kok dan saya juga tidak marah sama bapak!" ucap Novi.


"Kamu serius?" tanya Devano.


"Iya pak, walau sebenarnya saya sangat kecewa dan kesal sekali sama bapak waktu itu, tapi saya gak ada rasa dendam sedikitpun kok pak!" jawab Novi.


"Makasih ya! Kamu emang wanita yang baik, seharusnya saya gak melakukan itu ke kamu! Sekali lagi saya minta maaf ya sama kamu, semoga kamu bisa terus begini!" ucap Devano.


"Iya pak, saya sudah maafkan kok! Saya juga akan setia sama perusahaan bapak!" ucap Novi.


"Baik pak, permisi!" ucap Novi tersenyum.


Novi pun bangkit dari duduknya membawa berkas yang sebelumnya digunakan untuk meeting, ia berjalan keluar ruangan itu meninggalkan bosnya sendirian untuk mengabari istrinya. Novi senang lantaran Devano kini sudah berubah dan sadar kalau perbuatannya waktu itu salah, ia juga tak perlu khawatir lagi kalau Devano akan melakukan itu kembali padanya.


Setelah Novi pergi, kini Devano tersenyum dan mengambil ponselnya dari saku jas miliknya. Ia tak sabar untuk mendengar suara sang istri yang selalu membuatnya kecanduan, namun ia lebih dulu mengirim pesan ke nomor istrinya untuk mencari tahu sedang apakah Shella saat ini.


Naasnya, Shella tak kunjung juga membalas pesan darinya dan bahkan tanda pesan itu hanya centang satu yang artinya handphone milik Shella sedang tidak aktif. Devano pun tampak kesal karena Shella tak mau menuruti permintaannya untuk selalu mengaktifkan ponsel apapun keadaannya, ia akhirnya memutuskan untuk menelpon mamanya.


"Shella ini bener-bener deh! Disuruh aktifin hp malah dimaafin, dasar istri pembangkang!" gumamnya.


📞"Halo mah, mama sekarang lagi dimana?" tanya Devano dalam telpon begitu mamanya mengangkat telpon tersebut.


📞"Iya halo Vano, ini mama di rumahnya paman Roky kok. Ada apa sih sayang, kenapa kamu marah-marah begitu?" ucap Silvi.


📞"Mah, Shella lagi dimana?" tanya Devano.


📞"Ini Shella ada kok sama mama di meja makan, dia lagi makan siang sayang. Kenapa sih kamu kok kayak yang panik gitu?" ucap Silvi.


📞"Ya gimana aku gak panik mah? Abisnya Shella itu aku sms gak dibalas-balas, eh ternyata emang dia hp nya gak diaktifin! Padahal aku udah pesan sama dia untuk selalu aktifin ponselnya!" ujar Devano kesal.


📞"Sabar Vano! Kamu juga jangan salahin istri kamu begitu dong! Shella itu daritadi juga nunggu kabar dari kamu, tapi kamunya gak ngasih kabar ke dia!" ucap Silvi menenangkan Devano.


Devano terdiam karena benar juga apa yang dikatakan mamanya barusan, ya ia memang lupa untuk mengabari Shella sebelumnya.


📞"Vano, kenapa kamu malah diam?" tanya Silvi.


📞"Eee iya mah, aku mau bicara dong mah sama Shella! Bisa kan mah?" ucap Devano.


📞"Oh, sebentar ya!" ucap Silvi.

__ADS_1


Silvi pun berbicara sejenak pada Shella untuk mengatakan pada wanita itu kalau Devano ingin berbicara dengannya, namun rupanya Shella tidak mau berbicara dengan Devano karena ia masih marah pada suaminya itu yang tak memberi kabar padanya kalau sudah sampai di Jakarta, padahal ia selalu menunggu kabar dari Devano itu.


"Sayang, ini suami kamu mau bicara loh! Masa kamu gak mau bicara sama dia? Bukannya daritadi kamu tungguin kabar dari Devano terus kan sayang?" ucap Silvi coba membujuk Shella.


