Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Hiper


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 355


...•...


...•...


Nadya yang tengah memotong wortel dan membantu ibunya di dapur, tampak melamun masih memikirkan perkataan Damar sebelumnya. Nadya tak menyangka jika selama ini Damar alias sepupunya itu menyukai kakak kembarnya yakni Shella, apalagi sekarang Damar juga mengatakan kalau dia ingin memiliki Nadya.


Tak...


"Awhh!" pekik Nadya sembari memegangi jarinya yang terkena pisau dan berdarah.


Sontak Jenar yang tengah mengurus bahan masakan lainnya, langsung terkejut begitu mendengar rintihan putrinya. Jenar pun bergerak menghampiri Nadya untuk mencari tau ada apa sebenarnya, Jenar tampak cemas karena melihat putrinya itu tengah memegangi jarinya.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Jenar panik.


"Eee ini Bu, aku gak sengaja kenain pisau ke jadi aku. Tapi, gapapa kok Bu." jawab Nadya.


"Hah? Ya ampun, sayang! Sini sini biar ibu obatin, kamu itu hati-hati dong kalau motongnya!" ucap Jenar sangat cemas dan panik lalu coba memegang jari Nadya dan mengecek luka putrinya itu.


"Iya Bu, maaf!" ucap Nadya merasa bersalah.


"Yaudah, ini luka kamu harus diobatin! Sebentar ya, ibu ambilin dulu obatnya! Kamu disini aja, tahan terus itu jari kamu supaya darahnya gak keluar terus!" ucap Jenar.


"Iya Bu..." ucap Nadya manggut-manggut.


Jenar pun pergi meninggalkan Nadya untuk mengambil kotak obat yang tersimpan di ruang depan. Sedangkan Nadya masih disana memegangi jarinya yang terluka sembari memikirkan perkataan Damar yang masih terus terngiang di telinganya.


"Apa Damar serius ya bicara begitu?" batin Nadya.


Jenar yang tengah sibuk mencari kotak obat, tak sengaja berpapasan dengan Damar dari arah luar rumah. Damar pun penasaran mengapa tantenya itu terlihat sangat panik.


"Loh, tante kenapa? Kok panik gitu?" tanya Damar penasaran sekali.


"Eh kamu, ini loh tante lagi cari obat merah buat ngobatin luka Sheila." jawab Jenar sembari menggeledah isi lemari di depannya.


"Hah? Memangnya Sheila kenapa, tante?" tanya Damar yang ikutan panik.


"Anu loh, tadi Sheila ketusuk pisau pas lagi motong wortel di dapur. Tante juga gak tau kenapa dia bisa begitu, kayaknya mah sih gara-gara ngelamun! Eh udah dulu ya, nak Damar. Tante harus balik ke dapur buat obatin Sheila, kalau kamu mau makan tunggu sebentar ya!" ucap Jenar.


"Eee iya tante, tenang aja!" ucap Damar.


Jenar pun langsung berlari menuju dapur membawa kotak obat untuk mengobati luka putrinya, Jenar terlihat sangat panik saat ini.


Damar memutuskan untuk mengikuti tantenya ke dapur dan melihat sendiri kondisi Nadya alias sepupunya itu yang katanya terluka, Damar juga khawatir pada gadis yang telah memikat hatinya itu.


"Sheila, sayang. Sini biar ibu obatin ya!" ucap Jenar setelah sampai di dapur.


Nadya hanya manggut-manggut lalu membiarkan ibunya mengobati luka di jarinya itu dengan obat merah serta beberapa plester.


"Nah, udah sayang. Syukur deh cuma luka kecil, tapi tetep aja lain kali kamu harus hati-hati loh! Jangan ngelamun kalo lagi pake pisau!" ujar Jenar.


"Iya tuh, Sheila. Emangnya kamu ngelamunin apa sih?" sahut Damar bertanya pada Nadya.


Nadya tampak syok melihat kehadiran Damar disana, tentu saja karena hingga kini ia masih belum bisa melupakan perkataan pria tersebut yang bahkan sampai membuat jarinya terluka.


