Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Pagi hari di rumah paman


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 376


...•...


...•...


"Nah, ini kamar kalian selama disini. Tidur yang nyenyak ya Shella! Tante mau ke depan lagi, kalau ada apa-apa panggil aja ok!" ucap Eriska sembari membuka pintu kamar disana.


"Makasih ya, tante!" ucap Devano tersenyum.


"Iya tante, makasih!" sahut Shella.


"Sama-sama, yaudah kalian istirahat gih di dalam! Tante permisi dulu, selamat malam!" ucap Eriska tersenyum.


"Iya tante..." ucap Devano.


Eriska pun pergi meninggalkan Devano serta Shella disana berdua, ia kembali ke bawah menemui suami serta kedua saudara suaminya disana yang sedang mampir ke rumah tersebut.


Sementara Devano kini mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar, ia masih terus merangkul dan menuntun sang istri ke dalam sana agar Shella bisa istirahat di malam hari ini. Shella pun setuju saja karena memang ia juga sudah sangat mengantuk akibat perjalanan tadi, rasa lelahnya pun tambah terasa malam ini mungkin karena foto-foto tadi.


Devano langsung membawa Shella ke dekat ranjang dan menidurkan istrinya itu di atas ranjang yang empuk tersebut, tampak Shella tersenyum menatap wajah suaminya dari posisi berbaring. Devano hanya bisa membalas senyuman Shella sembari terus mengusap wajah istrinya itu, ia ingin meninggalkan kamar tersebut dan kembali ke bawah.


"Honey, kamu tidur ya yang nyenyak! Aku harus ke bawah lagi sekarang, gapapa kan?" ucap Devano.


"Mas, temenin aku dulu sampe aku tidur!" ucap Shella langsung menggenggam tangan Devano memintanya tetap disana.


"Eee aku gak enak sama paman, honey." ucap Vano.


"Gapapa mas, sebentar aja kok!" paksa Shella.


Melihat senyuman di wajah Shella membuat Devano tak mampu berbuat apa-apa, ia pun menuruti kemauan istrinya itu karena tak mungkin ia menolak permintaan sang istri kembali. Lagipun, menemani Shella di kamar berdua juga sangat ingin ia lakukan dan merupakan momen yang ia nanti-nanti selama beberapa bulan ini.


"Yaudah iya, aku tutup pintu dulu ya?" ucap Devano tersenyum sembari menyingkirkan tangan Shella secara perlahan dari lengannya.


"Iya, tapi balik lagi jangan pergi!" ucap Shella sambil menguap tanda mengantuk.


Devano manggut-manggut kemudian pergi menuju pintu dan menutupnya rapat-rapat dari dalam, tak lupa ia juga menguncinya jaga-jaga kalau nanti ada yang tiba-tiba masuk kesana, tentu Devano tidak ingin ada yang melihat adegan mesra antara ia bersama istrinya di dalam sana, biarpun Shella juga sebenarnya tidak menginginkan itu.


Setelahnya, Devano pun kembali mendekati istrinya dan langsung naik ke atas ranjang berbaring di samping tubuh Shella. Ia menoleh ke arah Shella lalu menggenggam tangan mulus milik Shella sambil tersenyum manis, ia juga menarik kepala sang istri ke dekat bahunya dan mengecup keningnya secara lembut lalu mengusapnya.


"Dah, sekarang aku kan ada disini, kamu tidur ya?" ucap Devano berdesis di telinga Shella.


"Iya mas, kamu jangan kemana-mana dulu!" ucap Shella menatap suaminya dengan wajah cemberut.


"Iya honey...." ucap Devano menurut.


"Aku nyaman banget kalo di dekat kamu, mas. Kamu harus selalu disisi aku ya, jangan pernah tinggalin aku!" ucap Shella dengan mata terpejam dan tangan yang ia taruh di atas dada suaminya.


