Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Keputusan


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 189


...•...


...•...


"Novi!" tiba-tiba ada suara pria memanggil nama sekretaris wanita itu, ia pun terkejut sampai alat penyadap di tangannya terjatuh.


Novi sangat panik saat melihat Devano masuk lagi ke dalam sana, ia langsung mematikan teleponnya dengan Adrian lalu berusaha untuk tetap tenang di hadapan Devano.


"Apa itu yang jatuh Nov?" tanya Devano saat menyadari ada benda kecil terjatuh di lantai tadi ketika ia masuk ke dalam.


Novi terdiam sesaat memikirkan jawaban yang tepat agar Devano tidak curiga padanya.


"Kenapa Nov, kok diem?" tanya Devano lagi saat Novi sekretarisnya itu malah diam tak menjawab pertanyaannya sebelumnya.


"Eee bukan apa-apa kok pak, itu cuma bekas barang meeting tadi pak! Maaf saya ceroboh karena kaget tiba-tiba bapak muncul lagi," jawab Novi tampak gugup.


"Ohh, iya saya balik lagi soalnya handphone saya ketinggalan... maaf ya saya udah bikin kamu kaget, yaudah saya permisi dulu ke ruangan saya!" ucap Devano mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja lalu keluar menuju ruangannya.


"Iya pak gapapa," ucap Novi tersenyum tipis dan masih terasa sangat deg-degan karena kejadian tadi.


Setelah Devano keluar dari sana, Novi pun mencari alat penyadap yang tadi terjatuh.


"Duh mana ya tadi alatnya?" ujar Novi cemas mencari-cari alat penyadap itu di kolong meja serta kursi ruangan tersebut.


Akhirnya ia menemukan kembali alat tersebut di bawah meja dengan keadaan baik-baik saja, ia pun merasa lega serta gembira.

__ADS_1


"Nah ini dia alatnya, huh untung aja gak rusak! Untung juga tadi pak Vano gak curiga sama aku, bisa berabeh kalau pak Vano tau aku udah kerjasama sama pak Adrian!" ucapnya mengelus dada.


Setelah itu, Novi pun menaruh alat penyadap nya di kantong bajunya... ia kembali membereskan barang-barang disana sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


Sementara Devano telah berada di ruangannya, ia langsung duduk di kursinya sambil mengerutkan keningnya yang terasa pusing akibat masalah bertubi-tubi yang menimpanya.


"Hadeh apa lagi kiranya yang bakal terjadi ya? Semoga aja kali ini keputusan saya gak salah untuk menerima bantuan dari Adrian, walau sebenarnya hati saya masih ragu dengan sikap Adrian yang berubah itu! Tidak mungkin dia dengan ikhlas ingin membantu perusahaan saya, tapi apapun itu saya harus tetap berpikir positif siapa tau memang benar Adrian tidak merencanakan apapun...." ucap Devano.


TOK TOK TOK...


Tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya dari luar tidak lain orang tersebut adalah sekretaris nya.


"Permisi pak, ini saya Novi!" ucap Novi dari luar.


"Ya masuk!" ucap Devano mempersilahkan Novi untuk masuk ke ruangannya.


Novi pun membuka pintu lalu masuk ke dalam, terlihat ia datang dengan membawa sejumlah berkas di tangannya.


"Misi pak, ini ada beberapa berkas yang harus bapak tandatangani dalam proyek kerjasama perusahaan kita dengan PT. Kilau Bagaskara!" ucap Novi meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Devano.


"Baik pak, itu akan segera saya lakukan! Kalau begitu saya permisi dulu pak, nanti saya akan kembali lagi mengambil berkas-berkas itu untuk segera diproses lebih lanjut!" ucap Novi.


"Ya silahkan!" ucap Devano mengangguk memberi izin sekretarisnya untuk keluar dari ruangannya itu.


Novi pun berbalik badan pergi keluar dari ruangan bosnya itu, ia tampak tersenyum menyeringai sembari membuka pintu.


