Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Nikah itu enak


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 377


...•...


...•...


Shella dan Devano kini hanya berduaan saja di kebun samping rumah pamannya, mereka berdua duduk di atas kursi panjang dengan Shella berada di pangkuan suaminya. Ya Devano terus saja ingin menciumi ceruk leher Shella dan menghirup aroma tubuh istrinya itu, ia juga mengusap-usap perut istrinya dengan lembut dan sesekali menggigit telinga Shella sembari mengusap rambutnya.


Shella hanya terpejam dan sesekali menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum, ia juga menikmati tiap sentuhan yang diberikan suaminya itu pada tubuhnya di pagi hari ini. Ya namun Shella tak menyukai jika Devano meminta jatah darinya saat ini, karena ia hanya ingin bermesraan berdua dengan suaminya itu tanpa perlu ada hubungan ranjang yang mereka lakukan disana.


"Honey, kamu bisa gak sih cantiknya dikurangin dikit gitu? Tiap hari aku ngeliat kamu malah makin bertambah cantik tau, aku kan jadi suka lihatnya!" ucap Devano memuji kecantikan istrinya.


Shella pun tersenyum sembari mengelus wajah suaminya yang masih sedikit basah itu, ia juga memberi kecupan manis pada wajah Devano lalu mengusapnya lembut. Hal itu membuat Devano makin tak karuan dan tentu miliknya yang sudah tadi tegang kini makin mengeras, namun ia tak ingin mengacaukan momen ini dan tetap fokus menatap wajah istrinya itu dengan senyum di wajahnya.


"Kamu juga makin hari makin tampan, mas. Aku jadi gak mau kehilangan kamu!" ucap Shella.


"Ya iya dong! Kita kan akan selalu bersama untuk selamanya, hanya maut yang bisa memisahkan kita, honey!" ucap Devano sembari menggenggam telapak tangan istrinya.


"Iya mas, aamiin!" ucap Shella tersenyum.


Devano terdiam dan fokus menatap wajah Shella sejenak, sebelum akhirnya ia kembali membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri sembari menciuminya dengan lembut. Tangannya juga makin erat menggenggam tangan Shella, lalu yang satunya lagi terus mengusap perut milik sang istri yang sudah semakin membesar.


"Eengghh..." suara kecil terdengar keluar dari mulut Shella saat Devano memberi gigitan pada area lehernya tanpa meninggalkan jejak.


Devano pun tersenyum dan mengecup bibir Shella sekilas lalu membelainya lembut, karena gairah yang sudah memuncak, membuat Devano menekan tengkuk Shella dan langsung melumatt begitu saja bibir mungil milik istrinya dengan cukup ganas, bahkan sampai Shella kesulitan untuk bernafas dan hanya bisa mengeratkan genggamannya.


Tak disangka tak diduga, adegan dewasa itu disaksikan oleh salah satu sepupu Devano yang merupakan anak dari paman Roky dan juga Eriska yang hendak memanggil mereka untuk sarapan. Tentu saja sang anak yang bernama Vonny dan baru berusia enam belas tahun itu cukup syok, ia menutup mulut serta matanya bersamaan di dekat sana.


Devano yang menyadari kehadiran Vonny disana, langsung melepas pagutannya dan menoleh ke arah gadis remaja yang berdiri menutup mata disana. Devano dan Shella pun tersenyum, lalu mereka bersama-sama menghampiri Vonny untuk membuat sepupunya itu tenang dan tidak perlu menutup mata lagi karena adegannya sudah habis.


"Vonny, udah gausah tutup mata lagi! Aku udah selesai kok anunya sama mbak Shella, jadi sekarang kamu bisa buka mata." ucap Devano tersenyum dan menarik tangan Vonny yang menutupi matanya.


Gadis remaja itu pun membuka matanya, lalu tersenyum dengan memperlihatkan gigi-giginya ke arah Devano serta Shella. Ia justru merasa malu karena telah mengganggu momen berduaan antara sepasang suami-istri itu, padahal ia datang kesana hanya untuk mengajak Devano dan juga Shella untuk makan pagi bersama keluarganya.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Devano.


