Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Berendam


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 382


...•...


...•...


"Sayang, sekarang kamu tenang dulu ya! Kamu ceritain aja pelan-pelan ke ibu, ada apa nak?" ucap Jenar bertanya pada Nadya.


Ya saat ini Jenar sudah membawa Nadya putrinya tersebut untuk duduk di sofa ruang tamunya, Jenar juga membuatkan teh hangat yang baru saja diminum oleh Nadya untuk menenangkan diri. Jenar memang sangat bingung dan cemas juga begitu melihat Nadya menangis saat di luar tadi, terlebih Nadya bersama Adrian pria yang dibencinya itu.


Adrian saat ini juga masih berada disana bersama Nadya juga Jenar, ia sengaja ikut masuk dan duduk menerima tawaran dari Jenar untuk memastikan bahwa kondisi Nadya baik-baik saja. Adrian pun meminum teh yang dibuatkan Jenar itu sembari menunggu Nadya berhenti menangis, kebetulan juga ia memang sedang haus sejak tadi.


Sementara Nadya sendiri masih belum bisa tenang dan menceritakan semua pada Jenar, ia hanya mampu menangis mengeluarkan air mata meluapkan semua kesedihannya. Nadya tak menyangka jika Yoga alias pacarnya itu bisa masuk ke dalam jurang dan hingga kini tubuhnya belum ditemukan, Nadya pun sangat sedih akan hal itu.


"Sheila sayang, kamu udah dong jangan nangis terus! Ibu jadi makin khawatir dan penasaran loh, ibu juga bingung gimana cara buat tenangin kamu kalau kamu gak cerita sama ibu!" ucap Jenar.


Nadya pun menoleh dan menatap wajah ibunya sembari menangis sesenggukan.


"Hiks hiks, iya Bu. Maafin aku ya, karena aku udah bikin ibu khawatir begini! Aku cuma belum bisa tenang aja Bu, karena Yoga...." ucap Nadya menggantung setelah ia mengucap kata Yoga dan kembali menangis di pelukan ibunya.


"Sabar sayang, tenang ya! Nak Yoga kenapa?" ucap Jenar panik sembari mengusap punggung putrinya.


"Yoga, Yog-Yoga...."


"Meninggal? Iya kan?" potong seseorang yang muncul dari arah luar rumah.


Sontak Nadya serta Jenar dan Adrian yang ada disana langsung menoleh ke asal suara itu, ya tampak Damar ada disana berdiri di depan pintu sembari menatap ke arah mereka. Damar terlihat senyum-senyum saja tanpa ada rasa bersalah setelah mengatakan itu, bahkan ia dengan santainya melangkah masuk mendekati mereka bertiga.


"Damar! Kamu jaga ya kata-kata kamu!" ujar Nadya.


"Loh Sheila, kenapa? Emang salah ya yang barusan aku bilang itu? Bukannya bener kan, Yoga jatuh ke jurang barusan? Berarti juga bener dong dugaan aku tadi, Yoga itu meninggal." ucap Damar.


"Cukup Damar! Kamu udah keterlaluan sekarang, aku sama sekali gak suka sama apa yang baru saja kamu bilang itu!" bentak Nadya emosi.


Jenar sampai harus bangkit menenangkan Nadya yang mulai terbawa emosi akibat ulah Damar itu, ia pun memegang pundak Nadya untuk membuat gadis itu lebih tenang lagi saat ini. Biar bagaimanapun tak boleh terjadi keributan diantara dua saudara itu, karena Damar dan Nadya adalah sepupu yang seharusnya saling berbaikan bukan seperti ini.


"Sheila, sabar sayang!" ucap Jenar.


"Bu, dia itu udah keterlaluan!" ujar Nadya.


"Iya ibu tau, tapi kamu sabar dulu! Kita duduk lagi ya sayang?" ucap Jenar.


"Aku mau ke kamar, bu." ucap Nadya.


