
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 322
...•...
...•...
Novi mengajak Rafael ke kantin perusahaan untuk berbicara disana sembari memesan makan dan juga minuman, Rafael pun tampak gembira bisa berduaan dengan Novi disana tanpa ada yang mengganggu karena Devano belum datang ke kantornya.
Sementara Novi tampak kebingungan melihat tingkah Rafael yang tak henti-hentinya tersenyum sembari memandang wajahnya, padahal saat ini ia sudah tidak berkeringat dan nafasnya pun telah normal kembali seperti biasanya.
"Bener kan pak Devano belum datang?" tanya Rafael sekali lagi untuk memastikan.
"Iya bener, emang ada apa sih pak? Kenapa bapak terus-terusan tanya begitu ke saya?" ucap Novi.
"Gak ada kok, oh ya jangan panggil saya bapak dong! Kita ngobrolnya biasa aja pake aku-kamu gitu, kan bukan mau bahas soal kerjaan!" ucap Rafael tersenyum.
"Eee ya oke terserah, terus kamu mau bicarain apa sama aku disini?" ucap Novi.
"Begini...."
Baru saja Rafael hendak mengatakan sesuatu dari mulutnya, namun tiba-tiba pelayan datang membawakan pesanan mereka lalu meletakkan piring serta gelas itu di atas meja, Rafael pun terpaksa menunda obrolannya.
"Minum dulu!" ucap Rafael.
Novi mengangguk kemudian meminum minuman yang ia pesan, begitupun dengan Rafael yang juga langsung menyedot minumannya dengan cepat sampai sisa setengah. Barulah mereka berdua kembali bertatapan saat ini.
"Nah sekarang kita bisa lanjut bicara, kamu pasti juga udah gak sabar kan?" ucap Rafael.
"Umm, biasa aja sih. Aku pikir juga gak ada yang penting kan, jadi ya santai-santai aja!" ucap Novi.
"Kata siapa gak penting? Menurut aku yang mau aku sampaikan ini penting kok, malah sangat-sangat penting dan menyangkut masa depan kita berdua!" ucap Rafael.
__ADS_1
"Hah? Maksudnya gimana??" tanya Novi.
"Iya, kalau misal kita berdua gagal temuin siapa orang yang udah kirim paket ke rumah pak Vano, atau gak berhasil siapin pesta kejutan ulang tahun pak Vano, pastinya kita bakal dipecat!" jelas Rafael.
"Ohh, kamu mau bicarain soal itu?" tanya Novi.
"Eee... ya begitulah, emangnya kamu kira yang aku maksud masa depan itu apa? Kita menikah?" ucap Rafael menggoda Novi sembari memajukan wajahnya lebih dekat ke arah Novi.
"Gak kok, aku gak kira apa-apa. Mungkin itu cuma perasaan kamu aja!" ucap Novi.
"Oh gitu ya? Yaudah, jadinya gimana nih soal progres pesta kejutan yang kamu buat?" tanya Rafael.
"Hmm... udah aku buat kok, tinggal eksekusinya aja dua hari lagi pas hari ulang tahun pak Vano! Kamu mau lihat ruang kejutan yang udah aku siapin?" ucap Novi menawarkan Rafael.
"Boleh, nanti kita lihat setelah makanan ini habis." ucap Rafael.
Novi mengangguk kemudian lanjut menghabiskan makanan miliknya, sesekali ia melirik wajah Rafael merasa kalau pria itu sedang menyimpan sesuatu yang belum berani dia ungkapkan, namun Novi segera melupakan semua itu.
Setelah selesai makan dan minum di kantin, keduanya pun bergegas menuju lift untuk melihat kondisi ruang kejutan ulang tahun Devano. Rafael tampak terus memandangi wajah Novi dari samping sambil senyum-senyum sendiri.
"Novi, Fael?"
Tiba-tiba mereka malah bertemu dengan Devano yang kelihatannya baru sampai disana, tentu saja baik Novi maupun Rafael langsung terkejut dan spontan menunduk kebingungan.
"Eee maaf pak, saya tadi ada yang mau disampaikan ke Novi. Makanya saya datang kesini, tapi sekarang udah selesai kok, pak!" jawab Rafael.
