
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 379
...•...
...•...
Adrian baru saja menuntaskan permainannya bersama Nadya di atas sofa ruangannya, ia bangkit sembari mengusap bibirnya lalu tersenyum dan membelai bibir milik Nadya yang basah itu. Ia tampak sangat gembira karena berhasil menyelesaikan adegan yang sempat tertunda tadi tanpa ada halangan, bahkan ia juga tak mendapat perlawanan apapun dari Nadya barusan.
Sementara Nadya sendiri tampak menunduk saja dan perlahan menitikkan air mata, ia menyesali perbuatannya yang mau menurut saja pada kemauan Adrian untuk tetap diam. Nadya benar-benar tak menyangka kalau ia bisa melakukan hal seperti tadi dengan Adrian disana, padahal yang ia inginkan hanyalah sebuah pekerjaan dan juga uang untuk dapat membiayai kehidupannya juga Jenar sang ibu.
Melihat Nadya bersedih dan menitikkan air mata sambil menunduk, Adrian pun tampak tak tega dan langsung memegang serta mengelus wajah mulus nan cantik milik Nadya dengan lembut. Adrian juga menyeka air mata yang turun membasahi pipi, lalu mengangkat perlahan wajah Nadya sehingga ia bisa menatapnya kembali dengan jelas dan lagi-lagi ia juga mengecup bibir mungil Nadya disana.
"Jangan nangis! Yang kamu lakukan barusan itu benar dan aku sangat senang atas kinerja kamu, aku pasti akan kasih bayaran double ke kamu akhir bulan nanti!" ucap Adrian tersenyum.
"Pak, saya boleh keluar sekarang kan?" tanya Nadya.
"Enggak! Kamu disini aja sampai jam pulang kerja, soal makan siang biar saya suruh ob buat anterin kesini nanti! Kamu gak bisa kemana-mana, Nadya! Karena kamu disini itu milik aku, dan cuma aku yang bisa dekati kamu!" ucap Adrian.
Iya baik, pak! Tapi, bagaimana dengan kerjaan yang harus saya lakukan?" ucap Nadya bingung.
"Kamu tidak usah pikirkan soal itu! Asisten saya bisa menghandle semuanya selama kamu ada disini, jadi kamu cukup diam saja dan menurut dengan perkataan saya!" ucap Adrian.
"Baik, pak!" ucap Nadya sambil mengangguk.
Setelahnya, Adrian pun bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil remote tv yang tergeletak disana. Ya Adrian menyalakan televisi yang tersedia di dalam ruangannya itu, lalu duduk kembali di sofa berdampak dengan Nadya yang masih setia disana dan tampak diam menurut saja dengan kemauan Adrian.
Adrian menoleh ke arah Nadya, kemudian menarik wajah Nadya sampai menatap ke arahnya dan lalu ia memberikan sebuah kecupan kilat yang manis pada bibir mungil Nadya. Ia sudah berulang kali melakukan itu di hari ini dan Nadya hanya bisa terdiam pasrah, memang tak ada lagi yang dapat dilakukan Nadya selain berdiam diri seperti itu.
Cupp..
"Manis banget, emang gak ada duanya bibir kamu Nadya!" ucap Adrian tersenyum sembari mengusap bekas kecupannya di bibir Nadya.
Sebuah laporan dari pinggir jurang kawarawa dekat persimpangan jalan mentari, baru saja terjadi sebuah kecelakaan yang menimpa sebuah mobil Fortuner putih yang tergelincir jatuh ke dalam jurang.
Mata Nadya terbelalak lebar begitu mendengar berita yang muncul di televisi tersebut, pasalnya mobil yang dilaporkan kecelakaan dan jatuh ke jurang itu persis dengan mobil yang dikendarai Yoga ketika mengantarnya ke kantor tadi. Namun, ia berusaha berpikir positif dan berpikir kalau banyak orang di kota ini yang memiliki mobil seperti itu.
