Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Jemput Novi


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 234


...•...


...•...


Shella & Devano kembali ke rumah sakit Medika indah bersama Jenar sang ibu, ya disana masih sepi tidak ada tanda-tanda kalau Lestari sudah datang menjenguk putrinya. Dengan cepat Jenar langsung melihat kondisi putrinya melalui kaca disana, matanya berkaca-kaca melihat Nadya tengah terbaring di atas ranjangnya sambil memejamkan mata. Shella & Devano mengikuti ibunya lalu menaruh tangan di pundak sang ibu, Shella berusaha menenangkan ibunya itu.


Memang saat ini Nadya masih terpejam karena pengaruh obat bius yang diberikan dokter, mereka juga belum diperbolehkan masuk untuk menjenguk Nadya secara langsung. Sehingga mereka bertiga harus menunggu disana sampai dokter membolehkan mereka ke dalam, Shella pun menggandeng ibunya mengajak Jenar ke tempat duduk disana karena kasihan melihat sang ibu harus berdiri menatap Nadya dari balik kaca.


"Bu, kita duduk yuk disana!" ucap Shella pelan.


Jenar hanya mengangguk tanda kalau ia setuju dengan yang putrinya katakan, Shella pun menuntun ibunya ke arah tempat duduk diikuti oleh Devano dari belakang yang sedari tadi hanya diam karena bingung harus mengatakan apa.


Mereka bertiga duduk berdampingan disana, Shella menaruh kepala ibunya di pundak lalu mengelusnya lembut seraya menenangkan sang ibu yang masih bersedih karena Nadya belum pulih benar. Shella juga mengatakan pada ibunya kalau Nadya pasti akan bisa sembuh dan mengingat kembali semua ingatan tentangnya, Devano yang melihat itu sangat salut karena istrinya benar-benar berperilaku lembut pada ibu kandungnya itu.


"Sabar ya Bu, aku yakin kok Sheila pasti bisa pulih! Toh dia sekarang juga udah mau panggil ibu dengan sebutan ibu kan? Aku rasa itu pertanda kalau masih ada sedikit memori yang nyangkut di hatinya, tentang ibu yang melahirkannya..." ucap Shella.


"Iya kamu bener, sayang! Ibu bersyukur karena Sheila mau memanggil ibu seperti itu, jujur ibu juga gak nyangka kalau Sheila mau panggil ibu dengan sebutan ibu!" ucap Jenar.


Tiba-tiba saja Devano kembali kepikiran dengan sekretarisnya yang masih dirawat disini, ia pun penasaran dengan kondisi Novi karena belum sempat menjenguknya lagi kemarin.


"Eee honey, aku mau ke toilet sebentar ya!" ucap Devano berbohong pada istrinya, ia takut kalau Shella akan cemburu jika ia mengatakan ingin menjenguk Novi mengingat Shella pernah emosi saat melihat dirinya berduaan dengan Novi.


"Iya, mas!" ucap Shella mengizinkan.


Devano pun bangkit dari duduknya lalu bergegas menuju kamar rawat Novi, ia begitu memperdulikan sekretarisnya karena memang gadis itu sudah cukup lama bekerja dengannya.

__ADS_1


Sementara Shella merasa curiga pada gerak-gerik suaminya barusan, ia tak percaya jika Devano akan pergi ke toilet karena suaminya itu malah mengarah ke arah yang berlainan dengan toilet.


"Loh, mas Vano kok ke kanan sih? Bukannya toilet yang deket itu tinggal lurus aja?" batin Shella menatap suaminya dari jauh dengan curiga.


Namun, Shella berusaha berpikir positif pada suaminya dan tak mau bersikap seperti anak kecil yang cemburuan apalagi pada suaminya sendiri. Ia pun kembali fokus menenangkan sang ibu di dalam pelukannya, mereka terus begitu sampai seorang dokter datang untuk memeriksa kondisi Nadya.




Devano telah sampai di depan kamar tempat Novi dirawat, alangkah terkejutnya ia saat melihat sekretarisnya sudah berganti pakaian dan keluar dari kamarnya dengan rapih. Tentu saja Devano tidak tahu jika Novi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, ia pun memasang wajah penasaran sambil terus menatap mata sekretarisnya.


