
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 284
...•...
...•...
TOK TOK TOK...
"Permisi, pak Vano sama nyonya Shella sudah ditunggu di bawah oleh tuan dan nyonya besar!"
Suara itu pun membuyarkan aksi yang dilakukan Devano, akhirnya Devano terpaksa menghentikan semuanya walau ia sedang dalam gairah yang sangat tinggi.
"Mas, tahan dulu ya!" ucap Shella gemetar.
Devano yang kecewa mulai melepaskan tangan sang istri yang masih ia cengkram, ia pun menghela nafas untuk meredakan gairah yang memuncak supaya bisa keluar menemui mama papanya dengan tenang.
Sementara Shella tampak gugup karena dirinya juga mulai terangsang akibat perlakuan sang suami tadi, ya tapi mereka memang harus menghentikan tindakan itu karena sudah ditunggu oleh Silvi & Tama.
"Mas, kamu gapapa kan?" tanya Shella cemas.
"Hah? Ya gapapa lah, emangnya aku kenapa?" ucap Devano malah ikut kebingungan.
"Bagus deh, aku pikir kamu marah!" ucap Shella.
"Ya enggak lah, honey! Yaudah kamu rapihin gih baju kamu sama rambut kamu, oh ya sama tutupin tuh bekas tanda dari aku pake apa kek gitu supaya gak kelihatan mama papa!" ucap Devano.
"Iya, mas!"
Shella pun mengambil sweater miliknya lalu mengenakan itu untuk menutupi tanda merah di lehernya akibat kelakuan Devano, sedangkan pria itu masih mencoba untuk meredakan gairahnya dengan terus mengatur nafasnya sembari duduk berharap juniornya bisa turun lagi.
"Udah mas, ayo kita keluar sekarang!" ucap Shella yang kini sudah memakai sweater nya.
Devano mengangguk kemudian bangkit dan menggandeng istrinya untuk berjalan keluar dari kamar, terlihat Intan masih berada di depan kamar mereka karena menunggu respon dari majikannya tersebut.
"Loh Intan, kamu masih disini?" tanya Devano.
"Ah iya, pak! Abisnya saya belum dengar suara apa-apa dari dalam, makanya saya tetap nunggu disini!" jawab Intan.
"Hahaha, yasudah kamu turun duluan! Kita juga udah mau ke bawah kok temuin mama sama papa, makasih ya Intan!" ucap Devano.
__ADS_1
"Iya, pak!"
Intan pun turun ke bawah untuk kembali ke bekerja sesuai arahan Devano, sedangkan sepasang suami-istri itu juga lanjut berjalan menuruni tangga untuk menemui orang tua mereka di bawah sana.
Sesampainya di bawah, tampak Silvi serta Tama memang sudah menunggu disana sembari duduk dengan pakaian rapih dan wangi di sofa ruang tamu sepertinya hendak pergi entah kemana.
"Loh mah, pah... pada mau kemana nih, kok udah rapih sama wangi begini?" tanya Devano heran.
"Nah ini dia anaknya, akhirnya setelah sekian lama keluar juga kalian dari kamar! Mama sama papa udah nunggu lama loh daritadi, gimana sih kalian ini?" ujar Silvi.
"Hah? Emang kenapa sih, mah?" tanya Devano.
"Haduh, kamu masih muda udah pelupa ya! Semalam kan mama udah bilang, mama sama papa tuh mau ke tempat paman kamu!" jawab Silvi.
"Ohh... hehe iya ya kok aku bisa lupa ya, mah?" ujar Devano nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Yaudah, sekarang kamu mau ikut atau enggak nih? Daritadi mama kan nungguin kalian buat nanya ini!" ucap Silvi.
"Waduh, tadinya pengen ikut mah! Tapi, kayaknya gak bisa deh soalnya kan aku belum siap-siap!" ucap Devano.
"Oh yaudah, lagian kamu pake lupa segala!" ujar Silvi.
"Udah lah, mah! Biarin kita aja yang kesana, Devano sama Shella ya biar disini aja!" ucap Tama.
"Ya oke, kalo gitu mama sama papa berangkat sekarang ya?" ucap Silvi.
"Hati-hati ya mah, pah!" sahut Shella.
