
Shella tengah melamun di kamarnya memikirkan pertanyaan Devano tadi, ia sebenarnya risih karena terus ditanya soal pernikahan.
"Gue males banget begini terus.. Gue itu gak cinta sama Devano dan gue juga gak mau nikah sama dia! Tapi kenapa sih dia terus maksa gue buat nikah sama dia? Ya emang sih anak di kandungan gue ini butuh sosok ayah nantinya, tapi gue gak mau kalo harus nikah sama orang yang udah merenggut kesucian gue!" batin Shella sambil mengusap-usap perutnya.
Lalu, Shella bangkit dari duduknya dan membuka gorden jendela kamarnya..
Dia menatap suasana malam dari balik jendela itu, seperti rindu saat dulu dia selalu pergi setiap malam hari dengan teman-temannya.
"Gara-gara Devano kehidupan gue jadi berubah 180 derajat, karena dia juga gue gak bisa wujudin impian gue selama ini! Terus sekarang apa bisa gue nikah sama dia?" batin Shella.
Shella sangat bingung dengan permasalahan nya ini, di satu sisi ia benci pada Devano dan tidak mau menjadi istrinya.. Tapi, disisi lain dia juga memikirkan nasib anaknya kelak jika terlahir tanpa adanya sosok ayah.
"Pasti nanti anak gue bakal nanyain dimana ayahnya, dan saat itulah gue gak tau harus jawab apa nantinya.. Apa yang harus gue lakuin sekarang?" batin Shella.
Shella pun mengingat ucapan Laila saat di mobil tadi..
#Flashback#
Laila meminta Shella untuk pulang bersamanya, ya setelah Rafi tidak lagi ditugaskan untuk menjaga Shella.. Kini, Laila lah yang mengantar Shella pulang ke rumah.
Shella setuju saja karena menurutnya Laila hanya ingin mengantarnya saja tanpa ada maksud dan tujuan lain.
Saat di mobil, Laila terus membicarakan tentang abangnya pada Shella.
Ya dia menjelaskan secara rinci bagaimana sikap dan kelakuan Devano saat di rumah pada Shella.
Shella tak mengerti mengapa Laila membicarakan itu, tapi dia hanya mendengarkan saja cerita Laila karena tak mau membuatnya tersinggung.
Tiba-tiba saja Laila melontarkan sebuah perkataan yang membuat Shella terkejut.
"Sel, gua mau tanya sama lu.. Nantinya saat anak lu lahir dan dia mulai bertumbuh besar, pasti akan muncul pertanyaan di dalam dirinya.. yaitu dimana ayah kandungnya berada, saat itu apa yang bisa lu kasih tau ke anak lu? Apa lu bakal bilang kalau ayahnya udah meninggal? Itu pasti bikin dia bertanya-tanya juga kenapa lu gak pernah ajak dia ke makam ayahnya.." ucap Laila.
Shella terdiam tak tau harus menjawab apa.
"Niat kak Vano itu baik loh, dia mau bikin supaya anak lu kelak gak bingung ayahnya dimana.. Kak Vano juga peduli sama masa depan lu, buktinya dia rela beliin restoran buat lu kan?" sambung Laila.
"La, abang lu udah bikin hidup gue menderita! Gua hancur karena abang lu! Coba lu jadi gue, apa lu mau nikah sama orang yang udah bikin hidup lu hancur? Mungkin emang abang lu baik, dia udah kasih pekerjaan ke gue.. Tapi, itu gak cukup buat hilangin kepedihan dalam diri gue La!" ujar Shella.
"Iya gua tau Sel, abang gua emang jahat banget sama lu! Tapi sekarang dia udah sadar kok, dia mau tebus semua kesalahannya sama lu! Makanya dia mau nikahin lu Shella! Harusnya lu terima dong, supaya nama lu gak jelek nanti di mata orang.. Coba deh bayangin saat anak lu lahir dan gak ada sosok suami di kehidupan lu, apa yang bakal lu dapat nanti? Ya cuma cacian dan hinaan dari orang-orang!" ucap Laila.
