
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 364
...•...
...•...
Shella terbangun dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh si penculik kepadanya tadi, ia pun tampak heran ketika melihat ke sekeliling dan menyadari kondisinya saat ini tengah berada di tempat asing dengan tangan serta kaki yang terikat di atas kursi.
Shella pun berusaha untuk melepaskan diri dan meminta tolong, namun ia tidak bisa bergerak sedikitpun karena kondisi seluruh tubuhnya terikat disana. Bahkan mulutnya juga terbungkam oleh lakban hitam yang membuatnya tak bisa berbicara, ia amat sangat panik dan cemas karena merasa kalau ia tengah diculik oleh seseorang.
Ceklek...
Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mendengar rintihan pelan dari Shella yang berusaha melepaskan diri, ya tentunya ia adalah si penculik yang memang sedari tadi menemani Shella walau sempat keluar sebentar menunggu wanita itu sadar di depan ruang tersebut.
"Hahaha, kamu sudah bangun Shella?" ujarnya sambil tertawa dan bertepuk tangan, ia berjalan pelan mendekati Shella.
Sontak Shella langsung melongok terkejut saat menyadari siapa pria yang masuk kesana, Shella sama sekali tak menyangka nya karena ia mengira pria tersebut adalah sosok yang baik sama seperti kakeknya yang sudah membantu perusahaan suaminya di tengah keterpurukan.
"Bimo..." batinnya.
Shella semakin mencoba untuk bergerak melepaskan diri, namun lagi-lagi usahanya sia-sia karena tak ada yang dapat ia lakukan saat ini. Shella sangat takut dan panik, khawatir kalau pria itu akan melukainya apalagi saat ini ia juga tengah mengandung calon anaknya.
Bimo menyadari ketakutan yang dirasakan Shella, ia semakin melebarkan senyumnya dan sedikit membungkuk mendekati wajah Shella. Ia menggerakkan tangannya untuk mengelus wajah mulus Shella itu, tampak Shella berusaha menghindar karena ia tak ingin disentuh oleh siapapun kecuali suaminya.
"Kamu gausah takut, Shella! Aku janji kok, aku gak akan apa-apakan kamu!" ucap Bimo.
"Mmpphh..." Shella berusaha mengatakan sesuatu, namun sulit karena mulutnya masih terbungkam lakban hitam.
"Mau ngomong?" ujar Bimo.
Akhirnya Bimo melepas lakban dari mulut Shella itu dan membuangnya ke sembarang tempat, ia juga penasaran apa yang hendak dibicarakan Shella kepadanya. Shella tampak bernafas lega setelah kini mulutnya sudah tidak lagi dibungkam lakban, walau ia juga belum sepenuhnya bisa lepas dari sana.
"Silahkan, mau ngomong apa?" ujar Bimo.
"Kenapa kamu culik aku?" tanya Shella menatap bengis ke arah Bimo, ia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Simpel aja, ini urusan bisnis." jawab Bimo.
"Apa? Jadi, kamu juga yang sebelumnya hubungin aku dan ancam aku?" tanya Shella.
"Ya, benar sekali!" jawab Bimo santai.
Shella langsung memalingkan wajahnya ke samping dengan mata berkaca-kaca, ia tak menyangka jika kelakuan Bimo sama seperti abangnya yakni Adrian yang baru keluar dari penjara itu.
Sementara Bimo tampak kembali berdiri tegak, lalu berjalan mengitari Shella.
"Shella Shella... menurut aku, kamu itu salah pilih suami loh. Kenapa sih, kamu malah pilih Devano dibanding bang Rian yang udah jelas cinta banget sama kamu? Aku yakin banget, Devano itu gak cinta sama kamu dan dia menikahi kamu hanya karena ingin bertanggung jawab pada bayi yang kamu kandung. Sedangkan bang Rian, dia itu beneran tulus cinta sama kamu. Jadi, seharusnya sih kamu ya nikahnya sama bang Rian bukan Vano!" ujar Bimo.
