Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Hanya kagum


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 316


...•...


...•...


TOK TOK TOK....


"Masuk!"


Ceklek....


Rafael masuk ke dalam ruangan bosnya setelah Devano barusan memberi izin padanya, ia pun maju menghampiri Devano di depan sana lalu duduk pada kursi yang tersedia, nampaknya Rafael telah berhasil mendapatkan informasi mengenai si pengirim paket.


Devano yang melihat kedatangan Rafael langsung tersenyum karena sedari tadi ia menantikan kabar tentang siapakah pengirim paket itu, ia sudah tidak sabar untuk mengetahui semuanya dan memberi pelajaran pada seseorang tersebut.


"Selamat siang, pak!" ucap Rafael menyapa bosnya.


"Ini sudah menjelang sore, bukan siang lagi!" ucap Devano tersenyum.


"Maaf pak, maksud saya selamat siang menjelang sore, pak!" ucap Rafael meralat ucapannya.


"Nah baru benar, yasudah sekarang apa yang ingin kamu sampaikan ke saya? Apa kamu sudah berhasil menemukan sesuatu tentang siapa pengirim paket itu?" tanya Devano penasaran.


"Tentu saja, pak! Kalau belum, mungkin saya tidak akan langsung datang kesini!" ucap Rafael.


"Baiklah, silahkan cerita!" ucap Devano.


"Jadi begini pak, saya—"


TOK TOK TOK....


Ucapan Rafael belum sempat terselesaikan lantaran ada sebuah ketukan pintu dari arah luar, ia pun reflek menoleh ke arah pintu karena penasaran siapa yang datang dan mengganggu momennya untuk berbicara dengan bosnya disana.


Devano juga tampak kesal karena malah ada yang datang kesana, padahal sebentar lagi ia akan mengetahui siapakah yang sudah mengirim paket ke rumahnya dan membuat hubungannya dengan Shella hampir saja rusak.


"Masuk!!" teriak Devano.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu terbuka memperlihatkan Novi si sekretaris cantik nan seksi disana, ia langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Devano sembari tersenyum membawa beberapa berkas di tangannya lalu mendekati Devano disana.


"Permisi pak, maaf kalau saya ganggu! Saya cuma ingin menyerahkan berkas ini, silahkan bapak koreksi lagi!" ucap Novi tersenyum meletakkan berkas-berkas itu di atas meja.


"Ya, terimakasih Novi!" ucap Devano.


"Sama-sama pak, kalau begitu saya mohon izin! Permisi...." ucap Novi pamit kepada bosnya serta Rafael sambil membungkuk sedikit.


"Silahkan!"


Devano mengizinkan Novi untuk keluar dari sana sesudah urusannya selesai, ia pun kembali menatap Rafael yang justru malah memandangi punggung Novi dari tempatnya terduduk sekarang, Devano yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Setelah Novi pergi dan tak terlihat lagi, barulah Devano menegur Rafael yang masih saja menatap ke arah pintu walau Novi sudah tidak ada, ia juga melihat jelas senyum di wajah Rafael yang menandakan kalau pria itu mungkin saja sedang dimabuk cinta.


"Hey, sudah jangan senyum-senyum terus!" tegur Devano.


"Ah iya pak, maaf!" ucap Rafael gugup menahan malu sembari menghadap ke arah bosnya dan tersenyum.


"Kamu kenapa? Tertarik ya sama sekretaris saya yang cantik itu?" goda Devano.


"Hah? Enggak kok pak, sa-saya cuma...."


"Sudahlah! Itu juga bukan urusan saya, kalau kamu tertarik yasudah dekati saja! Novi juga masih single kok belum punya pacar, tapi kamu harus gercep sebelum dia direbut orang!" potong Devano.


"Bapak bisa aja, saya itu cuma kagum aja sama sekretaris bapak!" ucap Rafael.


"Halah, ngeles aja kamu! Yasudah, kita lupakan dulu soal itu! Sekarang kamu jelasin ke saya, apa yang kamu temuin tentang si pengirim paket itu!" ucap Devano berubah jadi serius.


"Waw bagus! Sekarang kasih tau saya!" ucap Devano.


