Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Mau ketemu Adrian


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 286


...•...


...•...


"Bu, aku boleh tanya lagi gak sama ibu?" ucap Nadya secara tiba-tiba bertanya seperti itu saat tengah berada di meja makan bersama ibunya.


Jenar yang sedang mengunyah makanan pun langsung cepat menelannya lalu menatap wajah putrinya yang kini juga memandanginya, ya Nadya menantikan jawaban dari sang ibu yang masih kebingungan menerka kira-kira apa pertanyaan yang akan dilontarkan Nadya padanya.


"Ya boleh, mau tanya apa sayang?" ucap Jenar sembari meminum segelas air.


"Oke, aku cuma mau tanya kira-kira ibu tahu gak dimana Adrian sekarang? Kan ibu waktu itu bilang sama aku, kalau Adrian lah yang ngomong sama aku pas aku koma.... nah sekarang aku mau ketemu sama dia dong, Bu!" ucap Nadya.


"Uhuk, uhuk, uhuk..."


"Bu, ibu kenapa...??" tanya Nadya panik.


Ya Jenar mendadak tersedak saat mendengar perkataan Nadya yang ingin bertemu dengan Adrian, ia terkejut sekali karena putrinya malah mengatakan itu disaat sebenarnya Adrian adalah seorang pria jahat yang sekarang tengah berada dalam penjara.


"Ibu gapapa kok, sayang! Ibu cuma kaget aja sama pertanyaan kamu barusan..." jawab Jenar.


"Loh, kenapa ibu sampe kaget begitu? Emang ada yang salah sama pertanyaan aku, Bu?" tanya Nadya benar-benar penasaran plus terheran-heran.


"Ya gak ada sih, cuma ibu bingung aja mau jawab apa sayang...." ucap Jenar.


Nadya pun semakin penasaran mengapa ibunya sampai kaget sebegitunya bahkan hingga tersedak air putih yang tengah diminumnya, sedangkan Jenar garuk-garuk kepala bingung memikirkan harus menjawab apa pada putrinya.


"Kalo ibu gak mau jawab juga gapapa kok, aku nanti bakal cari tahu sendiri siapa itu Adrian dan dimana dia sekarang!" ucap Nadya tersenyum santai.


Nadya langsung melupakan semua ketegangan itu dan lanjut menikmati makanan yang ada di piringnya, sedangkan Jenar masih terheran-heran mengapa Nadya sampai segitunya menanyakan tentang keberadaan Adrian si narapidana.


Tulalit tulalit... (suara hp bunyi)

__ADS_1


Tak lama kemudian, ponsel milik Jenar berdering membuat ia menghentikan sejenak aktivitas makan siangnya untuk mengangkat telepon tersebut yang ia belum tahu siapakah yang menelponnya disaat ia tengah makan begini.


"Sebentar ya, sayang! Ibu mau cek siapa yang telpon, kamu lanjut aja makannya!" ucap Jenar.


"Iya Bu,"


Jenar pun bangkit dari duduknya lalu pergi ke arah depan mengambil ponselnya, sedangkan Nadya tampak tenang saja di meja makan namun terus memikirkan apa penyebab ibunya sampai kaget begitu saat ia menanyakan soal Adrian.


"Ibu kenapa, ya? Emangnya apa salahnya sih kalo aku pengen ketemu sama Adrian?" batin Nadya.


Sementara itu, Jenar tampak gembira melihat nama Shella di layar ponselnya karena sudah lumayan lama ia tak mendengar suara putri satunya itu sejak terakhir kali mereka bertemu yakni kemarin saat pemakaman Laila.


📞"Halo, sayang! Kenapa nih??" ucap Jenar.


📞"Halo Bu, ini aku cuma mau tanya aja soal kabar Sheila... kondisinya sekarang gimana ya, Bu? Sebelumnya maaf juga, aku gak bisa jenguk dia sekarang!" ucap Shella.


📞"Iya sayang gapapa, lagian adik kamu Sheila juga udah pulang ke rumah kok! Sekarang dia lagi makan siang sama ibu, kamu sendiri gimana kondisinya sekarang sayang?" ucap Jenar.