"Mah, aku kan lagi makan! Kata ibu kalau lagi makan tuh gak boleh bicara, apalagi telponan kayak gitu!" ucap Shella dingin.


"Oh gitu, ya iya juga sih. Yaudah, mama bilangin dulu ke Devano nya ya? Tapi, bener nih kamu gak mau ngomong dulu sebentar sama suami kamu?" ucap Silvi tersenyum.


"Iya mah, bener!" jawab Shella.


"Yaudah,"


Silvi pun kembali berbicara pada putranya untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh Shella tadi.


📞"Halo Vano!" ucap Silvi.


📞"Ah iya mah, bagaimana? Shella mau kan bicara sama aku mah?" tanya Devano cemas.


📞"Itu dia Vano, istri kamu belum mau bicara sama kamu. Katanya sekarang dia kan lagi makan, jadi gak mau diganggu dulu! Kamu sabar aja ya, nanti kamu coba deh telpon Shella lagi! Ya intinya Shella itu baik-baik aja, kamu gausah cemas!" ucap Silvi.


📞"Ohh, yaudah deh mah gapapa. Makasih ya mah, aku juga mau makan siang dulu nih! Assalamualaikum," ucap Devano pamitan.


📞"Waalaikumsallam, iya Vano makan yang banyak ya!" ucap Silvi tersenyum.


Setelahnya, Devano pun mematikan telpon tersebut lalu mengusap wajahnya kasar sembari menghela nafas penyesalan. Ia menyesali perbuatannya yang sudah lupa untuk mengabari istrinya, bahkan sampai membuat Shella juga ngambek dan marah padanya sehingga tak mau berbicara padanya tadi.


"Aaarrgghh!! Shella pake acara ngambek segala lagi, saya harus apa dong ini buat bujuk dia? Gak mungkin saya bisa terus begini, apalagi Shella kalo ngambek kan susah buat dibujuk!" gumam Devano.




Sementara Shella sejujurnya memang ingin sekali berbicara pada suaminya, karena sedari tadi memang ia rindu sekali dan selalu menanti kabar dari suaminya. Namun, Shella ingin memberi pelajaran dulu pada suaminya untuk tidak ingkar janji seperti saat ini.


"Sayang, kamu marah ya sama suami kamu?" tanya Silvi sembari memegang tangan Shella.


"Loh, emang ada apa sih mah? Kenapa Shella bisa marahan sama Devano? Apa diantara kalian ada masalah?" ujar Tama kebingungan.


"Iya pah, biasalah ini ulah anak kita Devano! Dia lupa ngabarin Shella, padahal Shella ini udah nungguin kabar dari suaminya!" ucap Silvi.


"Ohh, kangen ya kamu sama suami?" ucap Eriska.


"Eee iya tante, ini mungkin bawaan bayi aku. Bukan akunya yang kangen sama mas Vano," jawab Shella dengan gugup plus malu.


"Ahaha, kalau kamunya juga gapapa kok sayang! Wajah istri kangen sama suaminya, gausah malu-malu gitu!" ujar Eriska tersenyum.


"Iya sayang, bener kata tante Eriska! Gausah malu lah, kan kamu kangennya sama suami kamu sendiri bukan sama suami orang!" sahut Silvi sambil tertawa kecil menggenggam tangan Shella.


"Mama bisa aja!" ujar Shella sambil tersenyum.


"Yaudah, jangan marahan lagi sama Devano! Nanti kasihan anak kamu itu, dia kan kangen sama papanya!" ucap Silvi.


"Eee iya mah, aku juga gak marah kok sama mas Vano! Aku kan cuma kesal aja!" ucap Shella.


"Iya sayang, mama wajar kok kalau kamu kesal sama Devano itu! Emang dia mah kebiasaan kayak gitu, sabar ya sayang ya!" ucap Silvi sembari menepuk punggung Shella dan tersenyum.


Shella hanya manggut-manggut lalu melanjutkan makannya dengan sedikit tersenyum tipis.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2