
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 121
...•...
...•...
Setelah selesai telponan dengan papahnya, Adrian sempat menoleh sejenak ke arah Nadya dan menatapnya tajam.
Namun, setelah itu ia langsung beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Nadya disana begitu tanpa sepatah katapun.
Nadya heran mengapa bosnya mendadak keluar dari ruangannya, walau sebenarnya ia juga senang karena akhirnya bisa lepas dari gangguan Adrian.
"Kira kira pak Adrian kenapa ya? Tumben banget dia pergi gitu aja tanpa bilang apa-apa ke aku, dari mukanya juga dia keliatan kayak gelisah gitu.. ada apa ya sama pak Adrian?" gumam Nadya bermonolog dalam hatinya.
"Ish apaan sih, ngapain coba gue mikirin pak Adrian? Justru bagus kan kalo dia pergi dari sini, jadi gue bisa fokus kerja tanpa dapat gangguan dari dia..!!" gumam Nadya yang kesal sendiri pada dirinya.
Nadya pun mengacak-acak rambutnya karena bingung pas dirinya sendiri, di satu sisi ia senang Adrian pergi tapi di sisi lainnya ia penasaran mengapa Adrian pergi dengan keadaan gelisah seperti tadi dan tak mengatakan apapun padanya.
Nadya terus berusaha fokus pada kerjaannya, tapi lagi-lagi wajah Adrian terbayang dalam benaknya membuat ia kesulitan untuk fokus.
"Aduh kalo gini terus gimana aku bisa kerja coba? Ayo dong Nadya ngapain kamu pikirin pak Adrian sih??!!" gumam Nadya sambil memukul-mukul kepala bagian sampingnya.
TOK TOK TOK...
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, sontak Nadya langsung mempersilahkan orang itu masuk ke dalam dan rupanya Syifa sekretaris Adrian yang datang.
"Permisi Nadya, kamu tau gak pak Adrian pergi kemana? Soalnya ini ada calon investor yang ingin bertemu dengan pak Adrian secara langsung, dia bakal menggelontorkan dana besar loh ke perusahaan kita jadi sayang kalo pak Adrian gak temuin dia sekarang!" ucap Syifa.
"Oh ya? Waduh kalo gitu biar aku coba telfon pak Adrian sekarang ya, soalnya tadi dia gak bilang mau kemana main langsung pergi gitu aja!" ucap Nadya.
"Iya iya coba aja kamu telpon pak Adrian! Bilang kalau ada investor besar yang mau masuk!" ucap Syifa.
Nadya manggut-manggut kemudian mulai menghubungi nomor Adrian, cukup lama ia menunggu sampai telpon itu diangkat oleh Adrian.
📞"Halo, ada apa sih sayang? Baru juga aku tinggal sebentar udah telpon aja, pasti kangen ya sama aku? Sabar ya cantik aku ada urusan sebentar ini, tapi nanti aku bakal balik lagi kok ke kantor buat temenin kamu lagi sayang..!!" ucap Adrian yang nyerocos gitu aja padahal Nadya belum mengatakan apa-apa.
📞"Eee halo pak, bukan begitu maksudnya! Saya cuma mau kasih tau bapak kalau Syifa bilang ada investor besar yang mau ketemu sama bapak sekarang, apa bapak bisa kembali ke kantor buat bertemu calon investor itu?" ucap Nadya menjelaskan semuanya supaya Adrian tidak salah sangka.
📞"Ada calon investor baru? Wah wah emang gak bisa kamu undur pertemuan itu? Soalnya aku ada urusan penting yang harus diurus cantik, tolong ya coba kamu lobi calon investor itu supaya mau mengundur jadwal pertemuannya!" ucap Adrian.
📞"Eee baik pak akan saya usahakan, tapi kalau sampai gagal apa yang harus saya lakukan pak? Kita bisa rugi besar loh kalau beliau tidak jadi berinvestasi di perusahaan kita..!!" ucap Nadya bertanya pada Adrian.
Adrian langsung mematikan teleponnya begitu saja, Nadya pun bingung harus bagaimana sekarang.
