
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 217
...β’...
...β’...
Setelah mengurus semuanya, kini jenazah Rafi telah dimakamkan dengan layak seperti pada umumnya. Tak hanya Rafi, Devano juga menguburkan jenazah Femila tepat di samping makam Rafi. Ia sengaja melakukan itu karena mereka berdua memang meninggal bersama-sama di dalam mobil.
Tampak Laila masih menangis di samping makam sepupunya sambil terus memegang nisan Rafi, sementara Devano & Shella saling menguatkan dengan berpelukan menahan kesedihan.
"Mas, kamu gak coba hubungi atau cari tau keluarga Femila? Kasihan loh dihari pemakamannya ini gak ada satupun anggota keluarga dia yang hadir, aku gak bisa bayangin kalau aku ada di posisi Femila!" ucap Shella menatap wajah suaminya.
"Aku gak tau harus cari kemana, honey! Tapi, aku udah bilang ke pihak rumah sakit kalau ada orang yang menanyakan tentang Femila langsung aja tunjukin ke makam ini..." ucap Devano.
"Bagus deh, semoga aja keluarganya bisa cepat datang nanti!" ucap Shella tersenyum.
Devano pun menarik wajah istrinya dan membenamkannya di bahunya, ia mengecup lembut kening sang istri sambil terus mengusap lengannya. Suasana hati sepasang suami-istri itu memang sedang dirundung duka karena kepergian Rafi yang begitu mendadak, membuat mereka syok serta sempat tak percaya akan semuanya.
Laila sendiri akhirnya bangkit mendekat ke abangnya dan juga Shella, ia menghapus air mata di wajahnya setelah dirasa cukup karena kita memang tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan.
"Bang, kita pulang yuk!" ucap Laila.
"Ayo!" ucap Devano singkat lalu tangan satunya dipakai untuk merangkul adiknya itu.
Mereka bertiga pun pergi dari pemakaman itu meninggalkan sepasang wanita dan pria yang tak bisa bersatu ketika di dunia, namun selalu bersama sampai akhir hayatnya. Siapa lagi kalau bukan Femila dan juga Rafi, gak sedih sih siapa juga yang mau nangis kalo baca si penjahatnya meninggal.
Kepergian Rafi memang sangat mengagetkan serta membuat Devano sekeluarga bersedih dan merasa kehilangan cukup dalam, belum lagi nanti ketika orang tua dari pria tersebut tahu tentang ini. Mungkin mereka akan lebih sedih jika mengetahui kepergian putranya semata wayang itu, Devano saja sampai kebingungan bagaimana cara memberitahu kedua orang tua Rafi.
"Mas, kamu kenapa sih? Apa yang lagi kamu pikirin sampai daritadi bengong terus??" tanya Shella penasaran melihat suaminya melamun.
__ADS_1
"Eh eee... gapapa kok, honey! Aku cuma lagi agak bingung aja gimana caranya kasih tau om Sugeng sama tante Linda soal kepergian Rafi, aku kan orangnya gak tegaan!" jawab Devano.
"Ohh, kamu kuatin diri kamu dulu aja mas! Baru nanti setelahnya kamu coba hubungin mereka, jangan terlalu dipikirin nanti kamu sakit lagi!" ucap Shella menenangkan suaminya.
"Iya," ucap Devano singkat menatap Shella sambil tersenyum dan mengelus wajah istrinya itu.
Tak lama kemudian, ponsel milik pria itu berdering karena ada telpon yang masuk. Shella coba membantu suaminya untuk mengecek siapa yang menelpon itu, ya rupanya itu adalah telpon dari Ilham alias pengacara yang ditugaskan Devano.
"Mas, ini pak Ilham telpon!" ucap Shella.
"Eee kamu angkat aja honey, terus loud speaker!" pinta Devano.
Shella manggut-manggut kemudian menjawab telpon dari Ilham....
π"Halo, pak Vano! Saya berhasil mendapatkan kembali dua orang saksi yang sempat diculik itu!" ucap Ilham.
π"Beneran pak?" tanya Devano tampak sumringah.
π"Iya benar, pak! Saya sekarang sudah bersama mereka berdua dan saya akan membawa mereka ke tempat yang aman supaya penculikan ini tidak terjadi lagi, pak!" jawab Ilham.