"Eee maaf, kak Vano! Tadi aku udah gangguin kak Vano sama mbak Shella," ucap Vonny.


"Gapapa. Ada apa?" ucap Devano.


"Iya, jadi tuh ayah sama bunda udah minta kak Vano sama mbak Shella buat sarapan. Makanya aku disuruh kesini buat jemput kalian, eh ternyata kalian lagi enak-enak ya." ujar Vonny nyengir.


"Hadeh, belum cukup umur kamu! Jadi, jangan suka ngeledekin yang lebih dewasa!" ujar Devano.


"Iya kak, maaf!" ucap Vonny.


"Yaudah, yuk sekarang kita sama-sama ke dalam buat sarapan!" ucap Devano.


"Ayo!"

__ADS_1


Vonny manggut-manggut sambil menunggu renyah mengiyakan ajakan Devano, ia pun jalan di samping Shella dan banyak mengajukan pertanyaan kepada istri dari sepupunya itu. Ya sepertinya Vonny ingin tahu lebih banyak tentang pernikahan serta kehamilan, karena nantinya ia juga akan mengalami hal yang sama seperti Shella.


"Mbak, nikah tuh rasanya gimana sih?" tanya Vonny sembari mendekati Shella.


"Hus! Ngapain kamu tanya-tanya begitu, ha? Emang kamu udah mau nikah apa?" tegur Devano.


"Apaan sih, kak? Aku cuma mau tanya aja sama mbak Shella rasanya gimana, soal nikah mah ya belum mau lah!" ujar Vonny.


"Ahaha, nikah itu ya banyak deh rasanya bermacam-macam. Ada yang enak, enak banget malahan. Tapi, ada juga yang gak enak dan bisa bikin sakit hati terus sama kepala hampir pecah karena harus mikirin suami dan anak." jawab Shella.


"Ohh, emang gak bisa ya mbak kalo suami kita mikir sendiri-sendiri gitu?" tanya Vonny.


"Hah? Ya bisa dong, Vonny! Yang aku maksud itu, mikirin soal pelayanan buat suami dan lain-lainnya loh. Kan begitu nikah, kita bukan cuma mikir tentang diri kita sendiri, tapi juga suami dan anak-anak kalau misal kita udah punya nanti." ucap Shella.


"Hahaha, udah kamu mending jangan banyak tanya deh! Belum cukup umur, yang ada kamu nanti malah meledek loh kepalanya!" ujar Devano.


"Ish! Ya biarin dong! Mbak Shella nya aja juga gapapa tuh, kenapa kak Vano yang sewot?" ujar Vonny.


"Iya mas, biarin aja lah! Mungkin Vonny ini pengen nyiapin diri dari sekarang, sebelum nanti dia nikah. Justru itu bagus loh, mas! Jadi, Vonny gak akan linglung nanti pas udah nikah." ucap Shella.


"Tuh dengerin kak!" ujar Vonny.


Devano hanya membuang muka sembari mengusap hidungnya saja, tak lupa ia juga mengeratkan rangkulannya sehingga wajah Shella menempel pada bahunya dan kemudian tersenyum ke arah Vonny. Entah mengapa Shella memiliki perasaan tidak enak pada suaminya saat melihat senyuman dari wajah sang suami yang mengerikan itu.


"Nah Vonny, mau tau gak enaknya nikah itu apa?" tanya Devano sambil tersenyum.


"Mau mau, emang apa kak?" ucap Vonny.


"Iya, jadi pas kamu udah nikah nanti, kamu itu bakal bisa puas-puasin nganu sama suami kamu di ranjang. Gak harus di ranjang sih, dimana aja juga bisa! Apalagi pas malam pertama, pasti kamu bakal banjir keringat nantinya!" ujar Devano.


"Nganu? Maksud kak Vano hubungan suami-istri gitu? Ohh, emang begituan enak apa kak?" tanya Vonny yang masih benar-benar penasaran.


