
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 134
...•...
...•...
"Nah pancake strawberry ala Jenar udah jadi, ibu yakin kamu pasti suka sayang sama pancake ini!" ucap Jenar tampak gembira sambil membawa sepiring pancake yang ia buat di dapur.
Shella juga tak kalah gembira melihat ibunya datang dari dapur menuju meja makan dengan pancake strawberry di tangannya, namun ia juga sedikit menyesal karena tidak bisa membantu ibunya membuat pancake itu.
"Wah cantik banget Bu tampilannya, aku yakin deh kalo ibu ikutan audisi mitik chef Indonesia pasti bakalan juara..!!" ucap Shella melontarkan pujian pada ibunya setelah melihat hasil pancake buatannya yang memang sangat cantik.
"Ah kamu ini bisa aja kalo soal muji memuji! Mana mungkin masakan begini bisa bikin ibu menang audisi itu, paling baru awal-awal juga udah kena semprot sama jurinya siapa itu yang galak banget tuh??" ujar Jenar sambil meletakkan piringnya di meja dan siap untuk disantap.
"Ohh maksud ibu chef Juned? Ya iya sih emang dia galak, tapi kan galaknya kalau si pesertanya bikin salah atau masakannya kurang enak! Kalo masakan ibu ini sih pasti chef Juned malah muji muji ibu deh aku jamin 100% hehe..." ujar Shella.
"Udah ah gausah bahas begituan, mending sekarang kita makan ini sama-sama! Pasti kamu udah gak tahan kan buat makan ini? Sama soalnya ibu juga gak sabar sayang..." ujar Jenar tertawa kecil.
"Ahaha iya Bu, eee maaf ya Bu tadi pas aku mau bantu malah tiba-tiba perut aku sakit jadi gajadi deh bantuin ibunya... gak tau nih kenapa sih kamu nak??" ujar Shella sambil mengusap perutnya dan seolah-olah berbicara pada calon anaknya itu.
"Ya gapapa Shella, itu tandanya kamu emang gak boleh banyak capek-capek sayang! Udah yang paling bagusnya itu kamu istirahat aja yang banyak!" ujar Jenar melahap pancake tersebut.
"Ih ibu ya gak terus kali, aku bisa bosen kalo terus-terusan istirahat melulu... aku jadi kepengen deh ikut senam hamil Bu, kan itu bagus juga buat kesehatan kandungan aku...!!" ujar Shella tersenyum.
"Oh iya sih betul itu, tapi kamu harus komunikasi dulu sama suami kamu soal itu! Jangan sampai nanti Devano ngiranya kamu udah gak anggap dia sebagai suami lagi karena ambil keputusan tanpa minta pendapat dari dia!" ujar Jenar.
"Iya sih Bu, tapi kan sampai sekarang juga mas Vano belum dateng-dateng kesini buat temuin aku! Makanya aku bingung mau minta pendapat dia gimana, kalo lewat telpon atau sms kan gak enak Bu!" ucap Shella.
__ADS_1
"Yaudah nanti biar ibu tanyakan sama mertua kamu Bu Silvi, kapan sekiranya nak Vano bisa datang kesini buat jemput atau sekedar temuin kamu! Udah yuk sekarang dimakan lagi nih pancake nya sampe habis, kalo dingin kurang enak nanti..!!" ucap Jenar.
"Iya Bu makasih ya," ucap Shella tersenyum kemudian mulai menyantap pancake buatan ibunya tersebut.
Saat tengah asyik menyantap pancake itu, tiba-tiba saja Shella teringat pada saudara kembarnya yakni Nadya karena hingga kini juga saudaranya itu tak datang menjenguknya.
"Eee Bu, Sheila tuh kabarnya gimana ya sekarang? Sejak aku kembali kok aku belum pernah dengar dia lagi ya??" tanya Shella di sela-sela makan itu.
"Oh iya sayang, ibu juga baru inget sekarang sama Sheila loh! Waktu itu pas kamu masih diculik, dia sempat kesini malah nginep buat temenin ibu! Tapi gak tau kenapa tiba-tiba dia pergi tanpa kabar, sampai sekarang Sheila juga gak balik-balik lagi kesini!" jawab Jenar.
"Kira-kira kenapa ya Bu kok Sheila mendadak pergi gitu tanpa bilang-bilang sama ibu? Masa iya dia datang kesini buat temenin ibu eh tapi malah pergi gitu aja ninggalin ibu, pasti ini ada apa-apanya Bu!" ujar Shella yang penasaran.
"Ibu juga gak tau sayang, yaudah nanti coba ibu tanyain juga sama nak Adrian soal Sheila ya! Kebetulan kan kembaran kamu itu lagi dekat sama nak Rian, jadi mungkin dia tau alasan Sheila pergi gitu aja dari sini ninggalin ibu..!!" ucap Jenar.
