
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 190
...•...
...•...
Laila sampai di kampusnya saat ini, ia masih harus menunggu sekitar 20 menit sebelum kelasnya dimulai sehingga ia masih bisa menemui sahabat-sahabatnya.
Benar saja sesuai dugaannya, Yasmin serta Zara berada di kantin dan sedang menikmati roti bakar disana sambil main sosmed.
"Hoi!" ujar Laila saat mendekati dua sahabatnya itu sambil sedikit menggebrak meja.
"Duh ya ampun Laila, lu itu kerjaannya ngagetin kita melulu sih gak bosen apa? Kita aja udah bosen loh dikagetin mulu sama lu La," ucap Yasmin mengelus dadanya karena kaget.
"Hehehe, sorry abisnya seru sih ngagetin kalian yang kalo lagi main hp tuh serius banget!" ujar Laila sambil nyengir lalu duduk di kursi yang kosong dan meletakkan tasnya di atas meja.
"Yeh emang dasar sahabat laknat lu! Lagian lu ngapain jam segini udah dateng sih, bukannya kelas lu mulainya masih lama?" ujar Zara.
"Biarin lah suka suka gue dong mau dateng jam berapa kan gak ada larangannya, justru datang lebih awal itu lebih bagus Zara! Kalian sendiri ngapain pada disini, emang kelas kalian udah pada selesai apa??" ujar Laila.
"Udah dong La, eh sebenarnya belum sih soalnya tadi dosennya gak jadi ngajar ada urusan keluarga katanya..." ucap Yasmin nyengir.
"Yeh dasar Maimunah! Eh btw itu roti bakar kayaknya enak banget dah, bagi dong gue ngiler nih ngeliatnya..." ucap Laila yang terus memandangi roti bakar di piring itu.
"Ohh lu mau? Nih ambil aja gausah malu-malu!" ujar Zara menyodorkan piring berisi roti bakar itu ke hadapan Laila.
"Wah makasih tumben nih baik," ucap Laila merasa senang lalu hendak mengambil roti bakar tersebut dari piringnya.
Namun, disaat tangannya itu berada di atas piring secara tiba-tiba Zara menarik kembali piring itu menjauh dari Laila.
"Beli sendiri...." ujar Zara tertawa terbahak-bahak lalu menjulurkan lidahnya.
Yasmin pun ikut tertawa karena kelakuan Zara yang cukup jahil kepada Laila, sementara Laila tentunya cemberut karena telah dibohongi oleh sahabatnya itu.
"Ish kurang ajar lu ya, berani banget ngerjain gue kayak gini! Dasar pelit lu!" ujar Laila kesal.
__ADS_1
"Ahaha jangan marah dong La, kan gue cuma bercanda jangan baper lah!" ucap Zara masih terus saja tertawa.
Laila hanya diam cemberut tidak mau menatap wajah Zara karena kesal, melihat Laila begitu justru Zara & Yasmin makin menjadi-jadi tertawa keras meledeknya.
"Ish bisa berhenti gak ketawanya? Ngeselin banget sih kalian!" ujar Laila tampak geram.
"Ahaha iya iya Laila, yaudah jangan cemberut gitu dong salam damai hehe..." ucap Zara.
"Hilih salam damai pala lu meleduk! Dah ah gue mau pergi aja daripada disini makin emosi bisa-bisa gue darah tinggi nanti!" ujar Laila lalu berdiri dan mengambil tasnya kembali hendak pergi dari sana.
"Eh eh jangan pergi dong Laila, masa gitu aja marah sih lu? Iya iya deh gue minta maaf, nih kalo lu mau roti bakar nya ambil aja beneran kok kali ini jangan marah ya!" ucap Zara mencegah Laila pergi.
"Gue gak marah Zara, gue emang mau pergi aja nyari Sadam siapa tau dia udah dateng! Yaudah gue pergi dulu ya, bye!" ucap Laila melambaikan tangan lalu pergi dari sana.
Yasmin & Zara pun terus memandangi Laila hingga punggung gadis itu tak lagi terlihat oleh sepasang mata mereka.
...•••...
Disisi lain, Shella juga telah sampai di rumah sakit untuk menjenguk Nadya sekaligus menemui ibunya yang berada disana.
Benar saja ketika ia sampai di depan ruang ICU, terlihat ibunya sudah berada disana bersama dengan mama angkat Nadya serta bi Irah.
"Assalamualaikum... bu, tante!" ucap Shella memberi salam saat menghampiri ketiga wanita tua yang sedang duduk disana itu.
"Iya bu, kan aku mau tau kondisi Sheila juga! Oh ya gimana sekarang kondisi Sheila bu?" ucap Shella mencium punggung tangan ibunya serta mama angkat Nadya lalu duduk di samping Jenar.