Entah mengapa perkataan Shella membuat Devano bersedih dan tanpa sadar meneteskan air mata, dengan cepat ia menghapus air mata itu sebelum Shella melihatnya. Sepertinya Devano memang masih menyesalkan perbuatan yang ia lakukan beberapa bulan lalu dengan Novi, ia juga heran mengapa bisa sampai melakukan hal itu.


"Iya honey, kamu tenang aja! Aku gak akan pernah kemana-mana apalagi pergi tinggalin kamu kok, sehat-sehat terus ya!" ucap Devano.



__ADS_1


Sementara itu, Eriska telah kembali ke bawah menemui suaminya serta kedua saudara suaminya yang sedang berbincang-bincang di ruang tamu sambil menikmati cemilan. Eriska tersenyum senang karena rumahnya kini jadi semakin ramai dengan kehadiran keluarga Silvi dan Tama disana, ya walau Shella harus tidur lebih dulu di kamar dan mereka belum sempat bicara banyak karena itu.


Melihat kehadiran istrinya kembali, Roky langsung tersenyum menatap ke arah datangnya sang istri itu dan siap bertanya mengenai Shella serta Devano yang tadi pergi bersamanya. Eriska pun duduk di samping suaminya lalu memandang Silvi serta Tama secara bergantian sambil tersenyum.


"Sayang, gimana Shella sama Devano? Apa mereka udah pada tidur di kamar?" tanya Roky penasaran.


"Iya pipi, mereka udah aku anterin kok sampe ke depan kamar. Kayaknya mereka juga udah mulai tidur kok istirahat di kamar itu," jawab Eriska.


"Ohh, ya baguslah!" ucap Roky tersenyum.


"Maaf ya Roky, kita baru sampai disini tapi sudah langsung merepotkan begitu! Maklumlah, orang hamil kan emang gampang capek! Jadi, ya Shella juga kecapekan karena perjalanan lumayan." ucap Silvi sambil tersenyum.


"Ah gapapa, mbak. Kita juga maklumin kok, lagian kan besok juga masih bisa bicara-bicara lagi kalau udah agak segaran." ucap Roky.


"Hahaha, iya itu benar. Tapi, ini Vano kenapa gak turun ke bawa lagi ya? Masa iya dia ikutan tidur juga sama kayak Shella? Padahal dia tadi masih seger loh, gak kelihatan ngantuk!" ucap Silvi heran.


"Ohh, mungkin Devano mau nemenin istrinya kali, mbak." ucap Eriska.


"Iya itu, dia gak mau kali jauh-jauh dari istrinya." sahut Rocky sambil terkekeh kecil.


"Iya juga sih, Vano emang anaknya begitu. Dia itu overprotektif kalau sudah menyangkut kondisi istrinya, tapi wajar sih namanya baru pertama kali mah punya anak jadi begitu. Apalagi kan kehamilan pertama istrinya harus keguguran, jadi kali ini Devano gak mau hal itu terjadi lagi." ucap Silvi.


"Hah? Keguguran mbak??" Roky terkejut.


"Iya Roky, Shella sudah pernah hamil sebelumnya. Namun, ia keguguran di usia kandungannya yang baru masuk trimester kedua. Syukurlah saat ini dia masih diberi kesempatan untuk memiliki anak lagi," jawab Silvi agak sedikit bersedih.


"Innalilahi, memangnya Shella dan Devano ini sudah berapa lama sih menikah?" tanya Roky.


Silvi terhenyak mendengar pertanyaan adiknya itu, ia menoleh sekilas ke arah Tama bermaksud meminta bantuan suaminya itu untuk menjawab pertanyaan dari Roky yang cukup menyulitkan.


"Hadeh si mama pake bahas keguguran Shella segala, kan sekarang jadi riweh!" batin Tama.


Akhirnya Tama terpaksa menjawab dengan sebuah kebohongan, tentu agar aib putranya tidak tersebar walau ke saudara istrinya sendiri. Ya biar bagaimanapun yang namanya aib memang harus ditutupi dan tidak boleh disebar, Tama juga tidak mau menanggung malu disana.


