Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Galon air


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


...Oh ya sebelum masuk ke cerita, aku ada kabar duka yang mau disampaikan dulu yaπŸ™...



...Innalilahi wa innailaihi Raji'un πŸ™πŸ™πŸ™...


Artis yang juga aku jadiin visual Shella di novel ini meninggal dunia guys, bantu doa yuk buat beliauπŸ™


...Al Fatihah πŸ™πŸ™πŸ™...


...β€’...


#CSMC EPISODE 107


...β€’...


...β€’...


Devano sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi, ia membawa serta bukti rekaman cctv juga foto plat mobil pelaku penculikan Shella.


"Siapapun pelakunya, dia harus dihukum berat karena sudah berani menyentuh Shella! Saya tidak akan pernah memaafkan dia..!!" gumam Devano.


Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun tiba-tiba ponselnya berdering ada telpon masuk dari kontak bernama Vanya.


Devano pun menghentikan sejenak mobilnya di pinggir jalan untuk mengangkat telepon dari Vanya itu.


πŸ“ž"Halo, ada apa Vanya? Apa kamu perlu bantuan?" tanya Devano dengan nafas memburu.


πŸ“ž"Lu kenapa No, kok terengah-engah gitu? Lagi sibuk ya??" ujar Vanya heran karena Devano seperti ngos-ngosan.


πŸ“ž"Eh gak kok gapapa, udah gausah pikirin aku! Ada apa kamu telpon?" ucap Devano.


πŸ“ž"Ohh ini gue cuma mau bilang kalo air galon di rumah gue tuh abis, lu bisa tolong beliin gak? Soalnya gue mau minum.." ujar Vanya.


πŸ“ž"Bisa kok bisa, tapi kalo kamu udah haus banget mending kamu beli aja dulu air botol di warung! Soalnya aku agak jauh nih dari rumah kamu, jadi mungkin lama bawa air galon nya.." ucap Devano.


πŸ“ž"Disini warungnya jauh No, gue juga lagi males keluar! Udah gue tungguin lu dateng aja! Thanks ya No nanti uangnya gue ganti kok!" ucap Vanya.


πŸ“ž"Iya oke tunggu ya sebentar kok gak lama!" ucap Devano.


Tut Tut Tut..


Vanya mematikan teleponnya begitu saja tanpa berkata apa-apa, Devano pun langsung meletakkan handphonenya kembali ke dashboard mobilnya.


"Aduh gue harus ngapain dulu ya? Beli galon buat Vanya atau serahin bukti cctv ini ke kantor polisi? Ah gue bener-bener ngerasa kehilangan Kevin kalo begini, sekarang gak ada lagi orang yang bisa bantu gue buat bagi tugas..!!" gumam Devano tampak bingung.


Ia pun mengacak-acak rambutnya merasa pusing, kesal serta marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.


"Maaf Shella, aku harus tolong Vanya dulu! Tapi aku janji kok pasti aku bakal selamatin kamu dan bawa kamu kembali ke pelukan aku!" gumam Devano yang akhirnya memilih untuk membantu Vanya lebih dulu.


Devano pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Vanya..


...β€’β€’β€’...

__ADS_1


Disisi lain, Nadya mendatangi rumah Jenar sambil membawa rantang berisi makanan untuk ibu kandungnya itu.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum, bu ini aku Nadya.." ucap Nadya seraya mengetuk pintu rumah Jenar.


Tak lama kemudian, Jenar keluar membukakan pintu untuk Nadya.. Namun bukannya senang justru Jenar menangis memeluk Nadya tersedu-sedu.


"Loh Bu? Ibu kenapa kok nangis Bu??" tanya Nadya panik karena ibunya tiba-tiba menangis tanpa alasan.


Jenar tak menjawab pertanyaan Nadya, ia masih terus menangis tanpa henti membuat Nadya makin kebingungan tak tahu harus apa.


Akhirnya Nadya membalas pelukan ibunya, meletakkan rantang yang ia bawa ke kursi lalu menggunakan tangannya untuk mengelus-elus punggung ibu kandungnya itu.


"Bu, ibu tenang dulu ya! Ayo Bu kita duduk di dalam, udah ibu jangan nangis terus!" ucap Nadya coba menenangkan ibunya itu.


Lalu, Laila serta orangtuanya keluar menemui Nadya yang tengah berpelukan dengan Jenar itu.


"Syukurlah Nadya kamu dateng, tante Jenar langsung syok berat begitu tau kalau Shella saudara kembar kamu diculik orang!" ucap Laila menjelaskan yang terjadi pada Nadya.


"Hah? Shella diculik? Jadi karena itu ibu nangis? Ya Tuhan gimana bisa Shella sampe diculik begitu??" ujar Nadya yang ikutan syok.


Jenar pun melepas pelukannya dari Nadya, ia coba menguatkan diri mengajak Nadya masuk ke dalam rumah.


"Ayo Sheila kita masuk dan bicara di dalam! Makasih Sheila, kamu datang di waktu yang tepat saat ibu butuh pelukan hangat dari kamu..!!" ucap Jenar membelai rambut Nadya.


"Iya Bu, ibu jangan sedih ya! Aku yakin kok Shella pasti bisa dibebasin cepat atau lambat!" ucap Nadya tersenyum menyeka air mata di wajah ibunya.


Mereka pun kembali masuk ke dalam dan berbicara bersama disana sambil duduk di sofa.


...β€’β€’β€’...


"Pah, tolong pah sewa pengacara yang paling mahal dan bagus buat bebasin aku pah! Karena aku ini gak salah dan gak seharusnya aku ada disini pah!" ucap Adrian berbicara pada papahnya.


