Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Gak mau lagi


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 353


...•...


...•...


Damar kembali ke bawah setelah mengantarkan Nadya ke kamarnya, ia tampak senyum-senyum sendiri mengingat momen saat ia menggendong tubuh Nadya lalu mengecup kening gadis itu di kamarnya, entah mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya walau ia belum tau rasa apakah itu.


Damar berpapasan kembali dengan Jenar alias tantenya itu saat di bawah, rupanya Jenar juga hendak menyusul ke atas mengecek putrinya dan Damar, namun karena mereka bertemu disana maka Jenar mengurungkan niatnya untuk ke atas.


"Eh Damar udah balik, gimana Sheila? Dia gak kebangun kan pas kamu taruh dia di ranjang?" tanya Jenar penasaran.


"Tenang aja, tante! Sheila masih tidur pulas kok, aku juga udah selimutin dia dan matiin lampu kamarnya supaya Sheila bisa tidur nyaman." jawab Damar menjelaskan sambil tersenyum.


"Oalah, bagus deh. Makasih ya, nak Damar! Tante jadi ngerepotin kamu nih," ucap Jenar.


"Gapapa tante, aku gak ngerasa direpotin kok. Justru aku seneng bisa bantu tante sama Sheila, lagian aku kan sepupunya Sheila." ucap Damar.


"Yaudah, kalo gitu sekarang kamu langsung ke kamar gih istirahat! Tante kebetulan udah rapihin kamar kamu barusan, supaya kamu bisa tidur nyenyak dan nyaman! Maklumlah, kamar kamu kan lama gak dipake jadi sempat berantakan." ucap Jenar meminta ponakannya itu istirahat.


"Iya tante, oh ya tas aku dimana ya?" ucap Damar.


"Ohh, tante udah bawain sekalian ke kamar kamu. Jadi kamu tinggal tidur aja yang nyenyak, istirahat supaya besok bisa lanjut cari kerjanya! Tante selalu mendoakan yang terbaik buat semua saudara tante, termasuk kamu. Oh ya, nanti tante juga bakal minta bantuan deh ke Shella untuk bantu cariin kerjaan buat kamu. Siapa tau kan suaminya itu butuh karyawan di kantornya?" ucap Jenar.


"Aduh, makasih tante! Sekarang aku yang jadi gak enak nih sama tante, tapi kalau misal ngerepotin mending gausah deh tan aku takutnya mbak Shella atau mas Vano malah jadi ngurusin aku!" ujar Damar.


"Ah enggak kok! Mereka pasti gak bakal ngerasa direpotin, kamu ini kan sepupunya Shella. Udah tenang aja, tante akan bantu sebisa tante! Sekarang kamu langsung istirahat gih, udah malam loh ini! Kamu juga udah kelihatan ngantuk nih, apalagi kamu abis jalan jauh tadi!" ucap Jenar.


"Iya tante, makasih ya!" ucap Damar tersenyum.


"Sama-sama," ucap Jenar membalas senyuman Damar sembari mengusap pundak pria tersebut.


Setelahnya, Damar pun melangkah pergi menuju kamarnya meninggalkan Jenar yang tampaknya juga akan pergi ke kamarnya. Damar memasuki kamarnya dengan hati riang gembira, yang ada di pikirannya saat ini adalah wajah Nadya dan tentang rasa yang ia rasakan ketika bersama dengan gadis itu.


Damar langsung naik ke ranjangnya lalu bersandar sejenak disana, ia mengambil ponsel miliknya dari dalam tas lalu melihat jam dan sedikit syok ketika mengetahui sekarang sudah pukul setengah dua belas malam alias sebentar lagi memasuki tengah malam.


Damar mencoba merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata setelah menaruh ponsel di atas meja dan mematikan lampu kamar, namun entah mengapa ia sangat sulit untuk tidur karena tiap kali memejamkan mata selalu muncul wajah Nadya di dalam kepalanya.


