
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 160
...•...
...•...
Adrian & Rafi bertemu di sebuah cafe sesuai janji yang telah mereka buat semalam, tampak Adrian sudah menunggu disana saat Rafi datang ke cafe tersebut.
"Selamat sore pak, maaf saya terlambat!" ucap Rafi menghampiri meja Adrian lalu berjabat tangan dengan Adrian yang langsung berdiri saat melihat Rafi datang kesana.
"Iya tidak apa-apa, duduklah!" ucap Adrian mempersilahkan Rafi untuk duduk di depannya.
Setelah mereka berdua duduk kembali, seorang pelayan wanita datang ke meja mereka menyodorkan daftar menu di cafe tersebut.
"Permisi pak, ini daftar menunya...." ucap pelayan itu lalu menaruh daftar menu tepat di tengah-tengah antara Adrian & Rafi.
"Silahkan pak, anda ingin pesan apa biar saya yang traktir...!!" ucap Adrian meminta Rafi untuk memilih pesanannya tanpa sungkan-sungkan.
"Terimakasih pak," ucap Rafi yang langsung mengambil daftar menu itu lalu membacanya.
Setelah menemukan apa yang hendak dipesan, mereka langsung mengatakan pesanannya itu kepada si pelayan berbarengan.
"Eee... saya mau es mochacinno aja satu!" ucap Adrian kemudian menyerahkan lagi daftar menu itu kepada si pelayan.
"Kalau saya lemon tea aja mbak," ujar Rafi yang juga sama memberikan daftar menunya ke si pelayan itu lagi.
"Baik pak, ditunggu ya..." ucap pelayan itu tersenyum sambil mencatat pesanannya lalu kembali ke tempatnya.
Setelah pelayan itu pergi, Adrian langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi agak serius dan melipat kedua tangannya di atas meja sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Langsung aja kita bicarakan soal kelanjutan rencana ini pak, karena beberapa jam lagi saya harus bertemu dengan klien saya!" ucap Adrian.
__ADS_1
"Baik pak, kalo gitu apa yang akan kita lakukan selanjutnya setelah Devano kehilangan semua investor-investor di perusahaannya...??" tanya Rafi berusaha tetap santai seperti biasa.
"Saya akan menawarkan suntikan dana ke perusahaan Devano untuk membantu memulihkan kondisi perusahaannya seperti semula, tapi tentu tidak gratis semua itu ada syaratnya pak! Nah yang saya ragukan adalah Devano mau atau tidak melakukan syarat dari saya ini, karena saya yakin tidak akan semudah itu merayu Devano...." jelas Adrian.
"Memangnya apa syarat yang ingin anda berikan pada Devano?" tanya Rafi kembali.
"Begini, saya akan membantu kondisi keuangan di perusahaan Devano asalkan dia mau memberikan Shella pada saya...!!" jawab Adrian sambil tersenyum ke arah Rafi.
Tentu saja Rafi langsung merasa jengkel dengan perkataan dan sikap Adrian barusan, ia merasa kalau Adrian sengaja melakukan itu untuk memancing emosinya.
"Mengapa harus seperti itu? Saya tidak setuju jika anda membawa-bawa Shella dalam rencana ini, dari awal kita hanya ingin menghancurkan Devano bukan merebut Shella dari suaminya itu...!!" ucap Rafi menentang keras rencana yang diberikan Adrian.
"Hahaha Rafi Rafi... anda tidak setuju pasti karena anda juga masih terobsesi dengan Shella bukan? Ayolah pak Rafi, saya sudah membebaskan anda dari penjara busuk itu dan seharusnya anda mengikuti semua kemauan saya tanpa terkecuali....!!" ujar Adrian mengingatkan lagi pada Rafi kalau ia telah menyelamatkan pria itu dari penjara.
Rafi pun langsung terdiam tanpa ekspresi, ia sedang dilanda kebingungan yang amat sangat setelah mengetahui rencana Adrian itu.
Tak lama kemudian, pelayan tadi datang kembali sambil membawa pesanan mereka dan menaruh dua gelas minuman itu ke atas meja.
"Silahkan pak, ini pesanannya...!!" ucap pelayan itu menaruh gelasnya dengan perlahan sambil terus menjaga senyumannya di hadapan dua pelanggan itu.