"Bukan apa-apa kok," jawab Nadya gugup.


"Yaudah, kamu tunggu di depan aja deh sama Damar! Biar ibu yang lanjutin masaknya, nanti kalo udah selesai baru ibu panggil kalian!" ucap Jenar.


"Hah? Udah Bu gapapa, aku bantuin ibu aja disini ya? Gak enak lah Bu kalau aku cuma nunggu di depan, lagian luka aku kan juga udah sembuh!" ucap Nadya meminta untuk membantu ibunya.


"Sayang, dengerin ibu ya! Jangan ngebantah! Ibu gak mau kamu luka lagi, jadi kamu tunggu aja di depan sama nak Damar!" ujar Jenar.

__ADS_1


"Iya Sheila, ayo kita tunggu di depan aja!" sahut Damar yang menang sengaja mendukung Jenar agar bisa berduaan dengan Nadya.


"Nah tuh, sana gih!" ujar Jenar.


"Huft, iya deh Bu..." ucap Nadya sambil menghela nafas dan melirik sekilas ke arah Damar.


Damar menyunggingkan senyum lalu berjalan bersama Nadya menuju ruang depan.




Saat disana, Damar terus memandangi wajah Nadya yang tengah duduk di sampingnya. Damar memang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik milik Nadya, setiap kali ia melihatnya pasti ia teringat pada sosok Shella yang berhasil membuatnya tergila-gila dulu.


Damar pun menggeser sedikit tubuhnya ke arah Nadya lalu perlahan memegang pundak gadis itu dari samping, sontak Nadya terkejut dan mencoba berontak. Namun, Damar berhasil menenangkan Nadya dengan cara mendekapnya erat dan menatapnya tajam.


"Mar, kamu mau apa sih?" tanya Nadya ketakutan.


"Aku cuma mau kamu, Sheila! Kita akan bersama dan kali ini aku gak akan lepasin kamu buat cowok lain, termasuk pacar kamu." jawab Damar.


"Hah? Kamu gila, ya?" ujar Nadya heran.


"Gak kok, aku masih waras. Mungkin yang gila itu cintaku padamu, Sheila! Udah ya, mulai sekarang kamu harus nurut dan jadi pacar aku! Anggap aku sebagai pasangan kamu, bukan lagi sepupu atau saudara kamu!" ucap Damar.


Nadya terdiam ketakutan dengan nafas memburu, Damar mulai melancarkan aksinya dan perlahan menggigit telinga gadis itu hingga Nadya mengeluarkan suara dari mulutnya.


"Kamu wangi sekali!" desis Damar.


"Dasar gila!" bentak Nadya yang emosi sembari mendorong tubuh Damar dengan tenaganya, ia pun berhasil lepas dari dekapan Damar.


"Jangan sentuh-sentuh aku, ya! Atau aku bakal laporin ke ibu dan ibu nanti akan laporin ke om Lubis, pastinya om Lubis bakalan emosi karena tau kalau anaknya ini punya otak mesum!" ancam Nadya.


"Oh ya? Sebelum itu terjadi, kamu udah lebih dulu mengandung anakku Sheila!" ujar Damar.


Nadya terhenyak mendengarnya, matanya terbelalak lebar karena tak menyangka Damar akan mengatakan itu padanya. Sungguh saat ini ia semakin merasa takut pada sepupunya itu, bukan lagi rasa canggung atau malu seperti yang ia rasakan semalam saat pertama bertemu dengan Damar.


"Kenapa Sheila? Kamu pasti gak sabar ya menunggu waktu itu terjadi? Tenang aja, karena sebentar lagi aku bakal lakuin itu kok!" ucap Damar tersenyum.


"Gak! Kamu gak bisa lakuin itu ke aku, jangan harap juga kalau aku mau jadi pasangan kamu apalagi mengandung anak kamu! Ingat Damar, aku cuma anggap kamu sebagai saudara sepupu aku bukan pacar atau lebih!" ucap Nadya.


"Ya terserah! Aku kan gak minta kamu mau, yang penting aku bakal tetap lakuin itu secara paksa!" ucap Damar.


