
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 163
...•...
...•...
Adrian menghentikan mobilnya tepat di depan gedung tua tak berpenghuni yang terlihat menyeramkan dari luar.
Sontak wanita yang disampingnya terheran-heran sekaligus cemas karena melihat rumah yang tampak seram itu, ia takut Adrian akan berbuat nekat pada dirinya.
"Heh, kenapa lu bawa gue kesini? Sebenarnya lu mau apa dari gue ha?? Belum cukup selama ini lu udah nyakitin hati gue dan bikin hidup gue sengsara...??!!" ujar gadis itu dengan nada tinggi dan tatapan penuh emosi.
Adrian hanya tersenyum tipis lalu mencengkeram dagu gadis itu kembali, ia mendekatkan wajahnya sambil menatapnya dengan tatapan seorang pembunuh.
"Femila Tryola Saputri, lu denger ini ya! Gue tanya sekali lagi sama lu, kenapa lu malah kembali kesini dan kerja di cafe itu? Kan gue udah suruh lu buat pergi jauh, tapi kenapa lu balik lagi kesini...??!!" ujar Adrian berteriak di depan muka wanita itu, ia juga mengeraskan cengkeramannya.
"Lu mau bikin gue marah ya? Ingat Femila, jangan pernah berharap kalau lu bisa balas dendam sama gua! Justru gua yang bakal bikin hidup lu tambah menderita dari sebelumnya!" ucap Adrian mengancam gadis itu sambil membuka paksa kacamata yang dikenakan oleh gadis itu.
Adrian juga menarik ikat rambut milik gadis tersebut hingga kini rambutnya terurai panjang sampai menutupi bahunya.
"Lu lebih cocok begini sayang, menurut gue aura lu lebih terpancar tanpa kacamata dan ikat rambut itu... sekarang ayo jawab pertanyaan gue, apa maksud lu datang lagi kesini?" ujar Adrian sambil membelai rambut gadis itu.
"Le, lepasin dulu tangan lu...!!" ucap gadis itu kesulitan berbicara karena cengkeraman yang cukup kuat dari Adrian.
"Oke, tapi lu harus jawab dengan jujur! Awas aja kalo lu bohong, gua bakal buang lu ke jurang!" ujar Adrian mengancam gadis itu.
Lalu, Adrian pun melepaskan tangannya agar gadis itu bisa leluasa berbicara... tampak gadis itu langsung memegangi rahangnya yang kesakitan akibat cengkeraman Adrian.
__ADS_1
"Sekarang jawab...!!" teriak Adrian.
"Gue balik kesini cuma mau cari kerja, itu aja kok gak ada maksud lain! Selama gue tinggal di pelosok, gue kesusahan buat dapet kerja! Apalagi uang dari lu gak cukup buat kehidupan gue, makanya gue mutusin buat balik kesini!" ucap gadis itu menjelaskan maksudnya.
"Heh, kalo soal kerjaan kan lu gak harus kesini! Lu bisa cari kerja di kota-kota lain, kan banyak kota lainnya di negara ini...!! Bilang aja lu sengaja kan balik kesini supaya gue tertekan dan lu bisa terus-terusan ancam gue!" ujar Adrian tak percaya dengan penjelasan gadis itu.
"Gue gak ada sama sekali keinginan buat lakuin itu, emang lu udah bikin gue sengsara dan kehilangan segalanya... tapi gue gak pernah punya rasa dendam ke lu kok, karena kalo gue begitu itu artinya gue sama aja kayak lu! Jadi lu gausah panik, gue gak akan pernah ngusik kehidupan lu apalagi ngancem lu!" ucap gadis itu tampak ketulusan terpancar di matanya.
"Tetep aja gue gak sepenuhnya percaya sama lu Femila, karena lu itu cewek yang penuh dusta! Dulu aja lu khianatin gue cuma demi cowok terkenal di sekolah kita... dan gue juga yakin sekarang lu pasti bakal lakuin hal yang sama ke gue! Jadi sebelum itu terjadi lu harus gue amanin dulu...." ucap Adrian tersenyum menyeringai lebar.
Sontak gadis bernama Femila itu panik, ia ketakutan dan tak bisa menebak apa yang akan dilakukan Adrian kepadanya.
"Tunggu disini!" ucap Adrian kemudian membuka pintu mobilnya dan berjalan memutari depan mobilnya.