📞"Syukur Alhamdulillah deh, Bu! Aku juga baik-baik aja kok Bu, tapi masih agak gak nyangka aja sama kepergian Laila yang mendadak ini..." ucap Shella.


TOK TOK TOK....


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Jenar penasaran dan terpaksa mengatakan pada Shella kalau ia harus membuka pintu lebih dulu.


📞"Ohh, iya siap Bu!" ucap Shella.


Jenar pun langsung bergerak menuju pintu depan untuk mengetahui siapakah yang datang bertamu ke rumahnya di tengah hari bolong begini.


Ceklek...


Tanpa berlama-lama lagi, Jenar membuka pintu lalu tampak syok saat melihat sosok pria bertubuh kekar dengan jaket hitam berdiri di depan sana sembari memegang bunga mawar putih di tangannya.


"Kamu lagi..."




Sesudah menghubungi ibunya, kini Shella pun tampak lebih tenang karena sudah mengetahui kondisi adiknya yang telah pulang ke rumah dan sedikit membaik.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dan Devano sang suami masuk ke dalam lalu menghampiri Shella yang tengah terduduk di pinggir ranjang dengan daster menutupi tubuhnya, Shella tampak tersenyum melihat suaminya datang begitupun dengan Devano yang membalas senyuman sang istri.


"Makin cerah aja wajah kamu, honey!" ucap Devano mendekati Shella sembari mengusap kepala istrinya lalu duduk di sampingnya.


"Aku kan abis cuci muka, mas! Oh ya, gimana kabar perusahaan kamu sekarang?" ucap Shella.


"Baik-baik aja kok, tapi tumben kamu nanyain tentang perusahaan aku.... ada apa emangnya, honey?" ucap Devano penasaran.


Shella tersenyum dengan bibir mengatup, ia tidak jadi hendak mengatakan tentang hubungan suaminya dan sang sekretaris alias Novi karena ia masih menghargai perasaan Devano yang tengah dirundung duka akibat kepergian Laila.


"Gak ada kok, mas! Aku cuma mau nanya aja, pengen tahu gitu usaha suami aku!" jawab Shella.


"Ohh, yaudah kamu siap-siap gih!" ucap Devano sembari mengusap wajah sang istri.


"Hah? Siap-siap ngapain, mas?" tanya Shella heran.


"Siap-siap mau aku makan...." jawab Devano dengan senyum mesum di wajahnya.


"Ish, kamu mah!"


"Hahaha, ya gak lah honey! Aku mau ajak kamu makan siang di luar, siap-siap gih!" ucap Devano.


"Ngapain pake keluar segala sih, mas? Udah lah kita makan di rumah aja!" ucap Shella menolak.


Devano menghela nafas lalu menggeser tubuhnya mengikis jarak dengan sang istri sambil mencengkram dagu Shella, ia memajukan wajahnya membuat Shella gemetar dan jantungnya berdegup kencang apalagi saat hembusan nafas suaminya terasa jelas pada bagian wajahnya.


"Aku kan mau nyenengin kamu, sekalian hibur kamu supaya gak sedih lagi! Mau ya, honey?" ucap Devano tersenyum manis.


Shella yang gugup dan gemetar akhirnya manggut-manggut saja, ia tak berdaya ketika ditatap seperti itu oleh suaminya dalam jarak yang sangat dekat apalagi Devano juga memberikan senyum manisnya membuat Shella makin meleleh.


"Jadi mau nih?" tanya Devano memastikan.


"Iya, mas! Aku nurut aja apa kata suami, yang penting itu benar dan baik.... lagian kan juga bagus kalo aku ikut sama kamu, supaya kamu gak sedih dan keinget Laila lagi!" jawab Shella tersenyum.


Cupp...


"Makasih, honey! Kamu emang istri yang baik dan penurut, ya walau kadang jengkelin sih..." ucap Devano dengan sedikit mendesahh.


Detak jantung Shella makin tak karuan saat Devano mengecup bibirnya sekilas lalu mencolek dagunya dengan lembut, ia merasa seperti terbang ke langit dan seketika amarahnya pada sang suami menghilang berubah menjadi kebahagiaan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2