Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Laki-laki itu siapa?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 230


...•...


...•...


Rafael masih berada di rumah Vanya, mereka tampak asyik menikmati satu batang coklat yang dibeli Rafael sebelumnya sembari bersanda gurau. Vanya kini sudah tak merasa canggung lagi berduaan dengan Rafael, ia lebih terbiasa memang karena pria itu selalu datang ke rumahnya membawakan berbagai jenis barang mulai dari makanan sampai boneka barusan.


Rafael selalu memakan bagian coklat yang bekas gigitan gadis itu, hal tersebut yang membuat Vanya makin berbunga-bunga dan mungkin merasakan cinta saat menatap mata Rafael. Jantungnya juga berdetak kencang ketika mereka saling pandang dalam jarak dekat mungkin hanya beberapa senti, wajahnya memerah karena Rafael sengaja menghembuskan nafas ke area sensitif gadis itu.


Suasana yang tadinya ramai akibat suara tawa mereka, kini mendadak sunyi karena dua insan ini tengah beradu tatap tanpa berkedip sedikitpun seakan-akan mereka tak mau mengalihkan pandangannya saat ini karena sudah terlanjur jatuh hati pada tatapan masing-masing. Sampai akhirnya Vanya memalingkan wajahnya karena merasa gugup, ia mengambil segelas air lalu meneguknya untuk menghilangkan rasa gugup pada dirinya.


Sementara Rafael masih tetap menatap wajah gadis itu dari samping, ia sadar kalau kini dirinya mulai menyukai bentuk wajah Vanya yang memang cukup menarik perhatian bagi lelaki. Selain cantik dan mulus, lesung pipi yang dimiliki Vanya menambah keanggunan wajahnya apalagi ketika gadis itu tersenyum sembari mengedipkan matanya. Mungkin jantung para lelaki bisa copot dibuatnya, karena tidak kuat menahan damage yang diberikan Vanya.


"Kamu cantik, Vanya! Tapi, apa mungkin gadis seperti kamu mau menerima lelaki seperti aku? Mungkin aku hanya akan menjadi pengagum mu saja, karena memilikimu hanyalah sebatas mimpi bagiku!" batin Rafael pesimis kalau ia bisa mendapatkan Vanya.


Vanya yang sadar dirinya masih diperhatikan oleh Rafael langsung merasa gugup serta salah tingkah, entah mengapa rasa canggungnya muncul kembali saat ini karena Rafael terus-terusan menatapnya dengan tanpa berkedip ataupun menoleh sedikitpun. Semakin lama gadis itu juga tampak risih karena tatapan dari Rafael yang seperti menguncinya, ia memakan habis coklat pemberian pria itu tanpa menyisakan nya untuk Rafael.


Akhirnya Vanya memberanikan diri menoleh ke arah Rafael sambil menunjukkan bungkus coklat yang sudah kosong tak bersisa, gadis itu menaruh bungkusnya di atas telapak tangan Rafael sembari tersenyum lebar memandanginya.


"Kok ditaruh di tangan aku?" tanya Rafael terheran-heran.

__ADS_1


"Iya, tolong buangin ya ke tempat sampah! Daripada kamu pandangin aku terus kayak tadi, mending buang sampah bekas coklatnya sana!" jawab Vanya melempar senyum manis ke arah Rafael.


"Aduh ada-ada aja kamu, yaudah gapapa deh aku buangin sebagai lelaki yang baik aku harus turutin kemauan gadis cantik satu ini! Tapi, imbalannya cium pipi ya gak ada penolakan!" ucap Rafael tersenyum sembari menunjuk pipinya lalu bangkit dari sofa.


Setelah Rafael pergi ke dapur membuang sampah, Vanya mendadak gemetar serta gugup karena perkataan Rafael tadi yang meminta dicium pipinya sebagai imbalan karena sudah membuang sampah miliknya. Tentu saja Vanya merasa bingung harus melakukan apa nantinya jika Rafael menagih itu.


...•••...


Sementara itu, Laila masih bersitegang dengan ketiga wanita yang menjelekkan kakak ipar sekaligus sahabatnya yakni Shella. Laila tentu tak terima kalau Shella diejek seperti oleh mereka, walau yang dikatakan Ziva serta teman-temannya itu benar adanya karena Shella memang hamil duluan akibat perbuatan tak senonoh yang dilakukan abangnya.