"Sayang sekali pak Vano, tapi saya tidak akan melakukan itu semua... karena sekarang saya sudah bekerja dengan pak Adrian untuk bisa mengambil alih perusahaan ini!" gumamnya.


Setelah Novi keluar dari sana, Devano membuka berkas-berkas itu dan membaca dengan detail setiap isi yang tertera di dalam berkas tersebut tanpa ada yang terlewatkan.


"Sepertinya tidak ada persyaratan yang aneh di dalam berkas ini, apa Adrian sengaja tidak mencantumkan itu disini?" ujar Devano bingung saat membaca semua isi berkas itu.


Ia masih berpikir sebelum menandatangani berkas kerjasama itu, karena ia tak mau salah melangkah dan nantinya akan membuat dirinya terjatuh lalu terpuruk.


...•••...

__ADS_1


Sementara itu, Adrian datang ke rumah tempat ia menyekap Femila... ia tampak sumringah setelah rencananya hampir berhasil untuk menghancurkan Devano.


Tanpa basa-basi, Adrian langsung masuk ke dalam kamar dimana Femila berada... terlihat gadis itu tengah duduk terbengong menatap cermin di depannya dengan mengenakan gaun yang terbuka membuat Adrian memanas.


"Hey Femila, apa kabar kamu?" ucap Adrian sambil menutup pintu lalu berjalan menghampiri gadis itu dan duduk disampingnya.


Femila menoleh saat Adrian merangkulnya, ia tampak malas sekali harus meladeni pria itu lagi saat ini dan ingin segera pergi dari sana.


"Sampai kapan kamu mau kurung aku disini Adrian? Aku harus kerja dan cari uang untuk kehidupan sehari-hari aku, tolonglah kamu ngertiin aku sekarang ini!" ucap Femila.


"Maaf Femila, tapi saya akan tetap tahan kamu disini selamanya... jadi jangan harap kamu akan bisa keluar dari sini, ayo sekarang kita lanjut main lagi seperti kemarin-kemarin!" ucap Adrian tersenyum lebar.


Femila menyingkirkan tangan Adrian dari pundaknya dan dengan tegas menolak kemauan Adrian untuk melakukan hubungan intim itu lagi.


"Aku gak mau lagi turutin kemauan kamu, udah cukup ya kamu nodai aku selama ini! Apa kamu gak puas udah bikin hidup aku menderita?" ujar Femila tampak kesal dan emosi.


"Ohh jadi kamu nolak saya? Dengar ya Femila, saya sudah bertemu dengan Yoga pacar kamu itu si siswa sok famous dulu! Jadi kalau kamu mau dia baik-baik aja, kamu harus layani saya siang ini atau dia akan saya bikin menderita!" ujar Adrian mengancam Femila.


Sontak Femila terkejut mendengarnya, ia benar-benar rindu dengan kekasihnya yang sangat ia cintai itu.


"Yoga? Apa benar Adrian sudah bertemu dengan Yoga? Kalau memang iya berarti sekarang nasib Yoga ada di tangan aku dong, tapi aku bener-bener udah muak sama Adrian apalagi harus layani dia lagi...." gumam Femila.


"Bagaimana Femila? Pastikan kamu gak mau kan Yoga pacar kamu itu ikut menderita sama seperti kamu? Ayo semua keputusan ada di tangan kamu Femila, layani saya atau Yoga akan saya habisi!" ujar Adrian.


Femila terdiam sejenak memikirkan keputusan tepat yang akan ia ambil, akhirnya ia terpaksa mau melayani Adrian.


"Oke, aku mau... tapi ingat, jangan pernah kamu sentuh Yoga apalagi sakiti dia!" ucap Femila.


"Keputusan yang bagus Femila," ucap Adrian tersenyum sumringah.


Tanpa banyak bicara lagi, Adrian langsung menerkam tubuh wanita itu dan menguncinya di atas ranjang... dengan bringas ia mencumbui leher Femila sampai ke bagian dadanya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2