
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 187
...•...
...•...
Devano sampai di ruang meeting, terlihat sudah ada Novi sekretarisnya disana bersama 2 orang pria yang kelihatannya adalah calon investor di perusahaan Devano.
"Permisi selamat pagi, maaf saya terlambat!" ucap Devano melangkah masuk lalu duduk di tempat biasanya, ia menaruh curiga pada seorang laki-laki yang sedari tadi terus menundukkan kepalanya.
"Ya tidak apa-apa pak Devano..." ucap pria tua berambut putih yang duduk di samping seorang pria aneh yang terus menunduk itu.
Devano pun makin penasaran siapa pria itu sebenarnya dan mengapa dia terus menundukkan kepalanya, akhirnya Devano berbisik pada sekretarisnya menanyakan tentang identitas si pria tersebut.
"Nov, kamu tau siapa laki-laki ini?" tanya Devano berbisik di telinga Novi.
"Iya pak, dia...." jawab Novi menggantung karena melihat pria tersebut mendongakkan kepalanya menatap ke arah Devano.
Sepertinya pria itu mendengar apa yang dibisikkan oleh Devano kepada Novi tadi, ia pun berdehem sehingga Devano menoleh ke arahnya dan terkejut.
"Ehem, ehm...."
"Saya Adrian Bagaskara, pak Devano!" ucap pria itu menunjukkan wajahnya di hadapan Devano.
Sontak Devano menganga terkejut, padahal sebelumnya Novi memberitahu lagi kalau calon investor nya yang sekarang bukanlah Adrian.
"Mau apa anda kesini?" tanya Devano dingin.
__ADS_1
"Kenapa anda malah bertanya seperti itu pak? Saya ini ingin membantu perusahaan anda loh, PT Devano sukses makmur yang sekarang sedang tidak sukses dan juga tidak makmur!" jawab Adrian menyunggingkan senyum menatap mata Devano yang terlihat geram.
"Saya tidak sudi menerima bantuan dari orang seperti anda Adrian, sebaiknya sekarang anda pergi atau saya akan panggil security untuk mengusir anda dari sini!" ujar Devano.
"Tenang pak Vano santai, jangan emosi dulu! Ya memang selama ini kita jarang sekali akur dan sering bertengkar karena masalah pribadi, tapi disini saya tulus loh ingin membantu anda menyelesaikan masalah perusahaan anda yang diambang kebangkrutan ini! Apa anda tidak takut jika perusahaan anda akan disegel oleh bank karena tidak mampu membayar hutang-hutang anda??" ucap Adrian.
"Lebih baik saya kehilangan perusahaan ini, daripada harus menerima bantuan dari anda! Karena sampai kapanpun saya Devano Alexander tidak akan pernah mau menerima bantuan anda Adrian! Cepatlah pergi karena anda tidak dibutuhkan disini, biar saya berbicara dengan pak Santoso!" ucap Devano.
"Hahaha, pak Devano anda ini bagaimana sih? Pak Santoso ini adalah orang saya dan beliau datang kesini juga karena saya, jika anda tidak mau menerima bantuan saya maka pak Santoso juga tidak akan membantu anda! Dengar ya pak, sekarang ini image perusahaan anda ini sudah jelek di mata pengusaha lainnya! Bahkan menjadi yang terburuk di kota ini sejak 15 tahun silam... kasihan sekali dari yang tadinya dipuja-puja sekarang longsor terjun ke daftar bawah!" ucap Adrian.
Devano makin geram dengan perkataan Adrian yang meledeknya, namun bagaimanapun juga yang dikatakan Adrian itu benar semua dan saat ini perusahaannya sudah kehilangan banyak kepercayaan dari orang-orang.
"Jadi bagaimana pak Devano? Saya masih akan disini dan menawarkan bantuan kepada anda secara cuma-cuma, sekali lagi saya tanyakan kepada anda.... apakah anda yakin tidak ingin menerima bantuan dari saya?" ucap Adrian menaruh dua tangannya di atas meja.
Devano pun terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk kemajuan perusahaannya, tentunya ia harus memikirkan nasib para karyawannya yang sudah cukup lama bekerja disana termasuk Novi sebagai contohnya.
"Bagaimana ini? Kalau saya tolak tawaran Adrian dan ternyata tidak ada yang bisa membantu perusahaan saya lagi, maka perusahaan ini akan bangkrut dan banyak orang kehilangan pekerjaannya karena keegoisan saya! Tapi saya juga khawatir kalau Adrian meminta syarat dalam bantuan ini, apalagi kalau syaratnya itu berhubungan dengan Shella...." gumam Devano kebingungan.
