
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 391
...•...
...•...
"Eeennngghhh..."
"Ayo terus bu! Ibu pasti bisa!" ucap seorang dokter wanita yang tengah membantu Shella melahirkan anaknya.
Shella tampak kesulitan untuk bisa melakukan proses kelahiran anaknya, ini memang yang pertama kali baginya dan terlebih saat ini kondisinya juga sedang tidak fit. Ya sang dokter dan perawat disana juga khawatir melihat kondisi Shella sekarang, namun Shella tetap terus berusaha untuk bisa melahirkan anaknya ke dunia.
"Dok, sepertinya hal yang mustahil jika kita bisa menyelamatkan anak dan ibunya sekaligus!" bisik seorang suster pada sang dokter.
"Benar, sebaiknya kita lakukan prosesi pencabutan janin demi kebaikan pasien!" ucap dokter.
Shella yang mendengar itu jelas tak terima dan ia tidak mau jika anaknya tidak jadi lahir, Shela pun memprotes keputusan dokter dan yakin kalau ia pasti bisa melahirkan anaknya.
"Enggak dok, saya gak mau! Saya harus bisa lahirin anak saya, walaupun saya harus kehilangan nyawa saya dok! Saya gak perduli, pokoknya saya ingin proses kelahiran ini terus berlangsung! Apapun yang terjadi, anak saya harus lahir ke dunia!" ucap Shella.
"Tapi Bu, ini sangat bahaya dan menyangkut nyawa ibu sendiri!" ucap dokter.
"Saya kan udah bilang dok, saya gak perduli itu! Yang saya pikirkan hanya anak saya, ayolah dok jangan kayak gini!" ucap Shella.
Dokter itu menoleh sejenak ke arah suster disana dengan tatapan bingung.
"Baiklah, tapi biar kami temui dulu keluarga ibu di depan. Kami harus minta persetujuan mereka untuk tetap melanjutkan proses ini!" ucap dokter itu.
"Enggak dok, jangan! Lakukan aja apa yang saya minta tadi, gak perlu bilang mereka!" ucap Shella.
"Tapi bu—"
"Sudah dok! Gak ada lagi perdebatan disini, anak saya harus lahir ke dunia! Saya gak mau bikin suami saya kecewa dok, ayo cepat dok lakukan itu sekarang!" potong Shella dengan emosinya.
"Eee ba-baik Bu, tarik nafas.... kuatkan dulu kondisi ibu ya!" ucap dokter itu merasa cemas.
Shella mengangguk pelan dan mengikuti arahan dari sang dokter demi meneruskan proses kelahiran anak pertamanya itu.
❤️
Sementara di luar, semua orang tampak panik termasuk Jenar yang juga sudah hadir disana untuk menemani putrinya melahirkan. Bahkan Rafael serta Novi yang baru jadian juga ada disana, mereka semua kompak mendoakan keselamatan Shella juga bayinya yang akan dilahirkan, hanya Devano yang belum hadir di tempat itu saat ini.
"Bu Silvi, maaf sebelumnya! Tapi, ini nak Vano kemana ya? Kenapa sampai sekarang dia juga belum datang kesini? Padahal istrinya udah mau lahiran loh, emang dia gak mau temenin?" tanya Jenar.
"Eee maaf Bu Jenar! Saya juga kurang tahu soal itu, tapi tadi saya sudah kabari dia dan katanya dia juga mau langsung datang kesini!" ucap Silvi.
"Kita tunggu aja, mungkin Vano masih di jalan atau ada kendala yang kita gak tau! Kan namanya juga jalan raya, bisa aja terjadi kemacetan atau sesuatu hal yang bikin Vano terhambat buat datang kesini tepat waktu!" ucap Tama.
"Kalo gitu saya mohon izin kabari Sheila putri saya, ya? Dia pasti juga mau temenin kakaknya disini, permisi ya semua!" ucap Jenar.
"Iya Bu Jenar, silahkan!" ucap Silvi tersenyum memberi izin.
Jenar pun pergi menjauh dari mereka untuk menghubungi Nadya dan meminta gadis itu datang ke rumah sakit menemani Shella yang sedang berjuang melahirkan anaknya.
__ADS_1
Sementara yang lain tentunya masih tetap disana menanti kabar dari dalam, mereka berharap-harap cemas semoga Shella dan juga bayinya bisa selamat tanpa ada sesuatu buruk yang terjadi.
"Duh, mama kok jadi cemas ya pah?" ujar Silvi.
