
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 280
...•...
...•...
Devano, Shella, Jenar, Silvi & Tama sudah berada di lokasi pemakaman Laila yang di pagi hari cerah ini akan dimakamkan ke liang lahat menuju peristirahatan terakhirnya. Laila harus pergi untuk selamanya dan menghembuskan nafas terakhir setelah ia mengalami kecelakaan pada kemarin sore, mobilnya terguling ke sungai dan terseret arus selama beberapa meter.
Tentu mereka semua yang hadir disana tampak sangat merasa sedih dan kehilangan sosok Laila, yang bukan hanya dianggap sebagai seorang anggota keluarga melainkan juga sudah seperti bagian dalam diri mereka masing-masing terlebih Silvi sang ibu yang melahirkannya.
Selain mereka berlima, teman-teman kampus Laila juga turut hadir disana mengantarkan teman mereka menuju tempat terakhir termasuk juga Sadam sang kekasih yang tampak sangat bersedih sekaligus menyesal karena belakangan ini selalu bersikap dingin serta cuek pada kekasihnya itu.
Setelah acara pemakaman selesai, banyak orang mulai pergi dari sana meninggalkan Laila yang juga sudah terkubur di bawah bersama kenangan-kenangan yang telah ia ukir ketika masih hidup di dunia yang menyedihkan ini.
"Tante, tante yang sabar ya! Laila semasa hidupnya itu orang yang baik banget, dia juga temen kita yang setia dan selalu bersikap baik sama semua orang yang dia kenal! Aku yakin, Laila pasti dapat tempat terbaik di atas sana....!!" ucap Yasmin.
"Iya benar, Tan! Kita tuh udah temenan sama Laila dari pas waktu masih duduk di bangku SMP, dan sejak itu kita gak pernah lihat Laila bersikap arogan apalagi suka cari masalah!" sahut Zara.
"Terimakasih ya Yasmin, Zara! Laila pasti bangga punya teman seperti kalian, yang selalu setia menemani dia bahkan sampai ikut mengantar dia ke tempat peristirahatan terakhirnya!" ucap Silvi.
"Sama-sama, tante! Ini kan juga kewajiban kita sebagai seorang sahabat..." ucap Yasmin.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga berpelukan disana dengan Yasmin & Zara mengelus-elus punggung Silvi, ya perlahan sang ibu dari Laila itu berhasil tenang merasakan pelukan hangat yang persis seperti saat ia memeluk putrinya kala itu.
Berbeda dengan Silvi yang sampai menangis sesenggukan di dekat nisan Laila, Tama sang ayah memang lebih tegar bahkan masih bisa tersenyum saat para warga serta keluarga yang lainnya berpamitan pulang dengannya.
"Pah, apa yang bikin papa bisa sekuat ini? Padahal yang pergi itu putri kandung papa, aku mau minta resepnya dong pah!" ucap Devano mendekati Tama.
Tama tersenyum sembari menepuk pundak putranya yang masih bersedih dengan muka penuh air mata, ia coba mengajarkan satu hal penting pada Devano yang dapat membuatnya bisa lebih tenang dari Silvi maupun yang lainnya disana.
"Simpel aja, Vano! Papa mencoba mengikhlaskan kepergian Laila, karena kan semua yang ada di bumi itu hanya sementara dan sewaktu-waktu bisa pergi meninggalkan kita untuk kembali bersama yang di atas! Ya walau begitu, papa juga ngerasa sedih banget kehilangan putri satu-satunya yang papa miliki!" ucap Tama.
"Papa hebat! Semoga aku juga bisa ikhlas seperti papa, karena jujur aku masih gak rela dengan kepergian Laila yang mendadak ini..." ucap Devano.
Tama pun kembali tersenyum lalu maju mendekap tubuh putranya sembari menepuk-nepuk punggung Devano, seketika Devano menangis di bahu sang papa cukup deras air mata mengalir karena ia tak dapat lagi menahan kesedihan yang terpendam.