"Ohh, sampaikan apa?" tanya Devano.
"Tentang pengirim paket misterius itu, pak! Saya ingin meminta bantuan Novi untuk mencari tau tentang dia, pak!" jawab Rafael.
"Buat apa? Kamu kan udah berhasil temuin alamatnya, nanti biar saya sendiri yang datang kesana untuk cari tau." ucap Devano.
"Iya pak, maaf!" ucap Rafael gugup.
"Yasudah, terus kamu mau apa lagi?" ucap Devano.
"Gak ada kok pak, ini saya mau pulang! Permisi..." ucap Rafael kemudian melangkah pergi.
Devano masih tampak bingung dengan kelakuan Rafael yang mencurigakan itu, ia merasa kalau asistennya itu sedang memendam rasa pada sekretarisnya yakni Novi. Devano pun kini berganti menatap Novi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hey, kamu bicara apa aja sama Rafael tadi?" tanya Devano coba mencari tau lewat sekretarisnya.
Novi terkejut dan bingung, ia tak tau harus bilang apa saat ini pada bosnya.
...•••...
Disisi lain, Nadya turun dari kamarnya ke bawah menemui sang ibu dengan wajah suram dan sedih memandang tubuh Jenar. Perlahan Nadya mendekat ke arah Jenar lalu secara tiba-tiba memeluk tubuh ibunya dari belakang dan menangis.
Jenar yang terkejut reflek menoleh sembari memegang tangan Nadya yang melingkar di perutnya, ia tak mengerti apa yang terjadi pada Nadya putrinya itu sampai tiba-tiba memeluknya dan menangis di bawah sana.
"Sayang, kenapa nak?" tanya Jenar heran.
Nadya tak menjawab. Gadis itu asyik menangis tersedu-sedu menumpahkan air mata yang banyak pada punggung sang ibu, sepertinya Nadya merasa sangat sedih dan tak bisa melepas pelukannya sebelum ia berhenti menangis.
Jenar yang khawatir langsung berbalik badan membuat Nadya juga kaget karena ibunya melepas paksa pelukan darinya, Jenar dengan cepat memegang wajah Nadya mengenakan kedua tangannya lalu menghapus air mata itu.
"Kamu jangan nangis! Cerita sama ibu, ada apa?" ucap Jenar tersenyum.
"Aku, aku...." Nadya terisak tak bisa menjawab pertanyaan ibunya dengan lancar.
"Hey, udah. Stop dulu nangisnya! Ibu bingung loh, kamu kenapa bisa nangis begini? Apa ada sesuatu yang bikin kamu sedih?" ucap Jenar.
"Aku mau minta maaf sama ibu...." ujar Nadya.
Jenar terkejut dengan perkataan Nadya, ia tak mengerti mengapa Nadya tiba-tiba menangis lalu hendak meminta maaf padanya. Bahkan Nadya kembali memeluknya erat dan menangis sesenggukan di dalam pelukannya.
"Maafin aku Bu, aku bener-bener bukan anak yang baik buat ibu! Aku salah udah benci ibu, harusnya aku gak begitu Bu...." ucap Nadya.
"Hah? Maksud kamu apa sayang?" tanya Jenar.
Nadya mengangkat kepalanya menatap wajah Jenar dengan tangis yang masih mengalir, ia menelan saliva nya sebelum bisa berbicara menjelaskan penyebab mengapa ia menangis.
"Aku udah inget Bu, aku inget kalau aku bukan anak yang baik!" ucap Nadya.
Jenar terhenyak mendengarnya. Jadi ternyata Nadya sudah mengingat kembali semua ingatannya yang hilang itu, Jenar pun bengong tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ka-kamu udah inget nak? Jadi ingatan kamu udah kembali?" tanya Jenar.
Nadya mengangguk pelan. Jenar langsung memeluk Nadya kembali dan mengusap rambut belakang putrinya itu, ia tampak senang karena ingatan Nadya telah pulih. Ya walau ia juga khawatir kalau Nadya nantinya akan pergi dari rumah itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...