"Kamu gausah ikut campur soal itu, Bimo! Karena kamu sama sekali gak ngerti tentang itu, sebaiknya kamu sekarang lepasin aku dan jangan jadi jahat seperti kakak kamu!" ucap Shella.
"Hahaha, aku ini gak jahat kok. Buktinya aku gak sakitin kamu sekarang, aku cuma mau Devano itu kasih semua asetnya ke aku. Karena semua itu dia dapatkan dari kakek, jadi sekarang dia harus mengembalikan itu semua ke aku!" ucap Bimo.
"Kamu bener-bener keterlaluan, Bimo! Mister Frederick emang udah bantu banyak buat perusahaan mas Vano. Tapi untuk mencapai kejayaan ini lagi, dia berusaha keras! Jadi, kamu gak bisa main minta aset perusahaan mas Vano gitu aja! Sekarang mending kamu usaha sendiri, buat besarin perusahaan kamu dibanding ganggu kehidupan aku dan mas Vano!" ujar Shella emosi.
__ADS_1
Bimo menyunggingkan senyum di wajahnya, lalu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Shella.
"Udah deh, kamu diem aja ya! Ini bukan urusan kamu, karena kamu gak ngerti apa-apa. Aku gunain kamu hanya untuk pancingan, agar Devano mau menyerahkan seluruh asetnya itu." ucap Bimo.
Shella kembali memalingkan wajahnya ke samping saat Bimo menatapnya, ia tidak ingin memandang wajah pria yang sudah benar-benar membuatnya emosi itu. Sedangkan Bimo berjongkok di depan tubuh Shella, ia meletakkan kedua tangannya di atas paha Shella lalu tersenyum.
"Hey! Tatap mata saya dong!" ujar Bimo sembari menarik wajah Shella sehingga ia dapat menatap wajah mulusnya itu.
Shella pun tak mampu berbuat apa-apa saat Bimo mencengkeram rahangnya dan memaksa ia untuk menatap wajah pria tersebut. Namun, ia tetap berusaha dengan memejamkan matanya agar tak melihat wajah pria di hadapannya itu.
Kreeekkk...
Tiba-tiba saja ada seseorang yang melebarkan pintu di ruangan tersebut, sontak Bimo langsung menoleh ke belakang karena terkejut dan reflek melepas cengkeramannya dari rahang Shella. Bimo kaget saat melihat seorang pria berdiri di dekat pintu masih sembari memegang gagang pintu itu.
Sementara Shella juga tak kalah kagetnya saat melihat pria yang baru datang itu, ia menganga lebar seraya mengucap nama pria tersebut.
"Adrian?" ucapnya pelan.
Ya pria yang muncul itu ialah Adrian, ia datang kesana setelah menyelesaikan urusannya dengan Nadya dan Yoga. Adrian pun melangkah ke dekat Shella sembari tersenyum, ia melirik sinis ke arah adiknya seperti orang yang tak suka.
"Mo, gue bilang apa sama lu tadi sebelum gue setuju dengan rencana lu?" ujar Adrian bertanya.
"Eee gue gak boleh sentuh Shella, bang." jawab Bimo sembari memalingkan wajahnya.
"Ya itu tau. Terus, apa yang barusan lu lakuin ha? Kenapa berani-beraninya lu sentuh Shella kayak gitu, pake acara pegang mukanya segala? Kalau Shella sampe kesakitan, abis lu!" ujar Adrian.
"Yaelah bang, dia gak sakit kok." ucap Bimo.
"Halah! Udah lah, lupain!" ujar Adrian.
Adrian pun mengalihkan pandangannya ke arah Shella dan kembali tersenyum, ia merendahkan posisi tubuhnya sejajar dengan tubuh Shella yang terduduk di kursi. Adrian maju mendekati Shella, lalu perlahan mengelus lembut wajah mulus milik Shella yang sudah lama ia rindukan.
Sementara Bimo tampak membuang muka tak ingin menyaksikan adegan itu, ia bahkan berusaha mencari cara agar tidak gabut.