Mendadak wajah Shella langsung berubah menjadi bete saat mendengar ibunya menyebut nama Adrian, ya memang sampai kini ia masih menyimpan rasa dendam pada laki-laki yang sudah membuat hidupnya hancur itu.
...•••...
Disisi lain, Adrian masuk ke ruang itu untuk melihat sendiri kondisi papahnya... sambil menahan tangis ia pun membuka kain yang menutupi wajah papahnya itu, terlihat sang papah memang sudah tak bernafas lagi dan hanya terbaring disana tanpa kehidupan.
Tak lama kemudian, Frederick datang juga setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit tentang kepergian putra pertamanya itu.
Tampak Frederick juga langsung meneteskan air mata begitu sampai disana, ia tidak bisa menahan kesedihannya melihat putranya itu pergi dan sedang ditangisi oleh cucunya yakni Adrian.
"Satria... kenapa kamu pergi secepat ini? Kenapa kamu mendahului saya Sat?" ujar Frederick yang kini sudah berada di samping Adrian.
Mengetahui ada kakeknya yang datang, Adrian pun melepas pelukannya dari tubuh Satria dan beralih memeluk Frederick sambil menangis.
Sontak Frederick makin merasa sedih ketika cucunya itu memeluk dirinya, ia tau betul apa yang dirasakan Adrian sekarang karena dulu ia juga pernah kehilangan papahnya saat masih remaja.
"Sudah Adrian sudah! Ikhlaskan kepergian papah kamu! Kakek yakin kami pasti bisa melakukan itu supaya papah kamu juga bisa bahagia disana!" ucap Frederick menenangkan cucunya itu.
•
•
__ADS_1
Waktu telah berlalu, kini jenazah Satria Bagaskara alias sang ayah dari Adrian Bagaskara dan juga merupakan putra pertama seorang pengusaha besar yakni Mr. Frederick Bagaskara.
Banyak orang termasuk pengusaha-pengusaha besar menghadiri acara pemakaman itu, tentu mereka sangat merasa kehilangan rekan bisnis sebaik dan secerdas Satria.
Sampai semua orang pergi, Adrian masih setia di samping batu nisan papahnya itu... ia terus menatap makam papahnya dan juga menangis tersedu-sedu.
"Rian..." ucap Frederick memanggil nama cucunya itu sambil berjongkok disampingnya untuk mencoba menghiburnya.
Adrian pun menoleh karena panggilan dan juga sentuhan dari kakeknya itu, terlihat wajahnya kini dibasahi oleh air mata yang bercucuran.
"Kita pulang yuk! Biarkan papah kamu tenang disana!" ucap Frederick tersenyum.
"Gak mau kek, aku masih mau disini aku mau temenin papah kek..!! Kasihan kan kek kalau papah nanti malam sendirian dan kesepian disini, makanya aku masih mau disini temenin papah!" ujar Adrian menolak ajakan Frederick.
"Jangan begini Rian! Papah kamu itu sudah pergi, ikhlaskan dia dan kita pergi dari sini! Kakek tau kamu sangat merasa kehilangan Satria, begitupun dengan kakek! Tapi kamu tidak bisa seperti ini terus Rian! Kalau memang kamu sayang pada papah kamu itu, ikhlaskan kepergian dia Adrian..!!!" ucap Frederick.
Akhirnya Adrian mengangguk dan mau pergi dari sana walau dengan berat hati, saat ia berdiri dan hendak pergi tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Sebentar kek aku angkat telpon dulu!" ucap Adrian mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat kalau yang menelponnya adalah Reza alias orang yang ia suruh menyelidiki kecelakaan papahnya.
"Iya silahkan, kakek tunggu di mobil ya!" ucap Frederick tersenyum kemudian berjalan menuju mobilnya karena ia tak kuat berdiri terlalu lama.
📞"Halo, info apa yang kamu dapatkan?" tanya Adrian sambil menyesap ingusnya.
📞"Begini bos, menurut keterangan polisi ternyata mobil pak Satria itu ditabrak oleh sebuah mobil yang melintas dari arah berlawanan bos!" jelas Reza.
📞"Mobil siapa itu?" tanya Adrian kembali.
📞"Mobil Fortuner warna hitam berplat xxxxx bos, menurut keterangan warga juga mobil itu yang membawa pak Satria ke rumah sakit bos!" jawab Reza.
Adrian pun terdiam dan kini terlihat tubuhnya bergetar serta satu tangannya ia kepalkan tanda emosi sudah mulai menguasai tubuhnya.
"Berarti benar mereka yang udah bikin papah kecelakaan sampai meninggal, dasar pembunuh!" gumam Adrian.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...