Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Lihat mantan


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 202


...•...


...•...


Devano sampai di Mathilda Cafe tepat waktu, terlihat disana juga sudah ada Adrian yang menunggu sambil duduk santai di kursinya.


Melihat kedatangan Devano kesana, Adrian langsung bangkit menyambut rekan kerjanya itu dan bersalaman dengannya.


"Selamat datang, Devano!" ucap Adrian tersenyum berpura-pura ramah.


"Ya, terimakasih!" ucap Devano dingin.


"Silahkan duduk, pak!" ucap Adrian mempersilahkan Devano duduk di hadapannya.


Devano mengangguk pelan lalu duduk disana, ia memajukan sedikit kursinya sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja.

__ADS_1


"Langsung saja pak, saya tidak suka basa-basi karena waktu saya juga tidak banyak untuk meladeni perkataan anda!" ucap Adrian meminta Devano untuk langsung berbicara.


"Oke, saya mengundang anda datang kesini untuk membahas kelanjutan kerjasama yang akan kita lakukan pak! Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui, kemarin anda bersama pak Santoso datang ke perusahaan saya menawarkan bantuan untuk meringankan hutang-hutang perusahaan saya! Dan saya secara pribadi juga telah menyetujui itu, tapi yang masih saya bingungkan adalah kenapa anda bisa sampai mau melakukan itu? Bukankah anda sangat membenci saya pak Adrian, atau jangan-jangan ini semua adalah rencana anda untuk menghancurkan saya?" ucap Devano panjang lebar menjelaskan maksudnya mengajak Adrian kesana.


Adrian berusaha menanggapi perkataan Devano dengan santai, ia tak mau terlihat cemas dan nantinya Devano malah menaruh curiga kepada dirinya.


"Maaf pak, saya melakukan ini semua semata-mata hanya karena saya ingin membantu ke sesama pengusaha pak! Lagipula saya juga tau, kalau PT. Devano sukses makmur milik anda ini punya potensi yang sangat bagus untuk bisa kembali naik dan bersaing dengan perusahaan yang lainnya! Maka dari itu saya ingin menyelamatkan perusahaan anda dari kehancuran, kita juga kan pernah bekerjasama sebelumnya pak Vano!" ucap Adrian tersenyum lalu meneguk minumannya.


Devano menatap Adrian dengan tatapan curiga seperti tak mempercayai perkataan pria itu barusan, ia sangat yakin kalau Adrian memang mempunyai rencana lain dibalik ini semua.


"Kalau memang betul hanya itu alasan anda ingin membantu perusahaan saya, baiklah saya akan dengan senang hati menerima bantuan dari anda apalagi saya memang sedang membutuhkan suntikan dana untuk bisa melanjutkan proyek kita yang sempat tertunda itu! Jujur saja pak Adrian, sejak masalah ini melanda perusahaan saya sudah tidak ada lagi investor-investor yang mau masuk karena merasa tidak yakin dengan prospek perusahaan saya pak! Saya sangat bersyukur masih ada orang baik seperti anda, dikala persaingan bisnis diantara dua perusahaan kita yang cukup memanas anda malah ingin membantu perusahaan saya..." ucap Devano.


"Tentu saja pak Devano, karena saya tidak pernah mencampuradukkan antara urusan pekerjaan dengan urusan pribadi saya! Itulah sebabnya sampai sekarang perusahaan yang saya pegang itu masih bisa bertengger di posisi teratas, tidak seperti anda yang rela menarik semua dana anda dari perusahaan saya hanya karena Shella...." ucap Adrian.


Mendengar perkataan Adrian membuat Devano makin memanas, ia tersulut emosi dan kesulitan menahan rasa kesalnya itu. Ingin sekali ia memukul wajah pria di hadapannya yang sudah sangat membuat ia emosi.


"Itu adalah keputusan yang tepat pak Devano, dengan menerima bantuan dari saya maka saya pastikan perusahaan anda bisa kembali naik dan bersaing di dunia bisnis! Secepatnya saya akan mengurus ini semua pak, tapi saya butuh waktu untuk melakukannya karena ada beberapa kendala...." ucap Adrian.


"Ok, tidak perlu terburu-buru pak Adrian! Saya juga masih mencari jalan lain selain menerima bantuan dari anda, jaga-jaga aja kalau anda ternyata menarik kembali tawaran itu! Oh ya pak Adrian, besok ada sidang pertama kasus kecelakaan papa anda dan saya akan pastikan kalau kedua orang tua saya tidak bersalah!" ucap Devano.


"Hahaha, anda ini lucu sekali pak Devano! Sudah jelas-jelas mereka terbukti bersalah, kita lihat saja apa yang akan terjadi di persidangan esok hari! Apakah orang tua anda akan dibebaskan atau justru mereka akan mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama, sehingga anda tidak bisa bersama dengan mereka berdua lagi..." ucap Adrian.


Devano hanya tersenyum tipis menatap wajah Adrian yang terlihat sangat gembira, ia memang gagal mendapatkan informasi yang jelas tentang maksud Adrian membantunya. Akan tetapi, ia cukup berhasil membuat pria itu merasa menang dan mungkin akan lengah nantinya sehingga ia bisa memanfaatkan momen tersebut.


...•••...

__ADS_1


Disisi lain, Rafi bersama Femila pergi keluar dari apartemen untuk berbelanja baju di mall sekitar sana yang cukup besar. Rafi sengaja merubah penampilan gadisnya berjaga-jaga kalau mereka nantinya akan bertemu dengan Adrian di tengah jalan.


Rafi sendiri juga menutupi wajahnya dengan masker dan memakai hoodie berwarna hitam sehingga orang-orang akan sulit mengenali dirinya.


"Sayang, kamu mau beli baju yang mana? Lihat deh ini bagus-bagus semua loh, kayaknya cocok kalau dipake sama kamu!" ucap Rafi menunjukkan baju-baju yang menggantung disana pada Femila.


"Iya sayang, makanya aku bingung mau pilih yang mana abisnya semua baju disini bagus-bagus semua sih! Bantuin aku milih dong sayang, soalnya aku bingung nih!" ujar Femila melingkarkan tangannya di sela-sela lengan Rafi.


"Oke, tapi karena aku gak tau selera kamu ya paling pilihan aku ngasal aja ya?" ucap Rafi lalu mulai memilihkan baju untuk Femila.


"Nah yang ini kayaknya bagus deh sayang, motifnya juga cantik kayak kamu! Warnanya juga menarik, kamu suka gak?" ucap Rafi mengambil sebuah baju lalu menunjukkannya pada Femila sebagai saran.


"Eh iya pilihan kamu bagus juga loh sayang, yaudah aku mau cobain ini dulu ya! Kamu lanjut lagi coba pilihin aku yang lain, soalnya selera kamu lumayan juga..." ucap Femila tersenyum.


Femila pun mengambil baju yang dipilih Rafi lalu membawanya ke ruang ganti, ya ia mencoba baju itu disana untuk menilai apakah cocok untuknya atau tidak.


Tak lama kemudian, Femila kembali dan merasa cocok dengan baju itu. Ia pun langsung ingin membelinya serta tiga baju lainnya yang daritadi sudah dipilih olehnya.


Setelah membayar semuanya, Rafi serta Femila keluar dari toko baju tersebut... mereka lanjut berjalan keliling mall sambil bercanda gurau.


Siapa sangka, disaat mereka melewati sebuah cafe di mall tersebut... tanpa sengaja Femila melihat mantan kekasihnya tengah duduk disana sambil ngopi.


"I-itu kan, Yoga?" batin Femila.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2