Nadya semakin tidak tahan dengan sikap dan kelakuan Damar itu, ingin sekali rasanya ia berteriak memanggil ibunya dan menceritakan semua ini. Namun, ia masih khawatir kalau Damar ternyata hanya sedang berpura-pura alias berakting.


"Sebenarnya Damar ini beneran apa enggak sih? Aku takut banget, tapi kalau dia ternyata cuma bercanda gimana?" gumam Nadya dalam hatinya.


...•••...


Disisi lain, Devano keluar kamar bersama istrinya untuk segera menuju ke bawah bertemu dengan orang tua mereka disana. Devano merengkuh pinggang ramping sang istri lalu berjalan menuruni tangga secara bersamaan, Shella menaruh wajahnya di dada bidang sang suami sembari mengelus wajah tampan Devano dengan jari-jarinya.


Devano hanya bisa tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang memang terlihat menggemaskan saat ini, bahkan lagi-lagi juniornya kembali bangkit walau sudah dipuaskan oleh Shella ketika mereka berada di kamar tadi.


"Jika dekat denganmu, yang aku rasakan hanyalah hawa nafsuu yang membara. Seperti tak ada rasa cinta yang ku rasakan, entah sampai kapan aku harus terus berpura-pura mencintai kamu Shella? Apakah saya juga bisa untuk benar-benar mencintaimu dan menjadikan kamu istri atas dasar cinta?" gumam Devano di dalam hatinya.


Cupp...


Devano memberikan kecupan lembut pada area kening sang istri lalu mengusapnya dengan tangan. Shella tampak menikmati kehangatan yang diberikan sang suami tanpa tau apa yang ada di dalam pikiran Devano saat ini, yang ia kira hanyalah Devano tengah membuatnya nyaman.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di dekat meja makan. Terlihat Silvi serta Tama sudah menunggu kehadiran mereka disana dan menikmati sarapan disana, tentu Devano langsung tersenyum menatap ke arah orangtuanya lalu mempercepat langkah sembari masih merangkul istrinya.


Devano menarik kursi untuk istrinya tercinta, bahkan membantu sang istri untuk duduk disana dengan nyaman. Barulah ia juga duduk di samping Shella sambil tersenyum menyapa mama papanya.


"Selamat pagi pah, mah!" ucap Devano.


"Iya pah, mah. Selamat pagi! Maaf ya, Shella gak bisa bantu mama tadi buat siapin sarapan!" ucap Shella sembari menunduk merasa tidak enak.


"Pagi juga, sayang! Gapapa kok, mama tau kamu butuh istirahat karena capek!" ucap Silvi tersenyum sembari mengusap wajah Shella yang ada di sampingnya, ia tau betul kalau menantunya itu pasti habis dipaksa memuaskan putranya lagi.


"Benar itu, apalagi Devano kan anaknya hipersekss pasti dia selalu paksa kamu buat puasin dia!" sahut Tama sambil terkekeh kecil.


"Duh, apaan sih pah? Mana ada aku begitu?" ujar Devano.

__ADS_1


"Ahaha, masa sih? Kan emang bener yang dibilang papa kamu barusan, kamu itu terlalu hiper kalau soal begituan! Kasihan loh istri kamu, makanya Shella kamu harus banyak makan supaya tenaga kamu gak habis karena diajak mulu sama Vano!" ucap Silvi.


"Eee iya mah..." ucap Shella pelan.


"Apaan sih mama sama papa ini? Masih pagi udah bikin gondok aja, padahal kan wajar kalau aku minta sama istri aku sendiri." ucap Devano ngambek.


"Hahaha, ya iya wajar. Siapa bilang gak wajar? Cuma masalahnya, kamu itu terlalu haus sama begituan!" ucap Tama sambil tertawa.


"Udah lah, pah! Jangan bahas itu terus! Kita kan disini mau sarapan, bukan bahas begituan! Nanti lama-lama aku pergi nih kalau papa sama mama terus aja bahas itu, kan aku malu pah!" ucap Devano.