Disaat Devano berpelukan dengan papanya disana sampai menangis sesenggukan, Shella sang istri juga tak kalah sedih dan kini tengah memeluk ibunya karena ia masih tidak percaya kalau sahabat sekaligus adik iparnya itu sudah pergi untuk selamanya dari dunia ini.
"Bu, ini cuma mimpi kan? Laila masih hidup kan Bu?" ucap Shella terus saja mengucapkan kata itu sejak tadi karena ia masih belum bisa ikhlas.
Shella manggut-manggut namun masih saja terus meracau mengatakan kalau ini semua tidak nyata dan hanyalah mimpi, nampaknya ia benar-benar sulit menerima semua ini mungkin karena Laila sudah dianggap saudara sendiri olehnya.
•
•
Tak lama kemudian, Frederick bersama cucunya yakni Bimo datang ke pemakaman tersebut untuk ikut berbelasungkawa atas kepergian Laila yang memang cukup menggemparkan keluarga Alexander karena Laila merupakan satu-satunya anak perempuan keluarga tersebut.
Mereka berdua langsung menghampiri orang-orang disana yang tengah bersedih menangisi makam Laila yang masih basah, ya terlihat Silvi serta Tama dan lainnya langsung berdiri menyambut kedatangan mereka sejak melihat Frederick & Bimo melangkah ke dalam pemakaman itu.
"Pak Tama, Bu Silvi! Kami mewakili keluarga besar Bagaskara turut berduka atas kepergian Laila, jujur kami tidak menyangka dia akan pergi secepat ini!" ucap Frederick.
__ADS_1
"Ya, terimakasih pak Fred! Mungkin ini semua sudah kehendak yang maha kuasa..." ucap Tama.
Bimo tanpa sengaja melihat keberadaan Zara disana tanpa kekasihnya yakni David, entah mengapa Bimo mendadak ingat kenangannya saat bersama Zara begitu melihat wajah gadis tersebut padahal suasana disana semuanya sedang berduka.
"Kamu terlihat semakin cantik, Zara! David beruntung bisa mendapatkan cinta kamu, andai aku juga bisa diberi kesempatan kedua bersama kamu!" batin Bimo sambil senyum-senyum sendiri.
Sadar dirinya tengah diperhatikan oleh sang mantan, Zara pun segera memalingkan wajahnya karena merasa risih ditatap seperti itu oleh Bimo apalagi di tempat seperti ini dengan suasana yang sedang berduka seperti sekarang.
Tak hanya Zara yang menyadari kelakuan Bimo, bahkan Frederick sang kakek juga melihat kalau cucunya malah senyum-senyum sendiri sembari menatap ke arah Zara di depan sana dan tentunya membuat ia malu jika sampai Tama mengetahuinya.
"Hey, Bimo! Kamu jangan seperti itu! Ingat, kita sedang berada di pemakaman...!!" tegur Frederick sambil menyenggol lengan Bimo.
"Ah iya kek, maaf aku gak fokus!" ucap Bimo.
Akhirnya setelah hari mulai agak terik dan matahari juga berada tepat di atas kepala, kini Yasmin, Zara beserta Sadam berpamitan pada Silvi & Tama yang tampaknya masih betah berada disana menemani putri mereka yang telah tiada.
"Tante, kami pamit ya? Maaf, kami gak bisa lama-lama disini karena masih ada urusan!" ucap Yasmin mendekati Silvi.
"Iya, terimakasih kalian sudah mau hadir!" ucap Silvi.
"Sama-sama, tante! Yasudah, kami pamit assalamualaikum...." ucap Yasmin.
"Waalaikumsallam...."
Mereka bertiga pun melangkah pergi dari pemakaman itu secara bersama-sama, nampak Sadam masih terus menyesali semua perbuatan ia pada Laila yang pernah bersikap cuek hanya karena ingin mengetes betapa cintanya gadis itu padanya.
"Dam, gagal lagi deh cinta lu..." cibir Zara.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...