"Hadeh, ini saya kenapa ya? Kok daritadi kebayang wajah Sheila terus? Apa benar kalau saya ini emang suka sama Sheila seperti saat dulu sama mbak Shella? Emang sih muka dan bentuk tubuh Sheila gak jauh beda dari mbak Shella, dia juga bisa bikin cowok yang melihatnya jatuh cinta dengan mudah termasuk saya ini." gumamnya.


...•••...


Sama dengan Damar, Devano pun masih belum bisa tidur walau sedari tadi ia mencoba untuk melakukannya dan terus memejamkan mata agar bisa segera tidur. Namun, entah mengapa ia seperti merasa gelisah seakan ada yang salah dalam dirinya saat ini sehingga ia tidak bisa tidur seperti istrinya yang sudah terlelap itu.


Devano pun menoleh ke arah Shella, menatap wajah istrinya itu kemudian mendekatinya. Devano mengusap wajah Shella sembari mengecupnya berkali-kali, kini ia sadar apa penyebab ia tidak bisa tidur hingga saat ini. Ya tentu saja karena ia belum mendapat jatah dari istrinya malam hari ini.


Junior miliknya di bawah sana bahkan sudah berdiri bersiap untuk menerobos keluar dan memasuki goa milik istrinya, namun ia berusaha sekeras mungkin untuk menahannya karena ia tak mau membuat Shella terbangun dan tentunya akan mengganggu waktu istirahat Shella serta bayi dalam kandungannya.


Devano juga sudah berjanji pada mama serta istrinya untuk tidak meminta jatah lagi malam ini, karena ia sudah mendapatkan itu sore tadi. Namun, perasaannya menjadi tak karuan karena juniornya tiba-tiba terasa panas seperti meminta untuk segera dikeluarkan dari dalam celananya lalu dimasukkan ke area sensitif milik Shella sekarang juga.


Akhirnya Devano yang sudah tidak tahan memilih bangkit dan duduk di atas ranjangnya itu sambil mengatur nafas, ia mencoba menenangkan diri agar tidak terbawa nafsuunya.

__ADS_1


"Haish, si Daniel emang gak bisa diajak kompromi. Ini kan udah tengah malam, ayolah jangan bangun terus! Shella butuh istirahat dan saya gak bisa ganggu dia, apalagi saya juga udah janji sama mama buat enggak genjot dia lagi! Kamu harusnya paham dong, Daniel! Jangan malah bangun di waktu orang tidur kayak begini!" gumamnya dalam hati sembari menunduk menatap juniornya dari balik celana.


Devano melirik sekilas wajah mulus Shella yang tengah menghadap ke arahnya, bibir seksi khas milik Shella itu membuatnya semakin bertambah panas dan ingin melumattnya.


Akhirnya Devano berusaha sekeras mungkin untuk menahan gairah yang semakin bertambah di dalam tubuhnya itu, ia terus menatap langit-langit kamar dan sesekali juga kembali menatap wajah istrinya.


Akibat gairah yang sedang ia rasakan, Devano pun melakukan gerakan-gerakan di atas ranjang untuk berupaya menahan apa yang ada di dalam tubuhnya saat ini.


Ya gerakan dari Devano, membuat Shella merasa terganggu dan tidurnya tidak tenang.


Shella pun membuka matanya dengan perlahan dan terkejut saat melihat suaminya masih terjaga disana tengah duduk dengan gelisah dan tidak bisa diam.


Shella yang sudah terlanjur bangun, akhirnya bangkit dan duduk di samping suaminya.


"Masss..." desis Shella pelan memanggil suaminya.


Devano yang sedang diluar kendali, menoleh kemudian tersenyum ke arah istrinya dengan wajah mesum khasnya.


"Honey, kamu bangun?" tanya Devano.


"Iya, gerakan kamu yang bikin aku bangun." jawab Shella sambil tersenyum.


Cupp...


Tanpa aba-aba Devano langsung mengecup sekilas bibir mungil Shella karena gairah yang ia rasakan.


