Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Om Lubis kembali


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 73


...•...


...•...


Devano sampai di kantor Adrian, dia langsung masuk kesana dan mendatangi resepsionis.


"Permisi, apa pak Adrian ada disini?" tanya Devano.


"Iya benar pak Adrian sedang di ruangannya, apa bapak sudah buat janji dengan pak Adrian?" ujar Melati.


"Belum, tapi saya mau ketemu dia sekarang juga!" ujar Devano.


"Baik pak sebentar ya saya hubungi pak Adrian dulu.." ucap Melati.


"Ya saya tunggu!" ucap Devano.


Melati pun menghubungi Adrian dan memberitahu jika Devano ingin bertemu dengannya.


Karena tak sabar, Devano langsung saja berjalan ke arah lift tanpa menunggu Melati yang masih menelpon Adrian.


Saat sudah selesai menelpon Adrian, Melati pun bingung karena Devano sudah tidak ada disana.


"Loh, pak Devano kemana ya? Perasaan tadi masih disini deh.." ujarnya.


Melati celingak-celinguk mencari keberadaan Devano, lalu ia bertanya pada ob yang lewat sana.


"Eh pak tunggu tunggu..!!" ucap Melati.


"Iya mbak ada apa?"


"Bapak lihat laki-laki yang tadi disini pergi kemana gak?" tanya Melati.


"Waduh saya gak lihat mbak,"


"Yah oke deh makasih ya pak!" ucap Melati.


"Iya mbak, kalo gitu saya permisi ya.."


"Iya iya pak!" ucap Melati.


Ob itu pun pergi melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai disana.. Sedangkan Melati masih kebingungan mencari Devano.


"Duh ini pak Devano kemana sih? Kok malah ngilang, katanya mau ketemu pak Adrian? Apa dia udah jalan duluan ya ke ruang pak Adrian??" ujar Melati.


...•••...


Tok Tok Tok..


Terdengar suara ketukan pintu, Adrian yang sedang asik membelai rambut Nadya sambil memandanginya pun sontak menghentikan kegiatannya tersebut.


"Ya masuk!" ucap Adrian mempersilahkan tamunya masuk.

__ADS_1


Orang itu pun membuka pintu dengan cepat dan langsung melangkah masuk ke ruangan Adrian, tampak Adrian kaget karena Devano ada disana padahal barusan Melati lapor kepadanya jika Devano menghilang.


"Selamat siang pak Adrian..!!" ucap Devano.


Devano berjalan mendekati Adrian yang masih terperangah, sementara itu Nadya izin keluar dari ruangan Adrian.


"Eee pak, saya permisi ya.." ucap Nadya.


Nadya pun keluar dari ruangan Adrian dengan tergesa-gesa serta sedikit lega tentunya.


Setelah itu, Devano duduk di tempat yang tadinya diduduki Nadya dan langsung berbicara pada Adrian.


"Kebetulan sekali anda datang kesini, saya baru saja ingin menghubungi anda untuk menanyakan perihal dana yang anda transfer ke rekening perusahaan saya.." ucap Adrian.


"Ya saya juga ingin membahas itu, bagaimana bisa seluruh dana perusahaan saya sekarang bisa masuk ke rekening perusahaan anda? Apa anda sudah menyadap itu semua??" ujar Devano.


"Loh? Saya aja heran loh kenapa dana sebanyak itu bisa anda kirimkan ke perusahaan saya, tadinya saya kira dana tersebut adalah dana yang anda investasikan ke perusahaan saya.." ujar Adrian.


"Hahaha apa anda sudah gila? Itu semua adalah dana perusahaan saya, Lina selaku pengelola keuangan di perusahaan saya sudah menghilang beberapa hari.. Lalu saya baru dapat kabar jika semua dana telah ditransferkan ke rekening perusahaan anda, saya sama sekali tidak menyangka anda sejahat itu!" ucap Devano.


Adrian membulatkan matanya karena merasa yang dituduhkan oleh Devano adalah tidak benar.


"Dengar ini, saya sama sekali tidak tahu apa-apa soal ini.. Saya juga heran kenapa bisa uang sebanyak itu masuk ke rekening perusahaan saya, padahal tidak ada perjanjian apa-apa diantara kita sebelumnya!" jelas Adrian.


"Kalau begitu sekarang juga saya minta anda mengembalikan semua dana perusahaan saya!" ujar Devano.


"Ya oke saya akan suruh asisten saya untuk melakukan itu, tapi stop mencurigai saya! Bisa saja ini adalah ulah dari manajer keuangan anda!" ucap Adrian.


Devano terdiam memikirkan perkataan Adrian,


"Ada benarnya juga yang dibilang Adrian, saya harus mencari Lina sampai ketemu! Pasti ada maksudnya dia melakukan ini semua.." gumam Devano.


Lalu, Adrian menelpon Nadya selaku asistennya untuk melakukan apa yang diminta Devano tadi.


"Saya sudah memerintahkan asisten saya untuk mengembalikan dana milik perusahaan anda, jadi masalah kita sudah selesai! Oh ya bagaimana kabar Shella sekarang?" ujar Adrian.