"Devano sama Shella itu sudah menikah sekitar dua tahunan lah kalo gak salah, waktu itu kayaknya tahun 2019 deh." jawab Tama ngasal.


"Papa kenapa bohong sih?" batin Silvi.


"Ohh sudah dua tahun, wah lama juga ya? Maaf banget loh ini mas, mbak! Kami tidak bisa hadir waktu itu di pernikahan Devano, soalnya kami juga ndak diberi kabar pas acaranya mulai." ucap Roky.


"Ya gapapa, Roky. Jangankan kamu, aku sendiri aja yang mamanya gak datang loh ke nikahan mereka! Memang Devano itu sempat sih telpon aku waktu aku sama suamiku ini lagi di luar negeri, tapi kami gak bisa datang karena sibuk dan akhirnya cuma kasih restu aja buat Vano. Ya sisanya dia sendiri yang atur pernikahan itu," ucap Silvi.


"Ohh, mandiri berarti ya Devano itu?" ucap Roky.


"Ahaha, memang dia seperti itu!" ucap Tama.


...•••...


Keesokan paginya, Devano terbangun dari tidurnya dan kaget saat mengetahui tidak ada Shella di sampingnya saat ini. Ia pun langsung panik lalu bangkit dari ranjang begitu saja untuk mencari istrinya itu, ia mencari ke sekeliling kamar namun tidak berhasil menemukan keberadaan Shella disana karena memang Shella sudah tidak ada disana.


Akhirnya Devano pun keluar dari kamarnya dengan kondisi rambut masih acak-acakan dan mukanya juga masih dipenuhi bekas air liur serta belek, karena Devano belum cuci muka akibat rasa cemas yang melandanya saat ini. Ia menuruni tangga dengan cepat dan terus mencari keberadaan istrinya disana, ia benar-benar sangat khawatir saat ini.


"Shella, Shella..."


Devano terus berjalan sembari meneriakkan nama istrinya dengan wajah cemas, sampai ia akhirnya bertemu dengan Eriska alias tantenya itu saat di bawah. Devano pun dicegat oleh tantenya tersebut karena penasaran dengan tingkah Devano yang seperti itu di pagi hari ini, padahal Devano sendiri baru bangun dari tidurnya.


"Vano, ada apa sih?" tanya Eriska penasaran.


"Eh tante, ini loh aku nyariin Shella. Tante lihat gak dia dimana atau kemana gitu? Soalnya pas aku melek, itu Shella udah gak ada di samping aku." ucap Devano menjelaskan sambil bertanya pada Eriska.


"Ohh, ya ampun kamu ini! Udah gausah cemas begitu! Shella ada di kebun samping rumah kok, tadi katanya dia jalan-jalan pagi sekalian cari udara segar. Kamu susulin aja dia gih, ada mama kamu juga sih!" ucap Eriska memberitahu pada Devano.


"Huh syukurlah! Aku pikir Shella hilang kemana gitu, tan. Makasih ya tante! Kalo gitu, aku mau susul Shella dulu ke kebun." ucap Devano.

__ADS_1


"Iya, hati-hati kamu! Gausah cemas gitu, kan ada mbak Silvi yang jagain Shella! Mending kamu juga ke kamar mandi dulu gih, tuh bersihin muka kamu!" ucap Eriska memberi saran.


"Oh iya ya, yaudah deh aku ke kamar mandi aja dulu. Permisi tante..." ucap Devano nyengir.


"Iya..."


Akhirnya Devano memilih untuk pergi ke kamar mandi lebih dulu, ya tentu karena ia tak mau nantinya Shella merasa ilfeel padanya atau apalah itu yang sering membuatnya kecewa. Devano melangkah menuju kamar mandi sembari mengucek-ngucek matanya yang masih dipenuhi belek, ia juga sempat menguap sesekali karena rasa kantuknya itu.


Sesudahnya, Devano pun keluar dari kamar mandi lalu hendak menemui istrinya di kebun samping rumah tersebut. Namun, ia malah berpapasan dengan papanya yang sepertinya baru bangun dan juga hendak masuk ke kamar mandi untuk membasuh mukanya sejenak sebelum melakukan aktivitas.