Adrian membukakan pintu untuk Femila, namun ia tak membiarkan gadis itu turun sendiri karena takut dia akan kabur.
Adrian menarik paksa tangan gadis itu untuk turun dari mobil, setelahnya ia menutup kembali pintu mobilnya.
"Lepasin gue, tolong... tolong....!!!" ujar Femila berteriak meminta tolong sambil berupaya berontak dari tarikan Adrian.
"Ayo ikut gue...!!" paksa Adrian lalu menarik kuat tangan Femila ke dekapan tubuhnya, ia menutup mulut gadis itu lalu membawanya ke dalam rumah kosong tersebut.
...•••...
Disisi lain, Devano masih merasa cemas dengan kondisi istrinya saat ini... ia masih menunggu di depan ruang UGD tempat Shella tengah menjalani perawatan akibat terjatuh dari tangga tadi.
Devano tidak bisa duduk tenang karena belum mendapat kabar dari dokter mengenai kondisi istrinya itu, ia terus mondar-mandir di depan ruangan tersebut sampai membuat Vanya merasa kasihan dengan pria itu.
"Vano, kamu yang sabar ya! Aku yakin istri kamu pasti bakal selamat kok, kita doain aja ya kesembuhan buat istri & calon anak kamu!" ucap Vanya menghampiri Devano sambil menyelipkan tangannya di sela-sela lengan pria itu lalu membenamkan wajahnya di pundak Devano.
"Makasih Vanya, tapi tolong jangan kayak gini! Kamu kan tau aku lagi panik karena istri aku ada di dalam sana, jadi tolong jaga perasaan aku ya!" ucap Devano meminta Vanya untuk melepaskan pegangannya.
"Iya maaf Vano, aku cuma pengen tenangin kamu aja... yaudah sekarang kamu duduk ya supaya bisa lebih tenang, biarkan dokter mengobati istri kamu!" ucap Vanya.
"Kamu aja yang duduk Vanya, aku gak bisa tenang kalau belum tau kondisi istri aku sekarang! Bagi aku dia itu sangat berarti, apalagi ada calon anak aku yang lagi dia kandung!" ucap Devano menggelengkan kepalanya sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
Vanya pun makin bersedih melihat pria di hadapannya itu mengeluarkan air mata, tapi ia tak tau bagaimana caranya menghibur pria itu.
"Kamu sepertinya benar-benar menyayangi istri kamu Vano, syukurlah semoga saja kondisi istri dan anak kamu baik-baik aja...!!" gumam Vanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter keluar dari dalam sana dengan raut wajah bersedih.
Tentu saja Devano langsung menghampiri dokter itu diikuti Vanya dibelakangnya.
"Gimana kondisi istri dan anak saya dok? Mereka baik-baik aja kan dok...??" tanya Devano dengan sangat panik dan cemas.
"Istri anda...."
•
•
Sementara itu, Jenar masih berdiri di depan rumahnya menanti kehadiran putri tercintanya yakni Shella karena sampai saat ini belum ada kabar lagi darinya dan nomornya juga tidak bisa dihubungi.
"Aduh Shella, kamu dimana nak? Kenapa rasanya ibu gak tenang begini, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu nak? Kenapa susah sekali buat ibu untuk menghubungi kamu?" ujar Jenar tampak cemas.
Sebagai seorang ibu kandung yang selalu merawat Shella dari kecil, tentunya Jenar memiliki firasat kalau putrinya itu sedang tidak baik-baik saja... namun sebagai ibu tentunya Jenar selalu mendoakan yang baik untuk keselamatan putrinya.
"Ibu...." sapa seseorang yang sedikit mengagetkan Jenar karena sedang melamun.
Jenar mencari asal suara itu dan menemukan seorang wanita berdiri di depannya, ia mengira kalau itu adalah Shella dan langsung saja menghampirinya lalu memeluk tubuh wanita itu sambil menangis.
"Ya ampun Shella, syukurlah kamu gak kenapa-napa nak! Ibu khawatir sekali sama kamu sayang...!!" ucap Jenar sambil mengelus punggung wanita itu.
Wanita yang tadi memancarkan senyum saat Jenar memeluknya, kini berubah menjadi kesal dan kesedihan.
"Bahkan ibu saja mengira aku ini Shella? Apa sudah tidak ada lagi nama Sheila di hati ibu?" gumamnya seraya menitikkan air mata di pundak Jenar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1