Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Kesakitan


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 368


...•...


...•...


Devano merengkuh pinggang ramping sang istri, lalu jalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung tersebut. Rafael juga ada disana menemani sepasang suami-istri itu berjalan pergi, ia masih tampak merasa bersalah karena sudah lalai menjaga Shella ketika di dalam cafe sampai Shella harus diculik oleh Bimo dan dibawa ke tempat itu.


Devano sangat bahagia karena masih dapat dipertemukan dengan istrinya itu, ia terus saja mengusap puncak kepala sang istri serta mengecup keningnya.


"Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi, kamu beneran gapapa kan, honey?" ucap Devano.


"Iya mas, aku gapapa kok. Bimo sama Adrian juga gak apa-apain aku tadi, kamu gausah khawatir ya, mas!" jawab Shella sambil tersenyum.


Devano kini beralih menatap asistennya yang sedari tadi hanya diam. Ia sebenarnya ingin menegur Rafael dan memberi pelajaran pada pria tersebut, karena sudah gagal menjaga istrinya selama pergi di luar. Namun, entah mengapa rasanya tidak enak jika ia memarahi Rafael di hadapan istrinya karena pasti Shella akan membela Rafael disana.


"Raf..." ucap Devano memanggil asistennya.


"Ah, iya pak." ucap Rafael menoleh.


"Gimana kamu bisa kesini?" tanya Devano.


"Jujur pak, tadi saya khawatir dengan keselamatan bapak kalau datang kesini sendirian. Makanya saya dan teman-teman saya mengikuti mobil bapak dari belakang, saya juga menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Syukurlah, sesampainya disini kami berhasil menyelamatkan Bu Shella selagi bapak dan kedua pria tadi berbincang disana." jawab Rafael menjelaskan pada Devano.


"Ohh, makasih ya! Kalau bukan karena kamu, mungkin tadi saya sudah menyerahkan semua aset perusahaan saya kepada mereka." ucap Devano.


"Iya pak, sama-sama. Ini sudah tugas saya untuk membantu bapak." ucap Rafael.


"Mas? Kamu kenapa mau sampai serahin semua aset perusahaan kamu ke Bimo? Emangnya kamu gak mikirin kelanjutannya nanti setelah kamu kehilangan semua itu?" tanya Shella sembari menatap wajah suaminya dari samping.


Cupp...


Devano justru mengecup kening Shella sembari mengusap rambut istrinya itu dan tersenyum memandang wajah cantik sang istri.


"Kamu kok pake nanya sih? Udah jelaslah karena aku lebih pilih kamu dibanding apapun, buat apa harta kalau gak kamu di sisi aku? Karena sekarang ini, bagi aku yang paling berharga cuma kamu!" ucap Devano.


"Ah bisa aja kamu, mas! Nanti kalau kamu dimarahin mama papa gimana, hayo?" ujar Shella.


"Yaudah, gausah dibahas! Kan sekarang intinya aku gak jadi tandatangani surat itu, mending kita bahas tentang kandungan kamu! Baik-baik aja kan ini, gak ada apa-apa atau masalah gitu? Aku khawatir banget loh tadi mikirin itu, gapapa kan?" ucap Devano.


"Iya mas, aku...." ucapan Shella belum sempat terselesaikan, tiba-tiba ia terdiam dan berhenti melangkah karena merasakan sakit pada bagian perutnya.


"Loh honey, kamu kenapa?" tanya Devano panik melihat istrinya menahan sakit.


"Awhh... sakit mas!" rintih Shella sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Honey, apanya yang sakit?" Devano semakin kalut dan panik berusaha untuk menenangkan istrinya, ia menahan tubuh Shella agar tak terjatuh lalu meminta pada asistennya untuk segera membuka pintu mobil supaya ia bisa membawa Shella pergi.


"Raf, tolong kamu buka pintu mobilnya! Saya mau bawa istri saya ke rumah sakit!" perintah Devano.


