Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Panggilan pacar


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 357


...•...


...•...


Devano mengajak sekretarisnya itu ke kantin untuk makan bersamanya, awalnya Novi berusaha menolak karena ia khawatir akan terjadi masalah bila mereka makan berdua disana. Namun, paksaan dari Devano membuat Novi tak berkutik dan akhirnya pasrah saja mengikuti bosnya itu hingga ke kantin dan makan bersamanya disana.


Novi sangat heran pada sikap Devano yang sekarang, karena Devano jadi lebih ingin dekat dengannya bahkan selalu memaksanya untuk ikut pergi kemanapun itu dengannya. Novi pun merasa khawatir kalau sampai Shella alias istri bosnya itu melihat mereka atau tau kalau mereka sering berduaan apalagi makan bareng saat ini.


Sesampainya di kantin, Devano langsung meminta Novi duduk bahkan sampai menarik kursi agar Novi bisa leluasa duduk di sebelahnya. Novi hanya tersenyum kemudian duduk disana dengan wajah cemasnya, Novi terus saja celingak-celinguk berharap tidak ada rekannya yang melihat karena ia takut akan menjadi bahan gunjingan nantinya.


Devano merasa heran dengan sikap sekretarisnya saat ini yang seperti orang ketakutan, padahal menurutnya Novi tidak harus bersikap seperti itu karena ia hanya ingin mengajak Novi makan bareng tidak lebih.


"Hey, Nov! Kamu kenapa sih?" tegur Devano bertanya kepada sekretarisnya, Devano juga meraih tangan Novi dan menggenggamnya di atas meja.


"Ah pak, saya cuma takut aja kalau ada karyawan lain yang lihat kita disini. Tolong ya pak, kayaknya kita jangan pegangan tangan begini deh!" ucap Novi meminta pada bosnya untuk melepas tangannya.


"Kamu ini lebay banget sih! Saya kan cuma ajak kamu makan, santai aja dong!" ucap Devano.


"Eee masalahnya, bapak kan udah punya istri. Saya gak mau aja dianggap sebagai perusak rumah tangga orang, apalagi bos saya sendiri. Lagian, saya dan Bu Shella kan juga udah lumayan dekat." ucap Novi agak gugup sembari menundukkan kepalanya.


Devano tersenyum kemudian mengangkat tangan Novi dan mengecupnya lembut, Novi seketika menganga lebar terkejut dengan perlakuan Devano.


"Pak, bapak ngapain?" tanya Novi amat sangat panik dan tidak bisa tenang saat ini, situasi jantungnya juga sedang tidak baik-baik saja karena Devano seperti di luar kendalinya saat ini.


"Kenapa sih? Emang salah kalo saya cium tangan kamu? Toh kamu juga masih single kan?" ucap Devano malah bertanya seperti itu pada Novi.


"Ya emang, pak. Tapi, kan bapak sendiri udah punya istri. Saya gak enak lah kalau sampe Bu Shella tau barusan bapak cium tangan saya, tolong ya pak jangan kayak gini! Saya lebih baik pergi aja pak, karena saya gak mau ada salah paham lagi nantinya!" ucap Novi kecewa dan langsung berdiri.


"Hey, tunggu! Oke iya, saya gak akan seperti itu lagi sama kamu. Sekarang duduk dan jangan pergi dulu sebelum makanan kita sampai!" ucap Devano.


Devano mencengkeram lengan atas Novi dan memaksanya untuk tetap disana bersamanya, akhirnya Novi menurut dengan syarat Devano tidak akan bertingkah seperti tadi.


Selama makan, Devano terus saja memandangi wajah Novi yang ada di sampingnya. Entah mengapa ia tak bisa lepas dari itu dan ingin terus melihatnya tanpa berkedip sedikitpun.


"Kamu cantik sekali, Novi. Saya juga penasaran, seperti apa kiranya kalau saya berhasil bermain di ranjang dengan kamu?" batin Devano.


Novi merasa canggung dan tak nyaman saat bosnya terus saja memandanginya, ia sudah berusaha menghindari tatapan Devano dengan menunduk dan fokus makan, namun tetap saja ia merasa risih karena Devano tak berhenti menatapnya.


