
Shella sampai di kantor barunya, ia langsung disambut dengan hangat oleh satpam disini.
"Selamat pagi mbak," ujarnya.
"Iya pagi juga pak," ucap Shella.
"Mbak karyawan baru ya disini? Soalnya saya belum pernah lihat sebelumnya.." ujarnya.
"Iya bener ini hari pertama saya, oh iya kenalin saya Shella!" ucap Shella.
"Wah selamat ya mbak Shella karena udah diterima kerja disini, terus semangat juga buat hari pertamanya!" ujar satpam itu.
"Makasih pak, yaudah ya saya masuk dulu.." ucap Shella.
"Iya silahkan mbak,"
Shella pun masuk kedalam perusahaan itu dengan senyum bahagia..
Tak lama, Devano juga sampai disana dan disambut oleh pak satpam.
"Selamat pagi pak!" ujarnya.
"Ya pagi," ucap Devano.
Devano langsung melangkah masuk tanpa menoleh ke arah satpam itu..
Di dalam, Shella tambah bahagia.. Ia seperti tidak menyangka dapat bekerja di perusahaan sebesar itu.
"Wah gue gak nyangka bisa kerja disini, gue harus kasih kinerja yang baik sebagai tanda kalo pak Rafi gak salah udah milih gue!" ujar Shella.
Shella hendak berbelok dan melanjutkan perjalanan nya, namun ia malah menabrak Devano disana.
"Heh kamu gimana sih? Kalau jalan pake mata!" ujar Devano.
"Maaf pak maaf saya gak sengaja.." ucap Shella sambil menunduk.
Devano merasa kenal dengan suara itu, ia pun coba memperhatikan lebih dekat wajah wanita itu.
"Tunggu, kamu Shella kan?" tanya Devano.
Shella heran karena lelaki itu bisa tau namanya, akhirnya ia memutuskan untuk menatap wajah pria itu..
Dan betapa kagetnya dia ketika yang dilihat adalah Devano pelaku pemerkosaan terhadap dirinya beberapa waktu lalu.
"Pak Devano?"
"Iya ini saya, kamu ngapain disini?" tanya Devano.
"Sa-saya baru keterima kerja disini, anda sendiri kenapa ada disini?" ujar Shella.
"Loh, ini kan perusahaan saya.. PT Devano sukses makmur!" ucap Devano.
"Ja-jadi ini perusahaan anda?" tanya Shella.
"Iya saya pemilik perusahaan ini!" jawab Devano.
Lalu, Rafi melihat Devano sedang bersama Shella.. Ia pun penasaran dan menghampiri mereka.
"Nah Van baguslah lu udah ketemu sama Shella, dia nih yang kemarin gue ceritain ke lu.. Soal staf baru itu loh!" ujar Rafi.
"Ohh jadi yang lu maksud tuh dia?" tanya Devano.
"Iya bener, dia staf baru disini.." jawab Rafi.
"Kalo gitu, ikut saya ke ruangan sekarang!" ujar Devano pada Shella.
__ADS_1
Devano berjalan pergi dari sana..
"Hey, kok malah diem? Sana ikutin pak bos!" ucap Rafi.
"Iya ini aku mau ikutin kok.." ucap Shella.
Shella pun mengikuti Devano ke ruangannya..
"Duh bener kan ternyata ini perusahaan Devano yang gue kenal.. Malesin banget sih punya bos kayak dia!" batin Shella.
Akhirnya Shella sampai di ruangan Devano.
"Ada apa pak?" tanya Shella.
"Duduk, ada yang ingin saya bicarakan!" ucap Devano.
Shella pun duduk di depan Devano..
"Apa yang ingin bapak bicarakan ke saya?" tanya Shella.
Devano mengambil secarik kertas dari kantongnya, lalu meletakkan nya di atas meja.
"Kemarin Adrian memberikan itu pada saya, silahkan dibaca!" ujar Devano.
Shella pun mengambil kertas itu dan membacanya.
"Hah surat permintaan maaf dari rumah sakit? Berarti bener dong gue gak hamil?" batin Shella.
Sesudah membacanya, Shella menaruh kembali surat itu ke meja.
