Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Besan datang


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 98


...•...


...•...


Hari ini adalah pemakaman jenazah Kevin, tampak Vanya sangat bersedih melihat jenazah kakaknya dimasukkan ke liang lahat.


Rafi yang juga hadir disana untuk menemani Vanya pun coba menghiburnya dengan merangkul pundak wanita itu, kelihatan sekali Rafi benar-benar tulus peduli pada Vanya.


Setelah prosesi pemakaman selesai, seluruh orang serta ustadz dan juga para polisi yang hadir disana pun pamit pulang.


"Pak Rafi, kami mohon izin untuk pergi! Kami juga masih akan terus menyelidiki kecelakaan ini, karena seperti yang pak Rafi katakan ada yang tidak beres dengan kejadian ini..!!" ucap pak Amir (polisi).


"Iya baik pak, saya harap secepatnya kasus ini bisa terselesaikan! Terimakasih atas bantuannya pak!" ucap Rafi bersalaman dengan pak Amir.


"Sama-sama pak itu sudah tugas kami, yasudah kalau gitu kami permisi dulu!" ujar pak Amir lalu pergi bersama 2 polisi lainnya.


Setelah para polisi itu pergi, Rafi kembali mendekati Vanya yang masih menangis di nisan kakaknya itu.


"Vanya, kamu harus ikhlas ya! Saya yakin Kevin pasti ikut sedih melihat kamu terus menangisinya seperti ini.. Sebaiknya sekarang kamu ikut saya sarapan ya! Saya yakin pasti kamu belum sempat sarapan tadi kan, itu gak baik loh buat kesehatan kamu!" ucap Rafi mengusap pundak Vanya.


Akhirnya Vanya mau menuruti Rafi, ia menyeka air matanya yang banyak itu menggunakan tisu lalu kemudian berpamitan pada kakaknya.


"Kak, Vanya pergi dulu ya! Semoga kakak tenang disana! Assalamualaikum..." ucap Vanya mengusap-usap batu nisan Kevin lalu juga menciumnya.


Setelah itu, Vanya beranjak dan melambaikan tangannya ke arah kuburan Kevin.


"Dadah kakak..!!" ucap Vanya dengan senyuman manisnya walau masih ada rasa sedih yang amat sangat di dalam hatinya.


Mereka berdua pun pergi dari sana menggunakan mobil milik Rafi, tak lupa juga Rafi memberi kabar pada Devano kalau sekarang Vanya sedang bersamanya.


"Kamu mau makan apa Van?" tanya Rafi.


"Apa aja kak, soalnya sekarang aku lagi gak kepengen makan apa-apa.." jawab Vanya yang masih terlihat sedih.


"Hey, gimana kalo kita makan lontong sayur? Saya tau loh tempat yang paling enak disekitar sini, mau kan?" usul Rafi sambil mendekatkan wajahnya pada Vanya.


"Terserah kamu aja," jawab Vanya singkat.


Rafi pun dengan keberaniannya menyeka air mata yang lagi-lagi keluar dari mata Vanya menggunakan jari telunjuknya.


Sontak Vanya kaget lalu menoleh ke arah Rafi, ia menatap Rafi dengan tatapan seperti bertanya-tanya mengapa Rafi melakukan itu padanya.


"Saya cuma gak mau kamu terus-terusan menangis, itu aja kok gak lebih.." ucap Rafi tersenyum lalu menjauhkan tubuhnya dari Vanya dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Oke kita berangkat ke tempat lontong sayur yang paling enak disekitar sini!" sambung Rafi dibarengi dengan memajukan persneling mobilnya.


Vanya masih terdiam membisu tak mau berkata apa-apa, di pikirannya kini hanya ada kakaknya yaitu Kevin yang baru saja pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


...•••...


Disisi lain, Devano baru selesai sarapan bersama istri tercintanya yakni Shella.. Mereka kembali mencuci piring bersama-sama dan sesekali saling mencolek wajah masing-masing menggunakan sabun cuci piring.


Setelah selesai, Devano mengajak istrinya itu untuk menonton film disana yang sudah disiapkan oleh Devano sejak semalam.


"Emang kita mau nonton film apa sih mas? Kayaknya kamu heboh banget dari semalam ngomongin itu terus.." ujar Shella keheranan.

__ADS_1


"Ada deh honey, pokoknya film ini tuh seru banget! Dijamin deh kamu bakalan suka bahkan ketagihan nontonnya!" ucap Devano sambil mengambil remote tv nya lalu duduk bersandar di sofa.


"Ayo sini duduk cepet!" ucap Devano langsung menarik Shella pelan ke pangkuannya.


"Ish mas, jangan bilang kamu mau ajakin aku nonton film dewasa! Awas aja ya kalo sampe beneran film begituan yang kamu setel! Pokoknya aku bakal ngambek sampe malem..!!" ujar Shella memanyunkan bibirnya sambil mengangkat telunjuknya ke dekat wajah Devano.


