
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 218
...•...
...•...
Adrian melepaskan penutup mata dari wajah Novi, entah mengapa ia melakukan itu secara tiba-tiba padahal Novi tidak memintanya. Setelah dilepas, kini Novi bisa melihat kembali walau agak samar-samar karena cukup lama matanya ditutup.
"Hey, gimana? Agak baikan?" tanya Adrian menatap wajah gadis itu sambil tersenyum.
Novi hanya diam memandang pria di hadapannya itu, ia masih merasa bingung apa yang hendak dilakukan Adrian padanya. Novi memalingkan wajahnya dari pria tersebut karena ia tak mau terus menatap wajah seorang pria jahat seperti Adrian, namun pria itu langsung menarik dagunya untuk kembali menatap wajah Adrian. Perlahan Adrian mendekatkan wajahnya pada Novi sambil tersenyum tipis, tampak Novi sangat ketakutan tak bisa memastikan apa yang akan dilakukan Adrian.
"Sekali lagi saya berikan penawaran pada kamu, layani saya dan kamu akan saya pastikan tetap hidup dan bisa bertemu ibu kamu! Ayolah, saya penasaran sekali ingin mencicipi tubuh indah kamu yang tampak seksi dan menggoda ini..." ucap Adrian sambil mengelus bibir mungil gadis itu.
Cuih...
"Gue gak sudi!" bentak Novi sambil meludahi wajah Adrian tanpa rasa takut sedikitpun.
Sontak Adrian langsung mengusap wajahnya bekas air liur Novi, namun bukannya dibersihkan dengan cuci tangan... Adrian malah menjilat air liur gadis itu di depan mata Novi sehingga gadis itu langsung terperangah melihatnya.
"Kenapa? Kaget? Ayo ludahin aja saya lagi, air liur lu itu rasanya nikmat..." ucap Adrian tersenyum.
__ADS_1
Novi hanya geleng-geleng kepala lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tak menyangka kalau Adrian malah melakukan itu di depan matanya. Sementara pria itu terus saja menatap Novi dengan wajah mesumnya berharap kalau gadis itu mau melayaninya, bahkan Adrian juga sudah membayangkan bagaimana Novi kalau telanjang.
"Dia pasti enak banget kalo dipake, tapi gue gak mau pake dia secara paksa! Gue harus bikin dia mohon-mohon supaya gue pake, itu baru mantap!" batin Adrian tersenyum tipis.
Novi makin dibuat takut karena lelaki itu tak henti-hentinya menatap dirinya, ia saja sampai tidak berani melihat ke depan karena tatapan Adrian memang seram seperti orang yang hendak menerkamnya.
"Duh sampe kapan gue harus disini? Gue pengen pulang, ini semua karena kesalahan gue sendiri yang lebih memilih berkhianat dari pak Devano terus bekerjasama sama orang licik kayak pak Adrian! Seharusnya gue gak terpengaruh kata-kata dia, kalau kayak gini sekarang posisi gue sangat terancam! Pak Adrian bisa kapan aja setubuhi gue, dan gue gak mau itu terjadi karena kesucian gue cuma boleh disentuh sama suami gue kelak..." batin Novi ketakutan.
Adrian pun berjalan memutari tubuh Novi yang terikat di kursi itu, ia memandangi setiap inci lekuk tubuh gadis itu sambil membayangkan ketika ia mencicipinya satu persatu.
...•••...
Sementara itu, Jenar & Lestari masuk mengecek kondisi Nadya di ruang ICU. Tampak gadis itu masih terbaring koma di atas ranjang dan tak bergerak sedikitpun, Jenar sang ibu kandung menatap nanar wajah putrinya yang sedang koma itu. Begitupun dengan Lestari yang berdiri di sampingnya, mereka sama-sama menyayangi Nadya dengan tulus dan sangat berharap gadis itu bisa segera sadar.
Tangan-tangan mereka mengelus lembut rambut serta wajah Nadya disertai air mata yang perlahan keluar membasahi pipi, mereka selalu mendoakan kesembuhan putrinya itu agar bisa kembali sadar dan berkumpul bersama-sama lagi.
"Nadya, mama juga ada disini selalu menemani kamu sayang! Mama gak akan pernah tinggalin kamu walau sedetikpun, karena mama gak bisa tenang kalau kamu sendirian disini! Ayo cepat sadar sayang, banyak orang-orang yang menantikan kesembuhan kamu disini! Setelah kamu sadar, kamu bisa berkumpul lagi sama mama, ibu dan juga saudara kembar kamu.... Mama yakin kamu pasti senang sekali, sayang!" ucap Lestari.