"Eee sayang, tapi—"


Ucapan Jenar terhenti lantaran Nadya langsung mengambil tasnya lalu pergi begitu saja, tampak sekali kalau Nadya sangat emosi saat ini dan ia benar-benar kesal pada perkataan Damar tadi. Tentu saja ia kesal karena Damar sudah mengatakan hal yang benar-benar diluar dugaan, itu juga membuat Jenar sangat emosi pada ponakannya tersebut.

__ADS_1


"Damar, kamu itu kenapa sih? Kok kamu bicara seperti itu di depan Sheila?" tanya Jenar.


"Loh kenapa sih tante? Aku salah apa? Yang aku bilang bener kok, polisi sendiri juga menduga kalau Yoga itu udah meninggal. Karena sampai sekarang tubuhnya belum ditemukan, apalagi jurang itu sangat dalam dan bahaya." ujar Damar.


"Ya tapi gak seharusnya kamu bicara seperti itu di depan Sheila, dia itu lagi sedih! Lagian belum tentu juga nak Yoga meninggal, kamu emang bener-bener kelewatan Damar!" ujar Jenar emosi.


"Yaudah lah, aku mau masuk kamar dulu!" ucap Damar dengan santainya lalu melangkah pergi.


Jenar pun tak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa membuat Damar itu merubah sikapnya, ia juga tak mengerti mengapa bisa Damar berkata seperti itu kepada Nadya tadi. Padahal yang ia tahu Damar itu anak yang sopan dan baik ketika pertama kali ia bertemu dengan pria tersebut, namun sekarang sikapnya justru berubah 180 derajat.


Adrian yang masih ada disana juga ikut berdiri dan menenangkan Jenar yang emosi, Adrian memang tak mengerti apa penyebab Damar sampai mengatakan itu tadi. Namun, ia paham betul bagaimana perasaan Nadya serta ibunya saat ini yang pasti sakit hati setelah Damar dengan santainya berkata seperti itu di depan Nadya serta Jenar.


"Tante, yang sabar ya!" ucap Adrian.


"Iya nak Rian. Tapi, apa benar kalau Yoga itu jatuh ke jurang?" tanya Jenar.


"Benar tante, itu sebabnya Sheila menangis tadi." jawab Adrian.


"Hah??"


Jenar sangat terkejut dan mulutnya menganga lebar begitu mendengar jawaban dari Adrian itu, ia tak menyangka kalau ternyata Yoga memang benar jatuh ke jurang. Ia berpikir pantas saja putrinya sedari tadi terus menangis dan bertambah kesal saat Damar berbicara seperti tadi, ia pun yakin kalau saat ini perasaan Nadya pasti sangat hancur.


"Kalo gitu, tante mau ke kamar Sheila dulu ya? Soalnya tante khawatir sama anak itu, tante takut dia ngelakuin sesuatu yang nekat. Gapapa kan nak Rian, tante tinggal sebentar?" ucap Jenar.


"Oh, gapapa kok tante. Sekalian saya juga mau pamit pulang aja sama tante, semoga Sheila bisa cepat pulih dan enggak sedih lagi!" ucap Adrian.


"Aamiin! Makasih ya nak Rian, udah anterin Sheila pulang ke rumah tadi! Ya walau sebenarnya tante masih bingung gimana caranya kamu bisa bebas dari penjara, tapi sekali lagi makasih karena kamu udah mau antar pulang Sheila!" ucap Jenar.


"Sama-sama, tante. Yaudah, kalo gitu saya permisi ya? Assalamualaikum," ucap Adrian pamit.


Adrian pun mencium punggung tangan Jenar lalu berbalik badan dan pergi keluar, ia hendak kembali ke lokasi tempat jatuhnya mobil Yoga untuk mengecek perkembangan yang ada disana. Biar bagaimanapun juga, Adrian sangat tidak tega melihat Nadya terus menangis bersedih seperti itu dan ia ingin turun langsung bergerak membantu tim SAR untuk mencari dan berusaha menemukan Yoga disana.


