Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Sangat indah seperti surga


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 229


...•...


...•...


Devano menemui sekretarisnya yakni Novi di ruang rawat VIP 3 tempat ia menaruh gadis itu untuk diberi pengobatan lebih lanjut, ia tersenyum menatap sekretarisnya yang kini sudah sadar. Novi juga membalas senyuman Devano dengan mata berkaca-kaca, ia seperti menyesal atas perbuatannya yang sudah mengkhianati bosnya demi uang.


Novi sungguh sangat menyesal apalagi sekarang bosnya lah yang menjadi penyelamat hidupnya, ia tak bisa menutupi rasa bersalahnya itu dari Devano dan air mata pun pecah saat Devano berada di dekatnya. Ia bahkan tak berani menatap mata bosnya itu karena merasa tidak pantas, dirinya sudah mengkhianati seorang bos yang sangat baik padanya.


"Kenapa? Apa ada yang sakit lagi? Biar saya panggilkan dokter ya, mungkin kamu buruh dicek sekali lagi untuk memastikan apa kamu ada penyakit atau tidak!" ucap Devano hendak pergi.


"Tunggu, pak!" ucap Novi menahan Devano dengan mencengkeram tangan bosnya itu.


Devano pun kembali menatap sekretarisnya, sementara Novi langsung melepas tangannya itu dari lengan sang bos dan meminta maaf karena sudah lancang memegang tangan bosnya barusan.


"Ma-maaf, pak!" ucap Novi gugup.


"Ya gapapa, lalu kenapa kamu tahan saya? Bukannya kamu menangis karena ada yang sakit? Biar saya panggil dokter untuk memeriksa kamu, barangkali ada yang perlu dicek lagi..." ucap Devano.


"Tidak pak, saya menangis bukan karena itu!" ucap Novi tak berani menatap mata Devano.


"Lalu?" tanya Devano penasaran.

__ADS_1


"Sa-saya menangis karena saya menyesal pak, saya sudah melakukan perbuatan jahat yang seharusnya tidak saya lakukan pak!" jawab Novi kembali meneteskan air mata di wajahnya.


"Loh, perbuatan jahat apa?" tanya Devano heran.


Novi menghapus air matanya sembari menghela nafas untuk menguatkan dirinya, ia kini menatap wajah bosnya yang sedang menunggu jawaban darinya. Cukup berat dan sulit tentunya bagi ia untuk mengatakan bahwa ia telah mengkhianati bosnya itu, namun bagaimanapun juga ia harus jujur dan menerima resiko apapun yang terjadi nantinya.


"Maafkan saya, pak! Karena saya...." ucap Novi menggantung sembari mengalihkan pandangannya.


"Kamu apa?" Devano makin dibuat penasaran oleh Novi karena gadis itu menggantung ucapannya.


Novi menelan saliva nya susah payah karena merasa gugup sekaligus takut kalau bosnya akan marah padanya nanti, yang lebih penting tentu ia cemas kalau Devano akan memecatnya dan ia akan kehilangan pekerjaan serta pendapatan.


"Saya sebelumnya sudah bekerjasama dengan pak Adrian untuk menghancurkan perusahaan bapak dari dalam," jawab Novi melanjutkan ucapannya yang tergantung tadi, ia mengucap itu sembari menangis lalu menghadap ke arah lain karena tidak sanggup melihat tatapan amarah di wajah Devano.


"Apa??" ujar Devano mengkaget saat mendengar pengakuan dari sekretarisnya, sungguh ia tak menyangka kalau Novi akan mengkhianati dirinya padahal mereka sudah bekerja sama cukup lama.


"Kenapa kamu melakukan itu, Novi?" tanya Devano terlihat menahan emosinya dengan cara memijat pangkal hidungnya.


"Itulah sebabnya saya ditahan pak Adrian di tempat sebelumnya, sudah berhari-hari saya disekap disana dan saya tidak mengetahui bagaimana kondisi ibu saya sekarang pak!" sambungnya seraya mengeluarkan air mata dalam jumlah banyak.