Segala upaya telah mereka lakukan, mulai dari berdoa setiap sehabis ibadah dan juga mencoba untuk berkomunikasi secara langsung dengan Nadya. Akan tetapi, masih tetap tidak ada reaksi dari gadis itu hingga saat ini. Sampai terkadang terlintas dalam benak mereka, kalau Nadya lebih baik meninggal daripada harus menderita seperti ini.
Setelah usaha mereka gagal lagi, Jenar serta Lestari pun mengusap lembut wajah Nadya lalu mengecup keningnya secara bergantian. Mereka pun keluar dari dalam ruangan itu dan membiarkan Nadya berjuang melawan komanya, mereka masih terus memandangi Nadya dari balik kaca memanjatkan doa untuk kesembuhan putri mereka itu.
"Sheila, kalau ibu bisa memilih maka ibu pasti akan meminta pada Tuhan biar ibu saja yang mengalami ini dan jangan kamu, sayang! Ibu gak kuat lihat kamu seperti ini terus, ibu bener-bener nyesel udah bikin kamu kecewa selama ini..." batin Jenar.
Lestari yang berada di samping Jenar memandang wanita itu dengan mata berkaca-kaca, ia nampak melihat kesedihan yang amat dalam dari Jenar sang ibu kandung Nadya itu.
"Andai kamu bisa melihat ini, Nadya! Lihatlah, ibu kandung kamu benar-benar terpukul atas kejadian yang menimpa kamu ini! Kasihan dia sayang, kamu harus bisa cepat sadar dan usap air mata di wajah ibu kandung kamu nak...." batin Lestari.
...•••...
__ADS_1
Disisi lain, Rafael sudah mulai bergerak mencari informasi tentang keberadaan Adrian melalui komputer canggihnya. Ia menelusuri info lokasi Adrian lewat beberapa data yang sudah diberikan Devano, seperti salah satunya adalah plat mobil milik Adrian dan tentunya juga nomor telepon pria tersebut. Sayangnya, Rafael masih belum dapat melacak keberadaan Adrian hingga saat ini.
"Hadeh, susah juga ya nyari ini orang! Gue gak nyangka kalau Adrian bisa berbuat secanggih ini, kayaknya gue harus minta bantuan orang yang lebih ahli dalam hal beginian nih..." batin Rafael.
Rafael pun mengambil ponselnya dari atas meja dan langsung menghubungi rekannya yang berprofesi sebagai ahli pelacak. Namun, ia malah lebih dulu ditelpon oleh Vanya saat hendak menekan nomor temannya itu. Ya mau gak mau Rafael pun harus mengangkat dulu telpon dari gadis itu.
📞"Halo, manis! Kenapa nih telpon aku, kangen ya?" ujar Rafael sambil nyengir.
📞"Umm kangen gak ya? Iya deh, aku emang kangen sama kamu! Abisnya udah beberapa hari ini kamu gak hubungin aku sih, dateng ke rumah aku aja enggak! Emang kamu lagi sibuk banget ya?" ucap Vanya.
📞"Eee enggak kok, manis! Aku aja baru dikasih tugas sama pak Vano barusan, kemarin-kemarin tuh aku gak temuin kamu karena males aja sih!" ucap Rafael sambil senyum-senyum.
📞"Ohh jadi sekarang kamu tuh males ketemu sama aku? Yah kirain kamu emang beneran suka sama aku, tapi ternyata cuma bohongan doang ya?" ujar Vanya terdengar bete.
📞"Hahaha, ya enggak lah cantik! Masa iya aku bohong soal perasaan aku sendiri, tadi aku cuma bercanda kok manis! Aku gak ke rumah kamu karena aku bosen tiap kesana pasti cuma aku aja yang cari topik obrolan, kamu selalu diem malu-malu beraninya kalo di telpon doang..." ujar Rafael.
📞"Ish ya kan wajar dong, namanya juga cewek! Yaudah sekarang kamu bisa kesini atau enggak? Aku bete nih pengen keluar rumah, temenin ya!" ucap Vanya.
📞"Eee aduh sorry banget nih, manis! Aku kan tadi udah bilang kalo pak Vano baru kasih aku tugas, mungkin nanti ya setelah tugas aku selesai pasti aku bakal ke rumah kamu!" ucap Rafael.
📞"Ya oke deh gapapa, emang kamu dikasih tugas apa sih sama Devano?" tanya Vanya bingung.
📞"Ini loh pak Vano minta aku cari orang yang namanya, Adrian Bagaskara!" jawab Rafael.
📞"Adrian Bagaskara?" ujar Vanya terkejut.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1