Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Riza tertangkap


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 149


...•...


...•...


Rupanya perkataan Devano tadi didengar oleh seorang pria yang menelpon anak buahnya tadi, ya memang saat itu ia masih belum menutup telponnya sehingga bisa mendengar jelas suara Devano yang seperti menantang dirinya.


Langsung saja pria itu mengamuk dan membuang semua benda-benda yang ada di atas meja kerjanya ke bawah sambil berteriak-teriak tidak jelas.


"Arrgghhh.... darimana Devano bisa tau semuanya? Padahal gue udah buat berkas-berkas itu seperti asli, kenapa dia bisa tau kalau itu semua berkas palsu?" ujarnya berteriak kencang dan bahkan sampai memukul mejanya itu berulang kali.


Pria itu pun terdiam sejenak sambil menggigit jarinya seraya memikirkan cara selanjutnya yang harus ia lakukan untuk menghancurkan Devano.


"Gua harus gimana lagi sekarang? Semua rencana yang udah gua susun gagal, kalau pak Rafi sampai tau bisa habis gua! Ternyata Devano gak sebodoh yang gue kira, bahkan mungkin dia lebih pintar dari gue..." ujarnya kemudian kembali berteriak dan menjambak rambutnya sendiri.


"Aarrrgghhh....!!! Pokoknya gimanapun juga Devano harus hancur sehancur-hancurnya, dengan begitu Shella juga pasti bakal ikutan terluka dan menderita seperti apa yang gua rasakan dulu setelah dia hanya menganggap gue sebagai temannya!" ujarnya.


Pria itu pun mengambil ponselnya kembali, tiba-tiba ia teringat pada Vanya seorang wanita yang disarankan oleh Rafi kepadanya untuk membuat Devano hancur dan akhirnya berpisah dengan Shella.


"Ya gua baru ingat kalau gua masih punya satu senjata andalan lagi yang bisa gua pake, gue harus datengin rumah Vanya sekarang!" ucapnya seraya memakai jas miliknya dan pergi dari sebuah ruangan itu.




Sementara itu, ketiga pria yang telah menipu Devano masih terkejut karena kedatangan Devano yang secara tiba-tiba mengagetkan mereka.


"Sudah saya duga, kalian ini memang orang suruhan yang ingin menghancurkan perusahaan saya! Haha tapi sayangnya rencana orang itu terlalu bodoh, mudah sekali untuk diketahui oleh saya...!!" ujar Devano.


"Heh, lu jangan sombong dulu! Karena bos kita juga gak sebodoh yang lu kira, dia bisa bikin rencana lainnya yang lebih hebat dan lu bakalan kehilangan segalanya Devano!" ujar si plontos sambil menunjuk ke wajah Devano.

__ADS_1


"Oh ya? Berapa persen keyakinan kalian pada bos kalian itu kalau dia bisa menghancurkan saya? Kalau memang dia tidak sebodoh yang saya kira, mungkin dia gak akan buat rencana seperti ini...." ujar Devano tersenyum.


"Sekarang lu masih bisa bicara seperti itu Devano, tapi nanti kita jamin lu bakal menangis dan meminta ampun di telapak kaki bos kita!" ujar si kumis berteriak.


Devano malah tersenyum dengan wajah seperti menantang ketiga pria itu, tentu saja raut wajah Devano membuat mereka bertiga jengkel.


"Sebelum itu terjadi, kalian bakal lebih dulu masuk penjara dan bos kalian itu juga akan menyusul kalian masuk kesana..!! Ayo ikut saya ke kantor polisi sekarang untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian!" ujar Devano berbicara santai sambil tersenyum.


"Hahaha, lu kira semudah itu masukin kita ke penjara? Coba aja kalo lu emang kuat, ayo lawan kita sekarang..!!" ujar si plontos menantang Devano untuk bertarung.


Sontak Devano mengendorkan dasinya dan melepas jas yang ia kenakan lalu melipat lengan panjang kemejanya sampai ke siku.


"Sebenarnya saya tidak mau melakukan kekerasan seperti ini, tapi kalau memang itu yang kalian mau yasudah saya terpaksa ladeni!" ujar Devano lalu mengambil ancang-ancang untuk menerima serangan dari ketiga pria besar di depannya.


"Hiyaaaa...." teriak si plontos yang maju lebih dulu melayangkan tendangan dan pukulan ke arah Devano dengan sangat cepat hingga Devano cukup kesulitan menahannya.


Tak mau tinggal diam, kedua temannya yang lain yakni si kumis dan si jabrik ikut menyerang Devano sehingga pria itu harus melawan 3 orang pria bertubuh besar sekaligus.


Dengan keahliannya Devano berhasil melumpuhkan si jabrik dengan mudah sampai tubuhnya tergeletak di jalan, namun untuk bisa melawan si plontos dan si kumis sangatlah sulit karena kekuatan mereka tak sebanding dengannya.