"Pak Devano ini kenapa sih? Apa yang salah coba sama penampilan aku, kok dia terus ngeliatin aku kayak gitu ya?" batin Novi.


...•••...


Disisi lain, Shella telah menceritakan semua kepada mama mertuanya kalau ada seseorang pria yang menelponnya dan mengancam padanya ingin menghancurkan usaha Devano.


Sontak Silvi langsung terkejut dan syok berat mendengarnya, ia tak menyangka kalau putranya itu memiliki seorang musuh yang ingin menghancurkan usahanya. Tentu Silvi tidak ingin itu semua terjadi, apalagi putranya saat ini sedang berjuang menghidupi keluarga kecilnya itu.


Shella juga sama dengan Silvi, keduanya panik mencemaskan keadaan yang akan terjadi jika memang benar orang tadi adalah musuh Devano. Mereka pun tampak saling merangkul dan menenangkan hati satu sama lain sembari berharap kalau ini semua hanyalah omong kosong.


Tak lama kemudian, ponsel milik Shella berdering kembali saat ia tengah berpelukan dengan mamanya. Shella pun melepas sejenak pelukan itu dan menyeka air mata di pipinya, ia langsung mengecek siapa yang menelpon ke nomornya itu.


"Mah, sebentar ya!" ucap Shella.


"Iya sayang," ucap Silvi.


Shella tersenyum saat melihat nama Yasmin alias temannya di layar ponselnya, ia pun kembali menghapus air mata serta menenangkan diri agar Yasmin tidak curiga dan mengetahui kalau ia sedang menangis saat ini.


"Mah, aku angkat telpon dulu ya! Ini Yasmin, temanku di kampus dulu." ucap Shella minta izin.


"Iya sayang, kalo gitu mama juga mau keluar ya? Mama coba minta pendapat sama papa soal ancaman dari orang misterius itu!" ucap Silvi.

__ADS_1


"Ah iya, mah." ucap Shella tersenyum tipis.


"Kamu jangan pusing mikirin itu, ya! Nanti kandungan kamu bisa terpengaruh, mama yakin kok Devano pasti bisa melewati itu semua kalau memang benar dia punya musuh!" ucap Silvi menenangkan Shella sembari mengusap puncak kepalanya.


"Iya mah, makasih!" ucap Shella.


Setelahnya, Silvi pun berjalan keluar dari kamar Shella dan menutup pintu. Sedangkan Shella kini mengangkat telepon dari Yasmin dengan bersemangat, karena ia sangat rindu pada sahabatnya itu apalagi sejak menikah mereka memang jarang sekali bertemu.


📞"Halo Yas, kenapa nih?" ucap Shella.


📞"Huh akhirnya diangkat juga. Iya halo, Shella! Lu abis ngapain aja sih? Kok lama banget gitu loh ngangkat telponnya?" ujar Yasmin.


📞"Hehe, maaf Yas! Tadi gue lagi sama mertua gue, emang ada apa sih lu telpon gue? Tumben banget, biasanya juga enggak tuh!" ucap Shella.


📞"Yeh gue kan sohib lu, gue kangen lah udah lama kita gak berhubungan. Apalagi sejak lu nikah kan kita jadi susah buat ketemu, makanya sekarang gue telpon lu mau ngajak lu ketemuan sekaligus makan bareng sama Zara juga di cafe tempat kita sering nongkrong dulu! Gimana, bisa gak?" ujar Yasmin.


📞"Ohh, ya gue pengen banget lah! Tapi, kan lu tau sendiri sekarang gue udah nikah. Jadi, gue harus izin dulu sama suami gue kalo mau jalan sama kalian!" ucap Shella.


📞"Yaudah, lu izin gih! Nanti kalo misal udah izin, jangan lupa kabarin gue lagi!" ucap Yasmin.


📞"Oke oke, yaudah gue tutup dulu ya? Bye!" ucap Shella.


📞"Iyaaa..."


Tuuutttt...


Shella pun menutup telponnya, ia terlihat sangat gembira karena sudah lama tak berkumpul bersama teman-temannya itu. Namun, ia khawatir jika Devano alias suaminya itu tak mengizinkan ia pergi.