"Masih sama nak, Sheila masih belum bisa sadarkan diri... entah kapan dia bisa bangun dan pulih seperti sedia kala, padahal ibu sudah kangen sekali dengan Sheila!" jawab Jenar.
"Sabar ya bu, aku yakin Sheila sebentar lagi bisa sadar kok bu!" ucap Shella menenangkan ibunya dengan merangkul pundak Jenar.
Tampak mama Nadya ikut merasa terharu melihat keharmonisan ibu dan anak itu, tanpa sadar ia meneteskan air mata mengingat momen kebersamaan dirinya dengan Nadya saat-saat dulu sebelum kecelakaan.
Shella pun juga melihat mama Nadya yang sedang menangis, ia melepas rangkulannya dari sang ibu lalu menghampiri mama Nadya.
"Tante, yang sabar ya jangan nangis! Nadya pasti bisa sadar kok tante, aku yakin itu cepat atau lambat Nadya pasti bisa ada disini lagi temenin tante seperti dulu..." ucap Shella.
"Terimakasih ya nak Shella, padahal kita baru kenal belum lama tapi kamu selalu bisa bikin tante merasa tenang!" ucap mama Nadya.
"Iya sama-sama tante, aku cuma mau bantu tante aja kok supaya tante bisa tenang! Kita sama sama doain buat kesembuhan Nadya ya!" ucap Shella tersenyum.
Akhirnya mereka bertiga saling berpelukan meluapkan kesedihan masing-masing, tampak mata Shella berkaca-kaca mendoakan kesembuhan Nadya agar kedua ibu-ibu itu bisa tenang seperti sedia kala.
...•••...
__ADS_1
Sementara itu, Rafael mengantar kembali Vanya ke rumahnya setelah mereka berdua selesai berbelanja di mall.
Cukup lama memang mereka berdua berada di mall, bahkan sampai kaki Rafael terasa pegal-pegal akibat menunggu gadis itu selesai memilih belanjaannya.
"Makasih ya Fael, kamu udah mau temenin aku belanja terus anterin aku lagi pulang!" ucap Vanya berterima kasih pada Rafael sambil tersenyum.
"Sama-sama cantik, oh ya ini barang belanjaan kamu saya bawakan aja sekalian ke dalam ya jadi kamu gak perlu repot-repot bawanya soalnya ini lumayan berat..." ucap Rafael.
"Eee iya deh makasih ya, yaudah ayo kita masuk!" ucap Vanya membuka pintunya lalu mengajak Rafael masuk ke dalam rumahnya.
Saat di dalam, Rafael langsung meletakkan barang-barang belanjaan Vanya di atas meja makan dekat dapur sesuai perintah gadis itu.
"Makasih ya Fael, kamu mau dibuatin minum apa?" ucap Vanya menawarkan minuman untuk pria yang telah mengantarnya itu.
"Apa aja boleh kok, yang penting gak ngerepotin kamu!" ucap Rafael tersenyum.
"Yaudah kamu duduk dulu sembari nunggu aku bikinin minuman..." ucap Vanya menyuruh Rafael duduk disana.
Rafael pun mengangguk lalu menarik kursi dan duduk disana, sementara Vanya langsung mengambil gelas kemudian berjalan ke arah kulkas untuk membuatkan minuman.
Tak lama kemudian, gadis itu kembali kesana membawa dua gelas sirup lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini minumannya, maaf ya cuma ini yang ada!" ucap Vanya.
"Ya gapapa Vanya, ini juga udah lumayan kok daripada cuma air putih..." ujar Rafael nyengir.
Vanya pun ikut tersenyum lalu duduk di hadapan Rafael, mereka berdua meminum sirup itu cukup lahap karena memang merasa sangat haus setelah berbelanja di mall.
"Seger banget loh, apalagi minumnya sambil ngeliatin senyum kamu!" ujar Rafael tersenyum dan terlihat gelasnya sudah kosong.
"Bisa aja kamu, oh ya mau nambah gak? Kali aja kamu masih haus kan..." ucap Vanya.
"Oh gausah udah cukup kok, tapi aku numpang ngaso dulu ya beberapa menit soalnya masih capek nih!" ujar Rafael menyandarkan tubuhnya.
"Iya boleh kok," ucap Vanya tersenyum.
Rafael terus memandangi wajah Vanya yang terlihat sangat cantik itu saat sedang menenggak minumannya.
"Bekerja dengan pak Devano ternyata menguntungkan sekali ya, saya jadi bisa bertemu gadis secantik Vanya..." gumamnya.
Merasa dirinya terus dipandangi oleh Rafael, Vanya pun tersipu dan wajahnya sedikit memerah akibat itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...