"Honey, karena kamu udah bangun. Mau gak kalau kamu anuin Daniel pakai mulut kamu? Kan sekarang aku lagi gak bisa main sama kamu, karena aku gak mau bikin baby sakit dan kamu sampai kenapa-napa. Jadi, kamu harus mau dong honey! Ya kan, mau kan sayangku?" ucap Devano meminta pada Shella dengan sedikit memaksa.


Shella menatap tak suka ke arah wajah suaminya, ia menyesal telah bangun dari tidurnya dan mendekati Devano yang tengah gelisah menahan gairahnya sedari tadi. Ya akhirnya ia harus terjebak dalam masalah ini dan terpaksa mau menuruti kemauan sang suami.


Shella pun menjawab permintaan Devano dengan anggukan pelan, hal itu dimengerti oleh Devano yang langsung mengarahkan kepala istrinya ke depan miliknya.


Shella tanpa berbicara apapun langsung saja turun dari ranjang dan pergi ke dalam kamar mandi sembari memegangi mulutnya dengan telapak tangan.


Devano yang tengah merasakan kepuasan, tak mengerti dengan apa yang hendak dilakukan istrinya itu sampai terburu-buru begitu masuk ke kamar mandi dengan memegangi mulutnya.


"Honey, kamu ngapain sih..??" teriak Devano penasaran pada kelakuan istrinya itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara muntah dari dalam kamar mandi itu. Devano akhirnya mengerti apa yang dilakukan Shella di dalam sana, ia tersenyum menyeringai dengan raut kepuasan dan lalu bersandar menggunakan tangannya sebagai bantalan kepala.




Keesokan paginya, Devano dan Shella terbangun secara bersamaan karena suara motor lewat yang sangat berisik. Mungkin pemilik motor itu baru mengganti knalpotnya jadi knalpot racing sehingga sangat berisik dan mengganggu tidur mereka.


Devano langsung tersenyum kemudian mengusap wajah istrinya itu dan mengecup keningnya.


Cupp...


"Good morning, honey!" ucap Devano mengucapkan selamat pagi pada istrinya masih sambil mengusap puncak kepala sang istri.


"Pagi juga, mas!" jawab Shella dengan dingin.


"Kamu kenapa sih? Kok kayak yang lagi kesel gitu? Apa kamu marah lagi sama aku? Emangnya aku ada salah apa lagi sih, honey?" tanya Devano penasaran, ia mendekat ke arah Shella dan menarik dagu istrinya itu agar bisa menatap wajah serta mata dari Shella yang sangat indah di matanya itu.


"Aku bete sama kamu!" ujar Shella sembari mengerucutkan bibirnya.


"Loh loh aku salah apa lagi ini? Perasaan semalam aku gak ada ngomong macam-macam sama kamu, kenapa kamu malah jadi bete lagi sama aku?" tanya Devano tak mengerti dengan sikap istrinya.

__ADS_1


"Mas, abisnya kamu sih! Semalam kenapa kamu tahan leher aku pas aku mau bangkit? Kan aku jadi susah nafas sama hampir keselek, mas! Kamu emang mau bikin aku mati apa?" ucap Shella menegur suaminya.


"Hus! Kalo ngomong jangan begitu! Jadi kamu bete karena itu, honey?" ucap Devano tersenyum.


"Ya iyalah! Harusnya kan kamu jangan begitu sama istri kamu sendiri, mas! Aku sampe sekarang masih ngerasa jijik tau gak, apalagi cairan kamu ada yang ketelan sedikit sama aku!" ucap Shella cemberut.


"Hahaha, ya bagus dong! Justru harusnya kamu telan itu semua cairannya!" ujar Devano tertawa.


"Ish, kok kamu malah ketawa? Aku eneg banget tau, mas! Sampe sekarang ini aku masih ngerasa begitu, aku pengen makan juga jadi gak selera! Harusnya kalau udah mau keluar kamu bilang dan lepasin aku, jangan malah tahan leher aku!" ucap Shella.