"Eh papa, baru bangun pah?" tanya Devano.


"Iya, papa kan semalam susah tidur. Emangnya kamu, enak tidur peluk-peluk sama istri kamu!" jawab Tama sambil menguap lebar.


"Hahaha, papa kan juga bisa peluk mama." ucap Devano sambil tertawa kecil.


"Ya emang bisa, tapi mama kamu itu kalo udah tidur gak mau diganggu! Orang papa peluk sedikit aja, eh dia ngamuk gak karuan!" ujar Tama.


"Hahaha, yaudah sabar aja pah!" ujar Devano.


"Ya, mau kemana ini kamu?" tanya Tama.


"Ini pah, mau susul Shella sama mama ke kebun samping. Aku panik banget tadi nyariin Shella pas gak ada di kamar, eh ternyata kata tante Eriska, Shella lagi sama mama di kebun." jelas Devano.


"Oalah, yaudah sana susulin!" ucap Tama.


"Iya pah, ini kan mau kesana." ucap Devano.


Setelahnya, Devano pun pergi menyusul istrinya ke luar dari rumah itu dan menuju ke kebun di samping rumah seorang diri. Ya Devano sudah tidak sabar ingin memeluk dan mencium harum tubuh istrinya itu di pagi hari yang cerah ini, memang biasanya hal itu sering ia lakukan ketika mereka sedang berada di rumah dan Shella pun tak menolaknya.




Saat sampai di kebun samping, Devano tersenyum begitu melihat istrinya ada disana dan tengah melihat-lihat kebun itu bersama Silvi serta paman Roky yang juga menemani mereka. Devano pun melangkah ke dekat istrinya dan tanpa aba-aba, langsung memeluk serta menyesap leher istrinya dari belakang sehingga membuat Shella kaget.


Bukan hanya Shella, Silvi dan Roky yang juga ada disana pun ikut terkejut akibat perbuatan Devano yang datang secara tiba-tiba. Ya tentu saja Devano harus siap menerima ocehan dari mamanya, karena tindakan isengnya itu kepada Shella yang membuat semua orang disana kaget, namun Devano tak perduli akan itu yang penting ia bisa memeluk Shella.


"Mas, kamu apaan sih?" tanya Shella kesal.


"Tau ih Vano! Kamu mau bikin kita semua jantungan, ya?" sahut Silvi juga kesal.


"Hehehe, maaf mah, paman!" ucap Devano nyengir.


"Kamu lagian ngapain kesini?" tanya Silvi.


"Ya mama pake nanya segala! Aku udah jelas lah mau peluk dan cium istri aku yang cantik ini, abisnya tiba-tiba dia udah gak ada di ranjang tadi! Kan aku jadi panik banget, mah!" ucap Devano.


"Mas, lepasin ah! Kamu kalo peluk aku begini, nanti bikin baby kesakitan!" ucap Shella.


"Ah masa? Kan aku peluknya pelan, honey. Lagian aku suka banget hirup aroma tubuh kamu yang wangi ini tiap pagi, gapapa ya?" ujar Devano.


"Hadeh, masih pagi Vano!" ujar Silvi.


"Hahaha, gapapa mbak. Mereka kan udah jadi suami-istri, jadi sah-sah aja kalo Devano mau peluk dan cium istrinya itu!" ucap Roky sambil tersenyum.


"Nah kan, paman Roky aja ngerti." ucap Devano.


"Ya emang iya mereka udah nikah, tapi Devano ini gak tahu tempat kalo mesra-mesraan sama istrinya. Dimana aja dia bisa loh begitu, kan aneh!" ujar Silvi sambil geleng-geleng.


"Itu tandanya, aku beneran sayang sama Shella, mah!" ucap Devano.


Devano pun menarik wajah Shella dan menatapnya sambil tersenyum, perlakuan suaminya membuat Shella juga ikut tersenyum senang.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2