Akhirnya Devano terkena tendangan dari si kumis tepat di bagian dadanya, membuat ia merasakan sedikit sesak dan langsung memegangi dadanya.


Tak cukup dengan itu, si plontos memanfaatkan kelengahan Devano lalu melayangkan pukulan ke bagian kiri wajah Devano hingga pria itu terjatuh.


Si kumis dan juga si jabrik mendekati Devano dan memukulinya hingga tak berdaya, beruntung tak lama security datang dan membuat ketiga pria itu kabur.


Namun naasnya, Devano sudah babak belur tepatnya di bagian wajah karena pukulan bertubi-tubi dari tiga pria tersebut.


...•••...


Riza menghentikan mobilnya di depan rumah Vanya yang terlihat sepi, ia pun turun dan segera menghampiri rumah itu sambil membawa sebungkus seblak untuk Vanya.


TOK TOK TOK....


"Permisi, Vanya ini saya Riza teman kakak kamu yang kemarin juga sempat kesini!" ucap Riza sambil mengetuk pintu rumah Vanya.


"Iya sebentar...." teriak seorang wanita dari dalam yang tak lain adalah Vanya sendiri.


Ceklek... pintu pun terbuka memperlihatkan seorang gadis cantik dengan kaos hitam berlengan pendek dan rok selutut berwarna abu-abu tengah tersenyum ke arah Riza.

__ADS_1


"Masuk dulu yuk!" ucap Vanya lalu melebarkan pintu dan mempersilahkan Riza masuk ke dalam.


"Terimakasih," ucap Riza tersenyum melepas sepatunya kemudian melangkahkan kakinya ke dalam rumah Vanya tanpa ragu.


Vanya pun menutup kembali pintunya dan mengikuti Riza dari belakang, ia mengajak pria itu menuju ruang tamunya.


"Silahkan duduk dulu..." ucap Vanya tersenyum sambil menunjuk ke arah sofa.


"Iya," ucap Riza tersenyum lalu berjalan menuju sofa, ia pun duduk disana dengan santai dan meletakkan bungkus seblak yang ia bawa di atas meja.


"Oh ya ini ada seblak buat kamu, makan ya!" ucap Riza memberikan bungkus seblak itu pada Vanya.


"Eh makasih loh pake repot-repot bawain makanan segala, yaudah sebentar ya aku ke dapur dulu mau tuang seblak nya ke mangkuk terus sekalian bikin minuman buat kamu!" ucap Vanya mengambil bungkus itu lalu membawanya ke dapur.


Riza tersenyum memandangi tubuh Vanya yang terlihat sangat indah dan seksi ketika dilihat dari belakang seperti itu, ia juga menggunakan tangannya sebagai sandaran di sofa itu.


"Kali ini rencana gue gak boleh gagal lagi! Vanya harus mau nurut sama gue dan lakuin apa yang gue minta...!!" gumam Riza.


Tak lama kemudian, gadis itu kembali dengan membawa nampan berisi mangkuk dan 2 gelas minuman di tangannya sambil tersenyum.


Riza pun membalas senyuman gadis itu, namun tiba-tiba wajahnya berubah saat melihat seorang pria yang juga berjalan di belakang Vanya sambil tersenyum-senyum.


Sontak Riza kaget dan langsung bangkit dari duduknya dengan wajah penasaran.


"Hey, siapa anda? Kenapa anda bisa ada di rumah Vanya??" tanya Riza sambil menunjuk ke arah pria tersebut.


"Ohh dia teman aku kok namanya Rafael, udah gausah cemas begitu..." ucap Vanya.


"Bukannya begitu Vanya, tapi kamu seharusnya gak biarin laki-laki asing masuk ke rumah kamu seperti ini! Kalau dia punya niat jahat ke kamu gimana?" ujar Riza lalu berdiri melindungi Vanya bak superhero.


"Anda tidak perlu cemas pak Riza, karena saya disini tidak hanya berdua dengan Vanya! Silahkan tunjukkan diri anda pak..!!" ucap pria itu lalu menoleh ke arah dapur, sontak Riza juga mengarahkan pandangan kesana sedangkan Vanya hanya senyum-senyum puas.


Keluarlah 3 orang polisi dari arah dapur sana dan langsung mengacungkan pistol ke arah Riza, membuat pria itu terkejut sekaligus marah karena merasa dijebak.


"JANGAN BERGERAK..!!" teriak polisi itu.


"ANGKAT TANGAN ANDA....!!!" sambungnya sambil terus mengarahkan pistol ke arah Riza.


Riza pun pasrah dan mengangkat tangannya karena tak mau tertembak, namun ia masih memasang wajah kebingungan saat itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2