Devano tersentuh melihat gadis itu menceritakan semuanya sembari menangis terisak, ia pun mendekat ke wajah Novi lalu menghapus air mata yang tergenang disana dengan menggunakan tangannya. Devano yang tadinya emosi kini berubah menjadi terharu setelah mendengar cerita lengkap sekretarisnya, tentu ia sangat berterimakasih pada Novi karena kalau gadis itu tak merobek kertasnya mungkin sekarang perusahaan miliknya sudah jatuh ke tangan Adrian.


"Hey, sudah jangan menangis!" ucap Devano lembut sembari menyeka air mata di wajah Novi.


"Saya maafkan kamu kok, saya justru berterimakasih sekali pada kamu karena sudah membantu saya merobek kertas itu! Soal ibu kamu tidak perlu khawatir, saya sudah menyuruh orang untuk mengawasinya ibu kamu di rumah sakit!" sambung Devano tersenyum memandang wajah Novi.


Berada berdekatan dengan Devano membuat jantung Novi berdebar-debar tak karuan, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya mungkin rasa cinta atau semacamnya ia juga tidak tahu.


Novi sampai kesulitan untuk bernafas maupun menelan saliva nya karena bosnya malah mengusap wajah serta rambutnya, entah apa yang ada di pikiran Devano melakukan itu padanya. Namun, Novi berusaha tetap tenang dan berpikir positif karena tidak mungkin Devano sengaja menggodanya.


"Kenapa diam? Kamu tidak percaya dengan perkataan saya kalau ibu kamu aman? Baiklah, nanti saya minta anak buah saya untuk memvideokan ibu kamu di rumah sakit ya..." ucap Devano tersenyum lalu menjauh dari Novi.

__ADS_1


"Eee tidak perlu, pak! Saya percaya kok, tadi saya cuma gugup aja saat bapak usap air mata saya!" ucap Novi menatap mata Devano.


"Ohh tidak perlu gugup, saya kan sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri!" ucap Devano.


"Oh ya pak, saya perlu membuat pengakuan sekali lagi! Ini lumayan penting pak, karena ada alat penyadap yang saya pasang di ruangan bapak dan beberapa ruang lainnya di perusahaan bapak!" ucap Novi.


"Hah??"


Devano menganga terkejut mendengarnya...


...•••...


Disisi lain, Jenar sudah bisa menenangkan Nadya hingga gadis itu merasa nyaman berbicara dengannya. Bahkan Jenar kini dapat mengusap-usap wajah yang ia rindukan itu sembari bercanda tawa dengan putrinya, walau Nadya belum mampu mengingat dirinya tapi Jenar sudah bahagia karena Nadya bisa tersenyum bersamanya.


"Ibu, kalau emang ibu ini ibu aku... ibu tahu gak nama aku ini siapa??" ucap Nadya melontarkan pertanyaan sembari menoleh ke arah Jenar dengan tatapan penasaran penuh keheranan.


"Ohh, ya jelas tahu dong sayang! Kan ibu sendiri yang kasih nama kamu waktu kecil, nama yang disertai doa seorang ibu untuk putrinya tersayang!" ucap Jenar tersenyum sambil mengusap lembut wajah serta rambut putrinya.


"Terus, namaku siapa Bu?" tanya Nadya.


"Nama kamu itu, Sheila! Yang artinya sangat indah seperti surga dan berperilaku baik, ibu sengaja memberi nama kamu itu supaya kamu bisa menerapkan kebaikan di dunia ini!" jawab Jenar.


Nadya menatap mata Jenar sambil tersenyum, ia merasakan kenyamanan saat Jenar mengelusnya seperti seorang anak yang tengah dibelai ibu kandungnya.


"Rasanya nyaman banget dielus-elus sama ibu ini, apa emang benar ya dia ibu aku?" batin Nadya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...

__ADS_1


...Happy Monday❤️...


__ADS_2