Melihat sekretarisnya itu terkejut secara tiba-tiba setelah mendengar berita, Adrian pun heran dan coba bertanya kepada Nadya tentang apa yang terjadi padanya. Adrian menggenggam dua tangan Nadya dan menaruh wajah gadis itu di bahunya sembari mengusapnya lembut, ia memang sangat menyukai momen-momen seperti ini.
"Kamu kenapa?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Eee saya cuma cemas aja, pak. Soalnya berita barusan itu bikin saya jadi khawatir sama pacar saya, Yoga. Dia tadi antar saya juga pakai mobil Fortuner putih, pak." jelas Nadya.
"Ohh, kamu tenang aja! Kan yang pakai mobil Fortuner putih itu banyak, bukan cuma Yoga aja. Bisa jadi yang jatuh ke jurang itu orang lain, bukan Yoga. Sekarang kamu tenang ya cantik, supaya aku juga bisa santai ciumin bibir kamu!" ucap Adrian.
"Eee iya pak, bapak benar juga." ucap Nadya tersenyum tipis lalu membuang muka.
Namun, tentu saja Adrian tak membiarkan Nadya memalingkan wajah darinya. Ya ia langsung menarik kembali wajah Nadya agar menatap ke arahnya, sehingga ia bisa memandang wajah Nadya yang cantik itu dengan jelas. Adrian juga membelai rambut yang menutupi wajah Nadya dan menyelipkannya ke telinga Nadya, ia tersenyum lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir Nadya untuk yang kesekian kalinya dalam waktu beberapa jam ini.
"Kamu cantik sekali, Nadya! Oleh karena itu, kamu jangan buang muka dari saya apalagi nunduk begitu!" ucap Adrian sembari membelai lembut bibir Nadya.
"Iya pak, maafkan saya!" ucap Nadya pelan dan menatap wajah Adrian.
Adrian tersenyum lalu memegang wajah cantik Nadya dengan kedua tangannya, ia pun kembali melumatt bibir mungil yang menjadi candu baginya itu disana sembari menahan wajah Nadya. Gadis itu hanya bisa pasrah menerima apa yang dilakukan Adrian padanya kali ini, ia tak memberi perlawanan apapun karena takut dengan ancaman Adrian.
Ya pemirsa yang ada di rumah, saat ini saya ingin melaporkan bahwa korban yang terjatuh ke jurang itu sudah berhasil diidentifikasi oleh pihak polisi. Dan korban tersebut adalah Achmad Prayoga pemilik mobil Fortuner putih dengan plat xxx, sayang sekali hingga kini polisi dan tim SAR belum berhasil menemukan tubuh korban. Namun diyakini kalau korban memang sudah meninggal dunia, karena kondisi mobil yang begitu hancur.
Nadya kembali terkejut mendengar berita tersebut, ia bahkan langsung melepas pagutan dari Adrian dan mendorong tubuh bosnya itu. Ia menatap ke arah tv dan berdiri setelah tahu kalau korban yang terjatuh ke jurang adalah Yoga alias pacarnya, ia pun terbelalak lebar dengan mulut terbuka saat mendengar berita tersebut dari tv.
"Kamu kenapa?" tanya Adrian penasaran dan ikut berdiri dari sofa lalu menghampiri Nadya.
"Pak, i-itu pacar saya pak. Di-dia yang jatuh ke jurang barusan dan hingga kini tubuhnya belum ditemukan, saya harus kesana pak! Saya mau cari pacar saya yang jatuh itu, saya yakin dia pasti masih hidup pak! Pak, tolong izinkan saya untuk keluar kantor sebentar mencari pacar saya!" ucap Nadya.
"Iya iya, kamu tenang ya! Yaudah gini aja deh, biar saya anterin kamu ke tempat itu buat cari pacar kamu! Supaya lebih cepat juga kamu sampai kesana, kamu kan gak bawa kendaraan." ucap Adrian.
