
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 133
...•...
...•...
Devano kembali pulang ke rumahnya dengan rasa kesal dan emosi, ia benar-benar kesal setelah mendengar penjelasan dari Bimo di penjara tadi.
Devano pun duduk di sofa sambil mengusap-usap wajahnya sendiri, ia benar-benar kacau saat ini seperti orang yang sedang stress.
"Kenapa sih? Kenapa banyak banget cobaan yang harus saya hadapin setelah menikahi Shella? Saya kira setelah menikah hidup saya bisa lebih tenang dari sebelumnya, tapi nyatanya justru sekarang saya lebih tersiksa..!!!" gumam Devano menutupi wajahnya.
Kemudian, Laila adiknya baru keluar dari kamarnya dan menuruni tangga hendak berangkat menuju kampusnya.
Melihat abangnya yakni Devano sudah pulang, Laila pun berniat untuk menanyakan pertanyaan yang selama ini ia pendam.
"Ah sekarang saatnya gue tanya ke kak Vano soal waktu itu yang dia ada di depan gang rumah Shella!" gumam Laila sambil mempercepat langkahnya.
Namun, Laila merasa heran dengan sikap abangnya yang kelihatan seperti sedang banyak masalah.
Laila pun segera menghampiri abangnya itu untuk mencoba menghiburnya dan mendengarkan curhatan dari Devano.
__ADS_1
"Kak, lu kenapa sih? Kelihatannya lu suntuk banget kayak orang banyak utang aja, ohh jangan-jangan lu kejerat pinjol ya bang makanya jadi stress begini!" ujar Laila yang kini duduk di samping Devano.
"Gak lucu!" ucap Devano singkat lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa untuk coba melepaskan semua kegelisahan di dalam pikirannya.
"Kayaknya masalah lu berat banget ya bang, yaudah gini aja coba deh lu cerita ke gue apa masalah lu! Ya siapa tau kan dengan itu lu bisa merasa lebih tenang, gue siap kok dengerin tiap keluh kesah curhatan lu walau selama apapun itu..." ucap Laila menggeser posisi duduknya mendekati Devano.
Devano pun mengangkat lagi kepalanya lalu menoleh ke arah Laila sambil tersenyum tipis, ia juga mengusap-usap kepala Laila sampai rambut adiknya itu berantakan.
"Ish kok lu malah acak-acak rambut gue sih bang? Susah tau benerin nya ah elah lu mah, nyesel gue deketin lu kalo gini...!!!" ujar Laila cemberut sambil membenarkan kembali rambutnya.
Melihat adiknya manyun justru membuat Devano tertawa puas, emang aneh ya kebahagiaan laki-laki yang satu ini.
"Suruh siapa lu pake sok-sokan peduli sama gue? Biasanya juga kalo gue lagi suntuk lu diem aja kan gak banyak tanya, ohh pasti sekarang lu kayak gini supaya keliatan baik kan di mata papah mamah!" ujar Devano menuduh yang tidak-tidak pada adiknya sendiri.
"Ish ya ampun bang, gue diemin salah gue peduli juga salah maunya lu itu apa sih bang sebenarnya? Kalo lu gak mau gue bantu ya udah gue pergi aja ah ke kampus males gue lama-lama disini sama lu bisa-bisa darah tinggi gue naik..!!!" ujar Laila kesal lalu bangkit dari duduknya dan hendak pergi, namun Devano dengan cekatan menahannya.
"Jangan pergi elah, gue bercanda kok! Duduk lagi gue butuh tempat curhat nih!" ucap Devano memelas pada Laila untuk mau duduk kembali dan mendengarkan curhatan dirinya.
"Iya, jadi gini di kantor gue tuh ada banyak banget masalah yang datang bertubi-tubi menimpa gue! Jujur dari awal gue mendirikan perusahaan Devano sukses makmur emang gue punya prinsip setiap masalah harus dihadapi, tapi entah kenapa buat masalah yang kali ini tuh susah banget dihadapinya!" ujar Devano menatap mata adiknya.
"Emang masalahnya apaan sih bang?" tanya Laila yang dengan sendirinya malah mendekati lagi tubuh abangnya itu.
"Banyak dah pokoknya pake banget malah, ada seseorang yang lagi ngintai perusahaan gue tapi gue belum tau maksud dia apa! Terus sekarang mendadak aja gue dapet kabar kalau ada investor yang mau menggelontorkan dana besar buat perusahaan gue, kan gue jadi heran!" jawab Devano.
"Loh bukannya bagus ya bang kalo ada investor begitu? Soalnya kan dana perusahaan lu jadi bertambah!" ujar Laila dengan wajah keheranan.
"Ya emang sih, tapi gue belum tau asal-usul si calon investor ini La! Gue takutnya dia ini komplotannya orang yang mengintai perusahaan gue..!! Ah udah lah cerita sama lu kok gue malah jadi makin pusing ya? Udah deh mending sana lu ke kampus!" ujar Devano yang tiba-tiba saja emosi lalu kembali menyandarkan kepalanya.
Laila pun tau kalau abangnya butuh waktu sendiri, ia akhirnya tidak jadi bertanya pada abangnya itu soal kemarin yang ia melihat Devano berada di depan gang rumah Shella.
__ADS_1
"Kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat buat gue bahas itu, nanti yang ada gue malah dibentak lagi sama dia..." gumam Laila.
...•••...
Adrian sampai di rumah sakit setelah mendapat kabar dari sana mengenai kondisi papahnya yang kritis, sontak Adrian terlihat sangat panik dan mencemaskan papahnya itu.
Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari dalam ruang ICU tempat papahnya dirawat bersama 2 orang perawat yang membantunya.
"Gimana dok, papah saya baik-baik saja kan?" tanya Adrian yang langsung menghampiri mereka dengan ekspresi cemas di wajahnya.
Namun, dokter dan 2 perawat itu hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya... perlahan sang dokter mulai memberanikan diri untuk mengatakan apa yang terjadi kepada pria di hadapannya itu.
"Maaf mas, tapi kami tidak berhasil menyelamatkan nyawa papah anda... beliau mengalami pendarahan pada bagian otak yang cukup parah, kami sudah berusaha untuk menyelamatkan beliau tetapi Tuhan berkehendak lain!" jelas dokter tersebut yang terlihat juga sangat terpukul akibat kehilangan nyawa pasiennya.
Adrian pun sangat syok dan terkejut mendengar perkataan dokter itu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya serta matanya kini mulai membesar akibat air mata yang hendak keluar.
"Enggak dok, dokter pasti bohong kan? Papah saya masih hidup kan dok? Papah saya gak mungkin meninggal dok, dia pasti masih hidup iya kan?? Jawab dok! Jawab kalau papah saya itu masih hidup, ayo dok jangan diam saja..!!" ujar Adrian menarik-narik jas dokter tersebut lalu mendorongnya hingga menabrak pintu dan hampir terjatuh, beruntung si perawat langsung menahan tubuh dokter itu.
Sementara itu, tangisan Adrian pecah dan perlahan-lahan mundur menjauhi dokter itu lalu terduduk di pojokan dinding dan menangis sejadi-jadinya disana.
"Ini gak mungkin terjadi.. gak mungkin..!!!"
"PAPAAHHH...!!!"
Adrian berteriak sangat kencang sambil menjambak rambutnya sendiri, tentu saja ia merasa sangat terpukul setelah mendapat kabar itu.
Sementara sang dokter dan 2 perawat itu hanya bisa ikut terisak melihat Adrian menjerit-jerit dan juga membenturkan kepalanya sendiri ke tembok akibat dari rasa sedihnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...