"Ssshhh! Aku bakal jelasin semuanya kok sama kamu, pasti penasaran kan kenapa aku bisa ada disini bukan di penjara?" potong Adrian sembari menaruh telunjuknya di bibir Shella.
Shella mengangguk tanda iya. Adrian pun melepas jarinya dari bibir Shella, lalu kembali tersenyum.
"Begini Shella, jadi kemarin Bimo tiba-tiba datang ke tempat aku ditahan. Dia bebasin aku dari sana, polisi juga setuju buat lepasin aku dari penjara walau dengan syarat. Jadi, makanya sekarang aku bisa disini ketemu sama kamu." ucap Adrian tersenyum sembari mengelus wajah Shella.
"Lalu, kenapa kamu ikut-ikut rencana adik kamu buat culik aku? Apa kamu gak takut, kalau polisi tau dan kembali tahan kamu di penjara?" tanya Shella.
"Aku gak ikutan kok, aku disini cuma karena aku pengen temuin kamu. Aku kangen loh sama kamu, emang kamu enggak?" ucap Adrian.
"Enggak, ngapain aku kangen sama orang jahat kayak kamu? Lagian seharusnya kamu tuh berubah dan jangan kayak dulu lagi!" ujar Shella.
"Aku udah berubah kok, sekarang aku gak lagi kejar cinta kamu. Karena aku tau, sulit buat lakuin itu. Ya walau sebenarnya, sampai sekarang aku juga masih cinta dan sayang sama kamu." ucap Adrian.
"Terus, kenapa kamu kesini?" tanya Shella.
"Kan tadi aku udah bilang, aku tuh kangen sama kamu dan cuma pengen ketemu sama kamu aja! Oh ya, aku cuma mau bilang kalau saat ini aku juga lagi ngejar cinta adik kamu, Nadya alias Sheila. Kamu doain aku ya, semoga kali ini cinta aku gak kandas lagi seperti sebelumnya saat sama kamu!" ucap Adrian sambil tersenyum.
"Adrian, kamu boleh kok kejar Sheila. Tapi, kamu gak boleh paksain kehendak kamu! Karena cinta itu gak bisa dipaksakan, jadi kamu harus tau tentang itu!" ucap Shella menuruti Adrian.
"Iya iya, aku tau kok. Yaudah, sekarang aku mau izin pergi ya? Kamu yang tenang disini, aku bakal jagain kamu kok dari Bimo dan aku pastiin dia gak akan apa-apain kamu! Jangan takut ya, Shella!" ucap Adrian berdiri tegak sembari mengusap puncak kepala wanita tersebut dengan lembut.
Shella hanya diam tak menjawab apapun. Sedangkan Adrian kini menghampiri Bimo adiknya itu.
"Heh, Mo! Inget ya pesan gue, jangan sentuh Shella! Atau nyawa lu bakal ada di tangan gue, jangan pernah main-main sama gue!" ujar Adrian mengingatkan Bimo dengan sedikit tegas.
"Iya iya..." ucap Bimo.
__ADS_1
Setelahnya, Adrian pun kembali pergi dari ruang itu meninggalkan adiknya dan juga Shella. Sepertinya ia akan pulang ke rumah karena hari sudah semakin malam dan ia butuh istirahat, setelah seharian ini ia sibuk di luar menemui Nadya juga Shella.
...•••...
Disisi lain, Devano pulang ke rumah dengan perasaan murung dan penuh kesedihan serta kekesalan karena Shella alias istrinya itu diculik. Devano pun tampak bingung harus menjelaskan apa pada mama papanya di dalam sana, ia khawatir jika nantinya kedua orangtuanya itu sedih dan panik.
Devano saat ini masih berdiri di depan rumahnya, ia bersandar pada badan mobilnya sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Pikirannya sedang kalut memikirkan bagaimana keadaan Shella sekarang, apalagi istrinya itu tengah mengandung dan ia khawatir terjadi sesuatu pada calon anaknya.
"Aaarrgghh! Saya harus apa sekarang? Ya Tuhan, lindungilah istri hamba!" gumamnya.