π"Tentu, pak! Saya sudah menugaskan beberapa orang untuk berjaga-jaga di rumah yang akan mereka tinggali nanti, bapak tenang saja ya!" ucap Ilham.
π"Baiklah, pak! Sekali lagi terimakasih..." ucap Devano.
π"Sama-sama, oh ya ada satu lagi yang ingin saya sampaikan pada anda pak Vano!" ucap Ilham.
π"Oh ya? Apa itu, pak?" tanya Devano penasaran.
π"Ternyata dalang dari penculikan saksi-saksi itu adalah pak Adrian, pak!" ucap Ilham dengan tegas.
Sontak Devano serta Shella yang mendengar itu langsung merasa syok sekaligus terkejut, mereka kompak menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang dikatakan Ilham barusan.
"Kurang ajar emang Adrian, kayaknya gue harus bantu pihak kepolisian buat tangkap dia! Gue gak bisa diem aja, Adrian harus segera ditangkap dan dijebloskan ke penjara!" batin Devano tampak sangat emosi pada pria bernama Adrian itu.
...β’β’β’...
Disisi lain, Rafael sedang bermain PlayStation di rumahnya sambil rebahan santuy. Tidak adanya kerjaan yang harus ia lakukan, membuat Rafael hanya diam di rumah selama beberapa hari ini. Ya sesekali ia keluar mengunjungi Vanya di rumahnya untuk sekedar mengisi waktu luang, namun cukup membuatnya bahagia karena dapat melihat wanita tercintanya secara langsung.
__ADS_1
Disaat tengah asyik mengotak-atik stik ps nya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering membuat ia harus berhenti sejenak bermain ps nya. Rafael pun bangkit mengambil ponselnya dari atas meja lalu memeriksa siapa yang menghubunginya saat itu, matanya langsung membulat ketika melihat nama Devano alias bosnya yang ada di layar ponselnya itu.
π"Halo, pak! Ada apa ya?" ujar Rafael.
π"Saya ada tugas buat kamu," ucap Devano.
π"Oh, siap pak! Kebetulan saya juga lagi nyantai nih menunggu tugas dari bos, kira-kira apa yang harus saya lakukan sekarang nih bos?" ujar Rafael mendadak gembira.
π"Ya baguslah, saya minta tolong sama kamu! Cari tahu dimana keberadaan Adrian, tangkap dan bawa dia ke kantor polisi begitu ketemu! Nanti saya akan berikan beberapa informasi tentang dia, saya ingin secepatnya kamu bisa menemukan dia!" ucap Devano menjelaskan tugasnya.
π"Baik, pak! Kalau soal mencari orang, serahkan aja semuanya ke saya pak!" ucap Rafael menyombongkan diri.
π"Ya, saya percaya sama kamu! Terimakasih, sebentar lagi saya akan kirimkan data-data tentang Adrian ke hp kamu!" ucap Devano.
π"Iya, pak! Saya tunggu..." ucap Rafael.
Devano langsung memutus telponnya setelah selesai mengutarakan apa yang hendak ia katakan, Rafael pun merasa senang karena akhirnya ia diberi tugas kembali oleh bosnya setelah cukup lama ia menganggur dan santai-santai di rumah.
"Huh, akhirnya ada tugas juga dari si bos!" ucap Rafael sumringah.
Tliingg...
Ponselnya berdering sekilas yang tandanya ada pesan masuk, dengan cepat Rafael langsung membuka pesan itu dan membacanya.
πDevano : Data.pdf
πDevano : Itu adalah informasi lengkap tentang Adrian, cari dia sampai ketemu!
πRafael : Baik, pak!
Setelah mendapatkan informasi dari Devano, tentu saja Rafael langsung bergerak cepat membaca setiap isi dokumen yang diberikan Devano itu.
"Adrian Bagaskara? Putra dari seorang usahawan terkenal, Satria Bagaskara yang meninggal karena kecelakaan beberapa waktu lalu? Ada apa ya, kenapa pak Vano nyuruh gue cari dia? Ah bodoamat, ngapain juga gue pikirin tentang itu?" batin Rafael.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1