"Untuk apa anda menanyakan Shella? Saya sudah bilang jangan pernah anda menghubungi dia lagi, atau saya akan membuat anda menderita..!!" ujar Devano.


"Tenang pak tenang! Saya kan cuma nanya kabarnya.. Kalo anda gak mau kasih tahu ya gapapa, tapi menurut saya sih Shella belum tentu mau menikah dengan anda!" ucap Adrian.


Devano sebenarnya kesal dengan perkataan Adrian, namun ia tidak mau membuang waktu untuk berdebat dengannya, tentu saja ia harus mengurus masalah perusahaannya karena itu lebih penting.


"Saya permisi, terimakasih atas waktunya!" ucap Devano.


"Sama-sama," ucap Adrian tersenyum.


Devano bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Adrian itu..


"Lihat saja Devano, saya yakin tidak akan semudah itu anda bisa menikah dengan Shella.. Karena saya masih punya Nadya sebagai kartu as saya untuk bisa merebut Shella dari anda!" gumam Adrian.


...•••...


Sore itu, Jenar dikejutkan dengan kedatangan Lubis serta Damar ke rumah mereka.


"Assalamualaikum mbak Jenar.." ucap Lubis.


Jenar membulatkan matanya terkejut sekaligus tak menyangka jika Lubis ada disana, ya tentu saja karena Lubis tidak mengabarinya jika ingin datang kesana.


"Waalaikumsallam, ya ampun Lubis, Damar kalian kapan sampe Jakarta nya toh? Kenapa gak ngabarin mbak?" ujar Jenar.


"Ahaha iya mbak kita berangkat dari rumah juga mendadak, jadi gak sempet ngabarin mbak dulu!" jelas Lubis.

__ADS_1


"Oh gitu, eh terus Lidya mana? Dia gak ikut sama kalian kesini??" tanya Jenar.


"Lidya tadinya mau ikut juga, tapi ternyata dia gak bisa karena harus bikinin pesanan batik.." jawab Lubis.


"Oalah banyak pesanan ya, bagus lah rezeki mah gak boleh ditolak! Eh yaudah ayo masuk kenapa jadi pada di luar aja ini," ujar Jenar.


Mereka pun masuk ke dalam dan lanjut berbincang di sofa.


Lalu, Yani datang membawa 3 gelas minuman untuk menemani obrolan mereka..


"Eh kok minumnya udah dateng aja bi? Perasaan kita belum pesen hehe.." ujar Lubis.


"Iya pak, soalnya tadi saya denger suara bapak makanya langsung saya buatin minuman aja.." jelas Yani.


"Bagus bagus makasih ya Yani!" ucap Lubis.


"Iya pak sama-sama, kalo gitu saya permisi ya.." ucap Yani.


Yani pun kembali ke dapur dengan nampan kosong di tangannya.


"Eee mbak, Shella mana ya?" tanya Lubis.


"Shella lagi istirahat di kamar, soalnya tadi pagi ada kejadian yang gak diinginkan.. Shella jatuh terus keluar darah dari kakinya, untung saja gak terjadi apa-apa sama kandungan Shella!" jelas Jenar.


"Ya ampun kok bisa sih mbak? Tapi syukurlah kalau memang kandungannya baik-baik saja," ujar Lubis.


"Iya Alhamdulillah, tapi dokternya itu pesen supaya Shella harus lebih berhati-hati lagi! Makanya calon suaminya juga minta Shella buat berhenti kerja," ucap Jenar.


"Eh iya mbak, terus rencana pernikahan Shella itu gimana? Kapan mau dilaksanakan??" tanya Lubis.


"Itu dia masih nunggu dari pihak laki-lakinya, waktu itu sih bilangnya 1 bulan dari lamaran.." jawab Jenar.


"Ohh yowes semoga lancar ya pernikahan mereka!" ujar Lubis.


"Aamiin..!! Ini Damar emang sekolahnya udah selesai? Kok bisa ikut ke Jakarta toh?" tanya Jenar.


"Belum mbak, kebetulan sekolah Damar diliburkan 2 minggu makanya dia bisa ikut kesini.." jelas Lubis.


"Oalah begitu toh," ucap Jenar.


"Iya budhe," ucap Damar.


Tak lama kemudian, Devano datang kesana seperti janjinya tadi pagi pada Shella.


"Permisi, assalamualaikum.." ucap Devano.


"Waalaikumsallam, masuk nak Vano!" ucap Jenar.


Devano pun melepas sepatunya dan masuk ke dalam, ia kaget saat melihat ada 2 orang pria disana.


"Nah kebetulan kamu kesini nak Vano, ini loh kenalin Om nya Shella sama sepupunya Shella.." ujar Jenar.


"Salam kenal om, saya Devano!" ucap Devano sambil mencium tangan Lubis.


"Iya iya jadi kamu calonnya Shella, ganteng juga ya gak kalah sama saya.." ujar Lubis.


"Ah om bisa aja, masih lebih gantengan om lah.." ujar Devano.


"Hahaha.."


Mereka semua tertawa kecuali Damar, entah kenapa Damar seperti tidak senang dengan Devano.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2