"Baik pak, nama pengirimnya itu Zainur Rivaldi dan alamatnya di komplek nusa residence dekat jalan alibaba nomor 23!" jelas Rafael.


"Untuk nomor teleponnya...."


"Tunggu! Kalau gak salah alamat itu mirip dengan alamat Arga, sebentar saya cek dulu!" potong Devano.


"Siapa itu Arga, bos?" tanya Rafael.


"Nah benar kan alamatnya sama persis, Arga itu orang yang hampir menculik Shella istri saya kemarin!" jawab Devano.


"Menculik Bu Shella?" tanya Rafael terkejut.


"Iya benar, saya jadi curiga kalau si pengirim paket itu bukan Zainur tapi Arga!" ujar Devano.


"Entahlah bos...."


Devano dan Rafael terlihat kebingungan memikirkan semua ini karena sulit bagi mereka untuk mendeteksi apakah Zainur adalah Arga atau alamat mereka hanya kebetulan sama.

__ADS_1


...•••...


Disisi lain, Nadya dan Jenar masih kesulitan mendapat taksi karena aplikasi yang mereka gunakan sedang eror. Akibatnya mereka masih terjebak di depan warung bakso itu tanpa bisa pergi kemana-mana sekarang.


"Bu, mana ini taksinya? Daritadi juga gak ada yang lewat di depan sini, masa kita mau terus-terusan disini sih Bu?" ujar Nadya.


"Sabar sayang, ini aplikasinya masih eror gak bisa dipake! Ibu juga gak tau kita harus gimana, soalnya ibu belum hafal angkot ke rumah kita!" ucap Jenar.


"Apa kita minta jemput sama mbak Shella aja, Bu? Siapa tau mbak Shella bisa bantu kan?" usul Nadya.


"Jangan sayang! Ibu gak mau ngerepotin saudara kamu itu dulu, pasti dia lagi sibuk sama suaminya! Lagian ibu juga gak enak kalau harus minta bantuan Shella terus, ibu sadar diri!" ucap Jenar.


"Iya sih, terus kita gimana dong Bu?" tanya Nadya.


"Duduk aja dulu, sayang! Jangan berdiri terus nanti pegel dan kecapekan!" ucap Jenar tersenyum.


Nadya mengangguk lalu duduk pada kursi panjang dari kayu yang tersedia disana, ia menatap langit yang panasnya sudah mulai agak reda karena sekarang telah menjelang sore. Nadya beralih memandang ibunya yang masih kebingungan disana.


"Bu, ibu juga duduk dong!" pinta Nadya.


"Iya sayang, sebentar ibu mau cek lagi aplikasinya!" ucap Jenar masih berkutat dengan ponselnya.


Happ...


Seorang pria dengan hoodie abu-abu menyomot ponsel milik Jenar dari tangan ibu itu, ia berlari kencang meninggalkan Jenar serta Nadya sambil membawa ponsel itu di tangannya.


"Eh jambret, jambret!!!" teriak Jenar panik.


"Ya ampun, woi berhenti jambret!" teriak Nadya yang juga ikutan panik.


Orang-orang yang ada di sekitar mereka pun coba berlari membantu Nadya serta Jenar untuk menangkap jambret itu, begitupun dengan Nadya yang sangat panik karena handphone milik ibunya diambil oleh jambret.


"Bu, aku ikut kejar jambretnya ya?" ucap Nadya.


"Jangan sayang!" larang Jenar.


"Gapapa Bu, aku bakalan baik-baik aja kok!" ucap Nadya meyakinkan ibunya.


"Yaudah, hati-hati!"


Baru saja Nadya hendak berlari mengejar jambret serta orang-orang tadi, namun sebuah tangan menahannya dari belakang membuat ia terhenti lalu spontan menoleh karena terkejut.


"Biar saya aja!" ucapnya.


"Yoga?"


Ya orang yang menahannya adalah Yoga, pria itu langsung berlari kencang mengejar jambret tadi dengan sekuat tenaga untuk bisa menolong Nadya gadis yang dicintainya, sedangkan Nadya terdiam disana lalu memeluk ibunya yang tampak sedih.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2