
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 331
...•...
...•...
Hari sudah agak siangan dan matahari juga mulai naik menyinari bumi, Shella yang baru selesai mandi langsung menghampiri suaminya di bawah untuk mengajak Devano pergi jalan-jalan dalam rangka hari ulang tahun suaminya itu.
Tampak Devano terkesan melihat penampilan Shella yang benar-benar wah dan beda dari sebelumnya, ia langsung berdiri dari sofa lalu menganga lebar menatap kecantikan wajah istrinya, bahkan Tama papanya juga merasakan hal yang sama dengannya.
Shella berjalan anggun menghampiri suaminya yang tengah bersama papanya di sofa ruang tamu itu, ia pun menghentikan langkahnya saat sampai di hadapan Devano lalu tersenyum menatapnya.
"Kamu cantik, honey!" ucap Devano memuji kecantikan istrinya sembari mengusap wajah Shella.
"Makasih, mas. Ini aku pake baju yang dibeliin sama mama waktu itu, cocok gak aku pake ini mas?" ucap Shella meminta penilaian dari suaminya.
"Hmm, bukan cocok lagi sih. Ini mah luar biasa, mantap banget!" jawab Devano.
"Ah bisa aja kamu, mas! Aku serius ini, cocok apa enggak? Kalau enggak, aku ganti baju lagi deh biar gak malu-maluin kamu nanti pas kita jalan." ucap Shella bertanya kembali pada suaminya.
"Ya ampun, honey. Kan aku udah bilang tadi, kamu tuh cocok banget! Lagian kamu mau pake apa juga tetep cocok kok, orang kamu cantik dari lahir! Iya kan pah?" ucap Devano sembari mencolek pipi Shella.
"Bener yang dibilang suami kamu, kamu itu memang sudah cantik dari sananya." sahut Tama.
"Duh, aku jadi malu dipuji sama suami dan papanya sekaligus." ujar Shella tersipu dan wajahnya tampak memerah.
"Hahaha, gausah malu sayangku! Kamu kan emang cantik banget, pasti siapapun yang lihat kamu juga bakalan bicara hal yang sama kok!" ucap Devano.
"Udah ah, mas! Kita langsung jalan aja yuk!" ucap Shella merangkul lengan suaminya dengan manja.
"Yaudah, kasian juga istri aku yang udah dandan cantik begini kalau gak jadi jalan. Aku juga sekalian mau kasih lihat pada dunia, istri aku yang cantik jelita ini!" ucap Devano sembari menarik dagu istrinya.
__ADS_1
"Apa sih, mas? Gombal mulu ih!" ujar Shella.
"Udah deh, kalian jangan mesra-mesraan di depan papa kayak gini! Bikin papa iri aja sih, kalo kalian emang mau pergi yaudah cepet pergi keburu panas! Vano, kamu gak mau kan istri kamu jadi hangus karena kebakar sinar matahari?" ucap Tama.
"Hahaha, papa jangan iri dong! Harusnya papa seneng karena anak papa sama istrinya itu akur dan harmonis, bukan malah iri!" ujar Devano.
"Ya iya papa seneng, tapi kalau kelamaan lihat kalian mesra-mesraan begitu kan papa juga bisa jengkel. Apalagi disini sekarang gak ada mama kamu," ujar Tama.
"Iya mas, kita langsung jalan aja sekarang!" ucap Shella menatap wajah suaminya.
"Oke, yuk kita pergi!" Devano pun menggandeng tangan istrinya sembari mengusap puncak kepala Shella dengan lembut dan mengecupnya sekilas.
"Pah, aku sama Shella pamit ya?" ucap Devano sambil mencium tangan papanya. "Assalamualaikum...." sambungnya.
"Aku juga pamit, pah." ucap Shella yang juga mencium tangan Tama. "Assalamualaikum..." sambungnya sambil tersenyum.
"Waalaikumsallam, hati-hati kalian!" ucap Tama.
"Iya pah, oh ya sekalian titip tolong bilang ke mama ya kalau kita pergi!" ucap Devano.
"Iya Vano, tenang aja! Nanti papa bilangin kok," ucap Tama tersenyum.
...•••...
