Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Terbawa nafsu


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 137


...•...


...•...


Nadya akhirnya sampai di rumah Adrian, setelah turun dari taksi ia pun coba mengecek kembali tempat itu dan menyesuaikannya dengan alamat yang dikirimkan oleh Adrian.


"Bener ini tempatnya soalnya banyak karangan bunga dari rekan-rekannya almarhum pak Satria, rumah pak Adrian besar juga ya kira-kira butuh berapa tahun kerja supaya aku bisa punya rumah besar kayak gini ya?" ujar Nadya mengagumi kemegahan rumah milik bosnya itu.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekatnya dan seorang pria berkacamata hitam turun dari sana menghampirinya.... dari situ saja Nadya sudah tau kalau pria itu ialah Adrian.


"Kamu udah lama ya? Kenapa gak masuk aja sih cantik? Di dalam ada bibi sama kakek saya kok, malah banyak juga saudara-saudara saya yang datang.." ujar Adrian.


"Bapak baru pulang? Saya ini baru sampai kok pak disini, mau langsung masuk aja tapi gak enak makanya saya diam disini dulu.." ucap Nadya.


"Kamu gemesin deh sayang, makin cantik aja aku lihat-lihat..!!" ujar Adrian sambil mencubit pipi Nadya dengan dua tangannya.


"Makasih pak, terus sekarang saya harus apa ya pak? Apa yang bisa saya bantu untuk bapak saat ini?" tanya Nadya.


"Kamu ikut saya ke dalam, setelah itu kamu mau kan bicara berdua dengan saya di dalam? Soalnya banyak sekali yang ingin saya ceritakan pada kamu, tentang almarhum papah dan juga tentang Devano alias kakak ipar kamu itu..!!" jawab Adrian.


"Eee baik pak saya mau kok," ucap Nadya akhirnya mengiyakan ajakan Adrian walau sebenarnya ia merasa sedikit ragu untuk berduaan dengan pria itu.


Ya Adrian tanpa ragu langsung merangkul Nadya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah yang besar itu, bahkan ia juga melewati saudara-saudaranya yang berada di depan pintu sambil tersenyum seperti tidak sedang berduka sama sekali padahal ayahnya baru saja meninggal beberapa jam yang lalu.


"Bi Ratmi, tolong buatkan 2 gelas es jeruk untuk saya dan pacar saya ya bi..!! Nanti tolong juga diantarkan ke kamar saya, karena saya mau kesana!" ucap Adrian meminta bibinya membuatkan minum.


"Baik den, sebentar ya bibi buatin dulu minumannya! Nanti kalau udah jadi pasti bibi langsung antar ke kamar den Rian kok, oh ya sama cemilan juga gak den?" ujar Ratmi.


"Boleh bi, kurang enak juga rasanya kalau minum tanpa makanan..." ucap Adrian tersenyum dan terus merapatkan jaraknya dengan Nadya.


"Siap den!" ucap Ratmi lalu langsung berjalan menuju dapur sambil membawa nampan kosong di tangannya.


Adrian pun melanjutkan langkahnya bersama dengan Nadya, namun tiba-tiba kakeknya datang dan menghentikan mereka berdua.


"Kamu mau ajak perempuan ini kemana Rian? Ingat, kamu tidak boleh bertindak macam-macam disini!" ujar Frederick menaruh curiga pada cucunya itu.


"Ya ampun kek, aku cuma mau ngobrol berdua sama pacar aku! Oh ya kenalin kek ini pacar sekaligus calon istri aku namanya Nadya, nah Nadya kenalin ini kakek aku yang baru datang dari luar negeri!" ucap Adrian mengenalkan kedua insan itu.

__ADS_1


"Saya Nadya kek..." ucap Nadya berusaha terlihat sopan di hadapan pria tua itu sambil menjulurkan tangannya untuk mengajak Frederick bersalaman.


"Ya saya Fred," ucap Frederick singkat tanpa mau meraih tangan Nadya dan malah membetulkan kerah bajunya, tentu saja Nadya merasa sakit hati.


"Yasudah kalau kalian cuma ingin bicara, kakek mau temui orang-orang di luar dulu! Nadya, hibur lelaki ini supaya dia tidak berlarut dalam kesedihannya!" ucap Frederick menepuk pundak Adrian kemudian berbicara pada Nadya.


"Iya kek siap!" ucap Nadya tersenyum tipis, lalu pria disampingnya langsung menatap ke arahnya seperti hendak mencium bibirnya.


Frederick pun pergi ke depan menemui orang-orang yang datang, sementara Adrian & Nadya lanjut berjalan menaiki tangga menuju kamar Adrian.


Sesampainya di kamar, Adrian langsung meminta Nadya duduk terlebih dulu di ranjangnya sementara ia melepas kemejanya dan kini pria itu hanya mengenakan kaos kutang saja.


"Maksudnya pak Adrian itu apa sih? Ngapain coba dia pake lepas baju segala kalau cuma mau curhat?" gumam Nadya yang mulai was-was saat itu.


Tak lama kemudian, Ratmi datang membawakan minuman beserta cemilan seperti yang dipesan oleh Adrian tadi.


"Ini den minuman sama cemilannya," ucap Ratmi lalu menaruh itu semua di atas meja.