"Gak lah sayang, ngapain aku ajak kamu nonton film begitu? Kan kalo aku mau kita bisa bikin sendiri filmnya.." ujar Devano tertawa kecil lalu disambut cubitan dari Shella di pinggangnya.


"Aduh aduh sakit honey! Kok kamu tega sih nyubit suami sendiri??!!" ujar Devano kesakitan sambil mengusap-usap pinggangnya.


"Biarin aja suruh siapa omongannya gak disaring! Udah cepet nyalain tv nya mas katanya mau nonton!" ujar Shella.


"Iya iya sebentar ini sakit banget tau cubitan kamu, tuh sampe biru begini ya ampun.." ujar Devano membuka sedikit kaosnya dan menunjukkan bekas cubitan dari Shella barusan.


"Ih kok bisa sih sampe kayak gitu? Perasaan tadi aku nyubitnya agak pelan deh, maaf ya mas aku gak niat beneran bikin kamu jadi gitu!" ucap Shella yang langsung cemas melihat pinggang suaminya biru-biru begitu.


"Udah udah gapapa kok honey, ini cukup diobatin pake ciuman kayaknya juga sembuh deh.." ujar Devano memberi kode pada istrinya untuk mau mencium pinggangnya itu.


"Hah? Emang bisa gitu ya mas? Mana ada sih penyakit yang bisa disembuhkan pake ciuman??" tanya Shella dengan wajah polosnya.


"Iya bisa honey, udah ayo dong cepet cium sakit nih tau! Emang kamu tega apa liat aku kesakitan begini??" ujar Devano memelas seperti anak kecil.


"Iya iya mas.." ucap Shella mengelus-elus pinggang Devano lalu menciumnya lembut.


"Nah udah kan," ucap Shella menyeka rambutnya setelah memberi ciuman pada pinggang suaminya itu.


"Iya udah gak kerasa sakitnya nih, eh tapi masa cuma pinggang aku aja yang dicium? Ini nya kan juga mau sayang.." ucap Devano menunjuk bibirnya.


"Ish malah ketagihan!" ujar Shella yang lagi-lagi mencubit pinggang suaminya itu.


"Aduh aduh aduh..." rintih Devano kesakitan.


...•••...


Tok Tok Tok...


"Assalamualaikum tante," ucap seorang wanita yang tadi mengetuk pintunya tidak lain adalah Laila adiknya Devano.


"Eh waalaikumsallam ya ampun kirain siapa ternyata kamu Laila, sama besan juga datengnya? Ayo ayo sini masuk kita bicaranya di dalam aja!" ucap Jenar mempersilahkan Laila serta orangtuanya masuk.


"Iya Bu makasih.." ucap Silvi (mamah Laila) lalu melangkahkan kakinya ke dalam rumah Jenar.


"Ayo sini sini duduk! Sebentar ya saya buatin minum dulu di dapur," ucap Jenar meminta mereka duduk di sofa.


"Ah pake repot-repot segala sih Bu," ujar Silvi.


"Ya enggak dong, masa ada besan dateng gak disuguhin apa-apa..!! Sebentar ya!" ucap Jenar lalu berjalan ke dapurnya menemui Yani dan meminta dia membuat minuman untuk tamu.


Setelah selesai, Jenar kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi teh manis hangat lalu meletakkan gelas-gelas itu di atas meja.


Sementara Yani juga ikut membawakan kue-kue untuk cemilan mereka yang baru dibeli oleh Jenar barusan.


"Nah silahkan diminum dulu Bu, pak, Laila! Sama itu juga makanannya dicicip..!!" ucap Jenar yang duduk di sofa bersebrangan dengan mereka.


"Terimakasih Bu jadi ngerepotin ini.." ujar Tama (papah Laila) sambil meneguk segelas teh yang disediakan Jenar.


"Ah enggak repot kok pak, maaf ya cuma ini yang bisa saya sediakan! Abisnya mau kesini gak ngabarin dulu sih, jadinya kan saya belum siapin apa-apa!" ujar Jenar.


"Iya bu, ini juga udah enak kok! Kita sengaja kesini soalnya lusa saya sama suami mau kembali ke USA, oh ya ini ada oleh-oleh dari Amerika buat ibu sama yang lain juga!" ucap Silvi menyerahkan bingkisan cukup besar pada Jenar.


"Aduh pake dibawain oleh-oleh segala, jadi gak enak nih saya.." ujar Jenar menampani bingkisan itu.


"Gapapa kok bu sekarang kan kita udah jadi keluarga, oh ya Shella sama Devano kemarin ada kesini apa enggak Bu?" ucap Silvi.


"Iya kalau Shella kemarin memang dititipkan disini sama nak Vano, soalnya dia ada urusan penting katanya! Memang kenapa ya Bu??" ucap Jenar.

