Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Proses mendekati kamu


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 246


...•...


...•...


Silvi sudah dibawa ke rumah sakit terdekat oleh Devano dan juga keluarganya, kini mereka semua berharap semoga Silvi baik-baik saja dan tidak mengalami penyakit yang parah karena ini adalah hari bahagia mereka dan tentunya mereka berharap bisa merayakannya bukan malah bersedih seperti sekarang.


Laila terus terisak di bahu kakak iparnya alias Shella, mungkin ia sedih karena belum sempat mengucap selamat pada mamanya namun sang mama sudah terlebih dahulu pingsan. Shella berusaha menenangkan Laila dengan mengatakan kalau mamanya akan baik-baik saja, namun gadis itu masih belum bisa tenang karena mamanya juga belum sadar.


"Laila, tenang dulu ya! Aku yakin mama pasti gak bakal kenapa-napa, mungkin mama pingsan itu karena kurang istirahat aja! Kita sama-sama berdoa ya buat kebaikan mama, udah kamu jangan nangis!" ucap Shella mengusap-usap punggung Laila.


Laila pun melepas pelukannya dari Shella, ia menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya sejak tadi.


"Kamu mau kemana, Laila?" tanya Shella heran karena Laila bergerak menjauhinya.


"Gue mau ke papa," jawab Laila terisak.


Shella menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum, ia membiarkan Laila menemui papanya yang saat ini tengah bersandar di dinding samping pintu ruang UGD.


Setelah Laila pergi, Shella coba menghampiri suaminya yang juga tengah bersedih dengan mata berkaca-kaca dan pandangan kosong.


"Mas..." ucap Shella lembut sembari memegang pundak suaminya.


Devano terkejut dan reflek menghapus air matanya, ia menatap wajah istrinya yang tampak menggemaskan sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Iya honey, kenapa?" ucap Devano.


"Kamu gapapa kan, mas?" ucap Shella.


"Ya gapapa kok, emangnya aku kenapa?" ujar Devano menatap heran ke wajah istrinya.


Shella tak menjawab tapi langsung memeluk tubuh suaminya, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang suami lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Devano.


Devano yang terkejut hanya menikmati saja pelukan hangat dari istrinya, ia tersenyum sembari mengusap-usap puncak kepala Shella lalu mengecupnya lembut.


"Mas, jangan sedih ya! Pasti mama bakalan sadar kok, kita berdoa buat kesembuhan mama!" ucap Shella mendongak menatap wajah suaminya.


Devano tersenyum saat ditatap seperti itu oleh istrinya, ia membelai lembut bibir yang menjadi candunya selama ini dengan jempolnya.


"Tenang aja, aku ini udah dewasa dan ngerti semuanya kok!" ucap Devano.


"Iya mas, maaf ya kalau aku udah sok ngajarin kamu! Aku cuma gak mau aja kamu sedih kayak gini, maaf banget loh mas!" ucap Shella merasa bersalah.


"Hus! Ngapain minta maaf sih? Aku justru senang karena kamu perhatian banget sama aku, udah jangan ngerasa bersalah gitu!" ucap Devano memegang wajah istrinya dengan dua tangan.


...•••...


Sementara itu, Frederick menemui cucunya yang tengah menjalani masa tahanan di penjara. Ia tersenyum begitu Bimo cucunya itu keluar mendatanginya, ia juga berdiri menyambut Bimo lalu memeluknya sembari mengusap punggung Bimo.


"Bagaimana keadaan kamu, Bimo? Kamu baik-baik saja kan selama di penjara, tidak ada yang berani mengusik kamu?" tanya Frederick melepas pelukannya menatap wajah Bimo.


"Tenang aja pah, semua disini baik kok! Oh ya kita ngobrolnya sambil duduk aja, pah!" ucap Bimo mengajak kakeknya duduk di kursi.


Frederick mengangguk kemudian mereka duduk berhadap-hadapan disana sembari memasang wajah tegang, Bimo tak mengerti mengapa kakeknya tiba-tiba seperti itu padahal sejak tadi Frederick tampak santai dan terus tersenyum.


Pria tua berambut setengah putih itu memajukan tubuhnya sembari menatap wajah cucunya, ia melipat kedua tangan di atas meja dan menghela nafas sejenak seperti mengambil ancang-ancang.


