
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 248
...•...
...•...
1 Minggu kemudian....
Nadya yang masih hilang ingatan kini sudah berangsur pulih dan bisa dibawa pulang ke rumah, ya Jenar sengaja membawa Nadya ke rumahnya tanpa memberitahu Lestari karena ia ingin bersama putrinya selama Nadya masih hilang ingatan. Karena menurutnya Nadya justru lebih baik terus seperti ini dibanding harus sadar, Jenar tentu tak mau kehilangan putrinya lagi.
Jenar menuntun Nadya menuju kamar kosong yang belum pernah ditempati selama ini, ya kamar itu memang khusus disediakan Lubis untuk para tamunya yang ingin menginap disana.
Ceklek...
Jenar membuka pintu sembari menyalakan lampu kamar untuk memberi pencahayaan, hari ini memang sudah siang namun dikarenakan tak ada kaca atau jendela disana membuat kamar ini agak gelap jika tidak dinyalakan lampu apalagi saat pintu ditutup.
"Nah ini kamar kamu sayang, ibu udah minta bi Yani bersihkan kamar ini sebelum kamu datang dari rumah sakit! Soalnya ibu gak mau pas kamu tidur disini nanti malah gatal-gatal karena kamar sama kasurnya kotor, sekarang udah bersih jadi aman deh buat kamu sayang!" ucap Jenar masih menaruh tangannya pada dua pundak Nadya.
Nadya terdiam melihat ke sekeliling kamar itu, ia tak bisa mengingat apapun disana karena memang belum pernah tidur di kamar itu sebelumnya. Nadya pun menoleh ke wajah ibunya dari samping lalu tersenyum senang, rupanya ia bahagia karena bisa kembali tinggal bersama ibunya di rumah ini.
"Bu, aku seneng banget bisa pulang dari rumah sakit dan sekarang ada di rumah sama ibu! Aku udah lama menunggu momen ini, makasih ya bu selalu ada buat aku selama aku koma dan juga selalu rawat aku setelah aku sadar dari koma!" ucap Nadya tersenyum kemudian memeluk tubuh ibunya, ia terisak karena tidak bisa menahan sedih yang ia rasakan akibat belum dapat mengingat siapa wanita yang berada di sampingnya ini.
Jenar pun ikut menangis walau tak sederas Nadya, ia lebih memilih tenang agar Nadya juga bisa berhenti menangis dan tidak sedih lagi.
__ADS_1
"Kamu gak perlu bilang makasih sama ibu, sayang! Itu sudah tugas ibu buat menjaga dan merawat kamu selaku anak ibu, justru ibu sangat menyesal kalau ibu tidak bisa melakukan itu untuk kamu! Udah ya jangan nangis kayak gini lagi, ibu jadi ikut sedih loh kalo lihat kamu nangis!" ucap Jenar menenangkan putrinya sembari mengelus punggung Nadya dengan lembut.
Nadya melepas pelukannya sambil menyeka air mata mengenakan jemarinya, ia mengangguk tanda setuju dan akan berhenti menangis sesuai permintaan ibunya. Walau ia cukup sulit mereda air mata yang keluar, namun demi kebahagiaan ibunya maka ia rela melakukan apapun.
Setelah putrinya berhenti menangis, Jenar kembali menuntun Nadya memasuki kamar yang lumayan luas dan cukup bagi Nadya untuk beristirahat disana. Jenar langsung meletakkan tas yang berisi pakaian Nadya di pinggir ranjang, sementara Nadya duduk menikmati keempukan kasur disana.
"Wah kasurnya empuk banget ya, bu? Aku pasti bakal betah deh tidur disini, makasih banget ya bu udah sediain aku kamar yang luas dan kasur empuk kayak gini!" ucap Nadya tersenyum bahagia.
"Syukurlah kalau kamu suka, sayang! Ibu emang sengaja siapin ini semua buat kamu, nah sprei gambar Mickey mouse ini juga kesukaan kamu banget loh dulu waktu kecil! Terus ibu juga udah beliin kamu boneka yang banyak, karena kamu kalo tidur suka banget peluk boneka..." ucap Jenar.