Novi yang melihat bosnya bingung, akhirnya mendekati Devano lalu berbisik di telinganya memberi saran kepada pria itu.
Devano diam saja mendengarkan suara Novi tanpa menjawabnya, merasa tugasnya selesai Novi pun kembali ke tempat duduknya.
"Bagaimana pak Devano?" tanya Adrian dengan santai, ia bersandar di sandaran kursinya sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
"Baiklah, saya terima bantuan dari anda!" jawab Devano tegas menandakan tak ada keraguan di dalam hatinya walau sebenarnya ia terpaksa menerima bantuan dari Adrian tersebut.
"Bagus pak, pilihan yang bagus! Saya dan pak Santoso akan membantu memulihkan kembali kondisi keuangan perusahaan anda, setelah itu anda pasti akan bisa berjaya lagi seperti sebelumnya saat anda berada di atas saya!" ucap Adrian sambil bertepuk tangan diikuti oleh pak Santoso serta Novi.
Disaat yang lain sumringah dan bertepuk tangan, justru Devano malah terdiam mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya pelan seperti orang yang sedang berpikir keras.
...•••...
Sementara itu, Shella sudah siap-siap hendak pergi ke rumah sakit dan hanya tinggal menunggu jemputan nya datang di luar.
Rupanya ia berbarengan dengan Laila yang juga ingin pergi ke kampus sendirian setelah Sadam tak bisa menjemputnya karena sibuk.
__ADS_1
"Loh Shella, lu mau kemana sih?" tanya Laila menegur kakak iparnya yang tengah berdiri di depan pintu luar.
"Ini gue mau ke rumah sakit jenguk adik kembaran gue yang lagi koma La, lu sendiri mau kemana? Kampus ya?" ucap Shella.
"Ohh, iya nih gue mau ke kampus, btw salam ya buat ibu Jenar dari gue! Sampein juga permintaan maaf gue karena belum bisa jenguk Sheila di rumah sakit! Gue doain semoga Sheila bisa cepat sadar dan pulih seperti semula!" ucap Laila tersenyum.
"Aamiin, aamiin.... makasih banyak ya La, gapapa kok kalo lu gak bisa ke rumah sakit jenguk Sheila! Yang penting doanya buat kesembuhan adik gue itu, yaudah sana gih berangkat nanti telat loh!" ucap Shella.
"Iya Sel, eh lu mau sekalian bareng sama gue gak? Kebetulan kelas gue masih agak lama sih, jadi kalo nganterin lu dulu ke rumah sakit masih bisa lah keburu!" ujar Laila menawarkan tumpangan pada Shella.
"Duh gausah repot-repot La, mas Vano udah suruh anak buahnya buat jemput gue kok! Paling sebentar lagi dia datang..." ucap Shella.
"Ohh, cie cie Shella yang diperhatiin terus sama suaminya.... gue heran loh bang Vano kok bisa berubah 180 derajat ya pas udah nikah? Padahal dulu tuh dia dingin banget orangnya, ngomong aja jarang! Eh sekarang giliran udah nikah sama lu malah jadi petakilan gitu, mana suka banget lagi ngeledek gue yang belum nikah ini!" ujar Laila.
"Ahaha, mungkin karena mas Vano lebih bahagia pas udah menikah sama gue! Atau bisa jadi juga mas Vano itu emang selama ini cuma pura-pura dingin," ujar Shella.
"Yeh kayaknya yang pertama itu mungkin deh, secara lu kan cewek idaman para lelaki pasti bang Vano itu girang banget bisa dapetin istri secantik lu Sel! Makanya dia pamer kemesraan terus di depan gue, ish rasanya pengen gue injek-injek tuh bang Vano!" ujar Laila kesal.
"Gak boleh gitu La, dia abang lu loh nanti dosa! Lagian kan lu udah pacaran sama Sadam nih, kapan mau nikahnya ha?" ujar Shella.
"Ya nanti kali kalo udah lulus kuliah terus si Sadam udah dapet pekerjaan tetap, lagian gue juga belum mau nikah cepat masih ngurusin karir!" ucap Laila.
"Bagus deh, semoga karir lu bagus ya gak kayak gue yang terpaksa harus nikah muda karena keadaan..... semua mimpi-mimpi yang udah gue bangun dari kecil sirna gitu aja, cuma dalam waktu satu malam!" ucap Shella.
Suasana yang tadi ceria mendadak berubah jadi kesedihan karena Shella membahas lagi soal masa lalunya dan kesalahan Devano yang membuat dirinya harus kehilangan mimpi-mimpinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...Semangat Senin dari Adrian...
...❤️❤️❤️...
__ADS_1