"Eee tapi bapak emang gak repot?" tanya Nadya.
"Baik pak, terimakasih!" ucap Nadya menurut lalu tersenyum tipis ke arah Adrian.
Adrian pun langsung menarik tangan Nadya dan membawanya keluar dari ruangan itu, mereka kini hendak menuju ke lokasi tempat jatuhnya Yoga.
...•••...
Disisi lain, Devano tengah ngopi-ngopi santai bersama papanya juga paman Roky. Mereka membicarakan pasal keinginan Shella untuk tinggal disana dengan alasan udara dan pemandangan yang indah nan menyejukkan, menurut mereka memang itu bagus bagi Shella dan juga kesehatan bayinya karena udara yang dihirup itu berpengaruh pada paru-paru dari Shella serta bayi dalam kandungannya yang pastinya akan ikut merasakan.
Oleh karena itu, Tama dan Roky setuju dengan permintaan Shella yang ingin tinggal di kampung tersebut. Akan tetapi, Devano masih bingung karena tak mungkin ia bolak-balik dari Jakarta ke tempat itu setiap kali hendak pergi dan pulang bekerja. Tentu akan memakan waktu dan juga membuatnya kecapekan jika harus seperti itu, namun tak ada pilihan lain bagi Devano memang selain menuruti saja kemauan istrinya yang sedang hamil itu.
"Kalau papa sih setuju-setuju saja, karena itu juga bagus buat kesehatan Shella dan calon cucu papa! Tapi, selebihnya papa serahkan aja ke kamu buat tentuin bagaimana ke depannya. Karena kan yang kepala rumah tangga itu kamu, jadi kamu berhak tentuin semuanya!" ucap Tama.
"Iya benar itu, tapi saran paman sih ya kamu ikuti saja kemauan istri kamu. Nanti soal rumah di sekitar sini biar paman yang urus dan cari-cari buat kalian, sekalian juga paman bantu nego masalah harga supaya mudah terealisasi." ucap Roky.
"Aku sih gak masalah soal harga, paman. Justru aku maunya tempat tinggal yang terbaik untuk Shella, karena dia kan juga lagi hamil. Tapi, apa di kampung ini ada rumah kosong yang dijual dan besarnya seperti rumah-rumah di kota?" tanya Devano sembari menyeruput kopinya.
"Oh, ya ada dong! Tapi mungkin agak jauh dari sini, nanti biar paman hubungin teman paman untuk tanya-tanya lebih lanjut. Intinya sekarang kamu dulu nih setuju apa enggak sama kemauan Shella, kan gak asik kalo paman udah cari-cari rumahnya eh ternyata kamu malah gak jadi tinggal disini. Yang ada paman cuma dapet capeknya doang, gak dapat komisi dari teman paman nanti." ujar Roky.
"Hahaha, iya paman. Nanti biar aku bahas lagi sama Shella sekalian pikir-pikir juga, soalnya aku bingung soal kerjaan aku di kota yang gak bisa ditinggali. Emang sih sekarang aja aku udah gak kontrol langsung ke kantor, tapi kalau begini terus kan kasihan juga asisten aku." ucap Devano.
"Yaudah, kamu pikirin dulu matang-matang! Ambil yang terbaik buat kamu dan juga keluarga kamu, jangan sampai salah bertindak! Karena ini kan menyangkut masa depan kamu juga," ucap Tama.
__ADS_1
"Iya pah, aku pasti bakal lakuin itu kok! Oh ya, Shella sekarang dimana ya, pah? Daritadi perasaan aku gak lihat dia di sekitar sini, apa lagi di luar? Tadi kan sebelum aku mandi, Shella ada disini." ucap Devano bertanya pada papanya tentang Shella sambil celingak-celinguk kesana-kemari.