Disisi lain, Yoga telah datang ke rumah Jenar untuk menjemput Nadya sesuai janjinya pada gadis itu sebelum ini. Ya Yoga dan Nadya tentunya akan pergi keluar sesuai dengan yang mereka sudah rencanakan sebelumnya.
Nadya pun tampak sudah cantik dan rapih serta wangi dengan rambut khasnya, membuat Yoga tak bisa berpaling dari wajah gadis tersebut karena sangat amat menarik perhatiannya, bahkan Yoga juga sampai menganga cukup lebar disana.
"Hai, Yoga! Maaf ya aku lama!" ucap Nadya tersenyum menghampiri Yoga di sofa.
Pria itu masih terdiam tampak terkesan dengan kecantikan gadis di depannya itu, tentu Nadya heran mengapa Yoga hanya diam tak berbicara sedikitpun ketika ia tiba disana, ia coba menyadarkan Yoga dengan cara melambaikan tangan di depan matanya.
"Yoga!" ucap Nadya.
"Ah iya, kenapa?" ujar Yoga terkejut.
"Hahaha, kamu lucu deh. Aku panggilin daritadi gak nyaut-nyaut malah bengong! Kamu tuh kenapa sih, ha?" ucap Nadya terheran-heran.
"Iya maaf, abis aku gak fokus sama penampilan kamu. Kamu itu cantik banget, Sheila!" ucap Yoga.
__ADS_1
"Aduh, bisa aja kamu. Udah ah gausah gombal terus! Ini ibu aku mana?" ucap Nadya kebingungan mencari keberadaan sang ibu disana.
"Ohh, tadi tante Jenar pamit ke belakang dulu kebelet katanya." jawab Yoga.
"Umm... yaudah, kalo gitu kita tunggu ibu sampe kelar dulu ya? Baru nanti kita lanjut jalan keluar buat ketemu sama mama Lestari, jujur deh aku tuh kangen banget sama mama Lestari!" ucap Nadya.
"Iya aku tau, tapi kamu udah bilang ke ibu kamu kalau kita mau cari tante Lestari?" tanya Yoga.
"Ya belum sih, aku takut kalau ibu nantinya ngerasa sedih atau gimana gitu! Makanya aku cuma bilang sama ibu kalo aku mau pergi sama kamu, itu aja." jawab Nadya.
"Yaudah, apapun itu yang penting terbaik menurut kamu. Aku pasti dukung kok!" ucap Yoga.
Tak lama kemudian, Jenar kembali dari kamar mandi sembari memegangi perutnya yang mungkin sekarang sudah terasa agak enakan dibanding sebelumnya saat ia merasa mules dan kebelet untuk buang air ke toilet.
"Eh Sheila sayang, kamu udah siap?" ucap Jenar.
"Iya ibu, kalo gitu aku sama Yoga mau langsung berangkat, ya? Takut keburu siang soalnya, nanti ibu cemas lagi kalo kita berangkatnya pas tengah hari!" ucap Nadya tersenyum.
"Iya juga sih, yaudah kamu langsung berangkat aja gih kalo udah siap mah! Ibu titip oleh-oleh ya? Gausah yang mahal, cukup martabak keju aja!" ucap Jenar nyengir.
"Duh ibu, jam segini dimana yang jualan martabak?" tanya Nadya kebingungan.
"Eh jangan salah! Ada kok tukang martabak yang buka dari siang, kamu cari aja!" ucap Jenar.
"Hah? Maksud ibu aku sama Yoga harus muter-muter Jakarta buat nyari tukang martabak yang udah buka gitu? Aduh Bu, itu mah makan waktu seharian dong!" ujar Nadya.
"Udah gapapa, Sheila! Kita kan juga perginya belum tentu sebentar, jadi bisa lah nanti pulangnya sekalian beliin martabak buat ibu kamu!" ucap Yoga.
"Nah bener tuh, cakep dah nak Yoga!" ucap Jenar.
"Yaudah tante, kita pamit ya? Assalamualaikum..." Yoga tersenyum kemudian mencium tangan Jenar.
"Aku pergi dulu ya Bu? Assalamualaikum..." kini giliran Nadya yang mencium tangan ibunya.
Setelah itu, mereka berdua pun pergi keluar meninggalkan Jenar sendiri di rumahnya untuk menuju mobil Yoga yang sudah terparkir di depan gang rumah Jenar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1