"Ohh, jadi kepengen aku..." ucap Vonny.


Shella pun sangat geram pada kelakuan suaminya yang bisa-bisanya berkata seperti itu ke Vonny alias sepupunya sendiri, ia menghujani tubuh Devano dengan berbagai cubitan khasnya dan Devano pun merintih kesakitan.


...•••...


Disisi lain, Nadya tampak bingung harus bagaimana saat ini setelah ia mengetahui kalau bosnya adalah Adrian yang juga merupakan pria yang selalu membuat masalah dalam hidupnya. Nadya lagi-lagi harus terjebak ke dalam permainan Adrian untuk kedua kalinya, ia kembali terpaksa bekerja di perusahaan milik Adrian dan tidak bisa mengajukan pengunduran diri sampai batas waktu yang ditentukan sesuai dengan surat perjanjian kontrak.


Nadya pun terus terdiam saja saat di dalam mobil bersama kekasihnya, yakni Yoga. Nadya juga tak tahu apa yang harus ia katakan pada sang kekasih ketika nanti Yoga bertanya tentang siapa bosnya, tentu Nadya tak mau membuat Yoga marah atau berpikiran yang tidak-tidak jika mengetahui bahwa bosnya adalah Adrian alias saingannya.


"Duh, aku harus bilang apa ke Yoga sekarang? Dia pasti bakalan marah besar kalau tau bos aku sekarang itu Adrian, dan bisa aja dia bakal datengin Adrian di kantor aku." batin Nadya.


Melihat gadisnya terus terdiam melamun sembari sesekali melirik ke arah dirinya, Yoga pun mulai tampak curiga dan penasaran apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Nadya saat ini. Akhirnya Yoga mengajukan pertanyaan kepada gadis itu karena ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya, karena memang sejak tadi Nadya terus terdiam.


"Nadya, kamu itu kenapa sih? Lagi mikirin apa kamu sayang?" tanya Yoga menegur gadisnya.


Sontak Nadya yang tengah asyik melamun memikirkan bagaimana cara untuk mengatakan pada Yoga tentang bosnya itu, langsung terkejut saat Yoga berbicara dan memanggil namanya. Dua pundak Nadya bahkan sampai terangkat karena kaget yang ia rasakan, namun ia segera menoleh ke arah Yoga dan tersenyum agar Yoga tak curiga.


"Eee aku gapapa kok." ucap Nadya.


"Serius? Tapi kamu kenapa daritadi ngelamun terus kalo emang gak ada yang kamu lagi pikirin?" tanya Yoga tak percaya dengan jawaban gadisnya.


"Aku gak ngelamun kok, tadi tuh cuma kebawa suasana aja karena jalanan nya gak terlalu ramai. Makanya aku jadi diem aja deh lihatin jalan, kamu jangan salah kaprah dulu!" ucap Nadya.


"Ohh, yaudah deh kalo emang kamu gak mau cerita sama aku." ucap Yoga pasrah.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Yoga? Marah sama aku? Kan aku udah bilang tadi, aku beneran enggak ngelamun! Terus apa juga yang harus aku ceritain ke kamu coba?" ucap Nadya coba menjelaskan pada Yoga agar pria itu tidak marah padanya.


"Iya iya, aku percaya iya!" ucap Yoga.


"Ish! Kamu bilang percaya, tapi muka kamu kenapa masih kayak orang kesel gitu? Itu tandanya kamu belum percaya sama aku tau!" ujar Nadya.


"Ya terus mau kamu sekarang apa? Muka aku harus kayak gimana nih?" tanya Yoga lesu.


"Umm, ya minimal senyum lah! Kamu kan kalo senyum makin ganteng tau, aku juga jadi makin cinta kalo lihat senyuman kamu yang manis itu!" ucap Nadya coba menggoda pacarnya.


"Hadeh, digombalin pacar rasanya wow banget ya! Emang paling paling dah pacarku yang satu ini, gombalannya udah makin mantap! Gak salah aku pilih kamu buat jadi pacar, karena kamu punya keahlian buat gombal juga!" ucap Yoga tersenyum.