"Tenang mah! Kita doakan saja yang terbaik buat Shella dan juga cucu kita, semoga mereka bisa selamat!" ucap Tama menenangkan istrinya.
"Iya mbak, Shella pasti baik-baik aja asalkan kita selalu mendoakan dia!" ucap Eriska.
Silvi tersenyum mengangguk, lalu Tama langsung memeluk tubuh istrinya dari samping sembari mengusap bahu Silvi berusaha menenangkan sang istri yang masih cemas. Tama tak mau ada masalah dan kesedihan yang terjadi disana, ia ingin suasana tetap tenang supaya Shella di dalam juga dapat berkonsentrasi melahirkan anak pertamanya.
"Ya Tuhan, selamatkan nyawa menantu dan cucu saya!" batin Silvi.
❤️
"Oeeekkk.. oeeekkk..." (anggap suara bayi).
Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan tersebut. Hal itu membuat semua orang yang ada di depan ruang itu langsung sumringah mendengarnya, mereka tampak bahagia dan bersyukur pada yang maha kuasa karena akhirnya Shella dapat melahirkan anaknya dengan lancar.
"Alhamdulillah! Pah, ini suara tangisan cucu kita!" ucap Silvi sangat gembira.
"Iya mah, Alhamdulillah! Papa udah bilang tadi kan, kalau kita berdua insyaallah semuanya akan dilancarkan sama Tuhan!" ucap Tama tersenyum.
"Tapi, ini Vano kemana ya? Sampai istrinya udah lahiran, kok dia belum datang juga?" tanya Silvi.
Mereka semua tampak kebingungan lantaran Devano tak kunjung sampai, padahal Shella saat ini sudah selesai melahirkan.
"Aku disini, mah!"
Tiba-tiba saja muncul suara seorang pria dari arah belakang mereka, ya itulah Devano yang baru datang dan tersenyum menghampiri mereka disana.
"Vano, kamu kemana aja sih?" tanya Silvi cemas.
"Maaf mah! Tadi aku—"
"Alhamdulillah! Aku nyesel banget deh mah, gak bisa temenin proses lahiran Shella tadi!" ucap Devano.
"Gapapa, sekarang kamu masuk gih temuin mereka!" ucap Silvi tersenyum.
Devano mengangguk dan bersiap memasuki ruang persalinan tersebut untuk menemui istri dan juga anaknya itu, ia sangat gembira dan tak sabar dapat bertemu dengan anak pertamanya.
❤️
"Selamat ya Bu! Anak ibu perempuan, dia cantik sekali sama seperti ibunya!" ucap dokter sembari menunjukkan bayi itu pada Shella.
Shella tersenyum dengan nafas yang masih tak karuan, terlihat ia sangat letih dan seluruh wajahnya dipenuhi dengan keringat. Namun, Shella senang karena ia berhasil melahirkan putrinya dengan baik sehingga kini ia dapat melihat wajah anaknya dan juga tangisan dari sang putri, walau ia harus merasakan sakit yang amat sangat pada tubuhnya.
"Dok, gawat! Pasien tidak berhenti mengeluarkan darah!" ucap suster.
"Apa? Kalau begitu, tolong bawa bayi ini ke tempat penyimpanan bayi! Kita harus segera menolong Bu Shella, biar saya periksa dulu kondisi Bu Shella!" ucap dokter langsung panik.
"Baik dok!" ucap suster itu.
Dokter itu pun mulai memeriksa kondisi Shella yang tampak mengkhawatirkan itu, memang sebelumnya ia sudah mewanti-wanti Shella untuk tidak memaksa melahirkan putrinya. Namun, Shella tetap kekeuh sehingga sekarang masalah pun terjadi dimana Shella mengalami pendarahan yang tak kunjung berhenti dan dapat berakibat buruk pada nyawanya.
Ceklek...
Pintu terbuka dan itu adalah Devano yang baru datang ke dalam sana, ia tersenyum melihat Shella yang tengah terbaring di ranjangnya lalu maju mendekati istrinya tersebut.
"Honey, maaf ya aku terlambat!" ucap Devano merasa bersalah.
"Mas, kamu gak terlambat kok! Anak kita kan juga baru dilahirkan, kamu temui dia gih! Aku yakin dia pasti senang bisa lihat papanya!" ucap Shella.
__ADS_1
"Eee anak saya dimana ya dok?" tanya Devano.
"Maaf pak! Bayi anda sedang dibersihkan oleh suster, tapi nanti bapak bisa temui dia sesudah dibersihkan!" jawab dokter sambil tersenyum.