__ADS_1


"Ya gapapa sih, kira-kira hari ini mereka bakal kesini lagi gak ya bu? Soalnya kita juga ada hadiah lain buat mereka berdua!" ucap Silvi.


"Ohh kurang tahu sih bu, sebentar biar saya tanyakan dulu!" ucap Jenar ingin beranjak mengambil handphone nya tapi tidak jadi karena Silvi mencegahnya.


"Eh gausah bu jangan! Biar nanti kami langsung datengin aja ke apartemennya Devano.." ucap Silvi.


"Oh gitu yowes itu minumannya diabisin, sama itu loh makanannya dimakan! Ayo Laila gausah malu-malu biasanya juga kamu kalo kesini ngemilnya paling banyak!" ujar Jenar tertawa diikuti Silvi & Tama yang juga tertawa.


"Iya tante ini dimakan kok," ucap Laila sambil celingak-celinguk melihat seisi rumah itu.


"Kamu cari siapa sih Laila??" tanya Jenar heran.


"Eh eee ini aku cari Damar, dia kemana ya tan kok gak kelihatan?" ucap Laila.


"Ohh Damar lagi pergi sama bapaknya, emang ada apa kamu cariin dia??" ujar Jenar.


"Gak kok tante hehe.." ucap Laila nyengir.


Raut wajah Laila terlihat seperti menutupi sesuatu, wajahnya juga mulai memerah mungkin karena malu habis membahas Damar.


...•••...


Sementara itu, Hamzah tengah menonton bola di tv nya dengan secangkir kopi terletak di atas meja.


Ia baru saja ingin menyeruput kopi buatan anaknya itu, tapi tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar yang menandakan ada tamu datang.


"Dinda! Tolong bukain pintu itu ada tamu kayaknya di depan..!!" ujar Hamzah meminta anaknya untuk membuka pintu, namun tak ada respon dari gadisnya itu.


Akhirnya Hamzah meletakkan kembali cangkir kopinya di atas maju lalu bangkit dari duduknya dan terpaksa membukakan pintu itu sendiri.


"Siapa ya?" ujar Hamzah pada seseorang yang tengah berdiri membelakangi pintunya, tampak seorang pria mengenakan hoodie hitam dan celana panjang berwarna sama berdiri disana.


Orang itu perlahan membalikkan tubuhnya, kini tampak juga dia membawa sebuah kapak di tangannya.


"Si-siapa kamu?" tanya Hamzah terbata-bata karena dia mulai ketakutan, ia juga tidak dapat melihat jelas wajah pria itu lantaran sebuah masker hitam menutupinya wajahnya.


Pria itu perlahan melangkahkan kakinya mendekati Hamzah sambil terus menepuk-nepuk kapak di tangannya itu.


Hamzah yang ketakutan berusaha masuk kembali dan menutup pintu, tapi pria itu dengan cepat menahannya bahkan langsung membacok tangan kiri Hamzah yang tadi ingin menutup pintu.


"Aaagghh.." rintih Hamzah kesakitan saat setengah tangannya kini telah putus dan darah bercucuran dari sana.


Hamzah terus memundurkan langkahnya walau ia kini terduduk di lantai...


"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Hamzah sekali lagi tapi tetap saja pria itu tak menjawabnya.


Pria itu malah mengangkat kapaknya ke atas lalu membacok kepala Hamzah berkali-kali, ia juga mengarahkan kapaknya ke dada Hamzah hingga dadanya itu terbuka.


"Aaaaaaaa.." teriak Hamzah kesakitan untuk yang terakhir kalinya, lalu ia pun menghembuskan nafas terakhirnya disana.


Merasa puas pria itu berniat pergi dari sana, tapi naasnya anak Hamzah keluar dan syok melihat kondisi ayahnya yang tragis.


"Ayah..." teriaknya lalu berlari menghampiri tubuh ayahnya itu dan menangis disana.


"Ayah bangun ayah! Kenapa ayah jadi begini? Hiks hiks.." ujarnya sambil menangis.


Tampak pria itu masih disana dengan kapak penuh darah di tangannya, ia terus memperhatikan gadis yang sedang menangisi mayat Hamzah.


"Siapa kamu? Pasti kamu kan yang sudah membunuh ayah saya! Memangnya apa salah ayah saya sama kamu??!! Hiks hiks, ayah.." ujarnya berteriak ke arah pria itu lalu kembali menangisi mayat ayahnya.


Kemudian pria itu berjalan mendekati Dinda lalu langsung membacok lehernya sampai kapak miliknya itu menancap disana.


"Aaakkkhh.. Aaagghh..." suara terakhir yang bisa didengar dari Dinda sebelum akhirnya ia juga tergeletak di samping mayat ayahnya.


Pria itu pun pergi begitu saja meninggalkan tempat itu dengan mayat Hamzah & Dinda yang tergeletak disana, bahkan televisi masih menyala.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2