Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Loncat


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 211


...•...


...•...


Devano pulang ke rumah dengan perasaan senang karena berhasil membuat Adrian ketar-ketir, ia tampak puas sekali melihat Adrian ketakutan seperti tadi saat ia membahas tentang pembunuhan Hamzah beberapa waktu lalu. Devano duduk di sofanya sambil bersandar dan terus tersenyum membayangkan kejadian tadi, entah mengapa ia tak bisa berhenti tertawa saat mengingatnya.


Tak lama kemudian, Shella sang istri melihat Devano senyum-senyum sendiri di sofa saat ia hendak pergi dapur mengambil segelas air. Shella pun penasaran mengapa suaminya itu senyum-senyum disana, akhirnya ia memutuskan menghampiri Devano untuk menanyakannya secara langsung agar tidak terus penasaran dan menerka-nerka sendiri.


"Mas..." sapa Shella dengan suara lembutnya sambil berjalan ke arah suaminya di sofa.


Devano yang tengah asyik membayangkan ketakutan Adrian langsung reflek menoleh saat ada suara memanggilnya, ia bertambah gembira melihat kehadiran istrinya lalu bangkit menyambutnya.


Cupp...


Devano langsung menarik pinggang Shella dan mengecup keningnya, ia meluapkan kegembiraan yang dialaminya dengan memeluk istrinya itu lalu berputar-putar layaknya orang tengah berpesta.


"Mas, ih udah ah! Pusing tau!" ujar Shella berteriak meminta Devano berhenti melakukannya.


"Hahaha, iya iya honey! Maaf ya aku cuma mau meluapkan kesenangan aku aja, jangan marah ya cantik!" ucap Devano tersenyum mengelus wajah Shella dengan jarinya.


"Emang kamu abis ngapain sih? Kok sampe sesenang ini? Jangan-jangan kamu abis seneng-seneng ya di luar sana sama sekretaris kamu itu?" ujar Shella menaruh curiga pada suaminya.


"Ya ampun, honey! Kenapa kamu mikirnya kayak gitu sih sayang? Aku gak mungkin lah ngelakuin apa yang kamu pikirkan itu, aku kan setia sama kamu!" ucap Devano menggenggam dua pundak istrinya.

__ADS_1


"Ya terus kenapa kamu seneng banget begitu?" tanya Shella menatap mata suaminya.


"Eee aku seneng itu karena sebentar lagi Adrian bakal mendapat balasan atas semua perbuatan yang udah dia lakuin ke kita, Adrian akan ditangkap polisi gak lama lagi! Gimana aku gak seneng coba?" jawab Devano menjelaskan semuanya sambil tersenyum.


"Hah? Ka-kamu serius mas?" tanya Shella.


"Ya iya dong, emang kenapa? Kamu sedih kalo Adrian mantan kamu itu mau ditangkap polisi, iya? Kamu masih cinta sama dia ya?" ujar Devano malah gantian memojokkan istrinya.


"Ish apa sih mas? Kok kamu ngomongnya begitu? Dari dulu aja aku gak pernah cinta sama dia, buat apa juga aku sedih dia ditangkap? Ngaco aja ih kamu! Aku tuh cuma kaget aja, emang polisi udah nemu bukti kejahatan mas Adrian?" ucap Shella.


"Hahaha, yaudah gausah panik gitu kali! Bukan cumi bukti yang polisi temuin, tapi pengakuan langsung dari adiknya Adrian kalau yang nyuruh dia bunuh pak Hamzah itu ya Adrian sendiri..." ucap Devano.


"Maksud kamu? Pak Hamzah siapa?" tanya Shella.


Devano terdiam, ia baru ingat kalau Shella memang belum mengetahui kasus ini karena dulu ia menyelidiki semuanya sendiri tanpa memberitahu istrinya yang sedang mengandung.


...•••...


Teriakan Adrian membuat Frederick mendengarnya lalu datang ke arah cucunya itu, ia tampak emosi menatap wajah Adrian dengan mata menyala.


"Adrian!" teriak Frederick dengan lantang.