"Ohh, yaudah kalo gitu saya mau bicara dengan istri saya dulu!" ucap Devano.
"Tapi pak, istri anda—"
Ucapan dokter itu terhenti karena Shella menatap tajam ke arahnya, Shella tak mau jika dokter itu mengatakan pada suaminya kalau ia tengah mengalami sakit pendarahan.
"Ada apa dok? Kenapa dengan istri saya?" tanya Devano penasaran.
"Eee istri anda, beliau mengalami pendarahan yang cukup banyak pak!" jawab dokter itu.
"Apa?" ujar Devano terkejut.
Devano pun langsung menatap wajah istrinya dan mengusapnya lembut.
"Honey, kamu kenapa?" tanya Devano cemas.
"Mas, maafin aku ya! Aku gak bisa jagain anak kita, aku titip dia sama kamu ya! Aku yakin kamu pasti bisa urus anak kita! Beri dia kasih sayang dan juga cinta mas, aku bakal senang kalau anak kita senang juga di dunia ini! Aku bersyukur banget bisa melahirkan putri secantik dia!" ucap Shella sambil menahan sakitnya.
"Honey, kamu jangan bicara begitu dong! Aku yakin kok kamu bisa sembuh, ayo yang semangat ya! Dok, istri saya pasti bisa sembuh kan dok?" ucap Devano menggenggam tangan Shella lalu menoleh ke arah dokter yang ada di belakangnya.
"Umm, insyaallah pak! Tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan berkehendak apapun bisa terjadi!" ucap dokter itu menenangkan Devano.
"Mas, jangan sedih! Kamu harus bisa kuat demi anak kita! Oh ya, kamu udah siapin nama belum buat dia? Aku yakin nama pemberian kamu pasti bagus banget!" ucap Shella tersenyum.
"Belum honey, aku mau kita berdua yang tentuin nama itu! Makanya sekarang aku minta sama kamu untuk tetap kuat ya, aku yakin kamu pasti bisa sembuh!" ucap Devano menahan tangisnya.
"Maaf mas! Tapi, aku gak bisa! Jika nantinya anak kita sudah besar dan aku udah gak ada, aku harap kamu jangan pernah beritahu dia soal ibu kandungnya yang meninggal! Aku gak mau bikin dia sedih mas, karena dia harus menjadi piatu dari kecil!" ucap Shella dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu bilang apa sih, honey?" tanya Devano heran.
"Iya mas, kamu harus menikah dengan Sheila yang memiliki wajah mirip sama aku! Aku yakin dia pasti mau kok mas, dengan begitu kamu gak akan sedih terus karena kehilangan aku!" ucap Shella.
"Enggak honey, kamu gak boleh bicara begitu! Aku yakin kamu pasti bisa sembuh!" ucap Devano.
"Mas, selamat tinggal! Aku titip anak kita ya? Jagain dia mas, dengan sepenuh hati kamu!" ucap Shella dengan suara yang mulai lemas.
"Honey, hei sayang! Jangan!" ujar Devano panik.
Shella tersenyum dan perlahan mulai memejamkan mata karena rasa sakitnya, Devano pun menoleh ke arah dokter lalu meminta pada dokter itu untuk segera menolong Shella. Ya dokter pun bergerak dan mulai melakukan pertolongan, tapi apa daya ia tak bisa mengubah takdir yang sudah ditentukan Tuhan karena Shella sudah kehilangan nyawanya saat ini.
"Maaf pak! Bu Shella sudah meninggal, maafkan kami karena tidak bisa menyelamatkan Bu Shella!" ucap dokter itu tampak bersedih.
"Apa? Dok, dokter pasti bohong kan? Gak mungkin istri saya meninggal dok, gak mungkin!" ujar Devano histeris.
Dokter itu sangat sedih melihat reaksi Devano, sedangkan pria itu langsung kembali menghampiri Shella dan memegang wajah istrinya yang sudah pergi meninggalkan ia untuk selamanya.
"Shella sadar sayang, Shella....!!!" teriak Devano dengan air mata yang mengalir.
...~Tamat~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
...Yeay sampai akhir juga, setelah sekian lama novel ini berlayar di aplikasi noveltoon mungkin sekitar 6 bulan atau lebih🥳...
...Terimakasih buat kalian semua yang setia dukung novel petrik yang receh ini, semoga kalian bisa sehat terus ya dan mau baca karya petrik lainnya!...
__ADS_1
...Selamat menyambut bulan puasa bagi yang menjalankan, mohon maaf ya semua kalau author petrik punya kesalahan❤️...