"Katanya pak Adrian gak bisa balik sekarang, dia lagi ada urusan penting yang harus diurus! Terus dia juga minta saya buat ngomong ke calon investor itu supaya mau mengundurkan jadwal pertemuannya, kira-kira bakal berhasil gak ya?" ucap Nadya yang terlihat cemas.
"Semoga aja dia mau deh Nad, yaudah ayo kamu temuin dia sekarang! Tapi jangan lupa berdoa dulu supaya berhasil!" ucap Syifa.
"Iya iya, bismillahirrahmanirrahim..." ucap Nadya berdoa di dalam hatinya lalu beranjak dari kursinya dan berjalan keluar bersama Syifa.
...•••...
Sementara itu, Devano tengah gelisah di ruangannya memikirkan kejadian yang ia lihat tempo hari saat istrinya berpelukan dengan Rafi di depan rumah penculik itu.
Devano masih belum bisa menerima kalau istrinya itu ternyata mencintai sepupunya yang seorang pengkhianat, namun saat ini ia juga merasa kasihan dan penasaran dengan Shella yang baru selamat dari penculikan.
__ADS_1
"Gue harus gimana ya sekarang? Sebenarnya gue pengen banget ketemu Shella dan peluk dia, tapi hati gue masih kerasa sakit banget ngeliat langsung dia dipeluk erat sama Rafi! Harusnya Shella tuh bisa dong jaga perasaan gue dengan gak mau dipeluk begitu sama orang lain selain gue, tapi ini apa? Emang dasarnya Shella itu gak cinta sama gue, dia mau nikah sama gue pasti cuma karena terpaksa supaya anaknya itu lahir punya ayah..!!!" gumam Devano menyeka rambutnya ke belakang.
Devano pun bangkit dari duduknya sambil mengusap-usap wajahnya menggunakan telapak tangannya, ia benar-benar dalam keadaan sulit saat ini karena tidak tau harus berbuat apa.
Disaat sedang mondar-mandir berpikir, Devano melihat foto Shella yang terpajang di dinding ruangannya... Ia pun semakin gusar tak karuan saat melihat foto istrinya itu.
"Honey, kenapa kamu tega sakitin hati aku? Dimana janji kamu yang katanya ingin berusaha untuk mencintai aku? Seharusnya dari awal kamu tolak aja lamaran aku, daripada jadi seperti ini akhirnya!" ucap Devano mengelus bingkai foto Shella.
TOK TOK TOK...
"Permisi pak, ini saya Novi!" ucap Novi dari luar ruangan Devano sambil mengetuk pintu.
"Iya masuk!" ucap Devano sambil duduk kembali di kursinya dan coba merapihkan rambutnya agar Novi tidak curiga padanya.
Novi pun membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruang milik bosnya itu, ia terlihat membawa dokumen-dokumen di tangannya yang mungkin akan diserahkan pada Devano.
"Permisi pak, ini saya bawa beberapa berkas yang harus bapak tandatangani!" ucap Novi tersenyum sambil menaruh berkas-berkas itu di meja Devano.
"Iya makasih Nov, nanti bakal saya tandatangani kok!" ucap Devano yang tampak kusut saat itu.
"Loh pak Devano kenapa? Kok seperti sedang ada masalah besar? Bukannya istri bapak sudah berhasil diselamatkan ya?" tanya Novi yang keheranan karena bosnya itu tampak kusut.
"Gak ada kok Nov, saya cuma lagi pusing sedikit aja! Kamu bisa keluar dan kembali bekerja, saya lagi ingin sendiri dan tidak mau diganggu siapapun! Reschedule semua jadwal pertemuan saya dengan klien hari ini, karena saya sedang tidak fit untuk itu!" ucap Devano memegangi kepalanya.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi..." ucap Novi lalu langsung berbalik dan keluar dari ruangan Devano.
Devano pun menyandarkan tubuhnya di kursi sambil terus mengerutkan keningnya dengan telapak tangannya karena merasa sangat pusing akibat masalah yang ia dapatkan saat ini.
"AAAAAAAA..."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...