"Selamat menikmati....!!" ucapnya kembali saat sudah meletakkan dua gelas tersebut.
Saat pelayan itu berbalik badan dan ingin pergi, Adrian memanggilnya dan menahannya.
"Tunggu....!!!"
Sontak pelayan itu menghentikan langkahnya karena panggilan dari Adrian, secara perlahan ia menoleh dan menatap pria itu.
"Sebentar Rafi!" ucap Adrian meminta Rafi menunggu sebentar karena ia ingin menghampiri pelayan itu.
Adrian pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah si pelayan sambil terus menatapnya berusaha meyakinkan dirinya kalau ia tidak salah lihat kali ini.
"Eee... ada apa ya pak? Apa ada yang salah dengan pesanannya...??" tanya pelayan itu tampak gugup bahkan tak berani lama-lama menatap wajah Adrian.
"Kamu...."
...•••...
Disisi lain, Devano makin dilanda stress setelah mendapat laporan dari Novi kalau keuangan perusahaannya bulan ini menurun drastis dan bahkan sangat anjlok akibat dari batalnya kerjasama yang ia jalani dengan beberapa investor sebelumnya.
__ADS_1
Devano pun berteriak melampiaskan amarahnya di sebuah danau sambil melempar batu sekencang mungkin, ia memang sering datang ke tempat itu saat sedang merasa stress atau galau.
"Apa yang harus gua lakuin sekarang? Hampir semua investor ngebatalin kontraknya, dan sampai sekarang gue belum bisa temuin penggantinya untuk menstabilkan keuangan perusahaan seperti dulu lagi...!!! Kalau begini caranya lama-lama gue bisa bangkrut!" gumam Devano terus mengacak-acak rambutnya.
Lagi-lagi ia terus berteriak sekencang mungkin bahkan sampai urat di kepalanya terlihat, ia benar-benar hendak menuntaskan semua kemarahannya disana.
"Devano...."
Tiba-tiba ada suara seorang wanita memanggil namanya dari belakang, tentu saja Devano langsung diam dan menoleh secara perlahan ke asal suara itu.
Tampak seorang wanita berdiri disana menatapnya, tidak mungkin Devano tak mengenalinya karena mereka pernah menjalin hubungan sebelumnya.
"Vanya...." ucap Devano sedikit menyipitkan matanya seperti heran mengapa bisa wanita itu berada di tempat yang sama dengannya.
Tanpa menjawab Vanya malah berjalan mendekati Devano sambil tersenyum, ia menghentikan langkahnya tepat di samping Devano lalu menghela nafas panjang.
"Emang ya tempat ini itu selalu bikin suasana jadi tentram, gak salah kalau kamu dulu ajakin aku kesini setiap ada masalah..." ucap Vanya tanpa menatap ke arah Devano, ia malah fokus pada danau indah yang ada di depannya.
"Ngapain kamu kesini, apa kamu ada masalah juga sekarang?" tanya Devano menatap heran ke arah Vanya.
"Nothing, aku cuma mau jalan-jalan aja! Kebetulan aku suntuk di rumah terus belakangan ini, apalagi sejak kak Kevin gak ada jadi tambah suntuk deh...." jawab Vanya tersenyum yang kini beralih menatap Devano.
"Oh ya, kamu sendiri ngapain disini? Gak mungkin kan kalo kamu juga suntuk di rumah, masa iya udah punya istri bisa suntuk??" sambungnya berbalik melontarkan pertanyaan yang sama pada pria disampingnya itu.
"Eee... ya sebenarnya aku ada masalah kerjaan yang cukup besar, makanya aku kesini karena tempat ini menurut aku adalah tempat yang pas untuk mencurahkan semua isi hati aku!" jawab Devano.
Vanya hanya tersenyum lalu kembali menatap danau di depannya tanpa merespon jawaban apapun dari perkataan Devano, ia merasa tidak mau terlalu ikut campur dalam masalah laki-laki yang saat ini bukan siapa-siapanya itu.
"Vanya...." ucap Devano secara tiba-tiba.
"Ya?"
"Kenapa kamu dulu tinggalin aku...??"
"...."
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1