"Iya iya, tapi kamu sabar dulu Rian! Papah janji akan bebaskan kamu dari sini dan menyewa pengacara yang paling ternama di Indonesia! Kamu tenang aja gak perlu khawatir ya, pasti kita akan menang di persidangan nanti..!!" ucap Satria.


"Bukan hanya itu pah, aku juga mau kalo Devano ditahan karena dia sudah mencemarkan nama baik aku pah! Bisa-bisanya dia nuduh aku yang enggak-enggak kayak gini!" ujar Adrian tampak kesal pada Devano.


"Iya kamu tenang aja, papah juga yakin Devano pasti akan dijebloskan ke penjara dalam waktu yang tidak singkat! Kamu hanya perlu sabar untuk itu Rian! Sudah ya papah dan Bimo harus pergi sekarang, jaga diri kamu baik-baik disini!" ucap Satria.


"Baik pah, sampaikan salam aku untuk Bimo! Suruh dia terus berjuang untuk mendapatkan kembali hati mantannya pah!" ujar Adrian.


"Pasti!" ucap Satria menepuk pundak Adrian.


Kemudian, tentu saja Satria pergi meninggalkan Adrian dan keluar dari kantor polisi itu.


β€’


β€’


Bimo sedang duduk di ruang tunggu sendirian, tampak ia terlihat cemas sambil melihat sekeliling ruangan itu.


"Gua gak mau harus berakhir di tempat seperti ini cuma karena membantu Adrian melenyapkan orang suruhannya itu, aarrrgghhh kenapa sih gua harus ceroboh ninggalin kapak itu disana??!!" gumam Bimo mengusap wajahnya.


Bimo pun makin tak karuan saat melihat polisi berhasil menangkap dan membawa seorang pelaku pencurian yang sekujur tubuhnya penuh luka-luka.


"Waduh kalo pencuri aja digebukin begitu, apalagi gua ya yang udah ngebunuh orang?" gumam Bimo ketakutan.


Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya membuat ia terkejut dan sontak berteriak.


"Jangan, jangan apa-apakan saya..!!!" ujar Bimo menutupi wajahnya.

__ADS_1


Ternyata yang menepuknya adalah Satria alias papahnya sendiri, Satria pun merasa heran dengan kelakuan anaknya itu.


"Loh hey Bimo, ada apa? Ini papah nak bukan orang jahat! Kamu kenapa sih, kok seperti ketakutan begitu?" ujar Satria keheranan.


Bimo perlahan membuka wajahnya melihat ke depan, benar saja ada papahnya yang sedang duduk disampingnya kini.


"Papah? Aku kira tadi orang lain gitu, maaf pah aku cuma lagi bengong aja barusan.." ucap Bimo.


"Yasudah ayo kita pulang! Bantu papah cari pengacara paling hebat di negara ini! Papah harus bisa membebaskan Adrian bagaimanapun caranya!" ujar Satria kemudian dianggukan oleh Bimo.


Mereka berdua pun pergi keluar dari kantor polisi.


...β€’β€’β€’...


TOK TOK TOK...


Devano sampai di rumah Vanya, terlihat ia sudah membawa galon air yang diminta oleh Vanya.


Kreeekkkk...


Suara pintu terbuka, ya itulah Vanya yang keluar menemui Devano di depan rumahnya.


Devano membulatkan matanya saat melihat Vanya hanya mengenakan tanktop berwarna putih dengan hot pants menutupi bagian bawahnya.


"Eh lu udah dateng, langsung tolong dibawa masuk aja ya sama pasangin ke dispenser! Soalnya gak mungkin kan gue angkat galon ke dispenser," ucap Vanya kemudian melebarkan pintunya agar Devano bisa masuk.


"Iya iya," ucap Devano tertegun melihat Vanya yang sangat seksi itu, kulit putih mulusnya terlihat jelas membuat bagian bawah Devano tegang.


Devano pun masuk ke dalam rumah Vanya membawa galon di pundaknya lalu memasangnya pada dispenser milik Vanya.


"Nah udah nih, sekarang kamu bisa minum lagi!" ucap Devano menyeka keringat yang keluar di dahinya.


"Eh lu keringetan ya? Bentar gue ambilin tisu," ucap Vanya berjalan mengambil selembar tisu lalu kemudian mengelap keringat di dahi Devano menggunakan tisu itu.


Tampak Devano kesusahan menelan saliva nya saat berada dekat dengan Vanya, pandangannya otomatisasi tertuju pada belahan milik Vanya yang sangat indah di mata itu.


"Eee udah udah," ucap Devano reflek memegang tangan Vanya saat ingin menyudahi perlakuan Vanya itu.


"Oke," ucap Vanya melepaskan tangannya dari genggaman Devano.


"Sorry aku gak bermaksud-"


"Iya gapapa kok, yaudah lu bisa langsung pergi kalo sibuk! Makasih ya galonnya, oh ya ini uang gantinya!" potong Vanya memberikan uang pada Devano.


"Udah gausah, aku ikhlas kok bantu kamu!" ucap Devano menolak pemberian Vanya.


"Oke," ucap Vanya memasukkan kembali uangnya ke saku celananya.


"Eee yaudah aku pamit dulu ya, kalo ada apa-apa lagi telpon aku aja!" ucap Devano.


Vanya mengangguk saja lalu ikut mengantar Devano keluar dari rumahnya...


"Gue harus cepet-cepet pergi dari sini, kalo terlalu lama bisa-bisa gue khilaf!" gumam Devano.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...



...Hayo siapa yang kangen Nadya😍...

__ADS_1


__ADS_2