"Siap, pak!"


Rafael langsung berlari menuju mobil dengan cepat dan membuka pintu mobilnya sembari menunggu Devano serta Shella disana.


"Honey, aku gendong ya? Kamu harus dibawa ke rumah sakit, aku khawatir terjadi sesuatu sama baby dan aku gak mau itu sampai bikin aku kehilangan baby untuk yang kedua kalinya!" ucap Devano.


"Iya mas..."


Shella hanya bisa memejamkan mata sembari terus memegangi perutnya, sedangkan Devano langsung menggendong tubuh Shella dan membawanya secara hati-hati menuju mobilnya.

__ADS_1


Devano pun memasukkan tubuh Shella ke dalam mobilnya, ia meminta Rafael untuk menyetir karena ia harus menemani istrinya itu di belakang dan membantu menenangkan sang istri agar tidak terus merasa kesakitan.


"Raf, kamu nyetir ya!" ucap Devano.


"Siap, pak!" ucap Rafael.


"Honey, kamu tenang ya!" ucap Devano sembari memegang wajah Shella.




Sesampainya di rumah sakit, Devano langsung dengan cepat membawa tubuh istrinya ke dalam dan meminta bantuan pada suster disana. Ia sangat panik karena kondisi Shella memang cukup mengkhawatirkan, tentu Devano tak mau kejadian sebelumnya sampai terulang lagi.


Sementara Rafael hanya bisa mengikuti bosnya dari belakang, ia juga panik dan merasa bersalah karena akar dari semua ini adalah kelalaiannya. Rafael akan menjadi orang yang paling disalahkan jika mungkin terjadi sesuatu pada Shella, untuk itu ia berharap semoga Shella baik-baik saja begitupun dengan kandungan di dalam rahimnya.


Devano telah berhasil membawa Shella ke dalam ruang di rumah sakit itu, namun ia tak diperbolehkan ikut masuk kesana menemani istrinya. Ia pun menunggu di luar sampai Shella selesai diperiksa, perasaannya sangat cemas dan berharap semoga Shella tidak kenapa-napa.


Rafael langsung menghampiri bosnya itu dan berusaha menenangkan dia.


"Pak, yang tenang ya! Saya yakin tidak akan terjadi sesuatu pada Bu Shella, kita sama-sama berdoa aja yang terbaik untuk Bu Shella!" ucap Rafael berdiri di dekat bosnya sambil tersenyum.


"Ya, kamu benar. Tapi, seandainya nanti Shella kenapa-napa, saya akan meminta pertanggungjawaban dari kamu Rafael! Asal kamu ingat, semua ini tidak akan terjadi jika bukan karena kamu yang sudah lalai dalam menjaga istri saya!" ucap Devano tampak emosi kepada Rafael.


"Iya pak, saya ingat kok!" ucap Rafael.


Devano pun memalingkan wajahnya dari Rafael dan mengusap wajahnya kasar dengan perasaan sangat khawatir mencemaskan kondisi istrinya.


"Aduh, Shella! Semoga kamu baik-baik aja dan gak terjadi sesuatu yang dapat membuat kamu ataupun bayi dalam kandungan kamu terluka, aku pasti akan sangat merasa bersalah kalau sampai itu terjadi, honey!" gumamnya di dalam hati.


Ceklek...


Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter pun keluar menemui Devano.


Sontak Devano langsung menoleh, lalu bergerak cepat mendekat ke arah dokter tersebut untuk bertanya mengenai kondisi Shella istrinya yang sedang merasa kesakitan itu.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Devano.


"Alhamdulillah..." Devano sangat senang mendengarnya, ia langsung mengucap syukur dan merasa lega karena mengetahui istrinya baik-baik saja.


"Terimakasih, dok! Saya pasti akan lebih hati-hati lagi dalam menjaga istri saya!" ucap Devano.