"Duh aku jadi gak enak sama ibu, harusnya kan aku yang nyenengin ibu bukannya malah ibu yang nyenengin aku kayak gini!" ucap Nadya.
"Gapapa sayang, justru ibu senang bisa ngeliat kamu bahagia dan tersenyum lagi!" ucap Jenar mengusap kepala putrinya sembari memberi kecupan disana.
Krruukkk... krruuwuuk...
"Hah? Kamu lapar sayang?" ujar Jenar kaget mendengar suara perut Nadya yang terdengar jelas.
"Yaudah kita turun ke bawah yuk! Kebetulan bi Yani katanya juga udah siapin makan buah kita, kamu mau kan?" ucap Jenar.
"Mau bu..." jawab Nadya singkat sembari mengangguk pelan.
Tanpa berlama-lama lagi, Jenar langsung merangkul putrinya dan membawa Nadya keluar dari kamar untuk menuju meja makan.
...•••...
Disisi lain, Shella & Laila tengah berada di dapur bersama Silvi sang mama yang telah pulang ke rumah dan kali ini mereka bertiga hendak membuat adonan pizza buatan tangan Silvi.
"Mah, emang mama bisa bikin pizza sendiri?" tanya Shella penasaran, ia belum pernah membuat makanan khas Italia itu jadi ketika Silvi mengajaknya membuat pizza, ia sedikit tercengang.
"Hahaha, kamu gausah khawatir Shella! Mama ini jago bikin makanan barat atau western food, jangankan pizza bikin donat juga mama bisa!" jawab Silvi menyombongkan diri sembari tertawa.
__ADS_1
"Aduh mama ini ada-ada aja, masa pizza dibandingin sama donat?" ujar Shella tertawa.
"Becanda sayang, tapi soal mama bisa bikin pizza itu serius kok! Sebelum ini mama juga sering kok bikin pizza buat Laila sama Devano, nanti kamu wajib cobain pizza bikinan mama!" ucap Silvi.
"Oke mah, aku jadi gak sabar mau cobain!" ucap Shella.
"Sabar dong sayang, ini bahan-bahannya aja belum datang!" ujar Silvi.
Baru saja Silvi membahasnya, akhirnya Intan bersama Yuni datang ke dapur membawa barang belanjaan berisi bahan untuk membuat pizza yang baru saja mereka beli di supermarket.
Intan & Yuni langsung menyerahkan bahan-bahan itu pada Silvi, kemudian mereka berlima pun mulai memasak pizza dengan bahan yang sudah tersedia.
"Sayang, mama dengar dari Vano kalau kamu keguguran beberapa waktu lalu, apa itu benar?" tanya Silvi disela-sela kesibukan mereka memasak.
Shella terdiam sejenak, ia menelan saliva coba menahan rasa sesak yang ia rasakan saat ini karena mamanya kembali mengingatkan ia tentang keguguran bayi pertamanya.
"Iya benar, mah! Maafin aku ya, karena aku gak bisa jaga janin aku dengan baik! Harusnya mama sebentar lagi akan dikaruniai cucu, tapi aku malah ceroboh dan bikin semuanya sirna!" jawab Shella.
Silvi langsung tersenyum menghentikan sejenak aktivitasnya, ia memegang dua pundak Shella dari samping lalu menepuk-nepuk nya untuk menenangkan Shella agar tak bersedih.
"Kamu gak perlu minta maaf, ini semua sudah takdir! Harusnya mama sekarang yang minta maaf sama kamu, karena mama malah mengungkit itu lagi dan bikin kamu sedih!" ucap Silvi menyesal.
"Gapapa mah, udah sewajarnya kalau mama tanya itu ke aku!" ucap Shella tersenyum tipis menatap wajah mamanya.
Silvi pun mengusap-usap pundak Shella sembari membenamkan wajahnya disana, ia masih berusaha mengembalikan mood menantunya yang hancur akibat pertanyaan sensitif tersebut.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
...yeee pulang🥳🥳🥳...