Perdebatan panas terjadi di kantin itu antara geng Ziva berhadapan dengan geng Laila, jumlah mereka yang sama banyak membuat perdebatan ini menjadi seimbang dan lebih seru. Banyak mahasiswi berkumpul disana karena penasaran dengan keributan yang dibuat mereka, bahkan ada juga yang memvideokan mereka sembari membuat vlog.


"Heh, kalo ngomong dijaga ya! Jangan asal bicara deh kalau gak tahu kebenarannya! Emang lu mau mulut lu nanti gue setrika supaya gak bisa ngomong kayak gitu lagi??" ujar Laila kesal.


"Hahaha, kok lu marah sih? Kita kan cuma tebak-tebak aja, kalau gak bener yaudah santai aja gausah ngegas gitu! Justru dengan lu begini kita malah semakin yakin kalo Shella emang udah nikah dan jadi kakak ipar lu, alias dia nikah sama abang lu! Dan itu artinya...." ucap Ziva sengaja menggantung kalimat akhirnya untuk diteruskan pada temannya.


"Kurang ajar lu!" bentak Laila kesal, ia hendak mendekati ketiga wanita itu dan menamparnya. Namun, dengan cekatan Yasmin serta Zara menahannya karena tak mau ada kekerasan.


"Tahan, La! Nanti lu bisa kena masalah!" ucap Yasmin menenangkan temannya.


"Tapi dia udah keterlaluan, Yas! Dia ngehina temen kita sama abang gue! Ini gak bisa dibiarin, gue harus kasih mereka pelajaran!!" ujar Laila berontak lalu berhasil melepaskan diri dari genggaman Yasmin.


Laila pun bergerak maju dengan emosi yang memuncak, wajah Ziva tampak tak takut dan ia malah menantang Laila hingga Laila semakin emosi kepada wanita tersebut.


"Dasar jalangg!!" ujar Laila dengan nada tinggi sambil mengangkat tangan kanannya hendak menampar Ziva.


Jeb...


Sebuah telapak tangan berhasil menggagalkan niat Laila untuk menggampar Ziva, ya itu adalah tangan milik Sadam sang kekasihnya.

__ADS_1


"Sadam?" ucap Laila mendadak lembut.


"Tahan, sayang! Kalau kamu begini malah semakin nunjukin ke mereka kata-kata itu benar, sebaiknya kamu sabar ya jangan terpancing emosi!" ucap Sadam menenangkan gadisnya.


Laila pun terdiam menunduk serta menurunkan tangannya dan mengatur nafasnya, ia mengusir rasa emosi di dalam tubuhnya sesuai perkataan Sadam. Sementara Ziva dan teman-temannya tampak geram karena kedatangan Sadam merusak semuanya, akhirnya mereka bertiga malah pergi dari sana.


...•••...


Disisi lain, Nadya masih belum dapat mengingat siapa wanita yang kini mengusap wajahnya sembari duduk tepat di sampingnya. Ia sudah berusaha keras, tapi tidak bisa melihat apa-apa di masa lalunya. Yang ia ingat hanyalah suara seorang pria yang berbicara ketika ia sedang koma sebelum ini.


"Umm, kalau kamu memang benar ibu aku, berarti aku boleh panggil kamu dengan sebutan ibu?" ucap Nadya bertanya pada Jenar sembari menatapnya.


"Ya, tentu sayang! Justru ibu sangat senang kalau kamu mau panggil ibu begitu..." jawab Jenar.


"Oke deh, aku juga lumayan nyaman ada di dekat ibu! Ya walau sampai sekarang aku masih belum bisa inget apa-apa tentang ibu, tapi rasanya nyaman aja gitu dielus sama ibu kayak gini..." ucap Nadya.


"Syukurlah sayang kalau kamu nyaman, soal ingatan kamu jangan dipaksa ya sayang nanti yang ada kamu malah sakit lagi! Biarlah waktu yang menjawab semuanya ketika sudah tiba saatnya nanti, untuk sekarang ini ibu juga udah senang kok karena kamu mau panggil ibu dengan sebutan ibu!" ucap Jenar.


"Iya Bu, oh ya aku boleh tanya sesuatu gak?" ucap Nadya.


"Boleh dong, mau tanya apa sayang??" ucap Jenar.


"Eee..."


"Laki-laki yang bicara sama aku sebelum aku sadar dari koma, itu siapa ya??" tanya Nadya penasaran.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2