"Loh, Nov? Kamu udah boleh pulang? Emangnya kondisi kamu udah membaik??" tanya Devano.


"Eee iya pak, saya udah dibolehin pulang kok sama dokter tadi! Katanya kondisi saya juga sudah pulih seperti sedia kala, makasih ya pak atas bantuannya!" ucap Novi tersenyum.


"Syukurlah, tidak perlu makasih Nov! Ini semua gak sebanding sama pengabdian kamu ke saya selama ini, ya anggap aja ini sebagai tanda terimakasih dari saya sekaligus dedikasi saya untuk kamu!" ucap Devano membalas senyum Novi.


"Tapi, saya kan juga udah-"


"Eee i-i-iya, pak!" ucap Novi gugup.


Devano langsung menurunkan telunjuknya saat menyadari Novi menatapnya tak suka.


"Yaudah sekarang kamu mau pulang naik apa?" tanya Devano.


"Saya bisa pesan taksi di depan, pak!" jawab Novi.


"Eh jangan! Biar kamu diantar aja sama Rafael ya, dia kan semalam juga yang antar baju-baju kamu! Jadi sekarang sekalian aja dia antar kamu pulang, mau ya?" ucap Devano.


"Eee gausah deh pak, saya takut merepotkan!" ujar Novi menolak.


"Gak kok, sebentar ya saya telpon dulu Rafael nya!" ucap Devano memaksa.


Akhirnya Devano mengambil ponselnya lalu menghubungi Rafael disana,

__ADS_1


📞"Halo, Raf! Kamu dimana sekarang?" tanya Devano saat telponnya sudah diangkat.


📞"Ah iya pak, saya masih di rumah kok! Ada apa ya, pak?" ucap Rafael.


📞"Saya butuh bantuan kamu, sekarang juga kamu ke rumah sakit Medika indah ya! Antar Novi sekretaris saya pulang ke rumah, dia baru keluar dari rumah sakit jadi saya khawatir kalau dia kenapa-napa di jalan nanti!" ucap Devano.


📞"Eee baik pak siap, saya segera meluncur sekarang!" ucap Rafael.


📞"Terimakasih," ucap Devano.


📞"Sama-sama, pak!" ucap Rafael.


Devano pun memutus telponnya setelah menyelesaikan ucapannya, ia menaruh kembali ponselnya di dalam saku celana lalu berbalik badan menatap Novi. Tampak wanita itu terus menunduk malu setelah mendengar kalau Devano sangat mengkhawatirkan dirinya, entah ia harus senang atau justru kesal saat ini pada bosnya itu.




Usai menerima telpon dari Devano, Rafael yang tadinya tengah rebahan sembari membayangkan wajah Vanya pun langsung bangun lalu masuk ke kamar mandi. Ya sejak terbangun dari tidur tadi Rafael memang belum pergi ke kamar mandi, ia terlalu malas untuk melakukan itu karena tidak ada jadwal bepergian hari ini.


Namun, secara mendadak Devano menghubunginya lalu menyuruhnya pergi ke rumah sakit menjemput Novi. Alhasil ia pun harus bangun dan segera pergi kesana sesuai perintah bosnya, karena tak ingin terlambat datang kesana ia hanya mencuci mukanya tanpa mandi.


Rafael mengenakan jaket serta celana jeans untuk menutupi kaos dan celana pendek yang ia kenakan sekarang, tak lupa ia menyemprotkan banyak minyak wangi ke tubuhnya sebagai penutup bau badannya agar nanti sekretaris Devano tak kebauan.


"Huh gini nih kalo dapet tugas dadakan kayak tahu bulat!" ujar Rafael sembari menyisir rambutnya di depan cermin, ia juga memakai gel rambut miliknya supaya terkesan sudah mandi.


Setelah dirasa cukup dan yakin orang-orang tak akan curiga kalau ia belum mandi, Rafael pun langsung bergegas keluar kamar lalu menuju garasi mengambil mobilnya untuk menjemput Novi.


Ngeeennggg...


Rafael menancap gas cukup kencang karena takut terlambat dan nantinya malah diamuk oleh bosnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2