Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Tidak akan menyakitimu lagi


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 100


...•...


...•...


Shella & Devano hanya bisa diam sambil menundukkan kepala mereka, tampak kemarahan di raut wajah Silvi & Tama setelah mengetahui kalau Shella ternyata sudah hamil sebelum menikah dengan Devano.


"Mamah gak nyangka kamu seperti itu Vano! Mamah pikir kamu anak baik-baik loh, eh ternyata kamu malah tega sampai melakukan itu ke Shella! Siapa yang sudah mengajarkan kamu soal itu?" ujar Silvi memarahi Devano anaknya itu.


"Mah sudah mah jangan marah-marah begitu! Ini kan salah kita juga karena kita jarang kasih perhatian dan pembelajaran ke Devano, sudah tidak perlu dilanjutkan! Yang terpenting kan Devano mau bertanggung jawab dengan menikahi Shella mah!" ucap Tama membela Devano.


"Ish tetep aja pah itu tuh gak bener! Gimana kalo Vano di luar sana masih suka melecehkan wanita? Mau ditaruh dimana muka mamah pah kalau keluarga besar kita tahu tentang ini??" ujar Silvi yang masih saja marah-marah.


"Mamah kok gitu sih? Aku bukan cowok begitu kok, waktu itu tuh aku khilaf mah makanya bisa sampe hamilin Shella! Tapi aku gak pernah lakukin itu lagi ke cewek lain! Soal keluarga besar kita, ya mamah gausah kasih tau mereka soal aib aku ini simpel kan!" ucap Devano.


"Simpel simpel matamu! Gimana nanti kalo mereka curiga soal kehamilan Shella? Yang namanya kandungan kan gak bisa ditutupin, gimana caranya kita bisa tutupin ini dari mereka??" ujar Silvi.


"Sudah lah mah! Kasihan tuh Shella jadi sedih, takut nanti bayi dalam kandungannya ikut terkena dampaknya mah! Yang lalu biarlah berlalu mah gausah diungkit lagi!" ucap Tama coba menenangkan suasana disana yang mulai panas.


Lalu, Silvi mendekati Shella menantunya itu dan memeluknya sambil menangis.


"Maafin kelakuan anak mamah ya sayang! Jujur mamah juga gak nyangka Devano bisa berbuat seperti itu, semoga kamu bahagia selalu dalam pernikahan ini sayang..!!" ucap Silvi yang menaruh kepala Shella di bahunya lalu mengelus lembut wajah Shella sambil mengecup kepalanya itu.


"Aku udah maafin mas Vano kok mah, karena aku juga salah waktu itu udah pergi ke bar malam-malam! Yang namanya musibah kan emang gak ada yang tau mah.. Jangan marahin mas Vano lagi ya mah! Insyaallah aku sudah bisa menerima kenyataan ini bahkan juga mencintai mas Vano sebagai suami aku!" ucap Shella yang juga meneteskan air mata.


Devano tampak sangat bersedih dan menyesal karena telah menghancurkan masa depan seorang wanita disampingnya itu.


"Maafkan saya Shella, karena ulah saya kamu jadi gagal menggapai cita-cita kamu! Tapi saya janji kok, akan berusaha buat mengharumkan nama kamu dan tidak akan pernah lagi menyakiti kamu!" gumam Devano mengelus dahinya menahan tangis.


...•••...


Rafi bersama Vanya mendatangi alamat lokasi tempat tinggal security gedung yang diberikan oleh Devano sebelumnya.

__ADS_1


Rafi tentunya ingin meminta penjelasan dari security tersebut tentang apa alasannya memotong tali rem mobil yang digunakan Devano saat itu.


TOK TOK TOK..


"Permisi pak Hamzah..!!" ucap Rafi sambil mengetuk pintu rumah itu berkali-kali, tapi tak ada jawaban dari dalam.


Rafi masih terus mengetuk pintu itu bahkan lebih keras disertai suara panggilan pada security tersebut, namun hasilnya tetap sama masih tidak ada jawaban dari dalam.


"Kak, kayaknya di dalam gak ada orang deh.. Percuma juga kakak ketuk ketuk pintu terus kalo gak ada orang di dalam! Lagian kita ngapain sih kesini kak? Emang kakak mau cari siapa?" ucap Vanya penasaran karena Rafi tak memberitahu tujuannya datang ke tempat itu.


"Iya kamu bener, tapi kemana ya pemilik rumah ini? Aku tuh harus ketemu sama dia karena ada urusan yang sangat penting..!!" ucap Rafi tak mau menjelaskan secara rinci pada Vanya.


Tak lama kemudian, muncul seorang bapak-bapak yang sedang jalan berduaan melewati tempat itu, akhirnya Rafi memutuskan untuk bertanya pada 2 orang bapak-bapak itu.


"Eee permisi pak, saya mau nanya nih.." ucap Rafi mencegat 2 bapak tersebut.


"Eh iya mas tanya apa ya?" ucap si bapak yang satu.


"Begini pak, apa benar ini rumah kediaman pak Hamzah security?" tanya Rafi pada bapak-bapak tersebut.


"Ohh iya bener mas ini rumahnya pak Hamzah, tapi kemarin tuh tiba-tiba aja pak Hamzah sama anaknya pindah dari sini mas!" jawab si bapak.