"Terimakasih bi, oh ya cegah siapapun yang ingin naik ke atas apalagi ke kamar saya! Karena saya sedang tidak mau diganggu siapapun..!!" ucap Adrian.


"Eee baik den, kalo gitu bibi permisi dulu..." ucap Ratmi kemudian keluar dari kamar Adrian meninggalkan dua pasang pria dan wanita itu berduaan di kamar.


Setelah bibinya keluar, Adrian langsung menutup pintu kamarnya dan bahkan mengunci pintu itu.


"Kenapa ditutup sama dikunci segala sih pak? Nanti yang ada kakek bapak mikir kita lakuin yang enggak-enggak loh..." ujar Nadya cemas.


Setelahnya, Adrian langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tepat juga di samping Nadya.


"Ahhh..." ucap Adrian saat dirinya sudah resmi rebahan dan dua tangannya ia gunakan untuk menopang kepalanya.


"Bapak kok malah tiduran sih? Bukannya katanya bapak mau cerita sama saya??" tanya Nadya sambil menatap ke arah Adrian.


"Berhenti panggil saya bapak! Panggil aja mas atau ayang gitu kek, saya berasa tau banget tau dipanggil bapak terus!" ujar Adrian.


"Iya maaf pak, eh maksudnya mas..." ucap Nadya yang terpaksa menuruti perkataan Adrian.


"Nah gitu dong kan jadi enak ceritanya, yaudah sini tiduran juga di samping saya..!!" ucap Adrian tanpa basa-basi langsung menarik Nadya hingga kini Nadya terjatuh di atas tubuhnya.


Nadya syok dan menganga saja saat Adrian menariknya, sedangkan Adrian malah tersenyum lalu mendaratkan ciuman di bibir Nadya dengan singkat.


Kini keduanya saling bertatapan satu sama lain, Adrian mendekap erat tubuh Nadya hingga gadis itu tak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Jangan begini mas!" ucap Nadya berusaha berontak dan menyadarkan Adrian untuk tidak melakukan itu.


Namun, Adrian malah membalikkan tubuhnya dan kini Nadya lah yang ada di bawah alias ditindih oleh tubuh Adrian.


"Aku mau cerita sambil menikmati tubuh kamu, jangan takut sayang ini gak akan sakit kok!" ucap Adrian sambil membelai rambut Nadya.

__ADS_1


Nadya terus memukul-mukul dada Adrian dan juga memohon pada pria itu untuk melepaskan dirinya, namun apa daya Adrian sudah kesetanan hingga tak mau mendengar perkataan wanita itu.


Malah Adrian langsung saja melumatt bibir Nadya yang kebetulan sedang berbicara itu, ia menyesap lalu mulai bermain-main dengan lidah gadis itu.


...•••...


"Shella.. Shella..." ucap Jenar terus memanggil-manggil nama anaknya karena ingin meminta Shella untuk makan.


Namun, tak juga ada jawaban dari anaknya itu... akhirnya Jenar berlari menuju kamar Shella untuk mengecek anaknya itu sedang apa.


Ya saat sampai di depan pintu kamar Shella, Jenar terkejut karena Shella tengah berdiri di depan cermin sambil mengenakan gaun berwarna kuning yang sempat ia pakai ketika makan malam dengan Devano beberapa waktu lalu.


"Shella sayang... kamu ngapain pake gaun ini? Emangnya kamu mau kemana sayang?" tanya Jenar yang nyelonong masuk ke kamar Shella.


"Eh ibu, aku gak mau kemana-mana kok! Aku cuma mengingat masa-masa dulu pas aku sama mas Vano makan malam berdua, gaun ini kan juga pemberian mas Vano jadi aku pake ini supaya bisa mengingat terus bayangan mas Vano di hati aku..." jawab Shella.


Jenar yang mendengar alasan dari Shella langsung ikut merasa sedih, karena putrinya itu hingga kini belum juga bertemu dengan suaminya lagi.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar, sontak Jenar langsung pamit pada Shella untuk membukakan pintu itu sejenak.


Shella yang penasaran pun mengikuti ibunya itu untuk mengetahui siapa yang datang di waktu malam seperti ini.


Ceklek... Jenar membuka pintu dan terlihat Rafael berdiri disana sambil menunjukkan wajah panik.


"Eh nak Rafael, ada apa datang jam segini?" tanya Jenar penasaran.


"Eee maaf Bu, apa Bu Shella nya ada di dalam? Saya harus beritahu sesuatu ke Bu Shella!" ucap Rafael yang malah menanyakan keberadaan Shella.


"Iya saya ada kok, kenapa ya pak??" ujar Shella yang langsung keluar dari dalam rumahnya menemui Rafael.


"Eee begini Bu, tapi tolong ibu jangan panik ya! Takutnya saya yang kena nanti sama pak Devano," ujar Rafael.


"Iya iya saya gak panik kok, emang ada apa pak??" tanya Shella sudah sangat penasaran.


"Pak Devano... eee pak Devano...." ucap Rafael terus menggantung kata-katanya membuat Shella makin kepo.


"Kenapa sama mas Vano?" tanya Shella.


"Pak Devano kritis Bu," jawab Rafael menunduk.


"Apa?"


Shella langsung syok mendadak ingin ambruk dan mengeluarkan air mata, untung saja Jenar tepat berada di belakangnya sehingga bisa menahan tubuh Shella agar tidak terjatuh.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2