Akhirnya Devano memilih untuk menghubungi nomor asistennya yakni Rafael, ia ingin bertanya kepada pria tersebut apakah sudah ada tanda-tanda tentang Shella, karena Devano tak bisa masuk ke dalam jika belum ada informasi apapun mengenai istrinya yang tengah diculik itu.
📞"Halo, Rafael!" ujar Devano tegas dan panik.
📞"Eee iya halo, pak! Ada apa, ya?" ucap Rafael terdengar gugup ketika berbicara pada bosnya melalui telpon.
📞"Pake nanya lagi! Ya udah jelas lah, saya mau tanya progres pencarian Shella! Bagaimana, sudah ada kemajuan belum?" ucap Devano kesal.
📞"Eee maaf, pak! Sampai sekarang saya masih belum mendapat apa-apa tentang Bu Shella, tapi teman saya juga masih coba melacak nomor telepon yang pak Vano berikan tadi. Hanya saja, belum ada kabar juga dari teman saya itu." jawab Rafael.
📞"Haish, dasar gak becus! Saya gak mau tau, kamu harus temukan Shella malam ini juga!" bentak Devano.
📞"Baik, pak!" ucap Rafael lemas.
"Memangnya Shella kenapa, Vano?"
Tiba-tiba saja Silvi yang muncul ke luar rumahnya itu, tidak sengaja mendengar pembicaraan Devano bersama Rafael di telpon. Silvi pun tampak heran ketika mendengar jika Devano meminta pada orang yang ditelpon nya untuk segera menemukan Shella.
Devano yang terkejut plus panik saat melihat keberadaan mamanya disana, langsung memutus telpon itu begitu saja. Devano berusaha mencari cara untuk mengatakan pada mamanya dan memberi penjelasan kepada sang mama itu, ia khawatir akan membuat mamanya khawatir.
"Vano, ayo jawab mama!" ujar Silvi tegas.
Devano terdiam tak berkutik ketika ditekan oleh sang mama untuk segera menjawab.
"Vano! Kenapa kamu diam?" bentak Silvi.
"Eee sabar dulu, mah! Jangan marah-marah begitu! Aku pasti jawab kok, tapi enggak disini." ucap Devano berusaha menenangkan mamanya.
"Kenapa? Kan tinggal jawab aja, apa yang terjadi sama Shella? Kenapa kamu bilang di telpon tadi kalau dia harus temukan Shella malam ini juga? Emangnya Shella kenapa, Vano?" tanya Silvi.
"Sabar, mah! Aku akan jelasin di dalam, kita masuk dulu yuk, mah!" ucap Devano.
"Yaudah, oke! Ayo cepat masuk!" ujar Silvi.
"Nah gitu dong, mah!" ujar Devano tersenyum.
Devano pun membawa mamanya ke dalam sembari memegang kedua pundak sang mama itu, ia sangat bingung harus bagaimana caranya menjelaskan pada sang mama, agar mamanya itu tidak panik atau kalut saat tau jika Shella diculik.
Sesampainya di dalam, Devano langsung meminta Silvi untuk duduk di sofa dan coba menenangkan mamanya yang tengah penasaran itu.
"Tenang dulu ya, mah!" ucap Devano masih memegang pundak sang mama.
Tama yang baru menyeduh kopi dari dapur, kini muncul ke depan ruang tamu dan penasaran saat melihat istrinya tengah duduk berdua dengan Devano di sofa. Tama pun menghampiri saja keduanya disana sembari membawa kopi di tangan yang baru ia seduh tadi.
"Mah, Vano. Ada apa sih?" tanya Tama heran.
Silvi dan Devano langsung menoleh secara bersamaan ke arah Tama, ya mereka bertiga pun tatap-tatapan disana selama beberapa menit.
"Ini loh, pah. Tadi mama dengar sendiri perkataan Devano di telpon, dia lagi nyuruh orang buat temuin Shella malam ini juga. Itu artinya kan, Shella kenapa-napa, pah!" jawab Silvi cemas.
Tama langsung mengarahkan pandangan ke wajah Devano, dan tentunya Devano semakin dibuat gugup saat ini bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...