"Ada apa, kek?" tanya Bimo penasaran.

__ADS_1


"Kakek cuma mau kasih tau sama kamu, sebentar lagi kamu akan kakek bebaskan dari penjara ini! Biar Adrian saja yang menggantikan hukuman kamu, karena memang semua ini adalah ulahnya! Jadi cukup dia yang menanggung semuanya!" jelas Frederick melempar senyum.


"Apa? Ka-kakek serius ngomong kayak gitu? Kakek beneran mau bebasin aku dari penjara?" tanya Bimo kaget dan tampak sumringah.


"Ya, karena kamu tidak pantas berada disini! Kamu hanya diperalat oleh Adrian untuk menutupi kejahatan yang dia lakukan, kakek juga sudah mengalihkan saham perusahaan menjadi milik kamu! Secepatnya kakek akan mengurus kebebasan kamu dari penjara ini, jangan risau cucuku!" jawab Frederick mengangguk pelan.


Bimo sangat gembira sampai tak mampu berkata-kata lagi, ia menutupi mulutnya yang terbuka karena sangking senangnya. Dengan sigap Bimo maju memeluk tubuh kakeknya erat sembari menangis bahagia disana, Frederick pun menepuk-nepuk punggung cucunya sambil ikut merasa bahagia melihat Bimo sebahagia ini.


"Terimakasih kek, cuma kakek yang benar-benar ngerti keadaan aku dan sayang sama aku! Aku gak tau lagi harus membalas kebaikan kakek dengan apa, udah banyak sekali kakek membantu aku selama ini dan aku juga selalu menyusahkan kakek!" ucap Bimo terisak.


"Hus! Jangan bicara seperti itu, Bimo! Kakek tidak sama sekali merasa disusahkan oleh kamu, justru kakek akan sangat menyesal jika tidak bisa menjaga dan membantu kamu! Karena sekarang kakek yang bertanggung jawab akan kehidupan kamu, sejak papa kamu pergi selamanya..." ucap Frederick.


Mereka kembali berpelukan dan menangis di bahu masing-masing, hal itu memakan waktu sekitar 5 menit lebih karena keduanya amat sangat gembira.


...•••...


Disisi lain, Rafael diundang sarapan bersama oleh Vanya karena gadis itu memasak pada pagi ini dan memang sengaja karena ingin mengajak Rafael makan di rumahnya. Sepertinya memang ada rasa berbeda yang dirasakan Vanya pada pria itu, namun sampai sekarang ia belum bisa memastikan apakah yang ada di dalam hatinya itu.


"Raf, kamu emang gak ada tugas nih dari Devano? Aku takut loh jadi ganggu waktu kamu cuma gara-gara aku minta ditemenin sarapan, harusnya kan aku gak perlu begini!" ucap Vanya menatap wajah Rafael penuh penasaran.


"Aduh ini udah yang kelima kalinya loh kamu nanya begini sama aku, kan aku udah jawab tadi empat kali kalau pak Devano itu gak kasih tugas apa-apa ke aku! Kamu masih muda tapi udah pikun ya?" ujar Rafael tertawa kecil.


"Ya aku kan mau mastiin aja, soalnya aku takut kamu malah dimarahin Devano nanti!" ucap Vanya.


"Iya iya, udah kamu tenang aja ya! Aku hari ini free gak ada tugas apapun dari pak Vano, jadi aku bisa nemenin kamu kemana aja hari ini! Jangankan sarapan bareng, belanja bareng atau jalan-jalan bareng juga aku bisa kok!" ucap Rafael tersenyum.


"Bagus deh, makasih ya!" ucap Vanya.


"Gak perlu pake makasih segala, aku tulus kok temenin kamu sarapan bareng! Lagian aku kan juga lagi berproses dalam mendekati kamu, jadi malah bagus kalau kamu ajak aku sarapan bareng!" ucap Rafael menatap tulus mata Vanya.


Sontak Vanya syok mendengar perkataan Rafael, ia menganga menahan sendok yang hendak masuk ke mulutnya karena terkejut. Sedangkan Rafael malah santai mengalihkan pandangannya dengan melahap nasi di piringnya seperti tak terjadi apa-apa.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2