"Mas Vano bakal kasih izin gak, ya?" gumamnya.


...•••...


TOK TOK TOK...


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya ada juga yang mengetuk pintu rumah itu dan datang kesana. Nadya pun tampak senang karena mengira yang datang adalah Yoga, ia langsung bangkit lalu pamit pada ibunya untuk pergi menemui Yoga di depan.


"Bu, aku pergi dulu ya? Assalamualaikum," ucap Nadya mencium punggung tangan ibunya.


Setelahnya, Nadya pun bergegas keluar menemui Yoga di depan rumahnya. Nadya memang sudah tidak sabar untuk pergi dari sana, ia tak kuat lagi menghadapi tatapan mesum Damar kepadanya yang membuatnya takut serta cemas jika berduaan dengan Damar di rumah.


Sementara Jenar juga bangkit lalu menyusul putrinya ke depan pintu, Jenar rupanya ingin berbicara sejenak pada Yoga yang akan menjadi calon menantunya nanti. Jenar meninggalkan Damar ponakannya itu sendirian di sofa, karena ia ingin bertemu dengan pacar putrinya di depan.


Damar pun tak masalah dengan itu, justru ia tersenyum dan menyandarkan tubuhnya di sofa sembari mendongak menatap langit-langit rumah.


"Hahaha, sekarang kamu boleh pergi sama pacar kamu, Sheila. Tapi, beberapa hari lagi pasti kamu akan pergi sama aku ke KUA dan kita berdua bakal menikah lalu menjadi suami-istri." gumamnya.


Ceklek...


Nadya membuka pintu sambil tersenyum, matanya bersinar saat melihat sosok pria yang berdiri di depan itu memang benar Yoga sesuai dugaannya tadi saat di dalam. Nadya pun langsung maju mendekati Yoga dengan perlahan dan dua tangan terlipat di bagian depan tubuhnya.


Sementara Yoga yang berdiri disana, tampak terpukau melihat kecantikan pacar barunya itu. Yoga merasa kalau ia tengah melihat seorang bidadari di depannya, mungkin matanya memang perlu diberi pengobatan karena sudah hampir rusak. Yoga pun juga maju mendekati Nadya lalu tersenyum sembari meraih tangan Nadya dan menggenggamnya.


"Hai, Nadya!" ucap Yoga tersenyum.


"Hai juga, Yoga!" ucap Nadya mendongak sedikit menatap wajah pria yang tingginya lebih darinya.


Disaat mereka tengah asyik bertatapan sambil saling tersenyum, tiba-tiba saja Jenar muncul merusak suasana dan membuat momen keduanya itu buyar seketika karena suara Jenar itu.


"Hadeh, kalian ini udah pacaran tapi kok manggilnya masih nama sih? Ayo dong, yang romantis dikit! Misalnya kalian sama-sama panggil sayang, atau beb atau honey kayak Devano ke Shella. Jangan malah panggil nama masing-masing, dimana romantisnya coba?" ujar Jenar.


"Ih ibu! Kenapa sih ngagetin kita? Aku pikir ibu gak bakal keluar loh!" ucap Nadya.


"Hehe, ibu kepo aja sama kalian berdua. Makanya ibu keluar biar gak kepo, eh ternyata kalian masih aja manggil nama masing-masing." ucap Jenar.


"Ya emang kenapa, Bu?" tanya Nadya heran.


"Aduh, sayang! Kalian kan sekarang udah pacaran, harusnya kalian panggil sayang kek atau apa gitu yang romantis dikit! Emang kalian gak ada panggilan lain apa gitu, selain nama kalian?" ucap Jenar.


"Ish, ibu ini yang begitu aja pake diributin!" ucap Nadya cemberut.

__ADS_1


"Ya itu kan juga penting, sayang! Supaya menambah keromantisan kalian berdua!" ucap Jenar.


"Iya iya, ibu! Nanti aku sama Yoga bakal pikirin kok, sekarang udah aku sama Yoga mau pamit pergi dulu sebentar!" ucap Nadya.


"Yaudah, kalian hati-hati ya!" ucap Jenar.


"Iya tante, kita pamit ya?" ucap Yoga mendekati Jenar lalu mencium tangannya.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsallam..."