Pria tua itu langsung berjalan mendekati Adrian dengan tongkat di tangannya untuk mempercepat langkahnya, Adrian tampak berusaha meredam emosinya saat melihat sang kakek tampak kesal.


"Kenapa, kek?" tanya Adrian.


"Pake nanya lagi! Kamu apa-apaan ha? Kenapa ini semua kamu berantakin kayak gini? Udah gila kali kamu ya? Kalau mau marah-marah itu jangan di rumah, sana di tengah jalan!" ujar Frederick kesal.


"Maaf kek, aku cuma lagi kesal aja sama Bimo! Dia itu udah berani-beraninya bilang ke polisi kalau aku yang jadi penyebab dia ditangkap, padahal aku udah bilang sama dia untuk tutup mulut! Sekarang semuanya udah terlambat kek, aku pasti bakal diincar polisi dan dibawa ke penjara!" ucap Adrian.


"Apa maksud kamu? Jadi Bimo mendekam di penjara itu karena kamu, Adrian? Dasar cucu tidak tahu diri! Pantas saja Bimo kesal sekali dengan kamu karena kamu lebih memilih membebaskan Rafi dibanding dia! Jadi ini alasannya...." ujar Frederick.


Mendengar itu malah membuat Adrian makin kesal, ia baru ingat kalau kakeknya memang belum tau tentang semua ini dan sekarang ia juga pasti akan menjadi bulan-bulanan kemarahan sang kakek.

__ADS_1


"Heh, Adrian! Apa yang sudah kamu perbuat sampai Bimo bisa masuk penjara? Jawab!!!" bentak Frederick.


"Udah deh, kakek jangan bikin aku tambah kesal! Sekarang aku lagi panik karena jadi kejaran polisi, harusnya kakek tenangin aku bukannya malah nanya-nanya hal yang gak penting!" ujar Adrian.


"Orang seperti kamu memang pantas ditangkap polisi dan seharusnya juga kamu yang berada disana bukannya Bimo! Ayo, biar kakek langsung bawa kamu ke penjara supaya kamu bisa segera ditangkap!" ujar Frederick mencengkeram lengan Adrian dengan tangannya.


"Apaan sih kek? Aku gak mau di penjara dan sampai kapanpun itu gak akan pernah terjadi, maupun di dalam mimpi kakek!" ujar Adrian berontak lalu mendorong kakeknya sampai terjatuh.


Setelah cengkeraman sang kakek terlepas, Adrian langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari sana tanpa memperdulikan Frederick yang sedang tergeletak di lantai akibat dorongannya.




Begitu sampai di luar, terlihat sudah banyak polisi yang datang dan tengah berbicara dengan satpam di rumahnya. Adrian pun semakin panik lalu mengambil jalan lewat samping untuk kabur dari sana tanpa ketahuan oleh polisi atau siapapun disana.


"Gue gak boleh ketangkap, bisa berabe semuanya kalau polisi itu lihat gue ada disini..." batin Adrian.


Akhirnya Adrian pergi ke samping rumahnya untuk kabur dari sana, namun sayangnya tembok samping itu cukup tinggi dan sulit untuk dipanjat tentunya. Adrian pun kebingungan apalagi terdengar satpamnya sudah membuka pintu gerbang untuk para polisi itu, ia langsung mencari cara agar bisa keluar dari sana tanpa ketahuan.


Akhirnya Adrian melihat sebuah tangga di dekatnya yang bisa ia gunakan, tanpa berpikir panjang ia langsung mengambil tangga itu lalu menggunakannya untuk memanjat tembok tadi.


Naasnya, ketika sampai di atas tembok ia cukup kesulitan untuk turun karena jaraknya sangat tinggi dan curam. Adrian terdiam disana beberapa saat mengambil nafas serta keberanian untuk meloncat.


"Duh gimana ini? Kalo gue loncat bisa patah kaki gue, tapi kalo enggak bisa ketahuan gue sama polisi! Hadeh kenapa sih papa bikin rumah begini banget?" batinnya sangat-sangat panik.


Lalu, karena tidak ada cara lain untuk bisa kabur dan ia juga sudah terlanjur naik ke atas. Adrian pun langsung meloncat dengan penuh keyakinan.


Brukkk...


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2