"Itu surat yang menyatakan kalau kamu tidak sedang mengandung, tapi bukan berarti saya bisa lepas dari tanggung jawab.. Saya sadar yang saya lakukan ke kamu itu salah besar, oleh karena itu saya tetap akan melakukan apapun yang kamu pinta sebagai ungkapan rasa salah saya.." ucap Devano.
"Aku gak perlu itu, aku cuma ingin semuanya kembali seperti dulu.. Saat sebelum anda melakukan itu pada saya!" ujar Shella.
"Yasudah pak, saya harus bekerja.." ucap Shella.
"Ya, silahkan! Semoga kamu betah bekerja disini!" ujar Devano.
"Iya pak,"
"Gimana aku bisa betah, kalau bos aku ternyata orang yang paling aku benci di dunia ini.." gumam Shella.
Shella pun keluar dari ruangan Devano dan kembali ke tempat kerjanya.
...•••...
Bimo mendatangi kampus Zara, ia berniat menemui Zara disana dan meminta penjelasan darinya.
Ia pun bertemu dengan Laila & Yasmin..
"Eh sebentar, kalian temannya Zara kan?" tanya Bimo.
"Ah iya kita temennya, lu bukannya mantan si Zara ya?" ucap Laila.
"Mantan?"
"Iya, Zara udah cerita ke kita kalo kalian udah putus hubungan.." ujar Laila.
"Ohh, terus Zara sekarang dimana ya?" tanya Bimo.
"Zara lagi ada kelas, emangnya lu mau ngapain nanyain dia?" ujar Laila.
"Gue mau minta penjelasan dari dia," ucap Bimo.
"Penjelasan soal apa?" tanya Laila.
__ADS_1
"Kalian gak perlu tau, yaudah makasih ya nanti kalo kalian ketemu Zara tolong bilang gua tunggu dia di taman teratai.." jawab Bimo.
"Ok,"
Bimo pun pergi dari sana..
...•••...
Shella sedang mengerjakan kerjaan pertamanya, ia sangat bersemangat untuk menunjukkan pada Rafi bahwa dia tidak salah telah memilihnya.
Saking semangatnya, ia sampai merasa mual dan pusing di kepala.
"Aduh, kok pusing banget sih? Gak gak, gue harus selesain kerjaan ini tepat waktu!" gumam Shella.
Shella memaksa untuk terus bekerja, padahal kepalanya terasa semakin pusing..
Lalu, salah seorang karyawan disana melihat Shella memegangi kepalanya.. Ia pun menghampiri Shella dan coba menanyakan kondisinya.
"Shella, kamu gapapa?" tanyanya.
"Eh Andin, aku gapapa kok.." jawab Shella.
"Yakin? Kamu kelihatan pucat banget loh!" ujar Andin.
"Iya aku gapapa, udah kamu lanjut kerja aja!" ucap Shella.
"Oke deh, tapi kalo ada apa-apa panggil aku ya!" ucap Andin.
"Iya siap,"
Andin kembali ke tempatnya, sedangkan Shella melanjutkan kerjanya walau kepalanya semakin terasa pusing.
Lama-kelamaan, pandangan Shella terasa kabur.
"Duh kok makin pusing ya? Terus pandangan gue kenapa jadi gini?" batin Shella.
Tak lama kemudian, Shella pun pingsan di ruang kerjanya dengan posisi kepala tergeletak di atas meja.
Andin yang tidak jauh dari Shella pun langsung bergegas menghampirinya..
"Hah Shella ya ampun, gue harus minta bantuan ob nih!" ujar Andin.
...•••...
Jenar sedang memasak bersama Yani di dapur, tiba-tiba saja jarinya terkena pisau dan mengeluarkan darah lumayan banyak.
"Aduh!" ucap Jenar.
"Ya ampun Bu, biar saya obatin ya.." ujar Yani.
"Iya iya,"
Jenar langsung kepikiran dengan Shella, ia merasa ada sesuatu yang menimpa Shella.
"Duh kok perasaan aku jadi gak enak ya? Semoga aja Shella gak kenapa-napa disana.." batin Jenar.
Lalu, Yani kembali membawa kotak obat untuk mengobati luka Jenar.
"Sini Bu biar saya obatin," ucap Yani.
"Iya makasih ya Bi,"
Yani pun membersihkan darah yang keluar dari jari Jenar kemudian membalutnya dengan hansaplast.
...~Bersambung~...
__ADS_1