"Iya iya..." ujar Tama dan Silvi bersamaan sembari menahan tawa.


Devano yang ngambek dan merasa malu langsung mengambil nasi untuk sarapan tanpa perduli dengan olokan dari kedua orangtuanya.


Sementara Shella sebenarnya memang setuju dengan perkataan Silvi dan Tama, ia juga ingin tertawa. Hanya saja ia merasa tidak enak pada suaminya dan takut jika Devano marah lalu malah menghukumnya.




Setelah selesai sarapan, Shella mengantar suaminya sampai depan rumah sembari memasangkan dasi di dada sang suami itu lalu tersenyum.


Cupp...


Devano mengecup bibir Shella sekilas kemudian memegangnya menggunakan jari jempol, Devano pun tersenyum lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Shella dan kembali melumatt bibir mungil itu di depan para penjaga rumahnya.


Semakin lama ciuman itu semakin memanas, Devano menahan tengkuk Shella dan menaruh kedua tangan istrinya itu di lehernya. Devano pun memperdalam ciumannya setelah Shella mau membuka mulut memberi ruang bagi suaminya itu untuk menyusuri rongga mulutnya.


Suara decakan terdengar akibat permainan mereka, seakan dunia ini milik mereka berdua sehingga baik Devano maupun Shella tak perduli lagi dengan kehadiran orang-orang disana.


"Ehem ehem..."


Suara deheman dari sang mama membuat Devano terkejut lalu melepas ciumannya, mereka kompak menoleh dan melihat Silvi tengah berdiri di depan pintu sambil menatap ke arah mereka.


Shella pun tampak malu dan langsung menunduk.


"Vano Vano... tadi kamu bilangnya gak hiper, tapi sekarang kok udah cium-cium istri kamu aja? Di depan mereka lagi, itu apa namanya kalo enggak hiper Vano?" ujar Silvi.


"Ah mama ganggu aja! Tanggung tau tadi, lagi panas-panasnya itu!" ucap Devano.


"Hadeh, ini nih... kamu kan katanya ada rapat penting pagi ini, kenapa gak langsung berangkat? Malah sempat-sempatnya kamu ciuman dulu sama istri kamu di depan rumah, emang gak takut telat atau kehilangan klien kamu?" ujar Silvi.


"Ya enggak mungkin lah, mah! Kan yang butuh juga bukan Vano, coba gini deh perusahaan mana sekarang yang mau putus kontrak atau gak jadi kerjasama sama perusahaan Vano? Gak mungkin ada, secara kan sekarang PT Devano sukses makmur itu lagi di atas angin!" ucap Devano.


"Ah iya iya... dasar sombong kamu!" ujar Silvi.


"Bukan sombong, mama! Vano bicara fakta loh, udah mama mending masuk lagi ke dalam! Vano mau lanjutin ciuman sama Shella!" ucap Devano.


"Mas!" tegur Shella.


"Kenapa honey? Kamu kan juga menikmati tadi," ujar Devano.


"Haish..." Shella sudah sangat malu disana.


Silvi pun menggeleng lalu mengerutkan kening akibat kelakuan putranya itu, bisa-bisanya ia memiliki putra yang sangat terobsesi pada sekss seperti Devano itu.


"Udah udah! Kalo kamu mau lanjut ciuman, di dalam aja yang sepi! Jangan di depan mereka! Emang kamu gak malu apa, ha?" ujar Silvi.


"Yeh si mama, kalo ke dalam mah bukan cuma ciuman jadinya. Tapi malah bablas, terus Vano kapan ke kantornya kalo kayak gitu?" ucap Devano sambil terkekeh sendiri.


"Mas ih!" ujar Shella yang sangat-sangat malu.


"Dasar sableng kamu, Vano!" ujar Silvi geleng-geleng kepala mendengar perkataan Devano.


"Loh bener toh, mah?" ujar Devano.


"Iyain aja lah!" ujar Silvi.


Akhirnya Silvi pun memilih kembali ke dalam rumah karena sudah malas berbicara dengan Devano yang terlalu gila akan sekss itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2