"Hah? Pak Hamzah pindah mendadak pak? Kalo boleh tau kira-kira pak Hamzah pindah kemana ya?" tanya Rafi lagi masih penasaran.


"Eee bapak tahu gak rumah sakit tempat istri pak Hamzah itu dirawat? Siapa tau saya bisa bertemu pak Hamzah disana.." ujar Rafi menanyakan nama rumah sakit istri pak Hamzah dirawat.


"Nah kalo itu saya tau, pak Hamzah pernah bilang waktu itu kalo istrinya lagi di rawat di rumah sakit pelita jaya yang ada di jalan besar sana mas!" ucap si bapak satunya yang akhirnya bisa berbicara juga.


"Ohh iya saya tau pak tempatnya, ngomong-ngomong nama istri pak Hamzah siapa ya? Soalnya saya cuma kenal sama pak Hamzah nya aja.." ucap Rafi sedikit merasa lega.


"Namanya Bu Adriana Meyriska, sudah sekitar 2 bulan dia dirawat di rumah sakit karena penyakit tumor otak!" jawab si bapak memberitahu nama istri pak Hamzah pada Rafi.


"Tumor otak? Ya ampun kasihan sekali istri pak Hamzah itu, yasudah terimakasih ya pak atas informasinya!" ucap Rafi reflek menutup mulutnya.


"Iya sama-sama pak, kalo gitu kami permisi dulu mas!" ucap si bapak.


"Iya iya pak, sekali lagi terimakasih..!!" ucap Rafi mengizinkan mereka pergi.


2 bapak-bapak tersebut lanjut berjalan pergi dari sana, sedangkan Rafi kembali menghampiri Vanya yang masih terpaku di depan rumah Hamzah.


"Kita ke rumah sakit pelita jaya dulu ya, setelah itu baru saya akan antar kamu ke rumah!" ucap Rafi.

__ADS_1


"Mau ngapain kak? Apa kakak ada yang sakit atau mau jenguk keluarga kakak??" tanya Vanya dengan wajah polosnya.


"Iya saya mau jenguk seseorang, ayo kita pergi!" jawab Rafi kemudian menggandeng tangan Vanya menuju mobilnya.


...•••...


TING NONG TING NONG..


"Iya iya sebentar.." ucap Nadya berjalan ke arah pintu rumahnya untuk menemui tamu yang datang, tampak ia sebenarnya malas membukakan pintu karena mengira yang datang adalah Adrian.


Nadya pun membuka pintu dan terkejut saat melihat buket bunga warna-warni di depan matanya, perlahan bunga itu turun dan memperlihatkan wajah pria yang memegang bunga itu sedang tersenyum.


"Selamat sore cantik!" ucapnya sambil menunjukkan gigi-gigi putihnya.


Nadya makin bete saat melihat pria yang datang itu memang benar Adrian, bosnya yang hampir melecehkan dirinya itu.


"Hey, kok cemberut sih? Aku bawain bunga loh buat kamu cantik! Lihat deh bunga ini indah kan?" ujar Adrian menghirup aroma bunga di tangannya.


Nadya hanya mengangguk tanpa berkata apapun, bahkan ia membuang muka tak mau menatap wajah Adrian.


Adrian tersenyum tau kalau gadisnya itu sedang marah padanya, ia pun menaruh bunganya di atas meja kecil yang ada disana lalu bergerak mendekati Nadya.


"Kamu masih marah ya sama aku?" ucap Adrian mencubit gemas pipi Nadya, sontak membuat Nadya menoleh kesal ke arah Adrian.


"Hahaha nah gitu dong lihat aku cantik! Oh ya selain bunga aku juga punya sesuatu yang lain loh buat kamu, sebentar ya aku ambil dulu.." sambung Adrian lalu merogoh kantong bajunya mengambil sesuatu barang dari sana.


Nadya penasaran apa yang ingin diberikan lagi oleh Adrian padanya, ia pun melirik sedikit ke arah Adrian dan tampak sebuah gelang emas yang kini berada di tangan Adrian.


"Nah ini gelang buat kamu cantik! Aku lihat tangan kamu polos begitu, makanya aku beliin gelang ini buat kamu supaya di tangan kamu yang mulus ini gak polos lagi.." ucap Adrian menunjukkan gelang emas bertuliskan nama Nadya disana.


Lalu, Adrian meraih tangan kanan Nadya sempat juga ia mengelus dan mengecupnya.


"Maaf pak, aku gak suka pake gelang!" ucap Nadya menolak pemberian Adrian, ia juga melepaskan tangannya dari genggaman Adrian.


"Gapapa cantik, ayo terima ya hadiah dari aku ini!" ucap Adrian memberi tatapan memelas pada Nadya.


Akhirnya Nadya luluh dan mau menerima gelang pemberian Adrian itu, bahkan ia menyerahkan tangannya pada Adrian.


"Iya oke aku mau, tapi ini terakhir kalinya aku terima hadiah dari kamu ya.. Karena aku gak mau terima sesuatu dari orang yang bukan siapa-siapa aku!" ucap Nadya kemudian menjulurkan tangannya pada Adrian agar Adrian bisa memasangkan gelang itu di tangan mulusnya.


"Makasih cantik!" ucap Adrian tersenyum lalu mulai meraih tangan Nadya dan memasang gelang emas bertuliskan nama Nadya di tangannya itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2