Nadya dan Yoga pun pergi setelah berpamitan pada Jenar, mereka bergandengan tangan berjalan menuju mobil Yoga yang ada di depan gang.




Kini Nadya serta Yoga sudah berada di mobil dalam perjalanan mencari Lestari, ya Nadya masih penasaran dan ingin tau kemana sebenarnya mama angkatnya itu pergi, karena hingga kini tak ada kabar yang bisa mereka dapatkan mengenai perginya Lestari itu.


"Nadya, kayaknya bener juga deh kata ibu kamu tadi." ucap Yoga mengajak bicara kekasihnya sembari melirik ke samping sekilas.


"Hah? Kata-kata ibu yang mana?" tanya Nadya sambil menoleh penasaran.


"Itu loh, soal panggilan kita. Menurut aku sih bener yang dibilang ibu kamu, sekarang kan kita udah resmi pacaran dan bukan cuma teman kayak sebelumnya. Jadi, harus ada panggilan baru dong buat kita berdua supaya romantis!" jawab Yoga.


Nadya tampak tersenyum malu mendengar perkataan Yoga.


"Emang kamu mau panggilan apa?" tanya Nadya.


"Ya yang mencerminkan kita ini udah pacaran, bukan cuma panggilan nama biasa kayak sekarang. Tadi kan ibu kamu juga udah kasih contoh, mungkin kita bisa pake salah satunya." ucap Yoga.


"Umm, maksud kamu kita pake sayang-sayangan gitu?" ucap Nadya bertanya pada Yoga.


"Ahaha, ya terserah kamu kalau maunya pake itu. Aku sih setuju banget, soalnya dari dulu juga aku maunya panggil kamu pake kata sayang. Cuma baru kesampaian sekarang aja, itu juga beruntung banget aku bisa diterima sama kamu." ucap Yoga.


"Bisa aja kamu! Yaudah, mulai sekarang aku panggil kamu pake tambahan kata sayang. Jadi Yoga sayang, gimana?" ucap Nadya tersenyum.


"Boleh, kalau aku panggil kamu nayang." ucap Yoga sembari mencolek pipi Nadya.


"Hah? Nayang apaan sih?" tanya Nadya terheran-heran dengan nama panggilan yang digunakan oleh Yoga untuknya.


"Iya, Nadya sayang." jawab Yoga.


"Ohh, ih dasar kamu bisa aja!" ujar Nadya tersipu malu dan langsung mencubit pinggang Yoga dengan pelan karena rasa malunya itu, perasaan Nadya kali ini sedang berbunga-bunga karena dapat jalan bersama kekasih barunya.


Ciitttt....


Tiba-tiba saja sebuah mobil sedan warna putih mencegat mobil mereka, sehingga Yoga terpaksa menginjak rem secara mendadak. Hampir saja keduanya itu terpentok ke depan akibat tindakan itu, untungnya mereka masih selamat tanpa luka walau jantung mereka tentunya tidak baik-baik saja.


"Nayang, kamu gapapa kan?" tanya Yoga mencemaskan kondisi gadisnya.


"Iya, aku baik-baik aja kok. Kamu juga gapapa kan?" ucap Nadya yang juga cemas pada Yoga.


"Tenang aja! Aku baik kok, maaf ya karena aku tadi ngerem mendadak. Soalnya mobil itu tiba-tiba nyalip terus berhenti gitu aja di depan kita, kan aku jadi kaget." ucap Yoga meminta maaf.


"Kamu gak perlu minta maaf, bukan salah kamu kok!" ucap Nadya tersenyum.


"Yaudah, syukur deh kalau kamu gapapa." ucap Yoga.


"Tapi, itu mobil siapa ya dan dia mau apa? Kenapa dia sampai cegat mobil kamu kayak gitu? Untung aja kamu cekatan dan gak nabrak mobil itu!" ucap Nadya penasaran.


"Entahlah..." ujar Yoga.


Mereka berdua kompak menatap lurus ke depan saat pemilik mobil di depan itu turun dari mobilnya, mata keduanya dibuat terbelalak saat menyadari kalau pemilik mobil itu adalah orang yang mereka kenal selama ini.


"Itu kan..."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2