Sementara Jenar kini langsung bergerak menaiki tangga menuju kamar Nadya setelah ia menutup pintu rumahnya itu, Jenar sangat cemas dan panik pada kondisi putrinya itu. Terlebih Nadya saat ini sedang dalam keadaan kesal dan sedih karena Yoga yang belum ditemukan tubuhnya, Jenar hanya bisa berharap kalau semuanya akan baik-baik saja dan Nadya tidak melakukan hal-hal seperti itu disana.


...•••...


Disisi lain, Devano tengah coba berbicara pada Shella dan mengatakan kalau ia akan pergi ke kota selama satu hari besok untuk melakukan pertemuan dengan klien dari Korea. Devano memang sulit sebenarnya untuk meninggalkan istrinya disana, apalagi ia parno ketika Shella pernah diculik dua kali sebelumnya oleh Riza dan juga yang terakhir adalah Bimo.


Namun, memang saat ini mereka tengah berada di rumah paman Roky yang letaknya lumayan jauh dari kota serta tak ada siapapun musuh Devano yang ada di tempat tersebut, sehingga Devano bisa merasa aman dan tenang tanpa khawatir kalau istrinya akan diculik lagi seperti sebelumnya, terlebih disana juga ada mama papanya serta banyak orang yang bisa menjaga Shella selama Devano pergi besok.


"Jadi kamu mau pergi ke kota besok, mas?" tanya Shella memastikan setelah Devano menyelesaikan ucapannya barusan.


"Iya honey, aku ada meeting dengan klien dari Korea. Mereka gak mau ketemu sama Rafael dan harus melalui aku untuk bisa menjalin kerjasama ini, aku gak bisa kehilangan klien itu, honey." jawab Devano.


"Ohh, yaudah kalo gitu mas pergi aja! Biar aku disini sama mama dan papa," ucap Shella.


"Kamu yakin, honey?" tanya Devano ragu.


"Ya iyalah mas, aku yakin kok! Lagian kan katanya kamu gak mau kehilangan klien kamu itu, udah mending kamu berangkat aja ke kota terus temuin dia supaya perusahaan kamu juga makin berkembang pesat mas!" ucap Shella.


"Iya honey, tapi aku khawatir sama kamu dan calon anak kita yang ada di perut kamu!" ujar Devano


"Udah, kamu gak perlu khawatir mas! Kan disini ada mama sama papa, terus ada juga keluarga paman Roky yang bisa jagain aku." ucap Shella.


"Huft, yaudah deh gapapa. Tapi, kamu harus terus pegang handphone kamu ya!" ucap Devano.

__ADS_1


"Buat apa mas? Masa kalau aku lagi di kamar mandi atau ngobrol-ngobrol sama mama atau papa, aku harus tetap pegang hp?" tanya Shella yang makin heran dengan sikap suaminya.


"Honey, kamu nurut aja ya!" paksa Devano.


"Ish, yaudah iya aku nurut! Tapi, kamu juga tau diri dong jangan kirim pesan atau telpon tiap menit!" ucap Shella dengan wajah cemberut.


"Iya iya, kalo gitu sekarang aku mau siap-siap dulu buat berangkat besok. Sekalian aku juga mau nikmatin masa-masa kita berdua sekarang, sebelum besok aku harus pisah sama kamu." ucap Devano.


"Kamu lebay banget sih, mas! Kita cuma pisah satu hari loh, udah kayak setahun aja!" ujar Shella.


"Ya emang bener, bagi aku gak ketemu satu hari aja sama kamu itu rasanya seperti berabad-abad sayang! Makanya sekarang kita puaskan hari ini dengan bercinta, kamu pasti mau kan? Ya harus mau dong, kalo enggak nanti dosa karena nolak permintaan suaminya!" ucap Devano.


"Eee kamu yakin, mas? Ini kan di rumah paman Roky, kalau misal ada yang denger gimana?" tanya Shella tampak was-was.


"Gak akan kok! Kamu tenang aja ya, kita bisa main tanpa kedengaran kok!" ucap Devano.