"Ya gak bisa gitu lah! Aku kan pengen puas, honey! Kalau dilepas, nanti siapa lagi yang mau puasin aku?" ucap Devano.


"Haish, kan bisa aku lanjutin pake tangan. Jadi aku gak harus ngerasain cairan kamu yang jorok itu! Rasanya gak enak banget tau, aku jadi trauma deh gak mau gituin kamu lagi!" ucap Shella.


"Ahaha, iya iya... aku minta maaf, ya? Lain kali kamu gak perlu pake mulut lagi kok, kan ada milik kamu tuh!" ucap Devano.


"Dasar mesum!" ujar Shella sembari melempar bantal ke arah suaminya.


Devano hanya tertawa-tawa disana melihat ekspresi menggemaskan istrinya, sedangkan Shella langsung bangkit dari tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa eneg dari mulutnya itu sekaligus cuci muka dan mandi.


...•••...


Disisi lain, Nadya juga baru bangun dari tidurnya dan langsung turun ke bawah untuk mencari ibunya sembari mengucek-ngucek mata. Nadya masih bingung bagaimana mungkin ia bisa berada di kamarnya secara tiba-tiba, padahal terakhir kali yang ia ingat ia tengah bersama ibunya dan juga Damar di bawah lalu sedang mengobrol.


Nadya pun keluar dari kamarnya, lalu mencari-cari keberadaan sang ibu di bawah. Nadya mencari ibunya kesana-kemari, mulai dari dapur sampai halaman depan rumahnya. Namun, ia sama sekali tidak berhasil menemukan ibunya dimanapun.


Sampai akhirnya Nadya menyerah dan memilih kembali ke dalam, akan tetapi ia malah bertemu dengan Damar yang baru keluar dari kamarnya.


"Eh Sheila, abis ngapain?" tanya Damar.


"Eee.... aku mau cari ibu, tapi kok ibu gak ada ya? Apa mungkin ibu masih tidur di kamarnya?" ucap Nadya menjawab pertanyaan Damar sembari bertanya juga kepada sepupunya itu.


"Oalah, kamu mau ketemu tante Jenar? Tenang aja, tante Jenar udah bangun kok!" ucap Damar.


"Kamu tau dimana ibu?" tanya Nadya.


"Iya tau, tadi kebetulan tante Jenar bilang ke aku katanya mau belanja di tukang sayur dekat sini. Mungkin bentar lagi juga balik kok, soalnya udah pergi lumayan lama ya sekitar lima belas menitan ada lah!" jawab Damar.


"Ohh, yaudah makasih! Kalo gitu aku mau balik ke kamar aja, soalnya belum cuci muka juga." ucap Nadya agak malu-malu untuk menatap Damar.


"Hahaha, pantes belek kamu masih ada dimana-mana tuh!" ujar Damar bercanda dan berniat untuk mengerjai Nadya.


"Hah? Serius?" Nadya langsung kalap dan mengucek matanya untuk membersihkan belek yang dimaksud Damar, tentu ia sangat malu jika benar matanya masih belekan.


Damar justru tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari Nadya yang percaya begitu saja.


"Hahaha... hahaha...." tawa Damar.


"Kamu kenapa ketawa mulu sih? Emang segitu banyaknya ya belek aku? Tapi, perasaan gak ada deh!" ucap Nadya tersipu.


"Ahaha, gak ada kok. Aku tadi cuma bercanda dan pengen ngerjain kamu aja, eh ternyata kamu beneran percaya! Hahaha..." ucap Damar.


"Haish, ngeselin ya kamu!" ujar Nadya.


"Ahaha, maaf Sheila! Aku bercanda kok, lagian kamu mau udah cuci muka atau belum gak ada bedanya. Tetep sama-sama cantik!" ucap Damar mendekat ke arah Nadya lalu berbisik di telinga Nadya saat mengucap kalimat terakhir.


Nadya bergidik saat hembusan nafas Damar terasa pada area kulitnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2