"Sama-sama, pak. Kalau begitu saya permisi dulu, ya? Jika bapak ingin menemui istri bapak, silahkan masuk saja ke dalam! Kebetulan juga kondisi istri bapak sekarang sudah membaik, dia bisa dijenguk kok!" ucap dokter.


"Iya dok," ucap Devano sangat gembira.


Setelahnya, dokter pun pergi kembali ke ruangannya meninggalkan Devano disana setelah selesai memberi laporan mengenai Shella padanya. Sedangkan Devano tampak menoleh ke arah Rafael dengan senyum sumringah di wajahnya, ia sangat bahagia saat ini karena istri dan anaknya baik-baik saja.


"Raf, istri saya baik-baik aja. Saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk dapat memiliki seorang anak, saya benar-benar gak tau lagi harus bagaimana sekarang!" ucap Devano.


"Iya pak, Alhamdulillah!" ucap Rafael.


"Yasudah, saya ingin ke dalam dulu menemui istri saya. Kalau kamu mau pulang, silahkan saja! Bisa naik taksi atau ojek, kan?" ucap Devano.


"Ah, iya pak! Itu urusan gampang, kebetulan saya juga diminta oleh polisi untuk datang ke kantor. Kabarnya, salah satu dari dalang penculikan Bu Shella berhasil ditangkap." ucap Rafael.


"Kenapa hanya satu?" tanya Devano heran.


"Menurut pesan yang saya terima, satu orang lagi itu berhasil kabur, pak." jawab Rafael.


"Aaarrgghh sial!" umpat Devano kesal.


"Tenang, pak! Teman-teman saya juga para polisi, akan terus berusaha mengejar pelaku yang satunya agar tidak ada kejadian seperti ini lagi!" ucap Rafael menenangkan bosnya.


"Baiklah, kalau begitu saya masuk dulu ke dalam!" ucap Devano.


"Iya, pak. Saya juga ingin permisi..." ucap Rafael.

__ADS_1


Devano pun langsung masuk ke dalam ruangan itu untuk menemui Shella, sedangkan Rafael sendiri berbalik badan dan pergi dari rumah sakit untuk menuju kantor polisi menemui si penculik.




Devano kini masuk menemui istrinya yang masih berbaring di atas ranjang, ia tampak tersenyum melihat kondisi Shella yang sudah membaik dan tidak merasakan lagi seperti tadi. Ia pun melangkah mendekati Shella masih sambil mengukir senyum di bibirnya, walau ada sedikit rasa sedih ketika ia mengingat kejadian tadi.


Shella yang mendengar suara pintu terbuka, langsung menoleh dan kemudian tersenyum begitu melihat sosok suaminya disana. Shella tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami yang tampan itu, malah ia meminta pada Devano untuk mempercepat langkahnya karena ia ingin segera menyentuh wajah suaminya itu.


"Mas, buruan dong jalannya!" ucap Shella dengan wajah cemberut.


"Iya honey..." ucap Devano.


Devano pun menurut dan mempercepat langkah kakinya sesuai kemauan sang istri, sampai akhirnya ia berhenti ketika sudah berada di dekat Shella. Devano duduk pada kursi yang tersedia di samping ranjang Shella, lalu menatap wajah Shella dan menggenggam tangan istrinya itu.


"Honey, kamu udah gak sakit lagi kan?" tanya Devano sembari mengecup punggung tangan istrinya.


"Enggak mas, aku udah mendingan." jawab Shella.


"Syukurlah! Aku khawatir banget sama kondisi kamu tadi, aku takut sesuatu terjadi sama kamu atau anak kita di dalam sana!" ucap Devano.


"Iya mas, sama. Tapi, sekarang semuanya kan udah berlalu dan aku sama baby juga baik-baik aja. Jadi, kamu gausah sedih lagi ya, mas!" ucap Shella tersenyum berusaha menghibur Devano.


"Oke, sayang!" ucap Devano.