Shella menelan saliva nya secara kasar saat Devano perlahan mulai mendekatinya, sampai akhirnya pria tersebut berhasil mencengkeram dua tangan Shella dan melumatt bibir mungil istrinya itu. Devano terus menekan tubuh Shella hingga terhimpit oleh lemari dan menaruh dua tangan Shella di atas kepalanya, Devano makin ganas melahap bibir istrinya.


Ya selanjutnya pun adegan panas yang menggairahkan itu terjadi lagi setelah sekian lama Devano menahan dirinya untuk tidak melakukan itu, kali ini ia memintanya lantaran besok ia harus berpisah satu hari dengan sang istri tercinta karena akan pergi ke Jakarta menemui klien Korea yang penting dan tak boleh kehilangan dirinya itu.




Singkat cerita, sepasang suami-istri itu telah menyelesaikan adegan ranjang yang panas di sore hari yang terik ini. Mereka masih rebahan di ranjang dengan Devano yang terus mengusap puncak kepala istrinya sembari mengecup kening Shella, ia merasa sangat puas dengan apa yang ia dapatkan hari ini dari istrinya itu walau Devano melakukan itu dengan lebih lembut dibanding saat-saat sebelumnya.


Shella sendiri juga masih ngos-ngosan akibat permainan yang ia habis lakukan bersama Devano, ia hanya bisa tersenyum menatap wajah Devano dan terus berusaha mengatur nafasnya. Mereka berdua masih bersembunyi dibalik selimut tebal untuk menutupi tubuh telanjang mereka, sampai akhirnya Devano pun menyibakkan selimut itu sehingga tubuh Shella terekspos cukup jelas di matanya.


"Mas, kamu apaan sih?" tanya Shella seraya menutupi bagian sensitif tubuhnya dengan tangan.


"Kita mandi honey, kan habis begituan." ucap Devano.


"Ya iya mandi, tapi sendiri-sendiri aja! Aku gak mau ya mandi berduaan sama kamu, nanti yang ada kamu malah minta lagi dan lagi!" ucap Shella.


"Hahaha, gak kok. Kita berendam di bathtub berdua, itu asyik loh sayang!" ujar Devano sambil nyengir.


"Ah gak mau! Kamu itu kan otaknya dipenuhi pikiran mesum mas, aku takut sama kamu! Apalagi kalau mandi berduaan sama kamu di bathtub, itu pasti bakal kamu jadiin kesempatan buat terus nganu sama aku!" ucap Shella.


"Ya ampun, kamu kok suudzon mulu sih sama suami kamu sendiri? Aku serius loh, aku udah puas tadi! Sekarang aku cuma mau ajak kamu mandi bareng, itu aja gak lebih!" ucap Devano.


"Yaudah aku percaya," ucap Shella.


"Nah gitu dong, yuk aku gendong sampe ke kamar mandi!" ujar Devano bangkit dari tidurnya.


Shella hanya manggut-manggut setuju sembari menatap wajah Devano yang ada di dekatnya, pria itu pun langsung saja mengangkat tubuh istrinya dan menggendong ala bridal style. Devano membawa Shella masuk ke dalam kamar mandi yang tersedia di dalam kamar tersebut, ya memang rumah paman Roky ini menyediakan kamar mandi di tiap kamarnya.


Sesampainya di dalam sana, Devano langsung menurunkan istrinya dan menyiapkan segala keperluan untuk berendam seperti air tentunya serta sabun yang ia tuangkan ke dalam bathtub tersebut. Shella pun hanya menyaksikan itu sambil senyum-senyum dan sesekali menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka Devano seantusias itu untuk berendam bersama dirinya.


"Udah nih honey, yuk masuk!" ucap Devano.


"Iya mas..." ucap Shella.


Devano pun menggandeng tangan istrinya, lalu perlahan mereka berdua mulai masuk ke dalam bathtub dan berendam disana bersama-sama dengan posisi Shella berada di pangkuan suaminya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2