Shella kembali terdiam.
__ADS_1
"Lu pikirin lagi ya soal ini, tapi menurut gue bagusnya sih lu nikah sama abang gue! Gua jamin dia akan tulus mencintai lu!" sambung Laila.
Setelah itu, mereka tidak lagi berbicara hingga sampai di rumah Shella.
#Flashback end#
"Kayaknya gua terima aja Devano, gua gak mau anak ini nantinya dicap sebagai anak haram karena lahir tanpa seorang ayah! Iya gua gak boleh egois, gua harus mikirin nasib anak gua kelak!" batin Shella.
Shella pun menutup kembali gorden nya dan mematikan lampu kamarnya lalu tertidur.
...•••...
Laila tengah menyiapkan sarapan untuk abangnya dan juga Rafi di meja.
"Bang, nih sarapan buat lu!" ucap Laila sambil menyerahkan sepiring nasi goreng pada Devano.
"Thanks, enak gak nih btw?" ujar Devano.
"Ih ya pasti enak lah kan itu buatan gue!" ucap Laila.
"Ahaha iya iya iya,"
Lalu, Laila juga memberikan sepiring nasi goreng pada Rafi.
"Makasih," ucap Rafi dingin.
Laila & Devano pun terheran-heran dengan sikap Rafi yang tidak seperti biasanya.
"Eh kak lu kenapa sih? Gak kayak biasanya," ujar Laila.
"Hah? Emang biasanya gua gimana?" ucap Rafi.
"Ya lu kan biasanya selalu ceria ketawa terus padahal gak ada yang lucu, lah ini kok dingin gitu? Ada masalah ya?" ujar Laila.
"Kagak ada gua cuma gak enak badan aja nih," jawab Rafi.
"Yaelah Raf, kalo lu gak enak badan gimana nanti siapa yang interview calon karyawan baru?" tanya Devano.
"Minta tolong Novi ajalah Van," usul Rafi.
"Terus lu gak mau ke kantor nih?" tanya Devano.
__ADS_1
"Tergantung Van, kalo gua udah enakan nih ya gua ke kantor.." jawab Rafi.
"Udah deh mending lu di rumah aja, biar Laila yang ke kantor nanti!" ujar Devano.
"Lah kok gue?" tanya Laila.
"Iyalah, lu lupa sama tugas lu? Kan lu harus yakinin Shella buat mau nikah sama gua!" ujar Devano.
"Iya gua inget, tapi kan gue ada kuliah bang!" ucap Laila.
"Yaudah abis kuliah kan bisa," ujar Devano.
"Iya,"
Mereka pun menyantap sarapan mereka masing-masing.
...•••...
Adrian kaget karena Frederick bilang padanya jika ia sudah menghabisi David seorang diri.
"Kek, harusnya kakek jangan lakuin itu! Ini bisa memancing kemarahan keluarga mereka!" ucap Adrian.
"Kakek terpaksa berbuat itu, karena kakek kesal sekali pada anak itu! Lagian kamu juga terlalu lama bergeraknya!" ujar Frederick.
"Kek, kan saya udah bilang kita harus jalanin semuanya pelan-pelan jangan grasak-grusuk! Kalo kayak gini malah bisa jadi masalah baru!" ujar Adrian.
"Yasudah kakek minta maaf, sekarang kamu cek kondisi si David David itu sana! Kamu cari tau apakah dia baik-baik aja atau sudah meninggal!" ucap Frederick.
"Emangnya kakek minta anak buah kakek buat hajar dia sampe kayak gimana??" tanya Adrian.
"Kakek bilang terserah mereka sih, makanya sekarang kamu cari tau!" jawab Frederick.
"Baik kek," ucap Adrian.
Adrian ingin pergi dari sana, namun ia terkejut karena Bimo ada disana sedang menatapnya tajam.
"Bimo?" ujar Adrian kaget.
"Apa yangg udah kalian rencanain sebenarnya?" tanya Bimo.
Adrian & Frederick pun terpaku.
__ADS_1
...~Bersambung~...