Mereka tampak saling pandang selama beberapa menit disana dengan kedua tangan yang menyatu dan senyum manis terpampang di wajah keduanya, Shella seperti tak ingin momen seperti ini usai dan ingin terus saja memandangi wajah suaminya yang entah mengapa terlihat lebih tampan saat ini.


"Mas, aku mau elus wajah kamu dong! Si dedek bayi kayaknya lagi pengen elus wajah papanya nih, boleh kan?" ucap Shella.


"Kamu gak perlu minta izin, honey! Elus aja sesuka hati kamu, sini aku bantu tempelin ke wajah aku!" ucap Devano tersenyum kemudian membantu Shella mengelus wajahnya.


"Gimana? Enak gak?" tanya Devano.


Shella hanya mengangguk dan kemudian tersenyum renyah memandang wajah suaminya itu, entah mengapa ia sangat menyukai mengelus wajah Devano seperti ini, mungkin saja memang itu adalah kemauan dari bayi di dalam kandungannya.


Setelah sekitar sepuluh menit mengelus wajah Devano, Shella pun merasa bosan dan menyingkirkan tangannya sendiri dari sana. Shella lalu tampak cemberut, lalu membuang muka ke arah samping secara tiba-tiba.


Tentu saja Devano pun merasa heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah itu, namun ia mewajarkan saja karena sekarang ini Shella tengah mengandung dan emosinya sedang tidak stabil, ia juga tak mau membuat Shella bertambah kesal atau malah marah padanya seperti sebelumnya.


"Honey, kamu kenapa? Baby mau apa lagi, sayang?" tanya Devano sembari mengusap wajah serta perut istrinya dengan lembut.


Shella pun menoleh kembali ke arah Devano begitu merasakan sentuhan pada bagian wajah serta perutnya, ia memandang wajah Devano dengan bibir mengerucut yang tentunya terlihat sangat menggemaskan di mata Devano.


"Masss...." rengek Shella.


"Kenapa honey?" tanya Devano.


"Aku mau pulang, kita pulang yuk!" jawab Shella dengan nada manja sembari menggenggam erat tangan suaminya dan menatap wajah Devano dengan tatapan menggemaskan.


"Aduh, ini kalau bukan di rumah sakit pasti saya udah khilaf!" batin Devano.


"Mas, kok diem aja sih?" tanya Shella heran.


"Eee iya iya, honey. Kita pulang ya, tapi sebentar aku urus administrasinya dulu di depan! Kamu tunggu disini, ya? Jangan kemana-mana, oke!" ucap Devano sambil bersiap bangkit dari duduknya.


"Iya mas..." ucap Shella mengangguk.


Setelahnya, Devano pun beranjak dari kursinya lalu melangkah keluar meninggalkan Shella sendirian disana. Devano sempat menoleh sekilas ke arah istrinya dan tersenyum saat Shella juga menoleh ke arahnya, barulah ia lanjut melangkahkan kaki keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Hadeh, Shella bener-bener mancing iman saya! Hampir aja saya kelepasan tadi, kan bisa gawat!" gumam Devano sembari memegang dadanya.


Devano pun pergi menuju meja administrasi untuk membayar semua biaya pemeriksaan Shella tadi disana, ada rasa was-was yang masih terasa pada jantungnya saat ini karena teringat pada momen ketika Shella diculik, ya Devano khawatir jika ada salah seorang dari Bimo ataupun Adrian yang muncul di rumah sakit itu.


Sementara Shella tampak manyun dan bosan setelah suaminya pergi meninggalkan ia sendirian disana bersama sang suster yang tengah sibuk sendiri, Shella pun hanya bisa celingak-celinguk ke kanan dan kiri sembari mengusap perutnya.


"Sabar ya, nak! Papa kamu nanti balik lagi kok. Pasti kamu udah kangen ya, sama papa kamu?" ucapnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2