"Hahaha, bisa aja ah kamu!" ujar Nadya.


Nadya pun senang karena Yoga kembali tersenyum dan tidak lagi bertanya padanya.




Sesampainya di halaman kantor, Nadya langsung saja pamit pada pacarnya itu untuk segera turun dan masuk ke dalam kantornya. Ia memang sedang tidak ingin berlama-lama dengan Yoga disana, terlebih tadi Yoga sudah mulai penasaran dan menaruh curiga padanya sampai sempat bertengkar walau akhirnya mereka berdua baikan lagi dan tersenyum.


Memang Yoga sudah tersenyum di hadapan Nadya, namun sebenarnya saat ini ia masih belum bisa melupakan kejadian di mobil tadi saat Nadya melamun dan tidak ingin mengaku. Yoga masih sangat penasaran ingin tahu apa sekiranya yang tengah dipikirkan oleh Nadya, akan tetapi Nadya tidak ingin memberitahu sehingga Yoga merasa kesal dan terpaksa harus cari tahu sendiri.


"Yog, aku langsung masuk ke dalam aja ya? Makasih udah antar aku sampe sini! Kamu hati-hati pulangnya, jangan ngebut loh!" ucap Nadya.


"Iya, pacarku yang cantik. Kamu juga hati-hati ya di dalam dan jangan jelalatan kemana-mana tuh mata! Nanti sore aku jemput kamu lagi disini, semangat kerjanya ya sayang!" ucap Yoga.


"Makasih! Pasti aku bakal semangat banget kok, karena abis disemangati sama kamu!" ucap Nadya.


"Hadeh, bisa aja kamu ini!" ucap Yoga.


"Hahaha, yaudah aku masuk dulu ya? Dadah sayang, sampai ketemu nanti sore!" ucap Nadya.


"Iya, dadah juga!" ucap Yoga melambai.


Setelahnya, Nadya pun turun dari mobil masih sembari melambaikan tangan ke arah Yoga yang juga sengaja membuka kaca mobilnya untuk melihat dengan jelas tubuh pacarnya. Nadya diminta kembali mendekat ke arah kaca mobil untuk menemui Yoga, ia pun menurut dan melakukan itu sembari tersenyum renyah karena ia juga senang.


Cupp...


Rupanya Yoga hanya ingin mengecup kening serta kedua pipi kekasihnya itu disana, Yoga pun tersenyum dan mengusap wajah Nadya setelah berhasil menciumnya. Terlihat pipi Nadya juga mulai merah merona akibat ciuman dari Yoga yang terasa lembut di pipinya, bahkan Nadya juga tidak bisa berkata-kata saat ini setelah dicium Yoga.


"Itu aja, semangat kerjanya sayang!" ucap Yoga tersenyum dan mengepalkan tangan.


"Iya, kamu ada-ada aja ih! Aku kira tadi ada apa, eh ternyata kamu cuma mau cium pipi aku!" ucap Nadya dengan bibir mengerucut.


"Hahaha, jangan cemberut gitu dong sayang! Masa dicium pacarnya sendiri kamu gak seneng? Harusnya kamu tuh bahagia dong dicium sama aku, jangan sampe nanti bibir kamu juga aku cium loh kalo enggak dirubah lagi!" ujar Yoga.


"Iya iya, aku ini seneng kok. Cuma tadi kaget aja, soalnya ekspresi awal kamu kayak orang bukan mau cium tau! Tapi malah kayak monster yang mau marah-marah gitu ke aku, kan akunya jadi takut duluan tadi sebelum deketin kamu!" ucap Nadya.


"Yaudah, sekarang kerja gih! Kalo disini terus nanti kamu bisa telat loh!" ucap Yoga.


Nadya manggut-manggut lalu mengecup kening Yoga sekilas dan langsung berputar badan begitu saja kemudian pergi meninggalkan Yoga dengan cepat agar tidak ada cium balasan dari pria itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1



...Selasa😍...


__ADS_2