"Ahaha, kamu tenang aja! Istri kamu lagi sama mama kamu dan tante Riska kok, mereka sekarang di luar ngobrol-ngobrol juga." jawab Tama tersenyum.
"Oalah, aku pikir Shella kemana gitu pah. Soalnya aku baru keinget dia gak ada disini," ucap Devano.
"Iya Vano, kamu gausah khawatir soal istri kamu! Selama disini mah insyaallah dia aman kok, kan ada istri sama anak-anak paman yang bantu temenin Shella kalau lagi gak sama kamu." ucap Roky.
"Iya paman, tadi aku cuma kaget aja." ujar Devano.
Mereka pun sama-sama menyeruput kopi yang tinggal setengah itu, lalu juga melahap gorengan yang sudah disediakan oleh Eriska sebelum ia pergi keluar bersama Shella dan Silvi. Ketiganya tampak lanjut mengobrol membahas hal lainnya, membuat Devano juga lupa sejenak tentang keinginan Shella yang kepengen tinggal di kampung itu.
•
•
Sementara Shella kini masih bersama Silvi serta Eriska di depan rumah dan tengah mengobrol, Shella juga mengutarakan keinginannya untuk tinggal di kampung itu bersama suaminya. Ya Shella mengatakan jika ia memang senang dan menikmati pemandangan yang ada disana, terlebih suasana disana yang asri dan udaranya yang segar juga membuat Shella selalu merasa tenang setiap kali membuka pintu rumah dan melihat keluar.
Silvi dan Eriska juga ikut senang dengan apa yang diinginkan oleh Shella itu, mereka pun setuju dan berharap kalau Devano juga sama seperti mereka yakni menyetujui keinginan Shella. Bagi mereka memang bagus kalau selama hamil ini Shella tinggal disana, ya setidaknya sampai bayinya lahir ke dunia sehingga Shella tentunya tidak akan menghirup udara di kota yang cukup mengerikan itu.
"Jadi, kamu beneran mau tinggal disini sayang?" tanya Silvi sembari mengusap rambut Shella.
"Iya mah, aku kayaknya nyaman deh disini. Soalnya udara sama pemandangan disini tuh bikin perasaan aku tenang banget, jadi aku pasti bakalan seneng banget kalau bisa tinggal disini." jawab Shella.
"Kalau gitu mama setuju! Emang pas banget buat wanita hamil kayak kamu tinggal di tempat yang suasananya seperti ini, kan baik juga buat kesehatan calon bayi kamu. Oh ya, tapi kamu udah bilang belum sama suami kamu?" ucap Silvi.
"Udah kok, mah." ucap Shella.
"Lalu, apa jawaban suami kamu itu?" tanya Silvi.
"Gak tahu, mah. Mas Vano katanya mau pikir-pikir dulu dan minta pendapat dari papa sama mama, jadi aku sabar aja deh nunggunya." jawab Shella.
"Oalah, kalo mama sih pasti setuju banget! Mama juga yakin papa kamu pasti setuju juga, lagian ini kan demi kebaikan kamu dan anak kamu. Nanti biar mama bilang ke Devano ya!" ucap Silvi.
"Benar itu, yang dibilang mbak Silvi emang bener. Shella butuh tempat yang nyaman buat dia dan juga bayi di dalam kandungannya, supaya proses kelahirannya nanti juga bisa lancar!" ucap Eriska.
"Iya, masalahnya Devano itu kan susah banget kalo disuruh nurutin kemauan istrinya!" ujar Silvi.
"Hahaha, mungkin kalau dibicarakan baik-baik Devano bakal setuju dengan permintaan Shella." ucap Eriska memberi usul.
"Iya tante, aku juga mau coba bujuk mas Vano lagi nanti." ucap Shella tersenyum.
Setelahnya, Silvi pun meminta pada Shella untuk meminum teh hangat yang sudah dibuatkan sebelumnya agar tubuhnya bisa terasa lebih nyaman dan sehat-sehat saja.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1