"Iya, kalian juga jaga rumah yang bener! Kamu Vano, jagain tuh istri kamu jangan ditinggal-tinggal mulu! Soalnya mama sama papa mau lama disana!" ucap Silvi.
"Siap, mah!" ucap Devano.
...•••...
Disisi lain, Jenar datang menjemput putrinya untuk pulang dari rumah sakit karena dokter memang sudah memperbolehkan Nadya dirawat di rumah setelah kondisi gadis itu agak baikan walau harus tetap menjaga makanan yang dikonsumsinya.
Nadya tampak senang sekali karena akan kembali pulang ke rumah bersama ibunya, ia juga sudah berganti pakaian dan siap untuk berangkat menuju rumah sang ibu.
"Akhirnya aku bisa pulang, Bu!" ucap Nadya tersenyum.
"Iya sayang, nah setelah ini kamu harus jaga kondisi kamu ya! Jangan makan sembarangan sama itu kamu juga harus olahraga teratur!" ucap Jenar.
"Iya, ibuku sayang...!!" ucap Nadya.
Nadya memeluk ibunya sembari membenamkan wajah pada bahu sang ibu, sementara Jenar tersenyum dan mengusap puncak kepala putrinya sambil membayangkan kalau saat ini suaminya masih hidup dan ada disana.
Ceklek...
__ADS_1
Tak lama kemudian, pintu terbuka lalu seorang pria masuk ke dalam dan tersenyum begitu melihat Nadya sudah bangkit serta rapih. Ya pria tersebut ialah Yoga yang sebelumnya juga datang kesana menjenguk Nadya, hari ini ia datang lagi mungkin untuk mengantar Nadya serta Jenar pulang.
"Eh nak Yoga, kamu datang juga?" ucap Jenar.
"Iya tante, assalamualaikum..." ucap Yoga mengucap salam sembari tersenyum, ia langsung menghampiri Jenar kemudian mencium tangannya.
"Waalaikumsallam," ucap Jenar & Nadya bersamaan.
"Kamu udah siap, Sheila?" tanya Yoga menatap wajah Nadya sambil tersenyum.
"Kamu tahu darimana kalau hari ini aku udah boleh pulang??" ucap Nadya penasaran.
"Ohh, kemarin aku gak sengaja denger waktu dokter bilang begitu..." ucap Yoga.
"Tukang nguping!" cibir Nadya dengan pelan.
"Hus, Sheila! Kamu kok bicaranya begitu sih sama nak Yoga? Gak baik loh, gak boleh kayak gitu!" ucap Jenar mengingatkan putrinya.
"I-i-iya maaf Bu..." ucap Nadya langsung ketakutan.
Yoga hanya senyum-senyum melihat Nadya yang sangat menghormati ibunya, bahkan saat diingatkan oleh sang ibu dia langsung mengiyakan perkataan ibunya bahkan terlihat ketakutan.
"Eee... yaudah, kalo gitu ibu sama Sheila pulangnya bareng saya aja ya?" ucap Yoga.
"Emangnya gak ngerepotin kamu, Yoga?" tanya Jenar.
"Oh, ya enggak dong Bu! Kan saya sengaja datang kesini buat jemput Nadya sekalian antar ibu sama Nadya pulang, jadi ibu tenang aja saya gak ngerasa direpotin kok!" jawab Yoga tersenyum.
"Oke deh, makasih ya nak Yoga!" ucap Jenar.
Namun, Nadya malah menarik-narik lengan baju ibunya yang sedang berbicara dengan Yoga disana. Jenar pun heran kemudian menatap wajah putrinya menanyakan apa yang ingin dilakukan Nadya.
"Kenapa, sayang?" tanya Jenar.
"Gausah bareng Yoga dong, Bu!" ucap Nadya dengan suara pelan berbisik.
"Loh kenapa?" tanya Jenar heran.
"Gapapa, tapi aku gak mau kalo pulangnya sama dia!" jawab Nadya berbisik kembali.
Jenar pun bingung harus bagaimana selanjutnya, ia melirik ke arah Yoga serta Nadya secara bergantian sembari menggaruk kepalanya padahal tidak gatal.
"Kenapa, tante?" tanya Yoga terheran-heran.
"Ah enggak kok..." jawab Jenar gugup.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...